
"Mom, apakah bayi yang masih di dalam perut bisa mendengar suara kita?" tanya Erina saat Yuna datang berkunjung ke rumah mereka.
Ya, setelah insiden kaki terkilir, Arga mengambil keputusan menyuruh Ardian dan Erina hidup berdua di sebuah rumah mungil yang telah dimiliki oleh Ardian sebagai hadiah kelulusannya. Sebenarnya keinginan Erina adalah kembali ke rumah orang tuanya. Namun, kedua belah pihak orang tua mempunyai pertimbangan lain. Mereka ingin Erina dan Ardian belajar mengatasi sendiri permasalahan rumah tangga mereka. Karena bila mereka masih nebeng orang tua, maka keduanya lebih sering mengandalkan orang tua mereka, terutama Erina yang notabene adalah anak tunggal.
"Menurut artikel yang mommy pernah baca seperti itu. Dulu eyangmu sering mengingatkan mommy untuk hati-hati berbicara saat mommy hamil. Emosi seorang ibu saat hamil juga mempengaruhi emosi si bayi. Bahkan bisa terbawa hingga si bayi lahir."
"Kalau Erina sering marah-marah ke Ardian, berarti mereka dengar?" tanya Erina sambil menunjuk perutnya.
"Mungkin saja. Makanya kamu jangan marah terus sama Ardian. Dia itu suami yang baik. Dia sangat mencintaimu. Mommy bisa melihat hal itu. Matanya selalu memancarkan cinta saat menatapmu."
"Itu karena ada mereka di dalam perut Erin. Mungkin kalau mereka sudah keluar, dia nggak akan seperti itu lagi ke Erin."
"Hush! Kamu nggak boleh berprasangka buruk begitu. Sampai kapan sih kamu mau menutup mata dan hati terhadap cinta Ardian. Sejak dulu hingga kini dia nggak pernah berubah. Dia selalu memprioritaskan kamu."
"Erin nggak yakin dia akan bertahan, mom."
"Apa maksudmu?"
"Dia pernah bilang mungkin akan melepaskan Erin saat mereka sudah lahir. Menurut Ardian, kami bisa menjalani co-parenting."
"Nggak mungkin Ardian memiliki pemikiran seperti itu. Kecuali kamu menyuruh dia menyerah."
"Ardian meminta Erin membalas cintanya. Buat Erin susah melakukan itu mengingat apa yang sudah Ardian perbuat ke Erin."
"Jangan terlalu lama menyimpan dendam. Dia sudah bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia rela dihajar oleh daddy dan pak Arga. Bahkan kata mama Amel, selama pak Arga belum memaafkan, dia rela bersimpuh di depan kamar papanya. Itu juga yang dia lakukan saat membujuk daddy agar mau memaafkan dan menerima dia sebagai calon menantu. Berhari-hari dia bersimpuh di halaman rumah kita, bahkan dia rela tubuhnya kehujanan." Erina terkejut mendengar cerita Yuna. Ia tak menyangka Ardian akan melakukan hal itu.
"Mom, bagaimana seandainya Erina nggak bisa mencintai dia?"
"Cobalah buka hatimu. Hilangkan kebencianmu. Analisa hatimu. Apa yang kamu rasakan saat bersama dia."
__ADS_1
"Ardian sahabat sekaligus musuh Erin."
"Kamu tahu kan batasan benci dan cinta sangat tipis?" Erina mengangguk. "Kebencianmu masih bisa kok berubah menjadi cinta."
"Entahlah."
"Kalau memang kamu nggak bisa mencintai dia, lepaskan dia. Biarkan dia mencari yang lain. Demikian juga dirimu dan cari pria lain sebagai pendamping hidupmu kelak," usul Yuna.
"Cerai?"
"Itu satu-satunya jalan. Toh kamu tidak mencintai Ardian. Mumpung anak kalian belum lahir. Kalau sudah lahir akan semakin sulit berpisah."
"Berarti Erin menjalani sisa kehamilan ini dan melahirkan tanpa di dampingi Ardian?"
"Iya. Itu konsekuensinya. Kalau memang kamu sahabat yang baik, apa kamu tega Ardian terus menerus tersiksa karena perasaan cintanya tak berbalas. Belum lagi sikap kamu yang ketus dan nggak mau nurut sama dia. Lalu buat apa dia terus bertahan di sampingmu?"
"Mommy nggak melarang seandainya kami bercerai?" tanya Erina heran. "Lalu bagaimana dengan hutang daddy kepada keluarga Ardian?"
Menutup perusahaan yang daddy rintis dari awal? Daddy pasti akan sedih bila itu terjadi.
"Lalu bagaimana dengan kalian?"
"Kamu nggak usah memikirkan kami. Bila hal itu terjadi, mommy akan ikut daddy pindah ke Texas. Membantu grandpa menjalankan peternakannya disana."
"Lalu bagaimana dengan Erin? Apakah kalian akan meninggalkan Erin?"
