
"Rin, are you okay?" tanya Ardian hati-hati setelah Erina menutup telepon. "Ikut gue. Kita ke cafe itu yuk. Gue pingin ngopi."
"Di, gue pulang." Erina melangkah cepat meninggalkan Ardian.
"Rin, tunggu gue!" panggil Ardian. "Gue antar elo pulang."
"Nggak usah. Gue naik taksi aja."
"Nggak!" Ardian berhasil menyusul Erina. Ditahannya lengan Erina. "Elo pulang sama gue. No.. gue nggak mau elo membantah!"
"Di, gue bukan bocah alay yang gampang patah hati." Erina berusaha melepaskan pegangan Ardian.
"Gue tau elo bukan bocah alay. Tapi gue tau apa yang bakal elo lakukan dalam situasi seperti ini. Elo pasti bakal ke club kan?"
Erina diam tak menjawab. Dibantah juga percuma. Ardian sangat mengenal dirinya. Minum adalah salah satu pelariannya untuk menyembuhkan sakit hati.
"Gue antar elo pulang. Gue nggak mau om Andrew ngamuk sama gue kalau dia tahu elo mabok."
"Di, please biarin gue pergi. Gue butuh minum buat melupakan masalah ini."
"Kalau elo mau minum, jangan pergi ke club. Elo boleh minum sampai mabok, tapi minum di rumah gue. Ngerti?!"
"Nanti om Arga marah."
"Nggak bakalan ayah marah. Biar nanti mama Amel yang urus ayah. Sekarang ikut gue!"
"Ke apartemen lo aja Di," pinta Erina.
"Nggak. Bahaya."
"Bahaya kenapa? Nggak bakalan terjadi sesuatu kok."
"Tetap aja, kita ini pria dan wanita normal. Rentan diserempet setan," jawab Ardian sambil menyeret Erina untuk mengikutinya.
"Nggak mungkinlah terjadi sesuatu. Nggak ada physical attractive diantara kita berdua. Please ya Di, ke apartemen lo aja," bujuk Erina.
Ardian tak menanggapi permintaan Erina. Dengan langkah panjang ditariknya gadis tomboy tersebut, sehingga membuat Erina setengah berlari untuk mengimbangi langkahnya.
__ADS_1
"Please Di." Erina terus membujuk. Ardian tak bergeming. Ia tahu kebiasaan buruk sahabatnya ini. Biasanya ia selalu menemani disaat Erina galau dan melarikan diri ke minuman. Namun malam ini dirinya sedang tak ingin pergi ke club. Daripada membiarkan Erina minum sendirian, ia lebih memilih dirinya dimarahi sang ayah karena membiarkan Erina minum di rumahnya.
Keluarga Ardian dan Erina bukanlah keluarga yang agamis. Bahkan keluarga Erina, yang notabene ayahnya orang Amerika, adalah keluarga yang cukup liberal dan membebaskan anak-anak mereka menikmati masa muda mereka. Bahkan tak jarang Andrew mengajak Erina dan Ardian minum bareng. Buat Andrew bukan masalah besar Erina minum, asal jangan sampai mabuk.
Satu jam kemudian, mereka telah sampai di rumah Ardian. Erina yang memang terbiasa berkunjung ke rumah tersebut dengan santai ngeloyor masuk ke dalam kamar Ardian yang terletak di lantai dua. Karena pikirannya sedang ruwet, tak disapanya Amel dan Arga yang sedang menonton TV.
"Malam yah, malam ma." Ardian menyapa orang tuanya.
"Malam sayang. Itu si Erin kenapa?" tanya Amel. "Kok mukanya jutek gitu?"
"Biasalah, mi. Anak muda lagi patah hati," jawab Ardian. "Yah, Ma, Ardi naik ke kamar ya."
"Di, jangan lupa kabari orang tuanya Erina. Oh iya, kalau kalian lapar, minta mbok Iyem bawakan makanan ke kamar. Mama yakin, Erin nggak akan mau turun."
"Oke. Mama memang orang tua yang sangat pengertian."
"Di, besok malam Gustav dan Starla balik dari Perancis. Kamu jangan kemana-mana. Besok kita makan malam di resto milik om Dirga ya."
"Siap bos. Ardi naik dulu ya."
Di dalam kamar, Erina mengeluarkan sebatang rokok dari dalam kotak rokok yang ia temukan di atas meja kerja Ardian
"Rin, makan dulu nih. Ada cemilan. Tadi mbok Iyem yang bawain." Ardian menyodorkan piring berisi potongan brownies.
"Nggak ah. Gue lagi nggak nafsu makan."
"Dari tadi siang elo belum makan. Sekarang sudah mau maghrib. Kalau elo mau minum, jangan perut kosong," omel Ardian. Erina tak menggubris omelan Ardian.
