Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 36


__ADS_3

"Nay, aku Wahyu," kata seorang pria yang saat ini menelpon Naya.


Naya langsung tercekat kaget. Lalu menjauhkan handphone itu dari telinganya, menatap heran pada layar ponselnya yang mana terdengar suara Wahyu yang berbicara.


"Naya! Nay!" Suara Wahyu menyapa Naya dengan sedikit keras.


Karena tidak siap untuk berbicara dengan Wahyu, dan lagi perasaannya juga sedang tidak baik-baik saja sekarang, maka tanpa ragu Naya langsung mematikan panggilan telpon dari pria itu. Agar tidak menelponnya lagi, Naya langsung menonaktifkan juga.


"Maaf, Wahyu," ucap Naya setelah sempat termenung sebentar.


Wanita itu beranjak duduk, termenung lagi dengan pikirannya yang kalut. Entah sudah berapa hari ia tidak ingat sama sekali dengan Wahyu. Ternyata begitu besar pengaruh Gino dalam hidupnya, sehingga mampu membuat Naya terlupa dengan Wahyu yang selama ini mengharap cintanya lebih dulu, tetapi ternyata Naya lebih memilih Gino untuk menjadi calon pasangan hidupnya.


"Ah, tapi aku tidak salah, toh aku tidak memberinya harapan apapun. Aku sudah menolaknya kan?" Naya bermonolog sendiri, saat tiba-tiba terbayang nanti Wahyu akan menyalahkannya karena lebih memilih pria lain dan tidak pernah memberinya kesempatan.


Tetapi tiba-tiba Naya teringat lagi dengan wanita tadi yang menghinanya di mall. Pikirannya bertambah dilema untuk mengacuhkan saja atau segera membicarakannya dengan Gino. Sedangkan hatinya sendiri sudah mulai terpaut dengan Gino yang memang mampu membuatnya nyaman. Bukan karena materi yang sudah terlanjur didapatkan dari Gino, tetapi rasa itu sepertinya sudah naik tahap menjadi suka.


Sejenak Naya menatap Lala yang tertidur dengan nyenyak. Ia pun teringat kembali dengan kebaikan Gino kepada anaknya itu. Ah, mungkin memang harus dibicarakan saja daripada hanya gelisah begini.


Setelah memutuskan untuk membicarakan kepada Gino besok, maka kemudian Naya memilih tidur menemani Lala.


***


Wulan masuk ke rumahnya sambil tersenyum senang. Hatinya merasa puas setelah tadi berhasil membuat Naya tercekat karena omongannya. Kedatangannya yang berwajah sumringah membuat Nani penasaran. Maka wanita itu pun bertanya kepada Wulan, mungkin ada kabar bahagia menurutnya.


"Habis menang arisan, kok datang-datang senyum-senyum kayak gitu?" tanya Nani.


Semenjak tidak bicara dengan Gino, Nani terlihat lebih akrab dengan Wulan. Padahal sebelumnya ia sendiri ketus dengan Wulan.


"Buk, tadi aku habis ketemu janda gatel itu," tutur Wulan dengan senang.


Nani langsung bereaksi kaget. "Di mana ketemunya?" tanyanya mulai kepo.


"Di mall. Sepertinya habis nguras kantong Gino. Dia bawa tiga tas belanjaan, Buk. Iih... Sebel banget pokoknya! Kalau ibu lihat sendiri tadi, pasti ibu juga nggak kuat pingin labrak dia. Tapi ibu tenang, aku sudah memberinya peringatan telak. Biar sadar diri, Buk! Biar tahu rasa dia!" tutur Wulan dengan menggebu-gebu.

__ADS_1


Lalu kemudian Wulan menceritakan semua hinaan yang ia lontarkan kepada Naya itu kepada Nani sedetail-detailnya. Nani yang mendengarnya ikut tersenyum puas dengan Wulan, seakan menemukan sosok yang menggantikan dirinya untuk memperingati Naya karena sudah berani membuat Gino durhaka kepada Nani.


"Biar tahu rasa dia, Buk. Enak saja mau nikah sama Gino." Wulan mengakhiri ceritanya sambil tersenyum puas lagi.


"Apa kamu tidak foto dia, Wulan. Aku penasaran seperti apa wajahnya? Wanita seperti apa yang sampai membuat Gino durhaka denganku?"


Wulan menggeleng kepala.


"Buat apa, Buk? Wajahnya tidak cantik kok, masih lebih cantik aku daripada dia," ucap Wulan dengan pedenya.


Tetapi Nani tidak langsung percaya ucapan Wulan sebelum ia melihat sendiri seperti apa rupa Naya.


"Hah, aku tidak sabar ingin lihat acara minggu ini kacau setelah mereka tahu calon besan perempuannya tidak ikut," ucap Wulan dengan jumawa. Ia masih mengira Nani tidak akan ikut serta minggu ini ke rumah Naya.


"Aku mau ikut," kata Nani dengan mantap, membuat Wulan seketika menatapnya heran.


