TAKLUK

TAKLUK
RUMAH SAKIT


__ADS_3

Matahari baru saja muncul si ufuk timur, takkala Erina membuka mata. Ditendangnya selimut yang menutupi tubuhnya lalu ia bergegas menyalakan ponselnya yang semalam kehabisan baterai.


Tak lama dinyalakan ponselnya berbunyi. Dilihatnya nama Daffa terpampang di layar ponselnya.


"Assalaamu'alaykum." Terdengar suara weorang wanita dari seberang sana. "Rin, ini tante Mira."


"Eh tante. Erin pikir Daffa yang menelpon."


"Daffa.. Daffa masuk rumah sakit."


"Apa?! Masuk rumah sakit? Sakit apa tan?"


"Tante juga kurang tau. Tadi pagi ayahnya menemukan dia pingsan di kamarnya," jelas Mira.


Setelah mendengar penjelasan singkat dari Mira, Erina langsung bergegas ke rumah sakit tempat Daffa dirawat.


"Bagaimana kondisi Daffa, tan?" tanya Erina pada Mira yang ditemuinya di ruang perawatan.


"Alhamdulillah tadi setelah mendapat penanganan dari dokter, kondisinya lebih stabil. Ia sudah siuman, namun saat ini sedang tidur," jelas Mira. Matanya tampak sembab. Erina memeluk tubuh Mira. Ia bisa membayangkan bagaimana perasaan Mira saat melihat putra kesayangannya tergeletak sakit.


"Maafin Erin. Gara-gara Erin, Daffa tidak bisa istirahat. Padahal dia baru balik dari London. Seharusnya semalam Erin tidak mengajak Daffa bertemu."


"Hush.. jangan bilang begitu. Daffa sendiri semalam terlihat sangat bersemangat untuk bertemu kamu. Dia bilang sama tante kalau dia sangat kangen sama kamu." Mira berusaha menenangkan Erina. "Walaupun kamu tidak mengajak bertemu, dia pasti tetap akan menemuimu."


"Kamu tenang saja, Rin. Kebetulan suami Sandra dokter di rumah sakit ini. Dia pasti akan merawat Daffa dengan baik," Irwan yang baru masuk ke ruang perawatan menenangkan Erina.


"Apa kata Aidin, yah?" tanya Mira penasaran.


"Sama seperti yang dikatakan oleh dokter jaga. Daffa kelelahan dan ada suspect DB. Lalu tekanan darahnya agak rendah dari yang seharusnya. Tadi Aidin bilang, untuk beberapa hari ini Daffa sebaiknya dirawat di rumah sakit."


Erina memandang Daffa yang tergeletak lemah di ranjang rumah sakit. Digenggamnya tangan Daffa dan dengan lembut diusapnya pipi sang kekasih. Rupanya Daffa dapat merasakan kehadiran kekasih hatinya. Terbukti tak lama kemudian, matanya perlahan terbuka. Wajah pertama yang dilihatnya adalah wajah Erin.


"Hai Daf," sapa Erin lembut.


"Hai sayang. Aku kenapa ada disini?" tanya Daffa heran tapi tetap tersenyum lemah Erina.


"Tadi ayah menemukanmu pingsan di kamar," jawab Irwan.


"Mas, kamu sekarang baik-baik saja kan? Apakah kamu masih pusing? Kamu kenapa bisa pingsan?" Mira membombardir putranya dengan serentetan pertanyaan.


"Sayang, anakmu baru bangun jangan diberi pertanyaan terlalu banyak. Nanti kalau dia pingsan lagi bagaimana?" Irwan berusaha menenangkan Mira.


"Aku khawatir. sayang. Nggak biasanya Daffa sakit seperti ini. Biasanya dia kan cuma sakit yang ringan-ringan saja seperti flu, radang tenggorokan. Nggak sampai harus dirawat seperti kali ini."


"Aku pingsan?" Daffa terlihat bingung. "Ayah nggak bercanda kan?"

