Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 124


__ADS_3

Kini saatnya Naya dan Gino kembali pulang ke rumah mereka. Setelah mereka sempat tinggal bersama orang tua Naya lagi sekitar hampir tiga bulanan. Kepulangan Naya bersama baby Nana melewati dengan drama sedih dari Rahma. Padahal Gino sendiri sudah mengajak Rahma untuk tinggal bersama mereka. Karena alasan Rahma yang kepikiran dengan Nana, maka dari itu Gino mengajaknya. Sayangnya hal itu ditolak oleh Rahma.


"Sudah, Buk. Mereka pindah ke rumahnya sendiri kok ditangisi begini. Kalau kepikiran sama Nana, tinggal datangi setiap hari. Rumah mereka bukan di luar kota saja kok dibikin ruwet!" ucap Abdul berusaha menenangkan Rahma yang masih saja menangis, padahal Naya dan Gino sudah pergi sekitar setengah jam yang lalu.


"Kamu nggak tahu kalau sekarang pikiranku ini lagi banyak. Bukan aku tidak percaya Naya bisa merawat Nana, tapi ada hal lain yang aku khawatirkan," sahut Rahma yang tentunya Abdul paham apa dibalik perkataannya itu.


Pria itu akhirnya memilih diam saja. Tak lagi mau menimpali perkataan Rahma yang intinya tentang keresahan Rahma terhadap Nani. Biar saja Rahma menangis sampai puas. Selagi Rahma tidak malu ditonton oleh Farhan, putra bungsu mereka, yang sedari tadi ada di antara mereka.


"Farhan, ayo besok kita ke rumah mbak Naya," ajak Abdul mengajak bicara Farhan.


"Ayo! Tapi sekalian main ke alun-alun ya, Pak?"


"Gampang," sahut Abdul sambil mengacungkan jempolnya kepada Farhan.


Mendengar percakapan itu seketika Rahma berhenti menangis. Melihat itu Abdul diam-diam tersenyum kecil. Terasa lucu sendiri melihat istrinya seperti itu. Nyatanya perempuan itu memang aneh kan?


***


Malam telah tiba. Usai bersih-bersih rumah tadi, akhirnya Naya dan Gino bisa tidur dengan nyaman setelah ini. Sedangkan Lala sudah tidur duluan sejak pukul tujuh tadi. Sebenarnya lebih banyak Gino yang beraktifitas beres-beres rumah, Naya sesekali membantu ketika baby Nana sedang tidur.


"Mas, aku mau sholat isya dulu. Aku titip Nana. Jangan usil loh, Mas, biar Nana nggak kebangun," ucap Naya karena biasanya tangan Gino kadang suka iseng pegang-pegang Nana ketika bayi itu sedang pulas tidur. Alasannya karena gemas sekali katanya.


"Siap, Sayang," sahut Gino sambil tersenyum sok imut.


Sejenak Naya menatap Gino, masih diam di tempatnya berdiri. Melihat senyum aneh itu, apakah mungkin malam ini Gino akan meminta haknya lagi?


"Loh, kok masih bengong? Nggak jadi sholatnya?" heran Gino melihat Naya masih tak kunjung beranjak.


Lalu Naya pun akhirnya keluar dari kamarnya untuk kemudian melaksanakan kewajiban empat rakaatnya. Untuk pertama kali ini ibadah mereka tidak bisa jama'ah lagi. Gino sudah sholat isya tepat waktu tadi, berbeda dengan Naya yang harus ibadah lewat dari waktunya karena tadi masih riweh dengan Nana yang minta susu. Beruntungnya untuk sholat isya waktu habisnya cukup lama.


Tak tahunya saat Naya masih belum selesai dari sholatnya, tiba-tiba Nana terbangun lagi. Mungkin karena berada di suasana baru, membuat tidur Nana agak rewel malam ini. Akhirnya Gino berinisiatif untuk membuatkan sufor untuk Nana. Setelah selesai membuatnya, lekas Gino menggendong Nana dan memberi sufor yang dibuatnya.


Naya yang mendengar Nana menangis, ia tidak berlama-lama sholatnya. Segera wanita itu melepas mukenah nya setelah selesai berdoa walau sebentar.


"Kok kebangun lagi? Nggak biasanya Nana rewel begini?" heran Naya ketika ia sudah bersama Gino lagi.


"Mungkin karena neneknya kangen sama Nana. Itu bisa jadi kan, Dek?" sahut Gino tiba-tiba teringat dengan ibu mertuanya.


"Bisa jadi sih." Naya mengiyakan dugaan Gino.


Beruntungnya Nana bisa segera tidur lagi setelah menghabiskan satu botol kecil sufor yang dibuat Gino itu. Setelah itu Gino meletakkan Nana di box bayi yang ada di kamar mereka dengan sangat hati-hati agar Nana tidak terbangun lagi.

__ADS_1


"Padahal tadi sebelum tidur sudah mimik lama sama kamu, sekarang sebotol gini dihabisin sama Nana," ucap Gino sambil mengangkat botol dot yang sudah kosong.


"Baru tahu kalau anakmu doyan nyusu?"


