Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 47


__ADS_3

Satu persatu keluarga Gino mulai berpamitan pulang. Dan mereka menyepakati keluarga Naya akan datang ke rumah Gino minggu depan.


Sedari tadi Naya banyak diam. Walau senyumnya selalu terulas, tetapi di mata Gino itu terlihat dipaksakan.


"Dek, aku-- pulang," kata Gino dengan suaranya yang bergetar.


Gemuruh di dadanya masih terasa. Ditambah dengan sikap Naya yang berubah dingin kepadanya.


Naya hanya mengangguk, menjawab pamit Gino kepadanya.


Seluruh keluarga Gino sudah masuk ke mobilnya masing-masing, tetapi Gino tetap betah bersama Naya. Pria itu celingukan mencari Lala lagi. Kenapa di hari spesialnya begini Lala seperti sengaja disembunyikan oleh keluarga Naya?


"Cari apa, Mas? Ada yang ketinggalan di dalam?" tanya Naya.


Gino tidak menyahut, tetapi tatapan matanya teramat sendu menatap Naya.


Naya merasa Gino sudah mulai paham dengan apa yang terjadi dengannya. Seketika ia memalingkan wajahnya ke samping, berpura-pura melihat keluarga Gino yang sudah duduk anteng dalam mobilnya. Padahal sebenarnya ingin menghindari tatapan mata Gino, yang membuatnya tidak tega untuk nanti mengatakan apakah semuanya ini lebih baik berakhir sebelum terlanjur lebih jauh.


Jujur, Naya sudah putus asa. Patah semangat sebelum berjuang. Akui, Gino adalah lelaki yang baik, yang Naya pikir semua wanita pasti mendambakan sosok yang baik sepertinya. Tetapi jika pada akhirnya nanti akan berdampak tidak baik kepadanya, mungkin semuanya harus dipertimbangkan lagi. Sebelum hati itu terlanjur terpaut semakin jauh dengan Gino.


"Pulanglah, Mas! Mereka menunggumu!" ucap Naya kemudian.


Tatapan mata Naya saling bertatapan dengan wanita yang bernama Wulan. Jika Wulan menatapnya penuh dengan ejekan, tetapi Naya balik menatapnya dengan tersenyum entah.


Gino diam saja. Tetapi kemudian pria itu pulang juga. Karena kebetulan dirinya yang menjadi sopir dari mobilnya sendiri.


Rombongan keluarga Gino datang dengan membawa dia mobil. Satu mobil di sopiri oleh Agus. Di dalam sana ada Wulan, Vita dan suaminya Vita. Sedangkan di dalam mobil Gino ada Suryo dan Nani, juga dua keponakan Gino.


Saat keluarga Gino sudah pulang semua, buru-buru Naya masuk ke rumahnya. Sebelum itu ia mengambil Lala yang sedari tadi dijaga oleh ibunya Fifi. Setelah itu Naya membawa Lala masuk ke kamarnya. Tak lupa Naya langsung mengunci kamarnya. Untuk saat ini ia hanya ingin di kamar saja bersama dengan Lala.


Padahal yang terjadi sebenarnya Naya menangis lagi. Tangisan lirih itu semakin jadi daripada saat di kamar mandi tadi. Apalagi setelah melihat wajah polos Lala, tangisan Naya semakin menjadi.


"Mama..."


Bocah itu ikut mewek melihat Naya menangis di depannya. Kemudian Lala beranjak pindah duduk di pangkuan Naya, juga ikut menangis bersama Naya.

__ADS_1


"Mama jan nangis," kata Lala sambil sesenggukan.


"Mama nangis karena mama sayang Lala," ucap Naya sambil kemudian menciumi pipi Lala.


"Mama jan nangis..."


"Iya, mama nggak nangis lagi."


Lalu Naya mengambil tissue. Ia mengusap bersih air matanya dari pipinya. Lala ikut-ikutan bertingkah seperti yang dilakukan Naya. Mengusap pipinya dengan tissue yang dipegangnya.


"Tidur yuk, Nak. Mama pingin tidur," kata Naya kemudian.