"Di, nasib gue sial banget ya."
"Kenapa? Urusan Zafran?" tanya Ardian sambil mengambil rokok yang terselip di jemari Erina lalu menghisapnya. Lalu mengembalikan lagi kepada Erina.
"Jangan-jangan gue kena kutuk," ucap Erina absurd setelah menghisap rokoknya.
"Jaman milenial kayak sekarang kok percaya kutukan. Elo lagi apes aja, Rin."
Ardian masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian Ardian membawa sebotol wine dan dua buah gelas.
__ADS_1
"Rin. lo telpon om Andrew atau tante Yuna. Kasih kabar kalau elo ada di rumah gue."
"Mereka nggak bakal nyari, Di. Apalagi mereka tau kalau gue pergi sama elo."
"Di, apakah gue memang nggak pantas menjadi seorang istri?"
Ardian menatap Erina dari atas lalu ke bawah.
"Kata siapa nggak pantas?"
"Buktinya gue bolak balik ditinggal sama pacar-pacar gue," keluh Erina pelan. Dituangnya wine ke dalam gelas, lalu dteguknya hingga tak bersisa.
"Slow down, Rin.... Nggak usah keburu-buru gitu." Ardian mengikuti langkah Erina. Namun ia menyesap wine tersebut perlahan. Menikmati setiap rasa manis yang terdapat pada minuman tersebut.
"Apa gue jadi le****n aja ya?"
"Wah, ngaco lo! Baru minum segelas sudah mabok. Nggak usah punya pikiran aneh deh," omel Ardian kesal.
"Ngapain gue pacaran sama cowok kalau cuma buat disakitin kayak gini. Gue pikir Zafran berbeda dari cowok lain. Ternyata gue salah."
"Belum jodoh aja kali," sahut Ardian asal. "Someday you'll gonna find your soulmate."
"Soulmate? Hah!!.. jangan bikin gue ngakak deh, Nggak ada tuh yang namanya soulmate di dunia ini." Erina mulai terlihat mabuk. Entah sudah berapa gelas wine yang ia minum. Yang jelas botol yang baru saja Ardian buka tinggal tersisa separuh.
"Gustav, Bimo, Darren, Enrique, Pras, Rio, Zafran... mereka semuanya BRE****K!!" Seru Erina kesal. Ardian hanya diam mendengarkan celoteh sahabatnya yang mulai mabuk. Apa yang Erina katakan tak salah. Deretan mantan itu semuanya memang tak lebih dari baj****n pengecut.
Dari semua deretan mantan, Gustav dan Zafran yang paling lama menjalin hubungan dengan Erina. Keduanya mengkhianati cinta Erina dengan berselingkuh. Apalagi Zafran. Di usia mereka yang sudah di pertengahan 20-an, tentu saja hubungan yang sudah berlangsung selama dua tahun itu menumbuhkan harapan di hati Erina. Harapan besar mengenai hubungan yang langgeng, bahkan kalau memungkinkan berakhir di pelaminan.
Kedua pria itu memang berakhir di pelaminan, namun bukan Erina mempelai wanitanya. Gustav akhirnya menikah dengan Starla setelah mereka pacaran selama lima tahun. Sementara Zafran, sepertinya juga akhirnya berakhir di pelaminan... dengan gadis lain. Bukan Erina.
"Mulai hari ini gue janji nggak bakal pacaran lagi!" Erina terus meracau. "Cowok itu nggak lebih dari penjahat kel***n, ba*****n, pengecut, bre****k ...."
Masih banyak makian yang keluar dari mulut Erina. Dengan sabar Ardian menemani tanpa banyak komentar. Ia tahu Erina membutuhkan pelepasan sakit hatinya. Dan saat ini minumlah yang menjadi jalan keluarnya.
Dulu semasa kuliah, Erina akan melampiaskan kemarahannya dengan memukuli samsak atau sparing dengan teman nge-gym. Namun salah satu mantannya, Enrique, mengenalkan Erina dengan wine serta minuman keras lainnya. Hingga akhirnya Erina mulai melepaskan frustasinya dengan menenggak cairan haram tersebut.
Tak lama kemudian Erina tertidur di sofa yang berada di balkon. Ardian menatap sayang sahabatnya yang sedang frustasi. Dielusnya kepala sang sahabat dengan rasa sayang. Rin, kenapa sih elo apes banget? Diangkatnya tubuh Erina ke dalam kamar dan diletakkan di atas ranjang. Diselimutinya tubuh Erina. Dibiarkan Erina terlelap di atas ranjangnya. Lalu ia menghubungi orang tua Erina untuk memberitahu keberadaan putri mereka.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