TAKLUK

TAKLUK
TRUST ME


__ADS_3

"Kalian malam ini menginap di sini kan?" tanya Mira setelah mereka selesai makan malam.


"Gimana Rin?"


"Menginap saja kak," ajak Susan, salah satu saudara sepupu Daffa. "Kak Erin bisa tidur sama aku dan Cheryl. Atau bisa juga cewek-cewek yang masih jomblo ambil satu vila. Jadi kita kumpul semua disana. Ada aku, Cheryl, kak Erin, dan Maura. Pasti seru tuh. Kak Erin bisa cerita sama kita gimana pertama kali ketemu mas Daffa. Siapa yang jatuh cinta duluan... "


"Enak saja. Erin bukan jomblo. Dia kan calon istri gue," tolak Daffa.


"Lalu kamu mau tidur sekamar sama dia?" tanya Sandra, kakak Daffa. "Bisa-bisa kamu digantung sama ayah."


"Huuuu.... mas Daffa maunya tuh tidur bareng."


"Belum halal mas!"


Masih banyak lagi ledekan-ledekan yang dilontarkan. Erina hanya bisa tertawa mendengarnya. Sementara Daffa hanya bisa menggaruk kepalanya.


"Beneran Daf, kamu mau sekamar dengan Erin?" tanya Pandu. "Boleh saja, tapi itu artinya om harus jemput mister Andrew."


"Kenapa gitu pa?" tanya Maura yang baru berusia 10 tahun. "Memangnya kak Erin kalau tidur harus ditemeni papanya?"


"Sstt... anak kecil nggak usah ikut-ikutan," tegur Susan yang merupakan anak Anto yang paling besar.


"Tapi Maura kan pengen tau, kak," protes Maura.


"Kalau mas Daffa mau tidur sekamar dengan kak Erin, mereka harus menikah dulu."


"Terus apa hubungannya dengan mister Andrew? Dia itu siapa?"


"Mister Andrew itu papanya kak Erin," jawab Erina sambil merangkul bahu Maura.


"Kalau seorang wanita mau melaksanan pernikahan maka harus ada walinya, yaitu papanya atau saudara laki-lakinya." jelas Aira yang baru saja bergabung. Maura manggut-manggut setelah mendengar penjelasan mamanya. Entahlah dia mengerti atau tidak.


"Jadi gimana Daf? Mumpung baru jam 8 malam nih," ledek Pandu.


"Om Pandu ada-ada saja nih. Siapa juga yang mau menikah sama Daffa," sahut Erina cepat.


"Ya kamulah." Erina tergagap.


"I-iya... tapi nggak malam ini juga om. Baru juga jalan bareng beberapa kali."


"Kak, dulu Rinda malah nggak pakai pacaran segala. Dikenalin. Sebulan kemudian menikah dengan kak Boy."


"Sudah.. sudah.. kasian nak Erin kalian godain terus." Mira melerai saat dilihatnya Erina kebingungan. "Mas, bilang sama mang Ujang buat merapikan vila yang dekat kolam renang. Disitu kamarnya besar-besar. Kalian yang muda kumpul saja disana. Tapi ingat, jangan aneh-aneh."

__ADS_1


"Iya, sana kalian yang muda-muda tidurnya di vila itu. Kasihan eyang Marni nggak bisa tidur gara-gara kalian berisik. Daf, kamu yang tanggung jawab menjaga adik-adikmu ya."


"Justru kita yang jagain mas Daffa dan kak Erin supaya mereka nggak aneh-aneh, tan," celetuk Cheryl yang disambut cekikikan oleh yang lain.


"Nggak papa kan kamu menginap disini?" tanya Mira kepada Erina. "Jangan terlalu diambil hati kata-kata mereka."


"Nggak papa tante. Erin senang. Soalnya di rumah sepi. Maklum Erin nggak punya adik kakak."


"Mereka sejak kecil selalu bersama-sama. Bahkan Aira, adik tante yang paling kecil, dari kecil memang terbiasa bermain dengan keponakan-keponakannya. Usia mereka tak terpaut jauh."


"Senang ya tante, melihat mereka semua akur. Erin rasa, eyang pasti bahagia banget melihat anak cucu menantu kumpul dan akur begini."


"Kamu juga jangan sedih. Sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga besar ini." Mira mengusap lembut lengan Erina.


"Bun, Daffa antar Erin ambil tas dan ganti baju dulu ya. Kasihan dia kelihatan capek."


"Hanya mengantar ya mas. Jangan ikutan masuk kamar."Sekali lagi Daffa diledek oleh para sepupunya.


⭐⭐⭐⭐


"Bagaimana?"


"Apanya?"