"Jangan bilang ibu sudah setuju Gino jadi sama janda itu? Aku bilang ya, Buk... Wanita itu wajahnya pas-pasan. Percaya deh! Penampilannya saja kampungan sekali. Wajahnya buluk! Apalagi bodynya iiiih...." curiga Wulan sambil semakin menjelekkan-jelekkan Naya didepan Nani.


Padahal jika dibandingkan Wulan, body Naya masih lebih bagus darinya. Wulan hanya modal body montok dan postur tubuhnya masih mirip anak SMP. Sedangkan tubuh Naya sangat proporsional, baik berat badan dan juga tinggi badannya semuanya terlihat pas. Meski sudah pernah memiliki anak, tetapi body Naya tidak kalah saing dengan mereka yang masih perawan.


"Trus ibu kenapa mau ikut? Kalau tidak setuju buat apa ikut, Buk?" protes Wulan dengan beraninya.


"Aku cuma ingin tahu saja seperti apa wanita itu," jelas Nani tetapi jawabannya tidak memuaskan rasa penasaran Wulan.


"Trus kalau ibu sudah tahu, ibu mau apa?"


Wulan masih kekeh ingin tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh Nani dengan memilih ikut ke rumah Naya, padahal Wulan tahu sendiri bagaimana Nani menolak semua itu.


Nani hanya tersenyum tipis tanpa mau menjawab rasa penasaran Wulan.


"Tadi kamu pergi ke mall ngapain? Kalau pergi belanja, mana belanjaannya?" Nani malah mengalihkan topik dengan menanyai Wulan yang pamit pergi ke mall tapi datang dengan tangan hampa.


Wulan langsung cengengesan. Tadi ia memang cuma alasan saja sama Nani mau pergi belanja ke mall. Padahal kenyataannya cuma ingin cuci mata lihat-lihat barang bagus yang nanti akan ia incar setelah Agus gajian. Memang dasar Wulan yang tidak pernah sadar dengan pekerjaan Agus yang gajinya pas-pasan. Wanita itu seakan lebih mementingkan kesenangan dirinya sendiri daripada memikirkan biaya hidup untuk anak-anak Agus.

__ADS_1


Melihat Wulan yang cuma nyengir, Nani pun kemudian beranjak dari tempatnya dan langsung masuk ke kamarnya. Dan Wulan hanya bisa mencebik kepada Nani. Sungguh wanita itu bermuka dua didepan Nani. Akan terlihat manis bila ada maunya, tetapi akan nampak aslinya bila sudah tidak ada siapa-siapa didepannya.


Kemudian Wulan pun ikut beranjak dari tempat itu dan memilih masuk ke kamarnya juga.


Tanpa mereka tahu perbincangan mereka sudah didengar oleh Gino yang sengaja tidak masuk ke rumahnya demi mendengarkan obrolan mereka.


Pria itu kini paham apa yang membuat Naya menangis tadi. Hatinya ikut merasa sakit saat mendengar hinaan Wulan kepada Naya. Dari ini pendirian Gino semakin tekad untuk bisa memiliki Naya menjadi miliknya. Ia tidak akan mudah menyerah untuk melepas Naya hanya karena terhalang restu ibundanya. Karena Gino yakin, hati Nani akan mudah di luluhkan asal tidak tersiram oleh lidah tajam Wulan kepada Nani.


Setelah merasa kondisi rumah sepi dan aman, maka Gino ikut masuk ke dalam rumahnya. Segera pria itu menuju kamarnya tanpa menoleh ke sekitar, yang ternyata ada Suryo yang melihat kedatangannya.


Suryo sendiri sebenarnya juga mendengar obrolan Nani dan Wulan. Pria itu sengaja menguping dari balik pintu kamar mandi yang ada di dapur, yang tanpa diketahui Nani dan Wulan keberadaannya. Pria itu pun ikut prihatin dengan nasib Gino. Tetapi meski begitu, ia tetap akan berada di belakang Gino untuk selalu mendukungnya. Walau nanti harus bertentangan dengan Nani, Suryo tidak akan mundur. Demi bisa melihat putranya bahagia bersama wanita pilihannya.


Di kamar Gino mencoba menelpon Naya, tetapi setelah tahu kalau handphone Naya sudah tidak aktif, maka Gino memutuskan untuk menelponnya esok subuh.


Sebelum itu Gino mengetik pesan singkat yang akan ia kirim kepada Naya. Agar esok ketika pagi Naya bisa membacanya.


[ Kamu sudah tidur ya, Dek? ]


[ Dek Naya sayang... ]


[ Oke, berarti kamu sudah benar-benar tidur ]


[ Selamat tidur kesayanganku ]


[ Mimpi indah ya... ]


[ Jangan lupa berdo'a dulu sebelum tidur ]


[ Tapi aku nggak bisa tidur nih ]


[ Belum satu jam berpisah tapi aku sudah kangen kamu lagi ]


[ Besok pagi aku telpon ya, Sayang ]

__ADS_1


Tak lupa Gino menambahkan emot berbentuk love berderet-deret di pesan itu. Anggaplah mendadak lebay, tetapi Gino menikmati itu dengan senang.


*


__ADS_2