
Malam minggu ini menjadi malam yang paling indah sepanjang hidup Naya. Wanita itu benar-benar merasakan utuhnya membina rumah tangga bersama Gino. Meski mereka menikah baru kemarin, tetapi perlakuan Gino yang tak pernah berubah memperlakukan Lala layaknya anak kandungnya sendiri sungguh sangat membuat hati Naya bahagia.
Mulai dari taman bermain hingga keliling mall mereka datangi dengan perasaan penuh suka cita. Ketika perut itu sudah merasa lapar, maka mereka memutuskan untuk pergi ke angkringan yang sudah menjadi tempat bersejarah bagi Gino dan Naya.
Mereka bertiga makan dengan nikmat. Terutama Lala, bocah itu bertambah lahap nafsu makannya setelah Gino rajin menyuapi nya. Bisa jadi esok hari tubuh Lala akan menjadi berisi setelah nafsu makannya meningkat. Dan itu sangat membuat Naya terbantu dengan keberadaan Gino sebagai suaminya.
"Lala, papa mau tanya," ucap Gino kepada Lala saat mereka masih sama-sama menikmati makanannya.
Bocah itu hanya menoleh menatap Gino, tetapi ia sedang menunggu Gino akan bertanya apa kepadanya.
"Hari ini Lala senang tidak?" tanya Gino sambil memangku Lala.
Lala mengangguk riang.
"Yaya sayang papa," kata Lala dengan wajah polosnya.
Gino tersenyum bahagia. Kemudian pria itu menciumi pucuk kepala Lala berulang-ulang. Sudut hatinya terenyuh mendengar ungkapan Lala kepadanya. Tiba-tiba saja ia teringat dengan dua ponakannya, Putra dan Roby. Mereka berdua juga menjadi anak korban broken home.
"Kalau sayang sini Lala cium papa," kata Gino yang kemudian menyodorkan pipinya untuk dicium Lala.
Bocah itu lekas menciumnya. Lala mirip lem perekat yang menempel terus ke Gino. Bahkan sepertinya Lala lebih suka bersama dengan Gino daripada dengan Naya.
Melihat Lala yang sudah menguap berulang-ulang, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Dan benar saja, tak lama mereka menempuh perjalanan pulang, Lala sudah lelap saja di pangkuan Naya.
Saat mereka tiba di rumah, kebetulan Rahma dan Abdul sedang berbincang bersama di teras samping rumah. Rahma yang melihat Naya menggendong Lala yang sedang tidur, lekas mendekat untuk mengambil Lala dari Naya.
Naya pikir ibunya itu ingin membantu membawanya ke kamar, yang ternyata Rahma kembali menidurkan Lala di kamarnya.
__ADS_1
"Ibu, kok Lala tidur di kamar ibu sih?" protes Naya, tetap tak terima Rahma memisahkan tidurnya dengannya.
"Biar saja Lala tidur sama ibu," sahut Rahma sambil kemudian berlalu pergi ke dapur.
Naya terus mengikuti ke mana langkah ibunya pergi. Sedangkan Gino yang melihat itu memilih masuk kamar, dan nanti akan menanyakannya kepada Naya soal alasan mengapa ibu mertuanya tidak membiarkan Lala tidur bersama mereka.
"Nay, kamu harus pengertian dong! Suami kamu itu butuh masa-masa indah jadi pengantin baru. Masa iya kamu mau bawa Lala tidur bareng? Mikir dong, Nay! Iya kamu sudah pernah menikah, lah suami kamu gimana?" sungut Rahma saat Naya terus ngotot soal Lala.
"Sudah jangan ribut! Nggak enak didengar tetangga, nanti dikiranya kalian ngeributin soal apa sama mereka," ucap Abdul menjadi penengah antara Naya dan Rahma.
Rahma langsung diam. Wanita itu memilih duduk kembali di kursi teras samping rumah. Sedangkan Naya memilih masuk ke kamarnya dengan perasaan yang masih dongkol pada diri sendiri.