"Ya bagaimana pendapatmu mengenai keluargaku?" Saat itu mereka sedang duduk di depan vila sambil menatap kolam yang airnya terlihat berkilau terkena pantulan cahaya lampu


"Hanya itu?"


"Daf, aku baru sebentar bertemu mereka. Aku nggak bisa langsung memuji mereka tanpa mengenal mereka lebih jauh lagi. Tapi sejauh ini aku merasa disambut dengan baik oleh keluarga besarmu. Semoga sikap mereka tak berubah saat mengetahui diriku yang sebenarnya."


"Apa yang saat ini ada dihadapanku adalah dirimu yang sebenarnya. Erina yang memiliki sisi lembut dan family oriented. Sisi yang selama ini jarang diketahui oleh orang lain. Selama ini hanya sisi tomboy san urakan yang kamu perlihatkan pada mereka." ucap Daff sambil menggenggam erat tangan Erina.


"Ah, sok tau kamu."


"Bukan sok tau, Rin. Sejak tadi aku memperhatikan bagaimana sikapmu ke anak-anak kak Sandra dan tante Aira. Kamu sabar menghadapi berbagai pertanyaan absurd para sepupuku. Bahkan kamu berhasil membuat Virgo kehilangan kata-kata saat dia mencoba merayumu."


"Saudara sepupu dan keponakan-keponakanmu menyenangkan. Kebetulan aku suka anak kecil karena tidak memiliki saudara kandung."


"Berarti penilaianku nggak salah, kan? Aku yakin kamu akan menjadi ibu yang baik dari anak-anak kita."


"Apa Daf?"


"Kenapa? Ada yang aneh dengan perkataanku barusan?" Erina mengangguk ragu.

__ADS_1


"Tadi kamu bilang anak-anak kita."


"Iya, kamu adalah calon ibu dari anak-anak kita nanti."


"Apa itu artinya...."


"Ya, aku semakin yakin kamulah calon pendamping hidupku kelak."


"Tapi Daf, kita baru saja memulai hubungan ini. Bahkan kita berdua masih belum yakin dengan perasaan masing-masing. Tidak ada cinta di antara kita."


"Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak mencari cinta. Tapi kamu menginginkan pendamping yang memberikan rasa nyaman. Aku yakin bisa memberikan kenyamanan itu padamu." Bagaimana dengan hatimu? tanya Erina tentunya dalam hati.


"Tapi apa tidak terlalu cepat kamu mengambil kesimpulan seperti itu dalam hubungan kita?"


"Apa kamu ragu melanjutkan hubungan ini?" tanya Daffa serius. "Apa yang membuatmu ragu? Kedua orang tuaku bahkan keluarga besarku telah menerimamu dengan tangan terbuka. Kedua orang tuamu juga sepertinya menyetujui hubungan ini."


"Entahlah aku hanya takut, kebahagiaan yang datang begitu cepat ini akan terengut dengan cepat pula."


"Rin, jangan pernah memikirkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi. Pamali kata orang-orang tua."


"Tapi Daf, aku bicara seperti ini karena memang itulah yang sering terjadi dalam hubungan-hubunganku sebelumnya."


"Rin, aku pun tak berani mengatakan kamu pasti akan bahagia bersamaku. Tapi aku hanya bisa mengajakmu bersama menjalani hubungan ini dan bersama-sama mencari kebahagiaan itu."


"Bagaimana seandainya setelah kita menjalani hubungan ini, tiba-tiba orang tuamu terutama bunda merubah pikirannya?"


"It doesn't matter for me."


"Daf, aku mungkin bodoh tentang agama. Tapi aku sangat tahu kalau sampai kapanpun kamu harus berbakti kepada orang tuamu. Aku nggak mau kamu melawan mereka seandainya hal itu terjadi."


"Rin, trust me. I won't let it happen. Aku akan menjagamu."


"Daf, it's too good to be true. Aku takut ini semua hanya mimpi." Daffa menarik tubuh Erina ke dalam pelukannya.


"Kita jalani ini dengan perlahan. Tak perlu terburu-buru. Mereka bisa mengerti bila kusampaikan hal ini pada mereka."


"Bagaimana kalau mereka kecewa dan mereka mencarikan jodoh lain untukmu?"


"Aku akan menolaknya."


"Berarti kamu melawan mereka? Jangan! Aku nggak mau hal.itu terjadi. Lebih baik dari sekarang kita hentikan semua ini."


"Hey, tenang Rin. Jangan memikirkan hal-hal buruk dulu. Seperti kataku tadi, kita jalani satu persatu. Semoga tuhan memang menakdirkan kita untuk bersama."

__ADS_1


Erina menatap dalam-dalam mata Daffa. Ia tak menemukan keraguan ataupun kebohongan disana. Yang ia temui adalah keyakinan dan.. cinta? Mungkinkah?


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2