__ADS_1


"Daf, mana mungkin om Irwan bercanda. Memangnya apa yang kamu rasakan sebelum pingsan?"


"Tadi pagi sebelum subuh aku terbangun karena tubuhku terasa nggak nyaman. Kepalaku terasa berat. Kupikir itu wajar karena aku baru bangun tidur dan masih sedikit jetlag. Saat aku mau ke kamar mandi, aku merasa kakiku lemah. Dan tak lama semuanya gelap."


"Untunglah tadi ayah ke kamarmu untuk mengajak kamu ke masjid. Coba kalau ayah tidak masuk ke kamarmu, mungkin saat ini kamu masih tergeletak tak sadarkan diri."


"Apa kata bang Aidin?" tanya Daffa.


"Kamu harus rawat inap sampai kondisimu stabil. Sebentar lagi suster akan mengambil darahmu untuk dites. Menurut Aidin, kemungkinan besar kamu suspect DB," jelas Irwan. "Semoga tidak ditemukan virus lain di darahmu."


"Bagaimana dengan pekerjaan....."


"Kamu nggak usah mikirin pekerjaan dulu. Ini nih, akibat kamu bolak balik ke London terus. Tubuh kamu kelelahan," omel Mira. "Jadinya gampang kena virus."


"Iya Daf, kamu nggak usah memikirkan pekerjaan dulu. Biar pak Farel yang handle pekerjaanmu. Untuk project yang di Australia sudah mulai berjalan normal."


"Om Irwan ada bisnis apa sih di London?" tanya Erina penasaran karena akhir-akhir ini Daffa sering pergi ke London.


Yang lain terdiam mendengar pertanyaan Erina. Mira memandang Irwan dan Daffa bergantian tanpa mengucapkan apapun. Sejenak tak ada yang berbicara. Keheningan yang terasa aneh untuk Erina. Ada apa sih? tanya Erina dalam hati.


"Oh itu.. eengh.. ada bisnis kecil-kecilan. Om sengaja menyuruh Daffa ke sana karena dia memiliki banyak teman disana,'' jawab Irwan.


"Sayang, kamu nggak ke kantor?" Daffa berusaha mengalihkan perhatian Erina.


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang di kantor kalau kamu sakit begini."


"Cih, kalau kamu fit nggak mungkinlah kamu sampai pingsan." Daffa terkekeh melihat Erina mengomel. Bibir merah mudanya yang tanpa polesan lipstik mengerucut karena kesal.


"Kamu menggemaskan kalau lagi marah begini. Jadi pengen cium."


"Maaaas... ingat ada ayah bunda disini. Jangan asal nyosor." Mira mengingatkan. "Ingat, kamu lagi sakit."


"Iya, iya.. Daffa ciumnya nanti kalau ayah bunda pulang," jawab sambil mencium lembut punggung tangan Erina.


"Huh, kamu ini nggak sabaran banget sih. Ingat tuh infus masih nempel di tangan. Apa perlu bunda bilang ke Aidin untuk mengikat kamu di tempat tidur biar nggak banyak bergerak? Kamu itu lagi sakit, mas."


"Badan Daffa nggak akan banyak gerak kok bun. Kan cuma ci.... aduh duuh duuuh... Sakit bun." Daffa meringis menahan sakit akibat cubitan yang mampir di pinggangnya. "Bunda tega banget sih sama anaknya yang paling ganteng ini. Aku kan lagi sakit, bun.


"Kamu pagi-pagi sudah bikin bunda ngomel. Tumben sakit," Sandra, sang kakak datang bersama Aidin. "Alasan aja biar dijenguk calon istri. Pengen dimanja ya?"


"Hehehe.. mbak Sandra bisa aja. Aku beneran sakit kok. Tuh tanya aja sama dokternya. Iya kan bang?" Aidin mengangguk.


"Kamu tau nggak Daf, gara-gara kamu dirawat disini terjadi kericuhan di ruang perawat."


