
Keesokan harinya, sesaat setelah selesai sarapan bersama, Gino berbicara kepada Abdul dan Rahma tentang rencananya ingin tinggal beberapa hari di rumahnya sendiri. Abdul dan Rahma tidak keberatan dan langsung mengijinkan, karena Naya sudah menjadi istri Gino. Yang mana seorang istri adalah hak mutlak seorang suami mau dibawa ke mana oleh suaminya.
Tetapi meski begitu, Rahma masih keberatan saat Gino mengatakan ingin membawa Lala juga. Wanita itu cenderung tidak setuju Lala ikut mereka. Bukan tidak percaya Gino dan Naya, tetapi alasan Rahma keberatan adalah perihal yang semalam diperdebatkan dengan Naya.
"Biar Lala tetap sama kami," kata Rahma dengan tegas.
Abdul menganggukkan kepala, ia juga sepakat soal itu dengan Rahma.
Naya yang saat itu ikut ngobrol bersama langsung protes mendengar ucapan Rahma.
"Lala anakku, Buk, kenapa ibu tidak memperbolehkan Lala ikut kami?"
"Iya, Buk. Rasanya kami menjadi orang tua yang egois kalau kami tidak membawa Lala juga," Gino ikut menyahut.
Rahma hanya melirik tajam kepada Naya. Padahal semalam ia sudah mengatakan alasan kenapa ia tidak membiarkan Lala tidur bersama Naya. Kenapa Naya malah ngenyel menurut Rahma.
"Lala aku anggap seperti anakku sendiri, Pak, Buk. Apa bapak ibu masih tidak percaya aku bisa menjadi ayahnya?" ungkap Gino, tiba-tiba saja merasa kedua mertuanya tidak mempercayai dirinya menjadi ayah sambung Lala, dengan tidak mengijinkan Lala ikut serta.
"Bukan, nak Gino! Bukan seperti itu maksud kami." Abdul langsung membela, tak enak sendiri.
"Baiklah! Kalau memang kalian mau membawa Lala, silahkan! Lala memang anak kalian. Dan kami hanya sebagai kakek neneknya. Kalian yang lebih berhak mengasuh Lala," kata Abdul pasrah.
Walau giliran Abdul yang mendapat tatapan tajam dari Rahma, tetapi Abdul tak menghiraukan itu. Di saat dirinya menikahkan Naya dengan Gino, dari situ pula Naya sudah menjadi hak Gino. Malah bersyukur sekali rasanya Gino yang notabene hanya ayah sambung Lala mau membawa serta cucunya untuk pindah rumah. Gino memang pria yang baik dan bertanggung jawab, jadi apa lagi yang masih mau diragukan?
Sedangkan Naya akhirnya bisa tersenyum dengan lega, Gino memperhatikan itu juga ikut tersenyum lega. Berbeda dengan ekspresi Rahma yang menjadi cemberut.
"Terimakasih, Pak, Buk," ujar Gino kemudian.
Setelah itu Rahma beranjak lebih dulu dari tempatnya, diikuti pula oleh Abdul. Di ruang belakang terdengar suara mereka saling berdebat, rupanya Rahma protes kenapa Abdul membiarkan Lala dibawa Gino dan Naya. Tetapi reaksi Abdul memilih mengalah saja, tidak ikut melayani ocehan Rahma. Biar saja nanti akan mereda sendiri menurut Abdul.
Naya langsung beranjak ke kamarnya dengan reaksi senang sekali. Dan Gino ikut masuk ke kamar juga.
"Terimakasih ya, Mas," ungkap Naya sambil memeluk erat kepada Gino, saat tahu suaminya ikut menyusul ke kamar.
__ADS_1
Gino tersenyum bahagia. Pria itu membalas pelukan Naya dengan usapan lembut tangannya di punggung Naya.
"Apapun itu, demi kamu dan Lala bahagia, aku akan melakukannya," kata Gino.
"Mm... Dek!" Gino melepas pelukannya.
"Aku pamit ke rumah ibu ya," katanya kemudian.
Naya terdiam sejenak. Baru kemarin pulang sekarang malah mau pulang lagi.
"Aku sudah janji sama ibu kalau aku mau datang lagi menemui ibu hari ini," jelas Gino.
Naya masih diam. Jujur, perasaan Naya sudah mulai tidak nyaman. Apakah ibu mertuanya itu seposesif ini, sehingga setiap hari Gino harus pulang menemuinya? Atau apakah ini termasuk janji Gino kepada ibunya sebelum menikah? Berbagai macam pikiran tak nyaman terus berputar di benak Naya.
