TAKLUK

TAKLUK
BERTEMU DAFFA


__ADS_3

Raymond dan Alexia saling berdiam diri saat berada di dalam mobil yang akan membawa mereka menuju rumah. Raymond sengaja tak ingin langsung menginterogasi Alexia. Ia tahu bukan hal mudah bagi Alexia harus terus menerus berbohong demi sahabatnya. Dulu saat kejadian itu, Alexia terpaksa berbohong. Kali ini pun ada sesuatu yang ia sembunyikan.


"Sayang, kamu capek? Tubuh dan kepala kamu nggak apa-apa kan?" tanya Raymond sambil mengambil tangan Alexia lalu mengecupnya.


"Aku nggak apa-apa. Cuma masih kaget sedikit karena tadi diseruduknya lumayan keras. Beb, maaf ya mobilnya penyok parah."


"Ssstt.. nggak usah mikirin mobil. Buat aku yang penting kamu baik-baik saja. Mobil masih bisa aku beli lagi, tapi istri seperti kamu nggak akan ada gantinya."


"Aah.. so sweet banget. Aku makin cinta dan sayang sama kamu." Alexia bersandar manja pada lengan sang suami. "Nanti di rumah aku akan memberikan servis yang memuaskan dan nggak mungkin kamu lupakan."


"Terima kasih sayang. Tapi nanti di rumah kamu nggak perlu ngapa-ngapain. Justru aku yang akan men-treat kamu dengan spesial supaya segala stress dan shock yang kamu alami hari ini hilang. Bagaimana dengan berendam di jacuzi?"


"Di rumah kita kan nggak ada jacuzi. Masa kita berendam berdua di bathtub?"


"Malam ini kita menginap di vila. Biar aku hubungi mang Ucup untuk menyiapkan kamar kita. Kalau perlu besok aku cuti supaya besok bisa manjain kamu."


"Aaah... kamu kok kayak gulali campur es krim sih?" Alexia mencubit manja lengan sang suami. Lalu ia mencium pipi Raymond.


"Kok gulali campur es krim? Kamu kepengen makan itu? Kamu nggak ngidam kan?"


"Ya ampun sayang. Aku nggak ngidam kok. Kan baru dua hari yang lalu aku selesai menstruasi. Lupa ya dengan yang semalam? Aku tuh bukan kepengen makanan itu. Tapi maksudku, kamu kok manis banget siiih... bikin aku tambah klepek-klepek sama kamu." Alexia dan Raymond tertawa bersama.


Satu jam kemudian mereka tiba di vila milik keluarga Raymond. Lalu lintas tengah malam sangat lengang membuat perjalanan lebih cepat dari biasanya. Setelah mobil berhenti, Raymond bergegas turun dan membukakan pintu untuk Alexia. Setelah Alexia keluar dari mobil, Raymond langsung menggendongnya ala bridal dan membawanya ke dalam kamar.

__ADS_1


Di dalam kamar mereka langsung berc****n dengan penuh gairah. Setelah melucuti pakaian mereka, Raymond mengangkat tubuh Alexia dan bersama-sama mereka masuk ke dalam jacuzi yang telah disiapkan. Air hangat dan bathbomb dengan aroma terapi langsung menyambut tubuh t******ng mereka. Tak lama kedua larut dalam gairah malam di tengah dinginnya udara pegunungan.


Setelah selesai, mereka duduk di dalam jacuzi sambil merasakan nikmatnya air hangat dan pijatan dari semburan air. Alexia duduk membelakangi Raymond dan bersandar nyaman di dada sang suami.


"Oh iya sayang, tadi gimana jalan-jalannya? Enak makan malamnya?" tanya Raymond setelah dirasanya perasaan sang istri sudah lebih rileks.


"Jalan-jalan? Oh yang tadi sama Erin. Ya gitu deh. Mana enak sih sayang pergi clubbing sama bumil. Apalagi tuh bumil dah kayak orang kesetanan joget-joget melulu sampai aku repot jagainnya. Yang konyolnya, kalian tuh para cowok aneh ya. Masa liat ibu-ibu hamil joget malah horny. Tadi ada beberapa pria yang hampir saja *****-***** Erin. Untung aku lihat dan bisa mencegah hal tersebut." Tanpa sadar Alexia yang masih bersandar nyaman di dada Raymond menceritakan apa yang ia dan Erina alami.