"Ricuh gimana, bang?" tanya Mira penasaran.

__ADS_1


"Para perawat berebut tugas mengambil darah Daffa, bun"


"Kok bisa gitu bang?" tanya Erina bingung. "Bukannya sudah ada tugasnya masing-masing ya?"


"Rin, kamu harus hati-hati. Calon suamimu ini banyak penggemarnya. Setiap kali dia datang kesini, walau hanya untuk menjemput Sandra, para suster berlomba-lomba menarik perhatian dia," jawab Aidin sambil tersenyum jahil.


"Really?"


"Ya karena calon suamimu ini super duper ganteng, sayang." Daffa menjawab pertanyaan Erina sambil menampilkan smirk-nya.


"Huuu.. ge-er kamu Daf." ledek Sandra sambil melempar tissue yang dipegangnya.


"Bukan cuma para suster, banyak dokter ko-as atau dokter muda yang bertanya tentang Daffa." Senyum Daffa semakin lebar mendengar ucapan Aidin. "Kalau kamu nggak percaya, tunggu saja. Sebentar lagi akan datang dokter untuk mengambil darah Daffa."


"Kok dokter? Bukannya itu tugas perawat?" Kembali Erina bertanya.


"Itu sudah biasa sayang. Kan tadi sudah kubilang, calon suamimu ini ganteng maksi...." Daffa langsung terdiam saat melihat tatapan tajam Erina. Yang lain langsung tergelak melihat Daffa terdiam seperti itu.


"Rasain kamu Daf! Siap-siap saja Erina ngambek," ledek Sandra.


"Iya, kamu nggak bakal bisa nyosor," imbuh Mira ikut meledek putranya.


"Oh, jadi tadi sok mikirin pekerjaan itu cuma pencitraan. Pantas saja kamu nyuruh aku ke kantor. Ternyata mau tebar pesona ke perawat dan dokter disini ya?" tanya Erina galak.


"Nggak gitu sayang. Aku benar-benar concern soal pekerjaan. Aku juga nggak mau pekerjaanmu terlantar." Daffa berusaha membela diri.


"Benar kata kamu Rin. Itu cuma pencitraan." Sandra semakin semangat menjadi kompor meleduk.


"Mbak Sandra tega banget sih. Bukannya belain adiknya, eh ini malah jadi kompor meleduk." Wajah Daffa terlihat memelas.


Tak lama datang seorang dokter muda yang cantik ditemani dua orang perawat. Baru masuk saja mereka sudah kasak kusuk sambil mencuri pandang ke arah Daffa.


"Mas, kita ambil darahnya ya," ucap Arini, sang dokter muda yang cantik itu. "Arini akan pelan-pelan supaya mas Daffa nyaman."


"Eh, dek Arini. Tugas pagi dek?" tanya Daffa yang rupanya mengenal dokter tersebut. "Suster Ita dan suster Rini, apa kabar?"


"Baik mas," jawab kedua suster itu bersamaan sambil cekikikan. "Mas Daffa tambah ganteng saja."


"Ehem..." Aidin berdeham keras mengingatkan.


"Eh dokter Aidin. Bu sandra apa kabar?" tanya kedua suster itu kompak. Mereka juga mengangguk hormat kepada Irwan dan Mira.


"Kalian ini mau jumpa fans atau mau melaksanakan tugas?" tanya Sandra dengan wajah jutek sehingga membuat kedua suster tersebut terdiam. "Dokter Arini jangan lama-lama ngambil darahnya. Nanti calon istri Daffa cemburu lho."


"Oh, mas Daffa sudah punya calon istri?" Wajah dokter muda itu terlihat kecewa namun ia tetap memaksakan tersenyum. Arini tetap melaksanakan tugasnya walaupun terlihat jelas kekecewaannya.

__ADS_1


"Iya dek. Ini calon istri saya." Sebelah tangan Daffa yang terbebas memeluk pingang Erina yang berdiri di samping tempat tidur.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2