Apa yang dikatakan Rahma itu memang ada benarnya juga. Tentunya Naya harus bisa memberi kesempatan untuk Gino menjadi layaknya pengantin baru, bukan langsung berperan menjadi bapak. Tetapi naluri nya sebagai seorang ibu tetap sedih hati kalau mengingat anaknya.
Naya masuk ke kamarnya dengan wajah cemberut. Wanita itu langsung berbaring di kasurnya tanpa menyapa Gino yang penasaran dengan apa yang terjadi. Sepintas Gino melihat bahu Naya berguncang. Apakah istrinya itu sedang menangis?
"Ada apa, Dek? Apa yang terjadi?" tanya Gino dengan lembut.
"Aku kasihan Lala, Mas," sahut Naya dengan suaranya yang gemetar seperti menahan tangisan.
"Kenapa dengan Lala?"
"Aku tidak mau tidur pisah sama Lala. Dari bayi aku selalu tidur sama Lala, sekarang ibu malah memisahkan aku sama Lala."
"Berarti Lala tidur sama bapak ibu lagi?"
Naya mengangguk.
__ADS_1
"Aku ada ide, Dek," kata Gino yang kemudian membalik tubuh Naya sehingga tidur telentang.
Dan benar saja, sudut mata Naya meneteskan air mata. Tetapi Gino langsung mengusapnya dengan lembut.
"Gimana kalau besok malam kita menginap di rumahku?" kata Gino kemudian.
"Rumah ayah ibu?" Naya bertambah cemberut mendengar usulan Gino.
Wanita itu pikir Gino akan mengajaknya menginap di rumah mertuanya. Padahal Gino bermaksud ingin mengajak mereka menempati rumah Gino sendiri. Karena jika sudah tinggal di rumah sendiri istilahnya kita bisa bebas mau berbuat apa. Tidak ada orang tua atau mertua yang ikut campur urusan keluarga kecil mereka.
"Ya... Kalau kamu mau nginep di sana ayo!" kata Gino mencoba ambil kesempatan, siapa tahu Naya mau.
"Nggak! Nggak mau!" Naya langsung menolak tegas.
"Kenapa? Ayah ibu nanyain kamu loh, Dek? Tadi aja aku pulang mereka nanya karena aku nggak bawa kamu ke rumah."
"Nggak usah bohong, Mas! Kalau ayah yang nanya aku percaya. Sudahlah! Kalau itu ide yang kamu bilang, maaf... Aku nggak setuju!"
Gino menghentak nafasnya sesaat. Sepertinya dua wanita yang harus dihadapi Gino sama-sama tipekal keras kepala. Nani tetap angkuh. Naya bukan angkuh, tetapi rasa enggan bertemu itu terus saja tak mau hilang dari Naya. Bukan Naya tidak mau menghormati Nani sebagai ibu mertuanya, tetapi beginilah cara Naya untuk menghormati Nani. Dengan tidak menemuinya selagi hati Nani masih menyimpan amarah kepadanya. Dan Naya pikir cara seperti ini sangat aman untuk menjaga hatinya dari perasaan yang kacau.
"Besok kita nginep di rumah kita. Di sana kita bisa tidur bareng sekasur dengan Lala tanpa dilarang-larang ibu lagi. Gimana, setuju nggak?"
Naya berpikir sejenak. Usulan Gino benar juga. Kemudian Naya menganggukkan kepala. Lalu memiringkan tubuhnya berhadapan dengan Gino, dan kemudian tangannya langsung memeluk erat pada tubuh Gino.
Pria itu menyambut pelukannya dengan satu tangannya mengelus lembut pada kepala Naya. Senyum manisnya terulas bahagia, begitu Naya dengan mudahnya mau diajak pindah rumah secepat ini.
Dan mereka pun tertidur dengan posisi saling berpelukan. Tanpa adanya adegan panas yang terjadi pada keduanya. Bukannya Gino tidak mau mengulangnya, justru pria itu sebenarnya sedang menahan sendiri. Tetapi tunggu saja saat itu tiba, Gino akan memintanya berulang-ulang hingga puas. Karena yang akan dihadapinya adalah wanita janda yang tentunya tidak akan merasakan sakit pada organ intinya ketika bercinta. Lihat saja!
__ADS_1
*