TAKLUK

TAKLUK
MENEMANI SEMALAMAN


__ADS_3

"Kalau elo tidur disini jangan-jangan elo memperkosa gue lagi."


⭐⭐⭐⭐


Ardian terdiam mendengar kalimat terakhir yang Erina ucapkan. Ia tak menyalahkan bila Erina memiliki trauma sekamar dengannya. Tapi ia pun bukan manusia bodoh yang akan mengulangi kesalahan yang sama. Bahkan seekor kerbau pun tak kan mau jatuh ke lobang yang sama untuk kedua kalinya.


"Rin, gue tau gue salah. Tapi elo harusnya dengarkan juga penjelasan gue."


"Penjelasan apa lagi? Nggak ada yang perlu dijelaskan. Kenyataannya elo sudah merenggut kesucian gue."


"Elo yang menghubungi gue lebih dulu setelah elo memutuskan pertunangan dengan Daffa. Malam itu elo membuat aunty dan gue panik karena nggak tau elo ada dimana. Kalau bukan karena elo mabok mungkin hal itu nggak akan terjadi."


"Jadi elo nyalahin gue?!" Erina kembali meradang.


Ardian memilih diam tak ingin membahas lebih jauh lagi. Ia lelah fisik dan psikis. Demikian juga Erina.


"Oke, oke.. Gue yang salah. Gue minta maaf. Tolong sekarang elo istirahat. Gue nggak mau elo kecapekan. Setelah elo tidur, gue akan ke kamar tamu." Ardian memilih mengalah.


Untungnya kali ini Erina mau menuruti kata-kata Ardian. Tak sampai lima menit gadis itu sudah berada di alam mimpi. Ardian memperbaiki selimut Erina lalu perlahan ia mengecup keningnya.


"Selamat malam sahabat galakku."


⭐⭐⭐⭐


Paginya Erina membuka mata dengan berat. Ia memandang sekeliling kamar. Sepi, tak ada tanda-tanda manusia lain. Erina meregangkan ototnya lalu duduk bersandar. Ia melihat jam pada ponselnya. Pukul 05.45, ia buru-buru ke kamar mandi karena ia kesiangan untuk shalat subuh. Ya, sejak kejadian malam itu Erina berubah. Ia mulai melaksanakan kewajibannya sebagai muslim.


Setelah shalat, Erina membuka tirai kamarnya. Lalu ia membuka pintu kaca menuju balkon kamarnya. Pagi itu ia merasa segar dan ingin merasakan udara pagi yang dingin. Saat keluar balkon, dilihatnya mobil Ardian keluar dari gerbang rumah. Kemana dia pagi-pagi begini? batinnya. Oh iya, dia bilang mau ke Bandung untuk meeting. Ah, ngapain juga gue jadi mikirin dia.


Setelah menghirup udara pagi, Erina masuk kembali ke kamarnya. Rencananya pagi ini ia akan mulai kembali bekerja. Mumpung mommy dan si satpam nggak ada.


Baru saja hendak menyalakan laptop, tiba- tiba perutnya terasa lapar. Ia hendak memanggil mbok Siti saat dilihatnya di atas meja kerjanya telah tersedia sandwich, buah-buahan dan secangkir susu hangat. Ia melihat secarik kertas di sampingnya.


'Sayang, jangan lupa dihabiskan mumpung masih hangat supaya kamu dan anak-anak kita sehat. Maaf aku nggak bisa menemanimu sarapan. Jangan lupa juga minum vitaminnya. Love you ❤....'


Tulisan tangan Ardian. Di bawah catatan itu terlipat rapi saputangan. Kenapa Ardian meninggalkan saputangannya? batin Erina. Entah malaikat mana yang menyenggolnya, iaa mengambil saputangan tersebut dan mencium aromanya. Wangi khas Ardian yang entah mengapa pagi itu seolah mendatangkan ketenangan. Ah, itu cuma kebetulan. Hati dan otaknya kali ini kompak menyangkal hal tersebut.


"Mboook!"


Tergopoh-gopoh mbok Siti memasuki kamar Erina. Ia khawatir nona mudanya mual lagi.


"I-iya non, ada apa?" tanya mbok Siti dengan nafas tersengal. Sepertinya ia memaksa tubuh gempalnya berlari ke kamar Erina.


"Mbok, ini siapa yang nyiapin?" tanyanya sambil menunjuk makanan yang tersedia.

__ADS_1


"Ta-tadi den Ardian yang menyiapkan. Kenapa non? Non Erina mual lagi? Mau diambilkan obat mualnya?"


"Nggak mbok, cuma mau tanya aja."


"Tadi den Ardi bilang kalau nanti non Erin pusing atau mual lagi, telpon dia aja."


