
Perjalanan menuju puncak gunung Bromo masih belum ada separuhnya. Tetapi hujan sudah mengguyur bumi, membuat Wahyu terpaksa menepikan motornya di depan toko yang kebetulan sedang tutup.
Pria itu kemudian membuka jok motornya, berharap ada jas hujan di sana, yang ternyata zonk.
"Yaaah... Terpaksa nunggu sampai reda nih. Maaf ya, Nay. Aku malah lupa bawa jas hujan," ucap Wahyu sangat menyesal.
Naya hanya mengangguk kecil. Wanita itu kerepotan menggendong Lala yang dari tadi tertidur. Apalagi sambil memegangi balon milik Lala.
"Sini aku yang gendong." Tiba-tiba saja Wahyu mengambil Lala dari gendongan Naya, dan sekarang ia yang menggendongnya.
Hujan masih turun deras. Sepertinya akan lama redanya. Padahal di kota tadi langitnya cerah sekali. Tak disangka baru tiba di kaki gunung sudah terguyur hujan.
"Apakah Lala pernah tanya ayahnya?" tanya Wahyu tanpa canggung menanyakan hal itu kepada Naya.
Naya mengangguk. Tanpa mau menceritakan bagaimana Lala saat menanyakan ayahnya.
"Kamu bisa bilang kalau aku ayahnya," kata Wahyu enteng sekali.
Naya langsung terkekeh kecil. Menganggap ucapan Wahyu sekedar candaan, padahal Wahyu mengatakannya dengan sangat serius.
"Aku serius loh, Nay. Aku ingin menjadi ayahnya Lala. Juga ingin jadi suami kamu." Wahyu kembali mengutarakan isi hatinya kepada Naya. Seperti tak pernah jemu, terus berusaha mendapatkan hati dan perhatian Naya.
"Dan jawabanku tetap sama. Kamu jangan berharap sama aku." Naya mempertegas jawabannya lagi.
Entah mengapa Wahyu yang rupawan itu sama sekali tidak membuat hati Naya terpesona. Jauh dilubuk hati Naya, ia ingin membina rumah tangga lagi. Cuma untuk saat ini ia belum siap.
Wahyu tersenyum getir. Lalu keduanya sama-sama terdiam. Dengan Wahyu yang terus menggendong Lala yang tertidur sangat pulas.
"Setelah hujan reda, lebih baik kita pulang," ucap Naya setelah mereka cukup lama saling diam.
"Nggak jadi susul Fifi?"
Naya menggeleng kepala. Biarlah Fifi mau bagaimana. Bila nanti Fifi terkena semprot sama Abdul dan Rahma, Naya tidak ikut-ikutan.
Wahyu hanya bisa mengangguk setuju. Lagian tidak tega juga membawa Lala ke puncak gunung Bromo sambil naik motor.
Setelah hampir setengah jam menunggu akhirnya hujan perlahan mulai mereda. Mereka berdua kembali melajukan perjalanan, bukan lagi menuju puncak gunung Bromo tetapi balik pulang.
Naya meminta Wahyu untuk mengantarnya ke Aloon-aloon kota lagi, karena tadi motor milik Naya masih ditinggal di parkiran.
Saat ini mereka sudah tiba di Aloon-aloon kota tepat saat kumandang adzan ashar. Tetapi Naya memilih langsung pulang. Apalagi Lala juga sudah bangun dari tidurnya, tentunya mudah bagi Naya untuk mengendarai motornya.
"Kalau repot sini aku yang bawakan balonnya, Nay," pinta Wahyu melihat Naya agak kerepotan menyetir dengan Lala yang sibuk pegang balon.
"Tidak usah, Wahyu, terimakasih," tolak Naya dengan lembut.
Tetapi Wahyu tetap mengambil balon itu dari tangan Lala. Sehingga bocil itu mewek, mengira Wahyu merampas balonnya.
__ADS_1
"Om yang bawakan, Lala, biar nggak jatuh di jalan," kata Wahyu mencoba menenangkan Lala.
"Nanti kalau ada angin trus Lala nggak kuat megangnya gimana?" kata Wahyu lagi, terkesan sedikit memaksa, karena memang Wahyu sangat ingin bermain ke rumah Naya juga. Katakanlah modus.
Lala mengangguk, sepertinya rayuan Wahyu mempan buatnya. Bocah itu tak lagi mewek, dengan suka rela membiarkan Wahyu memegang balonnya.
