
Keesokan harinya, kedua orang tua Naya benar-benar datang ke rumah Naya bersama Farhan juga. Saat itu Gino masih berada di kantor. Dengan kedatangan mereka membuat rumah Naya menjadi ramai. Dan Abdul menyempatkan untuk berbicara kepada Naya soal Lala. Semalam Abdul dan Rahma berencana untuk meminta Lala untuk tinggal bersama mereka. Bukan karena ingin memisahkan Lala dengan mamanya, tetapi mereka berdua memikirkan bagaimana dengan sekolah Lala karena saat ini Naya sedang memiliki bayi, yang tentunya tidak akan mungkin bisa mengantar jemput Lala ke sekolahnya setiap hari.
Sedangkan untuk mempekerjakan jasa tukang antar jemput khusus Lala, Abdul dan Rahma merasa tidak aman. Padahal sebenarnya Gino mampu membayarnya jika memang mereka berkehendak. Rasa sayang mereka kepada Lala membuatnya tidak rela membiarkan Lala di pasrahkan ke orang lain. Karena sudah dari bayi, Rahma yang merawat Lala.
Naya yang mendengar permintaan kedua orang tuanya itu tentunya menjadi kepikiran. Ibu mana yang rela berpisah tempat dengan anaknya, walau yang akan membawa anaknya itu adalah kakek dan neneknya sendiri yang sudah pasti menyayangi Lala melebihi apapun.
"Sementara saja, Nay. Nanti kalau Lala sudah SD kamu bisa ambil Lala lagi. Kalau Lala sudah SD itu artinya Nana sudah besar. Tentunya kamu sudah aman bawa motor sendiri sambil bonceng mereka," ucap Abdul terus mencoba membujuk Naya.
Naya tetap terdiam. Sungguh, otaknya benar-benar buntu untuk sekedar memberi jawaban. Apa yang diminta orang tuanya itu memang demi kebaikan Lala juga, cuma ya tetap saja Naya tidak rela harus berpisah tempat dengan Lala.
"Kamu pikir-pikir dulu lah. Tapi ibu bapak harap kamu mau mempertimbangkan permintaan kita," seru Rahma juga.
Naya hanya menghentak nafas beratnya. Kemudian mengangguk kecil kepada bapak ibunya. Meski di rumah ini Lala adalah anaknya, bukan anak kandung Gino, tetapi Naya merasa semua ini harus dibicarakan dulu dengan Gino. Dan semoga saja nanti Gino tidak setuju mendengar ini, dan mendapatkan solusi yang baik untuk Lala. Begitulah harapan Naya saat ini.
"Bapak, ayo ke alun-alun. Bapak kemarin sudah janji mau bawa aku ke sana," ucap Farhan tiba-tiba ikut gabung bersama mereka. Bocah berusia sembilan tahun itu dari tadi main bersama Lala.
"Aduh! Bapak lupa nggak bawa uang lebih, Han!" ucap Abdul sambil menepuk keningnya sendiri pura-pura lupa. Padahal yang sebenarnya keuangan Abdul lagi seret, gara-gara sudah lama tidak kerja.
"Kalau mau ke alun-alun kamu harus nginep sini. Besok sabtu mas Gino libur kerja, jadi kita bisa bareng-bareng pergi ke sana, gimana?" seru Naya memberi solusi supaya tidak mengecewakan Farhan.
"Iya, aku mau, Mbak. Besok ke sananya naik mobil kan, Mbak?" pekik Farhan dengan riang.
Naya mengangguk sambil tersenyum. Dan Farhan langsung loncat-loncat kegirangan. Putra bungsu pasangan Abdul dan Rahma itu memang sangat manja sekali. Bila keinginannya tidak terpenuhi, terkadang tak malu lagi menangis mirip seperti Lala.
"Ibu sama bapak nginep juga dong," pinta Naya kepada Abdul dan Rahma.
"Kalau kami menginap kasihan Riki di rumah sendirian," tolak Rahma.
"Tinggal telpon Riki suruh nyusul ke sini, gampang kan?" Naya sudah siap akan menelpon Riki, tetapi kali ini Abdul yang menolak juga.
"Lain kali saja bapak sama ibu nginep di sini. Sekarang biar Farhan nginep sini dulu," seru Abdul.
__ADS_1
"Yes! Berarti besok aku libur sekolah," pekik Farhan berulang-ulang saking senangnya.
"Jangan bikin rusuh loh, Han. Kalau perlu kamu bantu-bantu mbak mu, kayak ngangkat jemurannya Nana kan bisa," pesan Rahma.
"Siap, Ibu!"