"Aku hampir kewalahan menghadapi para cowok tersebut. Untunglah di saat itu muncul Daffa yang menyelamatkan. Kalau nggak ada Daffa mungkin saat ini tuh cowok-cowok babak belur dihajar Erin. Kalau kayak begitu kejadiannya bisa-bisa malam ini kita ada di kantor polisi." Alexia tertawa kecil mengingat kejadian di club tadi.


"Kok bisa kebetulan banget ada Daffa? Daffa mantan tunangan Erin kan?" pancing Raymond halus agar istrinya terus berbicara. Kini tangan Raymond memijat lembut pelipis Alexia. Pijatan yang membuat Alexia mulai mengantuk. Apalagi mereka juga baru selesai melakukan 'olahraga' malam.


"Aku juga nggak nyangka akan bertemu Daffa disitu. Setahu aku, Daffa bukan penggemar kehidupan malam. Atau mungkin sejak putus dengan Erin dia berubah ya."


"Daffa mengajak makan malam. Sebenarnya kita sudah nggak mau, tapi tiba-tiba tuh perut bumil berulah. Mana bunyinya kencang banget. Mungkin si kembar protes dari tadi mommynya cuma minum dan ngemil melulu."


"Kalian nggak minum ......"


"Ya nggak dong sayang. Tadi memang Erin hampir memesan, tapi berhasil aku cegah. Aku juga nggak berani minum karena kan aku yang nyetir."


"Kalian makan malam dimana? Enak makanannya?"


"Kita akhirnya makan malam di resto makanan sunda dekat situ, gara-gara si Erin mendadak pengen makan nasi tutug oncom. Padahal seingat aku Erin tuh nggak doyan oncom. Apalagi makanan yang dicampur-campur gitu. Selera dia kan western banget. Kayak uncle Andrew."

__ADS_1


"Bagaimana suasana makan malamnya?"


"Pasti awkward. Si Erin makan melulu. Yang ngobrol malah aku dan Daffa. Tapi ya ngobrol basa basi banget. Sayang, tadi aku sempat lihat wajah Daffa kaget banget waktu tahu Erin hamil. Ya ampuun kasihan banget. Dia pasti shock berat dan bertanya-tanya siapa ayahnya."


"Erin bilang nggak siapa ayah dari bayi-bayi dalam kandungannya?"


"Nggak. Erin benar-benar cuma makan. Kalaupun ngobrol cuma pendek-pendek jawabnya. Kasihan juga lihat wajah Daffa yang penasaran. Nah, akibat kekenyangan itulah makanya saat perjalanan pulang Erin tertidur di mobil. Beb, aku ngantuk. Tidur yuk. Aku sudah nggak kuat buka mata."


"Aku bersihkan dulu badanmu setelah itu baru kita tidur ya," bujuk Raymond lembut. Ditatapnya wajah Alexia yang matanya sudah setengah tertutup karena mengantuk. Ia tersenyum sambil bersyukur berhasil memiliki Alexia, mahasiswi cerewet yang dulu sering memprotesnya saat mengajar.


⭐⭐🥰⭐⭐


Sementara itu Erina masih belum mau berbicara pada Ardian.


"Rin, aku kabarin mommy dan daddy dulu ya. Oh iya, aku mau ke parkiran dulu. Mau bilang ke bang Ali untuk pulang saja."


"Hmm..." Hanya itu jawaban dari Erina.


Tak lama Ardian sudah kembali ke kamar tempat Erina dirawat. Dilihatnya Erina sudah tertidur. Saat itulah ada panggilan masuk ke ponsel Erina. Nomor yang tak dikenal. Kira-kira siapa yang menghubungi Erin malam-malam begini, tanya Ardian dalam hati. Perlahan Ardian mengambil ponsel Erina dan meletakkannya di meja yang ada di sebelah ranjang. Lalu ia memperbaiki selimut Erina. Saat ia hendak mengecup kening istrinya, ia mendengar Erina mendusin. Ardian mendekatkan telinganya untuk mendengar apa yang dikatakan Erina dalam tidurnya.


"Maaf." bisik Erina dengan mata terpejam. Ardian mengayunkan tangannya di depan wajah Erina, namun Erina tak bergeming.


Maaf? Apa maksudnya? Ardian perlahan mengelus dan mencium perut Erina. Hal itu hanya bisa ia lakukan ketika Erina tertidur seperti saat ini. Rin, please jangan sakit. Please jangan tinggalin gue, bisik Ardian sambil menggenggam dan mencium tangan Erina. Ia begitu takut kehilangan Erina dan anak-anak mereka.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2