"Aku cuma kepikiran sama kamu, kamu kuat tidak?"


"InsyaAllah kuat. Demi anak," sahut Naya dengan mantap.


Apapun akan dilakukan oleh Naya demi tumbuh kembang Nana agar menjadi bayi yang sehat. Bisa menyusui bayi itu adalah karunia dari Tuhan yang wajib disyukuri. Daripada tidak dapat menyusui karena kejadian ASI-nya yang tidak keluar. Karena sebagian wanita ada yang seperti itu.


"Tidur yuk, Dek," ajak Gino tiba-tiba.


Naya ikut membaringkan tubuhnya disamping Gino berbaring. Pria itu langsung memeluk erat pada tubuh Naya. Tak lupa membubuhi kecupan kecilnya di kening Naya.


"Dek, sebenarnya aku kangen pingin begituan," ucap Gino sambil menatap lekat pada netra Naya.


Naya diam saja. Hal seperti ini sudah ia duga karena senyum aneh Gino tadi.


"Tapi aku nggak tega," lanjut Gino sungguh-sungguh.


Alis Naya berkerut mendengar kata tak tega dari Gino.


"Sudahlah, ayo tidur!" ajak Gino lagi yang kemudian pria itu lebih dulu memejamkan matanya.


"Mas," sapa Naya yang membuat Gino membuka matanya kembali.


"Apa, Dek?"


"Ah, nggak jadi!" ucap Naya mengurungkan niatnya yang ingin bertanya tentang maksud tak tega itu.


Giliran Gino yang menatap heran kepada Naya.


"Mau ngomong apa, kok nggak jadi?" tanya Gino.


"Ya nggak jadi, ayo tidur!" Naya langsung memejamkan matanya rapat-rapat.


Tiba-tiba Gino kepikiran kalau ini ada kaitannya dengan ungkapannya yang kangen ninuninu tapi nggak jadi.


"Dek, kamu ngambek ya?" Gino sampai mengguncang bahu Naya supaya tidak jadi tidur.


"Ngambek apa?"

__ADS_1


"Ngambek karena kita nggak jadi begituan," sahut Gino tanpa filter.


Naya langsung terkekeh mendengar itu.


"Justru aku bakal marah sama kamu kalau kamu jadi minta jatah sekarang," sahut Naya yang membuat Gino semakin lekat menatapnya karena masih tak paham dengan maksud perkataan Naya.


"Sebenarnya aku serius pingin loh, Dek. Sudah hampir dua bulan punyaku cuti panjang. Malah kamu ngomong mau marah kalau aku jadi minta sekarang."


"Ya jelas aku marah, Mas. Kamu mau aku hamil lagi saat Nana masih bayi? Ditahan ya, Sayang. Istrimu ini masih belum KB," ucap Naya sambil mencapit gemas hidung mancung Gino.


"Ya ampun!" Gino spontan menepuk keningnya.


Beruntung masih bisa ditahan, kalau tidak, kecebong super milik Gino akan berkembang lagi dan Naya bisa hamil lagi.


Naya tambah terkekeh melihat wajah suaminya yang mirip orang frustasi.


"Dek, jadi kapan mau KB?" tanya Gino tiba-tiba.


"Mm... Tergantung kamu."


"Maksudnya?"


"Kalau kamu antar aku ke bidan besok, ya besok aku KB. Tapi kalau kamu mau nunggu sampai Nana genap dua bulan aku sih oke," sahut Nana.


"Ah, lama sekali, Dek?" Gino sampai menggaruk-garuk kepalanya sendiri akibat membayangkan cuti ninuninu nya akan tambah lama kalau harus menunggu Nana berusia dua bulan.


"Mas ku tersayang, dengerin aku ya. Meskipun aku besok sudah KB, itu masih belum boleh langsung begituan. Kata bidan setidaknya harus nunggu seminggu dulu setelah KB, biar efek KB nya berjalan dulu. Itu yang aku tahu dari bidan," jelas Naya sesuai dari info yang bidan jelaskan saat mau KB ketika selesai nifas melahirkan Lala dulu.


"Alamak! Begitu ya?" Gino melongo sendiri mendengarnya.


"Ya memang begitu. Kecuali kalau kamu mau kita punya baby lagi."


"Jangan dong, kasihan Nana. Kasihan Lala juga," sahut Gino dengan tegas.


Memiliki dua balita saja sudah membuat mereka sering kelimpungan sendiri. Apalagi harus nambah satu bayi lagi. Tahan... Tahan... Sabar Gino! Setidaknya sudah seminggu lagi burungmu akan keluar dari sangkarnya. Hahaha...


"Tapi kalau yang ini boleh dong aku cicip," kata Gino sambil mengusap lembut bibir Naya.


Naya hanya tersenyum manis kepada Gino.


Kemudian bibir itu kembali saling menyapa. Pergulatan indra perasa itu bermain begitu liar. Akan tetapi tentunya tidak boleh bablas. Maka Gino segera mengakhiri permainannya, walau sejujurnya kepalanya agak pusing karena menahan begituan. Nasibmu Gino...

__ADS_1


*


__ADS_2