"Kalau kamu bercerai dengan Ardian, kamu bebas menentukan hidupmu. Mengenai anak-anak kalian, mommy yakin Ardian dan keluarganya tak keberatan mengurus mereka. Apalagi Gustav dan Starla juga belum punya anak."
"Kenapa mereka harus diasuh oleh keluarga Ardian? Erin kan ibu mereka."
__ADS_1
"Sejak awal kamu tidak menginginkan mereka. Kalaupun kamu mempertahankan hak asuh mereka, bukan hal mudah mengasuh dua anak tanpa ada pendamping. Dan bila kamu bercerai dengan Ardian, itu artinya kamu siap menikah dengan orang lain."
"Maksud mommy, Daffa?"
"Hapus nama Daffa. Keluarganya tak mungkin menerima gadis yang sudah menyakiti putra kesayangan mereka. Ditambah lagi kamu memiliki anak dengan pria lain. Bila hal itu terjadi, eyangmu sudah menentukan calon suami untukmu. Dan kamu tidak bisa menolak calon yang eyang siapkan."
"Maksud mommy si Dipo?" tanya Erina tak percaya. Yuna mengangguk.
"Sejak awal eyang memang ingin menjodohkanmu dengan Dipo. Dia masih ada keturunan darah biru, keluarganya lebih kaya daripada Daffa dan Ardian. Kakeknya bersahabat dengan kakekmu sejak jaman perjuangan dulu. Eyang Fatma dan neneknya Dipo juga bersahabat sejak mereka masih menjadi perawat. Intinya, eyang nggak mau kamu menolak perjodohanmu dengan Dipo. Dan bila itu terjadi maka kamu harus melupakan anak-anakmu. Karena keluarga Dipo tak mau menerima mereka."
Erina ternganga mendengar penjelasan Yuna.
"Kalau kalian ke Texas dan menutup perusahaan, bagaimana dengan Erin? Tak bisakah Erin ikut kalian ke Texas?"
"Dengan membawa anak-anakmu? Kamu yakin akan membawa mereka hidup di peternakan? Apa menurutmu Ardian akan mengijinkan itu? Mengenai pekerjaan, kamu harus mencari sendiri. Kamu sudah dewasa dan bisa menentukan jalan hidupmu sendiri."
Erina larut dalam kegalauan. Sepeninggal Yuna, Erina masih tenggelam dalam pikirannya. Ia menatap perutnya yang mulai membulat. Dengan ragu ia mengelus perutnya.
"Maafkan mimi, sayang," bisik Erina sambil terus mengelus perutnya. "Maaf karena kalian hadir dengan cara yang salah. Seandainya saja kalian hadir sebagai buah cinta kami."
Mungkin benar apa kata Yuna, bahwa janin di dalam rahim bisa merasakan emosi dari sang ibu. Saat Erina mengelus perut, bayi-bayinya memberi respon lembut, tidak seaktif waktu itu. Erina memandang tonjolan-tonjolan yang muncul di perutnya. Kini ia sudah mulai terbiasa melihat hal tersebut. Bahkan di saat sendirian ia suka dengan sengaja mengetuk pelan perutnya dan biasanya si kembar akan meresponnya.
Air mata Erina luruh di pipinya dengan tiba-tiba saat mengingat ia harus melepaskan si kembar bila berpisah dengan Ardian. Tiba-tiba ia merasa sangat sedih. Saking sedihnya Erina menangis dengan sedu sedan yang memilukan perasaan orang yang mendengarnya. Maafkan mimi, maafkan mimi. Itu terus yang ia ucapkan di sela sedu sedannya. Lama kelamaan Erina tertidur karena lelah.
Menjelang jam 8 malam Ardian sampai di rumah. Ia bingung karena rumahnya masih gelap. Bahkan lampu teras dan halamanpun belum menyala. Apakah Erin pergi? tanya Ardian dalam hati. Dilongoknya garasi, mobil Erina masih terparkir manis disitu. Bahkan tampak agak berdebu.
Apakah Erin pergi dengan sahabat-sahabatnya atau dengan mama Amel dan mommy Yuna? Ardian memeriksa aplikasi pesan, tak satupun pesan dari para sahabat atau orang tua mereka. Atau Erin pergi dengan Daffa? Hati Ardian berdenyut nyeri saat memikirkan kemungkinan tersebut.
Ardian bergegas masuk ke dalam rumah yang gelap. Lalu ia menyalakan lampu-lampu. Di tatapnya ruang tamu dan ruang keluarga yang kosong. Ardian ke ruang makan. Di atas meja makan sudah tersedia makanan. Hmm.. berarti tadi mbok Siti datang ke sini. Ardian memutuskan masuk ke dalam kamar. Ia ingin segera membersihkan badan, lalu setelah itu ia akan mencari Erina.
__ADS_1
Suasana kamar gelap dan hening. Ardian menyalakan lampu kamar. Saat itulah ia melihat Erina tertidur di atas sofa masih mengenakan mukena. Ardian menghela nafas lega saat dilihatnya sang istri di dalam kamar.
⭐⭐⭐⭐