"Dek, dengar," kata Gino kemudian membimbing Naya untuk duduk bersama.
"Aku masih berjuang untuk membuat hati ibu terbuka, Dek. Aku minta keikhlasanmu kalau tiba-tiba aku harus datang ke rumah ibu. Dengan aku menepati janjiku menemui ibu kemarin, aku yakin ibu akan lekas membuka hatinya untuk kita," jelas Gino dengan serius.
Naya akhirnya mengangguk kepala walau sejujurnya perasaannya masih entah. Gino kembali memeluk Naya. Pria itu tahu kalau istrinya itu tidak sepenuhnya ikhlas, terlihat dari sorot matanya yang berbeda. Tetapi memang ini adalah bagian dari perjuangan Gino untuk menggapai restu dari ibunya. Gino sangat menunggu ucapan restu itu keluar dari mulut Nani. Sampai kapanpun!
"Senyum dong," pinta Gino sambil bergantian mencium pipi Naya yang satunya.
Naya mulai tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan.
"Sayang, dengarkan ya, aku juga tidak akan mengekangmu untuk menemui bapak ibu. Kamu bisa bebas main ke sini, kalau aku sedang bekerja," ucap Gino sambil membelai lembut pipi Naya dengan jemarinya.
Pria itu memang tidak mau terkesan membatasi pergerakan Naya setelah menjadi istrinya. Tetapi memang Naya sudah berhenti bekerja seminggu sebelum menikah dikarenakan Naya ingin fokus menjadi ibu rumah tangga setelah menikah.
"Iya, Mas," sahut Naya pada akhirnya.
"Nanti kamu pulang jam berapa. Aku masih belum siap-siap soalnya?" tanya Naya.
"Nanti jam satu. Bawa beberapa baju saja, Dek, tidak perlu bawa semuanya. Tiga hari saja kita di rumah. Besok-besok kita bergilir menginap di rumah sini dan di rumah ibuku," kata Gino memberi usulan.
__ADS_1
Naya berubah diam lagi saat mendengar pernyataan Gino yang terakhir. Entahlah, perasaannya selalu merasa entah tiap kali menyinggung tentang ibu mertua.
"Jangan terlalu dipikir. Nanti kalau kita nginep di rumah ibuku, aku nggak akan ninggalin kamu. Kalau perlu aku akan kurung kamu di kamarku," kata Gino sambil terkekeh kecil.
"Lagian di rumah sudah tidak ada Wulan, jadi kamu bisa aman," tambah Gino yang seketika membuat Naya kaget mendengar ucapannya tentang Wulan.
"Memangnya iparmu itu ke mana?" tanya Naya penasaran.
Naya memang tidak tahu tentang kabar Wulan, karena Gino yang tidak menceritakannya. Gino menganggap Wulan adalah tidak penting, sehingga ia lupa tidak menceritakannya kepada Naya.
"Aku belum cerita ya, Dek?"
Naya menggeleng kepala. Keningnya berkerut pertanda sudah penasaran.
"Mas Agus menceraikan Wulan, Dek," jelas Gino pada akhirnya.
Ekspresi Naya langsung melotot tak percaya. Walau sebenarnya kabar ini membuat perasaannya sedikit lega, karena tidak akan ada lagi orang yang akan menghinanya langsung ketika saling bertemu, tetapi tetap saja kabar ini membuat Naya kaget tak percaya.
"Cerai? Kapan, Mas?" tanyanya penasaran sekali.
Pantas saja saat pernikahan kemarin, Naya tidak melihat Wulan lagi. Naya pikir Wulan sengaja tidak ikut karena pro dengan Nani.
"Sudah lama. Mm... Hampir sebulan apa dia bulan ya... Lupa!" kata Gino.
Jujur, pria itu sudah malas mengingat tepatnya kapan Wulan dan Agus bercerai.
"Dosa nggak sih, Mas, kalau aku bersyukur atas perceraian mereka?" tanya Naya sesuai isi hatinya yang bersuara saat ini.
"Atau kamu mau tertawa sekarang? Aku persilahkan biar kamu puas!"
Setelah mengatakan itu Gino tertawa sendiri. Entahlah, sepertinya mereka berdua merasakan adanya kemenangan setelah Wulan pergi dari kehidupan mereka.
Naya yang melihat Gino tertawa, tak ayal ikut tertawa juga. Mereka mirip seperti pasangan yang tertawa diatas penderitaan Wulan.
__ADS_1
*