
Gino pulang ke rumah langsung kaget begitu tahu kalau ada ayahnya yang datang berkunjung ke rumahnya. Karena memang Suryo sebelumnya tidak memberi kabar kepada Gino tentang rencana kedatangannya. Dan Naya pun juga tidak ada memberitahu Gino dengan kedatangan ayahnya. Entah lupa atau bagaimana, sungguh perasaan Gino sudah tidak enak duluan setelah ia juga melihat ada sandal milik Nani yang ada di teras rumahnya.
Saat itu Suryo sedang bermain dengan Lala di teras rumahnya. Bocah itu terlihat sudah akrab dengan Suryo, padahal ini pertemuan pertama bagi mereka. Sedangkan Nani memilih istirahat dalam kamar tamu, setelah tadi ikut membantu Naya menyiapkan makanan. Walau Nani sendiri tadi masih pelit bicara dengan Naya, tetapi setidaknya sudah ada perkembangan baik antara keduanya.
"Ayah sudah tadi? Kenapa tidak memberitahuku kalau mau datang?" sapa Gino sambil bersalaman kepada Suryo.
"Biar kejutan aja sama kamu," jawab Suryo dengan santainya.
Lala yang melihat Gino langsung nemplok saja kepadanya. Dan Suryo yang melihat itu hanya bisa tersenyum lega. Itu berarti Gino bisa bertanggungjawab dengan pilihannya. Di mana jika sudah memutuskan untuk menikahi seorang janda yang memiliki anak, maka sudah seharusnya ia menyayangi anaknya juga selayaknya anak kandung sendiri.
"Ibumu hari ini ikut loh, Gi," bisik Suryo saat Gino akan masuk ke rumahnya.
Gino menoleh kaget. Tetapi kabar ini tentu membuatnya sangat bahagia, karena ternyata ibunya mau mengunjungi dirinya dan Naya.
"Sekarang ibu di mana, Yah?"
"Lagi tiduran di kamar. Dari tadi dia ikut bantu Naya masak," kata Suryo menjelaskan.
"Beneran, Yah?" Sorot mata Gino langsung berbinar mendengar itu.
Suryo mengangguk sambil tersenyum.
"Lala, sini main sama mbah kung lagi, biar ayahmu mandi dulu." Lalu Suryo mengambil Lala dari Gino.
"Papa, Kung," protes Lala karena Suryo salah sebut tentang panggilan Gino.
"Ah, mbah kung salah ya?" Suryo hanya terkekeh sendiri.
Kemudian Suryo dan Lala kembali bermain lempar tangkap bola plastik kecil, sedangkan Gino langsung masuk rumah.
Di dalam rumah, Gino memergoki Naya yang sedang menunaikan sholat ashar. Seketika sorot mata pria itu tambah berbinar. Otw unboxing! Hahaha....
Setelah meletakkan tas kerjanya ke dalam kamar, Gino lekas menemui Nani yang ada di kamar sebelah. Ternyata Nani tidak tidur, hanya sedang rebahan saja.
Sebenarnya Nani mendengar kalau Gino sudah datang, tetapi wanita itu memilih tetap diam di kamar saja.
"Sudah tadi, Bu?" tanya Gino, mengulang pertanyaan yang sama kepada Nani.
Nani mengangguk, kemudian wanita itu beranjak duduk.
__ADS_1
"Ibu sebenarnya pingin pulang, tapi ayahmu tidak mau," tutur Nani dengan nadanya yang agak kesal.
"Justru aku senang lihat ibu menginap di sini," ujar Gino.
"Nggak bisa! Gimana dengan Putra dan Roby di rumah kalau ibu menginap di sini?"
"Biar mereka aku jemput, biar bisa menginap di sini juga," sahut Gino antusias sekali.
Nani bergeming saja.
"Pokoknya ibu tetap ingin pulang!" ucap Nani tetap kuat pendirian.
Sesaat Gino menghela nafas dalam-dalam. Ia juga tidak akan memaksa Nani lagi. Sudah mau datang sangat syukur sekali. Dan lagi setelah mendengar kata Suryo tadi, bukankah itu kabar yang sangat baik?
Ah, mending langsung tanya kepada Naya saja daripada penasaran.
"Ibu, aku pergi mandi dulu ya," pamit Gino kemudian.
