
Setelah tangisan Naya perlahan mereda, Gino melepas pelukannya. Jemari tangannya membantu mengusap air mata Naya. Pria itu tersenyum tipis menatap Naya, mencoba menghiburnya meski tidak tahu senyumannya bisa menghiburnya atau tidak.
Sedangkan Naya sendiri merasa sedikit nyaman setelah puas menumpahkan luruh air matanya. Walau sudah membasahi dada Gino dengan air matanya, tetapi Naya tidak peduli itu. Ia menangis juga karena pria itu, jadi biar saja lah tak perlu merasa tak enak sendiri.
"Mau minum tidak?" tanya Gino tanpa mau menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Bukan karena tidak penasaran lagi, tetapi Gino berencana akan menanyakannya setelah wanitanya itu benar-benar merasa tenang. Mungkin setelah mau diajak minum Naya mau berterus terang kepadanya.
"Aku mau pulang!" sahut Naya dengan mantap.
"Jadi nggak mau cerita dulu kenapa kamu nangis?" pancing Gino, siapa tahu Naya berubah pikiran.
Naya langsung menggeleng lemah.
Gino menghela nafas panjangnya, kemudian mengangguk setuju permintaan Naya yang meminta pulang.
Tangan pria itu langsung menggandeng tangan Naya, tetapi Naya malah melepasnya.
Sejenak Gino menatap dalam kepada Naya. Fix! Ini pasti ada sesuatu yang terjadi yang berhubungan dengan dirinya.
Sekali lagi Gino meraih tangan Naya dan menggenggamnya lebih erat. Kali ini Naya tidak menolak lagi, tetapi wajahnya tertunduk ke lantai. Bahkan ketika Gino mulai menariknya untuk beranjak, Naya tetap membisu.
Saat ini mereka sudah ada di parkiran mall itu. Gino sudah siap duduk di atas jok motornya, tetapi Naya masih bengong di tempat.
"Ayo, Dek," sapa Gino membuyarkan lamunan Naya.
Naya sedikit terkesiap. Sejenak netra mereka saling berpandangan. Sangat jelas jika mata Naya nasih sembab. Bagaimana nanti Gino menjelaskan kepada bapak ibu Naya jika mereka bertanya?
__ADS_1
Lalu Naya mulai duduk berboncengan dengan Gino. Wanita itu masih betah bungkam. Sebelum melajukan motornya Gino meraih tangan Naya, kemudian meletakkannya di pinggangnya.
"Pegangan yang erat, Dek. Aku mau ngebut!" seru Gino, tetapi diacuhkan oleh Naya.
Kemudian motor itu melaju pergi. Awalnya lajunya biasa saja, karena memang masih dalam area mall. Tetapi begitu motor itu sudah ada di jalan raya, baru Gino mulai menarik kecepatan mirip pebalap motor.
Naya yang mulai panik dengan keselamatannya langsung memeluk erat kepada Gino. Sejujurnya itu bukan modus Gino, melainkan pria itu merasa marah dengan diri sendiri sehingga melampiaskan dengan cara kebut-kebutan seperti itu.
Naya masih saja bungkam. Hingga sampai mereka sudah mulai masuk di gang depan menuju rumah Naya, barulah Gino menormalkan kembali laju motornya.
Saat ini mereka sudah tiba di rumah Naya. Keadaan di rumah Naya nampak sepi dari luar. Gino memutuskan untuk tidak masuk lagi ke rumah Naya. Cuma titip salam kepada Rahma dan Abdul melalui Naya.
"Dek," sapa Gino sebelum ia benar-benar pergi.
"Aku harap kamu mau cerita sama aku. Itu pun kalau kamu menganggap aku ada untuk kamu. Aku tidak suka diantara kita ada yang dirahasiakan. Aku ingin kita saling jujur. Apapun itu, sesakit apapun itu, aku ingin kita saling terbuka," ucap Gino.