Naya menghela nafas entah. Setidaknya apa yang dilakukan oleh Wahyu adalah untuk kenyamanannya. Tetapi nanti jika mereka sudah sampai di gang depan rumah Naya, ia akan meminta Wahyu cukup disitu saja. Jujur, Naya belum siap ditanyakan siapa Wahyu oleh kedua orang tuanya, jika Wahyu tetap dibiarkan mengantar hingga ke rumah. Meskipun Naya menganggap Wahyu bukan siapa-siapa dan sekedar teman, tetapi Naya tetap merasa tak nyaman membawa Wahyu ke rumah.
Mereka berjalan dengan dua motor yang beriringan. Sesekali Wahyu menggoda Lala dengan menjulurkan lidahnya. Lala ikut-ikutan seperti Wahyu. Tak ayal tingkah absurd itu membuat Wahyu dan Lala sama-sama tertawa riang. Hingga tak terasa mereka kini telah sampai di gang depan menuju rumah Naya. Wanita itu menepi di dekat tugu gang itu, Wahyu pun ikut menepi juga.
"Kok berhenti di sini, Nay?" tanya Wahyu, padahal ia sendiri sudah maksud kenapa Naya berhenti di sana.
"Maaf, Wahyu, aku tidak bisa mengajakmu mampir ke rumah," kata Naya, sebenarnya tidak enak tapi mau bagaimana lagi.
Wahyu mengangguk, tetapi tatapan matanya syarat kecewa. Dan Naya melihat jelas hal itu. Lalu Wahyu turun dari motornya, untuk memberikan balon yang dipegangnya kepada Lala. Bocah itu menerimanya dengan riang. Hingga sampai Wahyu mencium pipi bocah itu, Lala tetap tersenyum senang.
Sejenak Wahyu menatap Naya lekat. Membuat Naya jadi curiga, mau apa dia?
"Apa?" tanya Naya pada akhirnya.
"Cepat atau lambat kamu pasti akan menjadi milikku, Nay," kata Wahyu dengan yakin.
Naya tercengang sesaat. Entahlah, pikirannya tiba-tiba bingung mau bersikap seperti apa kepada Wahyu. Sudah ditolak dua kali, nyatanya tak membuat pria itu patah semangat.
"Sampai bertemu lagi, Nay," kata Wahyu lagi. Kali ini tangan Wahyu sudah berani membelai pipi Naya. Membuat Naya lagi-lagi kaget dengan perlakuannya.
"Dadah Om..." balas Lala dengan riang.
Setelah itu Naya kembali melajukan motornya untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Naya melihat ada dua motor yang terparkir di halaman rumahnya. Satu motor Naya tahu kalau itu adalah milik pak lek Sholeh, dan yang satu lagi mungkin tamu bapak menurut Naya.
Akhirnya Naya memilih masuk rumah melalui pintu samping dekat dapur. Di dapur Naya melihat Rahma sedang menyeduh kopi untuk tamu di depan.
"Sudah datang, Nay," sapa Rahma.
"Iya, Buk."
Rahma tidak bertanya kenapa Fifi tidak ada. Malah ia menyuruh Naya untuk mengeluarkan kopi itu kepada tamu di depan. Tanpa curiga Naya membawa nampan berisi tiga cangkir kopi itu ke ruang tamu. Sedangkan Rahma menahan Lala untuk tidak ikut Naya ke sana.
Di ruang tamu itu Naya melihat, Abdul, pak lek Sholeh, dan satu orang lelaki dewasa yang Naya tebak usianya tak jauh beda dengan pak lek Sholeh. Naya meletakkan kopi itu ke meja. Tetapi Naya merasa dirinya seperti sedang jadi tontonan tamu itu. Terlihat dari tatapan matanya yang tak pernah berpaling dari Naya, sehingga Naya merasa risih sendiri.
"Dia ini Naya," kata pak lek Sholeh memperkenalkan Naya kepada orang itu.
Orang itu tersenyum kepada Naya. Tetapi Naya tidak membalasnya, malah Naya langsung berlalu begitu saja masuk ke dapur lagi.
"Buk, itu didepan tamu siapa?" tanya Naya kepada Rahma ketika sudah ada di dapur lagi.
"Orang itu bawaan pak lek Sholeh, Nay. Yang kapan hari itu bapak cerita ke kamu," jelas Rahma seketika membuat Naya mengerti.
