Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 49


__ADS_3

"Naya, ayo kita bertemu sekarang," ucap Wahyu to the point setelah telponnya dijawab oleh Naya.


"Maaf, Wahyu. Aku tidak bisa," tolak Naya tetap teguh pendirian untuk tidak bertemu lagi dengan Wahyu.


Terdengar helaan nafas Wahyu yang berhembus diseberang sana.


"Baiklah kalau kamu tidak mau. Tapi biarkan aku bicara lewat telpon sama kamu, boleh kan?" pasrah Wahyu pada akhirnya.


"Heem... Silahkan." Naya memperbolehkannya.


Sesaat keadaan menjadi hening. Wahyu diam saja, sedangkan Naya hanya menunggu Wahyu akan berbicara apa kepadanya.


"Selamat ya, Nay," ucap Wahyu kemudian.


Naya bergeming saja.


"Kamu-- sukses sudah menghancurkan hatiku, Nay," ucap Wahyu lagi.


Hati Naya seketika berdesir saat Wahyu mengatakan seperti itu. Sejujurnya ia sangat tidak ingin melukai siapapun. Makanya dari awal ia tidak ingin memberikan harapan apa-apa kepada Wahyu. Tetapi sepertinya Wahyu memang terus mengharapkan cintanya walau sudah berulang kali Naya menolak ungkapan cinta pria itu.


"Aku memang pria miskin, Nay. Tidak seperti tunanganmu yang kaya. Jadi wajar saja kalau aku kamu tolak mentah-mentah."


"Apa maksud kamu, Wahyu? Kamu menuduhku sebagai perempuan matre?"


Wajar saja jika Naya tersinggung dengan ucapan Wahyu.


"Tidak. Aku cuma merasa jadi lelaki kurang beruntung saja. Nasib hidupku terlalu buruk jika dibandingkan tunangan kamu. Selamat! Sekali lagi selamat!"


"Sudah? Itu yang ingin kamu bicarakan sama aku?" Naya sudah merasa jengah sendiri berbicara dengan Wahyu.


Wahyu diam lagi. Tetapi kemudian Naya langsung mengakhiri sambungan telponnya. Tetapi kemudian telpon Naya berdering lagi, dan itu tetap dari Wahyu.


"Ada apa lagi, Wahyu?" tanya Naya sudah tidak bisa bersabar lagi.


"Kenapa kamu tidak pernah mau memberiku kesempatan sekali saja, kenapa, Nay? Aku yang lebih dulu kenal kamu dibandingkan tunanganmu itu. Tapi kamu malah langsung menerima lamarannya, tanpa memikirkan perasaanku."

__ADS_1


Naya memilih diam saja, tidak menyahut apapun yang diucapkan Wahyu kepadanya.


"Aku bekerja di luar kota demi bisa melamar kamu, Nay. Bahkan aku sudah membeli cincin untuk kamu. Aku sudah bilang sama bapak ibu tentang niatku ke kamu. Aku menunggu kamu mirip orang gila di sini kemarin. Tapi kenapa kamu tega sama aku, Nay?"


Rupanya Wahyu saat ini tetap menunggu Naya di gang depan rumah Naya.


"Wahyu, aku minta maaf kalau aku menyakiti kamu. Tapi bukankah aku sering mengatakan untuk kamu berhenti mengharapkan aku? Seharusnya kamu paham itu artinya apa."


"Iya, aku yang bodoh, Nay. Aku yang bodoh karena sudah terlanjur gila mencintai kamu. Hatiku sakit, Nay, mendengar kamu dilamar orang dan kamu langsung menerimanya."


Dari ini Naya semakin paham siapa informan yang menyampaikan tentang Naya dilamar Gino dan kemarin adalah hari pertunangannya. Itu semua pasti ulah Fifi! Siapa lagi coba?


"Naya, apa kamu bahagia bersama dia? Apa kamu benar-benar mencintai dia, Nay? Katakan padaku, Nay!"


"Iya, aku mencintai dia!" jawab Naya dengan tegas.


Padahal hati Naya saat ini sedang entah dengan Gino. Tetapi lebih baik mengatakan seperti itu kepada Wahyu, supaya pria itu benar-benar berhenti mengharapkannya.


Sekali lagi Naya mendengar Wahyu menghentak nafasnya dengan kasar.


Astaghfirullahalazim... Naya mengucap lafadz istighfar itu dalam hatinya. Sungguh, ia tidak pernah menilai Wahyu hanya karena dia miskin. Bukan karena itu!