Padahal ia sendiri sedang merahasiakan tentang Nani yang tidak merestui hubungan mereka. Gino merahasiakan itu karena merasa belum siap saja menceritakan semuanya kepada Naya. Yang paling ditakutkan Gino ialah ditinggal pergi oleh Naya, begitu tahu jika hubungan mereka ditentang oleh ibunya Gino.
"Dek, mm... sampai jumpa besok," kata Gino yang urung mengatakan uneg-unegnya mengganti menjadi kata pamit.
Naya mengangguk sambil tersenyum kecil.
Setelah itu Gino langsung menyalakan mesin motornya lagi kemudian langsung pergi begitu saja dari rumah Naya.
Dan lagi, pria itu kembali kebut-kebutan di jalan raya saat sudah menuju perjalanan pulang.
Sedangkan Naya saat ini mulai masuk ke rumahnya. Di dalam rumah ia tidak melihat kedua orang tuanya. Hanya ada Farhan yang ketiduran sambil nonton TV. Riki tidak ada di rumah juga. Dan Fifi, di mana dia?
__ADS_1
Naya langsung membuka kamar Fifi, tetapi tidak ada gadis itu di dalam sana. Kemudian segera ia beranjak ke kamarnya, rupanya Fifi ada di dalam kamar Naya yang sedang menemani Lala bobok.
Sejenak wanita itu menarik nafas lega, setelah melihat buah hatinya tertidur begitu pulas. Pelan-pelan sekali Naya meletakkan paperbag yang dibawanya. Kemudian keluar lagi dari kamarnya untuk kemudian menuju ke kamar mandi.
Di sana Naya mencuci bersih mukanya dulu sebelum nanti tidur malam. Setelah selesai dengan kegiatannya itu, Naya langsung kembali ke kamarnya.
Sekembalinya ia masuk kamar, ternyata Fifi sudah bangun. Gadis itu dengan santainya mengintip isi dari paperbag yang tadi Naya tinggal di kamar.
"Mbak, ini punya mbak?" tanya Fifi dengan suaranya yang lirih.
Naya merespon dengan anggukan kecil. Setelah itu Naya langsung berbaring di tempat bagiannya, tanpa mengganti pakaiannya lebih dulu.
"Mbak capek, Fi, mbak pingin tidur," ucap Naya.
Fifi langsung peka dengan ucapan Naya. Maka gadis itu pun keluar dari kamar Naya. Menahan rasa penasarannya untuk kepoin soal isi paperbag itu.
Entah berapa menit lamanya Naya melamun seorang diri. Matanya masih sangat binar, sama sekali tidak bisa terlelap walau tubuhnya hari ini merasa lelah. Pikirannya terus tersita tentang Gino dan wanita itu. Jika memang wanita itu adalah kekasih Gino, mungkin semuanya bisa diakhiri sebelum terlanjur bertunangan. Begitulah menurut Naya saat ini.
Handphone milik Naya tiba-tiba berbunyi. Buru-buru wanita itu mengeceknya siapa yang menelpon, tetapi urung dijawab setelah tahu sebuah nomor asing yang saat ini menelponnya.
Memang sampai saat ini Naya hanya menyimpan nomor telpon keluarganya saja, termasuk nomor Gino si calon tunangan. Nomor telpon Yuli, Budi, dan bu Sugeng juga sudah ia simpan. Lantas siapa yang menelponnya dengan menggunakan nomor asing? Perasaan ia tidak pernah memberikan nomor telponnya kepada orang lain.
Tiba-tiba saja perasaan Naya kembali teringat dengan wanita yang tadi melabrak nya di mall. Apakah wanita itu yang menelponnya sekarang? Kalau benar iya, lantas mau apa? Mau menghinanya lagi?
Tetapi seketika Naya muncul nekat untuk menjawab panggilan telpon itu. Mungkin dengan ini ia bisa tahu ada hubungan apa ia dengan Gino, yang ia tidak tahu kebenarannya.
"Hallo, Nay."
__ADS_1
"Cowok?" batin Naya langsung kaget karena ternyata yang menelponnya bukan wanita yang tadi.
*