__ADS_1
"Bukannya aku sudah bilang ke bapak kalau aku nolak," ucap Naya mulai sensi. Karena kalau terjadi lagi dirinya dijodohkan tanpa meminta pendapatnya oleh Abdul, rasanya Naya sudah tidak bisa untuk diam terus.
"Iya, Nay, bapak sudah ngomong ke pak lek Sholeh, tapi nggak tahu kenapa pak lek Sholeh masih bawa orang itu ke sini," ujar Rahma.
Naya nampak murung. Dalam hati gencar berdo'a semoga Abdul tidak berubah pikiran, tetap berpihak kepadanya.
"Gimana, Dul, dia ini sudah jelas-jelas matang dan siap menikahi Naya kapanpun. Mana banyak sawahnya lagi. Apa iya kamu sanggup nolak?" Terdengar suara pak lek Sholeh yang terus membujuk Abdul agar mau menerima tawarannya, dengan menyebutkan harta yang dimiliki orang itu.
Naya tentu geram dalam hati. Orang yang diawal sudah gemar pamer harta, sudah pasti tidak akan baik tabiatnya menurut Naya. Naya tidak ingin bersuamikan hanya karena orang itu kaya. Biar miskin, asal Naya bahagia dan nyaman tentu Naya akan mau. Tetapi tentu orang itu juga harus mau menerima Lala sebagai anaknya. Itu poin yang paling penting untuk Naya.
"Mohon maaf, Leh, aku tetap tidak bisa. Naya tidak mau. Dia sepertinya masih belum siap menikah lagi," balas Abdul menanggapi omongan pak lek Sholeh.
"Kalau begitu tunangan saja dulu. Nikahnya bisa kapan-kapan kalau Naya sudah siap."
Abdul tetap menggeleng menolak. "Mohon maaf, Leh."
"Cih! Sombong sekali! Cuma janda saja jual mahal. Lelaki sepertiku masih bisa cari perawan ting-ting di luar. Aku mau lihat, seperti apa orang yang akan menikahi perempuan sombong seperti dia!"
Orang yang dibawa pak lek Sholeh itu mengumpat kekesalannya. Mungkin sakit hati karena ditolak oleh Naya. Setelah itu Naya melihat orang itu pergi keluar rumah. Meninggalkan pak lek Sholeh berdua dengan Abdul.
Naya menghela nafas lega melihat orang itu pergi. Dalam hati berdo'a, semoga orang itu tidak memiliki rasa dendam kepadanya. Dan semoga orang itu lekas diberikan jodoh lainnya oleh Allah. Begitulah harapan Naya saat ini.
"Dul, kamu gimana sih?" pak lek Sholeh masih tidak terima dengan penolakan Abdul.
"Gimana apanya? Naya sendiri tidak mau, apa iya aku harus paksa lagi kayak dulu?"
"Setidaknya orang yang datang melamar Naya barusan itu orangnya kaya, Dul. Hidup Naya akan terjamin sama dia. Naya tidak akan hidup di rumah kecil seperti ini."
"Kamu jangan menghinaku, Leh. Aku tahu aku tidak punya harta banyak. Tapi stop kamu menghinaku dan keluargaku. Setidaknya apa yang aku miliki ini adalah hasil keringat mu sendiri. Bukan enak nempatin warisan orang tua seperti kamu." balas Abdul.
Rahma yang mendengar roman perseteruan mulai berkobar, maka ikut menemui suaminya di depan.
"Tenang, Pak. Tenang," kata Rahma sambil mengusap pelan punggung Abdul.
Dan pak lek Sholeh memilih keluar dari rumah itu. Dengan wajah yang sudah merah menyala menahan emosinya.
Melihat pak lek Sholeh sudah keluar dari pelataran rumahnya, Naya ikut bergabung dengan kedua orang tuanya di ruang tamu itu.
"Naya," sapa Abdul kepada Naya.
"I-- iya, Pak," Naya menyahut gugup. Takut melihat sorot mata Abdul yang tampak nanar.
"Jangan pesimis meski mendengar orang-orang menghina kita. Bapak yakin suatu saat kamu pasti akan mendapatkan jodoh yang paling baik dari orang sombong itu. Bapak yakin itu." Abdul berkata dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aamiin... Semoga Allah segera mendatangkan jodoh yang terbaik untukmu, Nay." Rahma ikut mendo'akan Naya.
"Ammiin..." Naya mengamininya dengan perasaan yang masih entah.
__ADS_1
*