"Mbok, tolong bilangin ke bi Imas untuk makan siang aku minta dibuatin sop iga ya."


"Baik non, mbok Siti turun dulu ya. Eh, tapi non Erin beneran nggak mual kan?"


"Nggak mbok."


Sepeninggal mbok Siti, Erin dengan ragu menyantap makanan yang terhidang. Ia benar-benar khawatir akan muntah lagi. Untunglah apa yang ia takutkan tak terjadi. Ia berhasil menghabiskan sarapannya tanpa drama. Selesai makan Erina mengambil saputangan Ardian dan menaruhnya di atas nakas. Diciumnya sekali lagi saputangan itu. Harum parfum yang biasa dipakai Ardian samar tercium. Parfum yang ia pilihkan untuk Ardian dan sejak itu Ardian selalu membeli merek yang sama.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada panggilan video. Muncul nama Ardian. Mau ngapain dia pake videocall segala? Walau kesal, Erina menekan icon hijau.


"Ya, ada apa?"tanya ketus saat wajah Ardian muncul di layar.


"Assalaamu'alaykum sayang."


"Ngapain pagi-pagi videocall segala? Kalau lagi nyetir nggak usah main hp."


"Jawab dulu dong salamnya. Gue nggak nyetir. Tuh ada bang Kardi yang nyetir."


"Biar gue bisa telpon elo."


"Ada apa hubungin gue?" tanya Erina judes.


"Makanannya sudah dihabiskan? Susu dan vitaminnya sudah diminum?" tanya Ardian tak mempedulikan nada ketus Erina.


"Sudah."


"Good girl. Kalau nanti elo pusing atau mual, telpon gue ya."


"Ngapain gue telpon elo?" tanya Erina bingung.


"Siapa tau elo atau anak-anak kita kangen. Gue kerja dulu ya. Gue usahakan sebelum isya sudah sampai rumah. Elo mau dibawain oleh-oleh apa?"


"Nggak usah."


"Jangan manyun gitu dong. Sengaja ya mau menggoda gue?"


"Dih, ngapain juga gue ngegoda elo? Kayak nggak ada kerjaan aja. Gue nggak sudi nyium elo."

__ADS_1


"Beneran? Yang tadi malam gimana?"


"Apa?! Tadi malam ada apa?" tanya Erina panik. Bukannya menjawab Ardian malah tergelak.


"Sudah dulu ya, gue mau tidur. Semalam gue nggak bisa tidur nyenyak gara-gara lengan gue dipegangin semalaman."


"Apa maksud lo?" Bukannya menjawab, Ardian malah memutus pembicaraan.


Apa sih maksudnya Ardian? Kenapa lengannya pegal? Dih nggak jelas banget tuh orang, omel Erina dalam hati.


"Non Erin, pagi ini mau makan nasi lagi atau nggak?" tanya bi Imas.


"Nggak usah bi. Sarapan yang tadi cukup."


"Den Ardi baik banget ya non. Bertanggung jawab. Sabar lagi," puji bi Imas sambil merapikan kamar Erina.


"Maksudnya?"


"Ya bayangin aja non, den Ardi malam-malam mau datang untuk bawain pesanan non Erin. Lalu nemenin non Erin sampai pagi."


"Lho, memangnya dia nggak tidur di kamar tamu?"


"Nggak non. Kan semalaman den Ardi nemenin non Erin tidur."


Erina terdiam mendengar ucapan bi Imas. Jadi semalaman dia nemenin gue. Kok gue nggak tahu ya.


"Bibi tau dari mana?"


"Jam 3an tadi bibi bangun, mau lihat kondisi non Erin. Pas masuk kamar bibi lihat den Ardian tidur di kursi dan non Erin memeluk lengan den Ardian. Pas bibi mau bangunin non Erin, den Ardian terbangun dan melarang bibi bangunin non Erin. Kebayang gimana pegalnya ya lengan den Ardian semalaman nggak bisa bergerak."


"Masa sih bi?" tanya Erina tak percaya.


"Masa bibi bohong. Lalu habis shalat subuh tadi, den Ardi langsung menyiapkan sarapan buat non Erin. Tadi sebelum berangkat den Ardi juga pesan kalau nanti non Erin mual lagi, bibi disuruh telpon dia. Den Ardian itu tipe suami idaman banget. Non Erin terima aja lamaran den Ardian."


"Nggak usah bahas soal pernikahan ah. Bi, nanti jangan lupa bikinin rujak serut ya."


"Maksudnya salad buah?"


"Nggak, Aku mau rujak serut. Yang pedas ya."


"Baik non. Bibi buatin segala keinginan non Erin. Yang penting non Erin nggak muntah-muntah lagi."


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2