Nani mengangguk, tetapi wanita itu tetap betah tak beranjak dari dalam kamar itu.
Gino sudah keluar dari kamar itu. Sedangkan di luar sana, terdengar jelas gelak tawa Lala dan Suryo, membuat Nani yang mendengarnya menjadi sendu. Ia sangat ingat bagaimana nasib dirinya dulu, yang bisa dikatakan sama persis dengan Naya. Mendengar Suryo yang bersenda gurau dengan Lala, tiba-tiba saja ia teringat ketika Suryo bercanda dengan Agus kecil dulu. Ah, ternyata hukum karma itu memang ada. Baik itu karma baik ataupun karma buruk. Ia tidak pernah menyangka kalau Gino akan mewarisi nasib Suryo yang juga sama menikahi janda beranak satu seperti dirinya dulu.
Setelah mata itu saling membentur pandangan, Naya melihat jelas ada senyum nakal yang dipancarkan Gino. Membuat perasaan Naya tiba-tiba merinding sendiri. Bayangan akan bergelut berbagi keringat dengan Gino tiba-tiba mengusik pikirannya. Ah, kenapa jadi gugup sendiri?
"Dek," sapa Gino yang kemudian mereka sama-sama mendekat.
Naya hanya tersenyum kecil, kemudian meraih tangan Gino untuk bersalaman.
"Mas, setelah ini kita makan bareng, nggak usah nunggu entar malem, keburu dingin entar. Itu yang masak ibu loh, Mas," jelas Naya.
Gino melirik ke arah meja makan.
"Ibu yang masak? Semua?"
Naya mengangguk.
"Aku cuma kebagian tukang potong-potong tadi. Trus semuanya di handle ibu, jadi aku tinggal aja buat bersih-bersih rumah."
Gino tersenyum bahagia. Tangannya terulur untuk mengusap kepala Naya dengan penuh sayang.
__ADS_1
"Tahu nggak, Dek, perasaanku saat ini bahagiaaaa sekali. Kamu tahu kenapa?"
Naya menggeleng kepala, malas tebak-tebakan.
"Mendengar kamu dan ibu bisa masak bareng, ya Allah... Aku senang sekali, Dek!" Gino sampai memeluk kepada Naya saking bahagianya.
Naya hanya tersenyum dibalik pelukan Gino. Beruntung sekali mereka sedang begitu tidak ada bapak atau ibu mertua yang melihat.
"Tapi ada satu hal lagi yang buat aku bahagia," ucap Gino sambil menatap lekat manik mata Naya.
Cup.
Ciuman kecil itu bertandang di bibir Naya.
"Mas!" protes Naya langsung.
Suaminya itu apa tidak melihat situasi? Ini di luar kamar. Kalau tiba-tiba ada yang memergoki pastinya akan malu.
Sedangkan Gino hanya nyengir mirip orang tak melakukan kesalahan. Ibu jarinya mengusap lembut pada bibir bawah Naya.
"Cicilan tutup, nanti harus dibayar kontan!" katanya sambil berbisik.
Naya yang mendengar itu spontan langsung memukul bahu Gino. Rasanya gemas. Ia sudah bisa menebak tadi arti senyum suaminya melihatnya ia sholat.
"Siap-siap ya, Dek?" kata Gino sambil menoel centil dagu Naya.
"Apaan sih, Mas!" Naya sudah salah tingkah duluan.
"Lah, kok jadi salting?" goda Gino.
Andai ada cermin, mungkin akan nampak bagaimana rona pipi Naya yang bersemu merah saat ini.
Gino terkekeh gemas. Sekali lagi Gino mencium bibir Naya dengan durasi yang lebih lama dari yang tadi. Dan Naya sengaja tidak menyambut ciuman itu biar Gino segera menyudahinya.
Tetapi meski begitu Gino tahu kalau istrinya bukan sedang marah atau merajuk. Mungkin karena situasinya yang tidak nyaman. Maka kemudian Gino menyudahinya, lalu pria itu segera beranjak ke kamar mandi.
Tanpa mereka sadari, perbuatan mereka yang romantis itu diketahui oleh Nani. Wanita itu tak sengaja melihat setelah akan keluar kamar. Tetapi urung lantaran ada cuplikan film live di ruang tengah.
*
__ADS_1