"Wahyu, maaf... Sepertinya kita cukup di sini saja. Sekali lagi aku mohon maaf. Dan aku minta sama kamu untuk tidak menghubungiku lagi," ucap Naya yang kemudian langsung menyudahi telponnya.


Tak sampai di situ, Naya juga langsung memblokir nomor telpon Wahyu. Biar saja! Bukannya Naya kejam, tetapi apa yang dikatakan Wahyu kepadanya itu sungguh sangat menyinggung perasaannya. Dan lagi diantara mereka memang seharusnya tidak saling berhubungan lagi. Karena Naya rasa, Wahyu bukanlah lelaki aman untuknya. Bisa saja nanti ia berbuat nekat jika ia tidak memblokir nomor telponnya.


"Naya," suara Rahma menyapa, yang kemudian pintu kamarnya terbuka karena Rahma yang membukanya.


"Kamu telponan sama Gino?" kepo Rahma.


Wanita itu mendengar Naya sedang bertelponan, makanya ia bertanya. Rahma hanya takut Naya akan berbicara yang tidak-tidak dengan Gino. Ia takut Naya akan melupakan pesan Abdul semalam.


"Nggak, Buk. Barusan aku lagi telponan sama Yuli," dusta Naya.


Padahal Yuli sendiri saat ini sedang kerja di warung.

__ADS_1


"Emang Yuli nggak masuk kerja juga?"


Naya terpaksa berbohong lagi dengan menggelengkan kepalanya.


"Heem... Ibu pikir kamu lagi telponan sama Gino. Ya sudah lah, Nay. Ingat pesan bapak semalam."


"Iya, Buk. Aku ingat. Lagian nggak mungkin juga aku nelpon mas Gino. Jam segini dia pasti sibuk kerja."


"Ooh.. Ya sudah. Eh, iya, Nay. Tuh Lala kelonin sana, dia kan masih tahap pemulihan, biar dia nggak main terus," kata Rahma yang kemudian menutup kembali pintu kamar Naya.


Segera Naya turun dari kasurnya. Lalu ia keluar kamar untuk menemui Lala yang lagi asyik menonton film kartun. Handphone wanita itu lagi-lagi ditinggal dalam kamarnya. Entahlah, padahal cuma handphone. Kenapa rasanya tiap memegang handphone itu perasaan Naya berdebar aneh kepada Gino.


Kemudian Naya yang memang aslinya mager, dengan mudah menidurkan Lala bersama dirinya yang ikut tertidur di depan tivi.


Rahma yang melihat Naya ketiduran di sana bersama Lala membiarkan saja mereka tidur sampai puas. Dan lagi Rahma sangat tahu karakter Naya yang jika sedang banyak pikiran Naya suka tidur.


Hingga sampai pukul setengah dua siang barulah Naya bangun bersama Lala juga. Rasanya puas tidur dengan lama di siang hari.


"Eh, sudah bangun cucu nenek," sapa Rahma yang kebetulan sedang lewat dan melihat mereka bangun tidur.


Lala ikut-ikutan mager dan tidak beranjak dari tempatnya tidur, malah kemudian langsung menyalakan TV nya lagi. Naya yang berhalangan sholat juga ikut santai menemani Lala menonton film kartun kesukaan Lala.


Ketika Naya melihat Fifi pulang dari sekolahnya barulah Naya beranjak dari tempatnya. Ia ingin ke kamar mandi, tapi butuh mengambil pembalut dulu di kamarnya.


Sekilas Naya melirik pada ponselnya, Tetapi kemudian Naya keluar dari kamarnya tanpa mau mengecek handphonenya.


Hingga sampai sore menjelang, Naya sama sekali tidak mengecek handphonenya. Wanita itu terlalu seru bermain bersama Lala di teras samping rumah, sambil menyuapi Lala makan.


Suara deru mesin mobil masuk ke halaman rumah itu. Naya menoleh sekilas, ia tahu kalau itu adalah Gino yang datang, tetapi Naya tidak berantusias untuk menyambutnya, malah asyik lanjut menyuapi Lala lagi.


Gino yang tahu bagaimana reaksi Naya melihat kedatangannya merasa ada yang menghimpit dadanya. Tetapi pria itu mencoba tetap sabar, karena perubahan Naya itu karena dirinya juga. Kemudian Gino mendekati Naya dan Lala.


"Om......." pekik Lala sambil berlari ke arah Gino yang datang.


Bocah itu terlihat sangat senang melihat Gino datang lagi.

__ADS_1


*


__ADS_2