Lala mengangguk. Kemudian Naya dan Lala sama-sama berbaring di kasur. Sebelum itu Naya mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


Sedangkan keadaan di luar kamar Naya masih banyak saudara-saudara Naya yang belum pulang. Rahma sibuk membagikan kue untuk nanti dibawa pulang oleh saudara dan tetangga yang membantu dari kemarin.


Bukannya Rahma tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Naya, tetapi wanita itu memilih menahan rasa penasarannya sebelum nanti keadaan rumah benar-benar sepi dari saudara yang lain, barulah Rahma akan berbicara dengan Naya.


"Pakk, ini sudah maghrib kok Naya belum keluar dari kamarnya?" tanya Rahma.


"Setelah ini mungkin. Ayo buruan ke masjid."


Lalu Abdul dan Rahma berangkat ke masjid.


Dan benar saja, begitu melihat Abdul dan Rahma berangkat ke masjid, Naya keluar dari kamarnya. Sedangkan Lala ikut-ikutan bangun dari tidurnya. Bocil itu langsung berlari kepada om kecilnya yang sedang asyik bermain dengan kucing di teras depan rumah.


Naya mandi dengan kilat, setelah itu masuk lagi ke kamarnya untuk bersisir karena saat itu Naya masih halangan jadi tidak sholat. Kemudian Naya keluar lagi dari kamarnya dan pergi menemui Lala di depan.


"Lala mau makan tidak?" tawar Lala, karena setahunya Lala masih belum makan dari tadi siang.


Bocil itu mengangguk. Setelah itu Naya beranjak untuk mengambilkan Lala nasi.


"Mama, om mana?" tanya Lala di sela-sela mulutnya penuh dengan nasi.


"Itu om Farhan," sahut Naya sambil menoleh kepada Farhan yang terlalu seru bermain dengan kucing.

__ADS_1


"Ukan! Om mana, Mama?"


"Ooh... Om Riki? Mm... Ikut ke masjid mungkin," jawab Naya, ia mengira Lala bertanya soal Riki.


"Ukan, Mama! Om mana...?"


Akhirnya Lala mewek lagi. Bocil itu terus bertanya-tanya om mana, om mana. Naya terus berusaha membujuk, tetapi Lala terus bertanya yang Naya tidak tahu anaknya itu menanyakan siapa.


Rahma datang seorang diri dari masjid. Entah kemana Abdul kenapa tidak ikut pulang. Melihat cucunya yang menangis, maka Rahma ikut bertanya penasaran.


"Ada apa, Lala? Kenapa menangis anak cantik?" tanya Rahma sambil mengambil Lala dari pangkuan Naya.


"Om mana, Nek?" tanya Lala kepada Rahma.


"Om siapa?" tanya Rahma dengan sabar.


Tetapi Lala malah menangis semakin jadi, karena jawaban dari Rahma tidak membuatnya tenang.


Sejenak Rahma menatap kepada Naya, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Lala hingga sampai menangis seperti ini.


"Aku juga tidak tahu dia tanya om siapa. Sudah aku tanya, ternyata bukan Farhan, bukan Riki," jelas Naya kepada Rahma.


Rahma menghela nafasnya. Kemudian ia membawa Lala masuk ke rumah. Di sana Rahma melepas mukenah nya, setelah itu kembali ke teras depan untuk mengambil piring Lala makan.


"Sudah, Lala berhenti nangisnya ya? Sekarang Lala maem dulu sama nenek," kata Rahma sambil akan mrnyuapi Lala, tetapi bocah itu langsung menggeleng.


"Yaya mau makan sama om," kata Lala.


Rahma tercekat. Diam menatap Naya dengan sendu. Saat ini ia paham siapa yang sedang ditanyakan oleh Lala. Bocah itu sedang bertanya di mana Gino. Karena memang belakangan ini Lala sering disuapi Gino ketika makan.


"Nay, coba kamu telpon Gino. Lala nanyain dia terus nih," ucap Rahma merasa tidak tega melihat Lala menangis sampai sesenggukan.


"Buat apa, Buk?"


Entahlah! Tiba-tiba saja Naya kehilangan gairah untuk menelpon Gino. Handphonenya saja sudah tidak ia aktifkan lagi dari tadi sore. Sungguh, Naya ingin menenangkan diri sebentar saja. Jika teringat dengan kejadian tadi, rasanya dada Naya kembali sesak.

__ADS_1


*


__ADS_2