Tak lama setelah itu Gino datang dari kantor. Saat itu bapak ibu Naya masih belum pulang. Rahma sengaja membantu masak untuk menyiapkan makan mereka setelah ini. Sedangkan Naya oleh Rahma dilarang ikut membantu memasak dengan alasan mumpung ada dirinya di sini.
Usai menyapa sebentar dengan bapak ibu mertuanya, Gino segera masuk kamar untuk menemui Naya yang sedang menyusui baby Nana. Akan tetapi kedatangan Gino rupanya tidak disadari oleh Naya, karena saat itu Naya sedang melamun memikirkan permintaan bapak ibunya soal Lala.
Hingga sampai Gino ikut duduk disamping Naya, barulah Naya tersadar jika sudah ada Gino di kamar itu.
"Kayaknya sambil ngelamun, mikirin apa sih?" kepo Gino sehingga langsung bertanya.
"Mikirin Lala, Mas," sahut Naya dengan jujur.
"Kenapa dengan Lala?"
"Loh, kenapa?" kaget Gino.
"Katanya biar Lala ada yang nganterin ke sekolahnya."
Gino berpikir sejenak. Memang belakangan ini setelah mereka tinggal di rumah Abdul kemarin Lala sering ijin tidak masuk sekolah karena tidak ada yang mengantar atau pun yang akan menjemput Lala di sekolahnya. Meskipun masih sekolah playgroup, tetapi jika sering diajari bolos sekolah begini tentunya akan berdampak tidak baik untuk kebiasaan Lala nantinya.
"Bapak kepikiran kalau aku yang nganter Lala pake motor sambil bawa Nana. Bapak juga tidak mau bayar orang jadi tukang jemput Lala," jelas Naya lagi.
Gino menghela nafasnya dalam. Kemudian tangannya membelai lembut pada kepala Naya.
"Trus menurut kamu gimana?" tanya Gino.
Naya langsung menggeleng, pertanda tidak setuju dengan permintaan Abdul itu.
__ADS_1
"Kalau begitu kita pindahkan sekolah Lala. Kita sekolahkan Lala di sekolah yang full day. Paginya biar berangkat sama aku. Pulangnya juga aku yang jemput Lala," ucap Gino memberi solusi yang masuk di akal.
"Tapi sekolah yang begitu bayarnya mahal loh, Mas," timpal Naya.
Sekolah full day apalagi yang khusus taman kanak-kanak biayanya sedikit lebih mahal daripada sekolah full day untuk anak SD. Jujur Naya ngeri melihat biaya perbulannya. Meski sebenarnya gaji Gino masih sanggup untuk membiayai sekolah itu, tetapi omongan miring dari keluarga Gino yang ingin Naya hindari. Karena ini adalah masalah keuangan. Yang bisa sangat sensitif apalagi dengan kondisinya yang masih belum baik dengan ibu mertua.
"Soal biayanya gampang. Semua sudah ada rejekinya," seru Gino sambil merangkul pada pundak Naya.
"Terimakasih ya, Mas. Kamu memang pahlawan yang nyata untuk Lala," ucap Naya dengan matanya yang mulai berkaca-kaca karena terharu memiliki suami yang rela berkorban apapun demi anak sambungnya.
Dan Gino pun memasang senyum manisnya kepada Naya.
"Jadi sekarang jangan dipikir lagi. Kalau bapak ada ngomong sama aku, biar aku jawabnya seperti itu."
Naya mengangguk dengan senang.
Setelah itu Naya meletakkan baby Nana di kasur karena memang bayi itu sudah tidur.
"Dek, setelah ini ayo kalau mau ke dokter. Mumpung ada bapak sama ibu, kita titipkan Nana sebentar sama mereka," ucap Gino dengan bersemangat mengajak Naya untuk ke dokter guna berkonsultasi masalah KB.
"Kita pergi hanya berdua. Anggaplah kita pergi kencan, gimana?" tambah Gino.
Naya langsung mengangguk tanpa banyak protes. Meskipun itu bukan kebiasaan mereka main nitip bayi mereka kepada Rahma seenaknya, tetapi demi membahagiakan Gino Naya langsung mengangguk setuju.
"Kalau gitu aku pergi mandi dulu ya," kata Gino yang kemudian beranjak untuk melepas pakaiannya.
"Tapi perginya nunggu makan dulu ya, Mas. Ibu sudah terlanjur masak untuk kita," ucap Naya.
Padahal sebenarnya Gino ingin mengajak Naya makan di luar, tetapi mendengar itu mungkin bisa lain waktu saja.
"Oh, ya sudah. Sekalian saja kita minta ibu bapak nginep di sini malam ini. Takutnya kita pulangnya kemaleman entar. Biar aku yang ngomong sama mereka," lanjut Gino yang kemudian keluar kamar untuk membicarakan tentang titip Nana kepada mereka.
__ADS_1
*