Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 77


__ADS_3

Hari senin telah tiba. Saatnya semua orang kembali beraktifitas seperti biasanya, termasuk pula dengan Gino. Pria itu berangkat kerja setelah sarapan bersama keluarga kecilnya. Dan sebelum berangkat tadi Gino sudah berpesan kepada Naya jika ingin berkunjung ke rumah Rahma boleh-boleh saja, akan tetapi Naya menolak karena sedang mager mau ke mana-mana.


Kegiatan Naya di rumah hanya bermain menemani Lala. Dan seperti biasa, jika sudah siang jam satu siang Naya akan menidurkan Lala. Setelah Lala tidur dengan lelap, lalu Naya keluar dari kamar Lala dan kemudian beranjak ke kamar mandi.


Naya langsung menyucikan diri dari haid nya yang sudah bersih. Setelah itu baru melaksanakan empat rakaatnya. Di saat Naya baru menyelesaikan sholatnya, terdengar bunyi ketukan dari pintu pagar rumahnya. Buru-buru Naya beranjak dari tempatnya untuk melihat siapa yang bertamu ke rumahnya siang ini.


"Assalamu'alaikum."


Suara lelaki paruh baya mengucap salam dari balik pagar rumah itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Naya yang kemudian membuka pagar itu.


Ternyata yang datang adalah Suryo dan Nani. Pria tua itu langsung memasang senyum hangat kepada Naya, tetapi tidak dengan Nani. Meski tidak tampak wajah kebencian dari Nani, tetapi dengan berekspresi dingin kepada Naya itu juga tidak nyaman untuk Naya.


"Ayah, ibu, silahkan masuk," sambut Naya dengan ramah, sambil kemudian bersalaman kepada mereka.


"Baru sholat, Nak?" tanya Suryo karena memang Naya masih memakai mukenah saat ini.


"Iya, Yah," sahut Naya.


Lalu mereka masuk ke rumah itu. Nani memilih duduk di ruang tamu, tidak seperti Suryo yang langsung masuk ke dalam untuk melihat situasi.


"Anakmu mana, Nay?" tanya Suryo karena tidak melihat keberadaan Lala.


"Lagi tidur, Yah," sahut Naya agak canggung.


Saat ini Naya sedang ada di dapur lagi menyeduh teh hangat untuk mertuanya.


Suryo mendekati Naya.


"Naya, kamu jangan sedih ya kalau ibumu masih banyak diamnya sama kamu. Sudah syukur ibumu mau ayah ajak ke sini. Nggak harus mencak-mencak kayak dulu lagi," ucap Suryo, sengaja memelankan suaranya supaya tidak di dengar oleh Nani.


Naya hanya menanggapi dengan tersenyum kecil. Jujur, sampai detik ini Naya masih kaget dengan kedatangan mertuanya yang tidak memberi kabar sebelumnya. Bahkan ia sama sekali tidak menyangka kalau ibu mertuanya juga akan ikut ke sini.


"Ayah, tehnya aku taruh depan ya," kata Naya yang kemudian beranjak ke ruang tamu lagi untuk menyajikan minumannya kepada Nani.


Suryo tidak ikut kembali ke ruang tamu. Pria itu belok ke kamar mandi untuk kemudian mengambil wudhu. Karena saat ini ia masih belum sholat dzuhur.

__ADS_1


"Ibu, ini tehnya," sapa Naya canggung sekali rasanya.


Bahkan matanya sama sekali tidak berani menatap mata Nani.


"Iya," sahut Nani sangat singkat.


Wanita itu melongo melihat ke dalam, karena Suryo tak kunjung muncul. Naya pun ikut menoleh ke belakang, dan ia paham siapa yang ditunggu Nani sekarang.


"Ayah barusan masih ke kamar mandi, Bu," kata Naya menjelaskan.


Saat ini mereka berdua sedang duduk berhadapan di ruang tamu itu.


Nani diam lagi. Tetapi sejujurnya wanita itu sedang meneliti kepada Naya. Menantunya itu bukanlah orang yang berwajah pas-pasan. Bahkan masuk di kriteria cantik yang natural. Pantas saja Gino bisa jatuh cinta kepadanya. Karena Nani tahu betul seperti apa selera Gino terhadap wanita.


Alisnya yang sudah tebal namun tumbuh rapi, tidak mengharuskan Naya untuk mengukir alis lagi. Kulitnya pun bersih berwarna kuning langsat. Cukup terawat bagi seorang wanita yang tidak pernah merasakan perawatan salon kecantikan seperti Naya. Nani tahu betul dan dapat membedakan mana kulit wajah asli dari sananya dan mana yang bagus efek skincare. Dan untuk Naya, wanita itu masuk ke jenis kulit yang asli dari sananya alias murni ciptaan Tuhan.


Tak lama kemudian Suryo datang, pria itu ikut duduk berdampingan dengan Nani. Lalu kemudian meminum teh buatan Naya.


"Hemm... Alhamdulillah. Tehnya enak, Nay," kata Suryo memuji teh buatan Naya.


"Diminum, Nani." Suryo menyuruh Nani untuk meminum minumannya juga.


"Iya," sahut Nani singkat, tetapi tetap tidak meminum tehnya.


Suryo hanya bisa menghembus nafas beratnya melihat Nani yang begitu.


"Sudah sana kalau mau sholat dzuhur, aku barusan sudah," kata Suryo menyuruh Nani untuk sholat dzuhur.


Nani kemudian beranjak dari tempatnya dengan reaksinya yang masih dingin. Di dalam sana Nani mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sejujurnya ia juga penasaran tentang di mana anaknya Naya sekarang. Tetapi tidak mungkin Nani bertanya itu karena buat apa juga?


"Ayah memang sengaja ke sini atau cuma mampir?" tanya Naya kepada Suryo.


"Ayah sama ibu datang dari rumah pak lek Hadi. Trus ayah ajak ibumu ke sini. Dia pikir kalian masih tinggal di rumah ibumu. Makanya ia langsung mau. Tapi setelah melihat ada motor Gino di depan, ibumu sudah curiga. Dia sudah ngajak pulang, tapi ayah tolak. Dia ngeyel, ya ayah suruh pulang sendiri, tapi ibumu pasti nggak mungkin pulang sendiri. Dari dulu ibumu itu kemana-mana selalu ayah yang antar, jadi mana berani dia pulang sendiri dari sini," kata Suryo menjelaskan.


Nani adalah asli perempuan ibu rumah tangga yang sampai masa tuanya pun tidak tahu cara menyetir motor. Jadilah wanita itu selalu ketergantungan kepada Suryo. Bersyukurnya Suryo selalu bersikap sabar untuk selalu mengantar Nani jika sedang butuh diantar.


Setelah Agus dan Gino sama-sama besar, tugas untuk mengantar Nani keluar diambil alih oleh Gino. Meski juga ada Agus di rumah, tetapi Nani lebih suka diantar oleh Gino karena orangnya yang memang tidak banyak omong meski tahu diajak muter-muter saja. Tetapi sekarang Gino sudah menikah, makanya Suryo kembali mengambil peran itu.

__ADS_1


Agus sudah berhenti bekerja di pabrik. Dan sekarang ia mulai bekerja menjadi sopir pribadi seorang anggota dewan, yang gajinya lebih banyak dibanding gaji bekerja di pabrik, karena Agus sering mendapat vee tambahan setiap pergi ke luar kota. Makanya Agus saat ini jarang ditemui di rumah. Apalagi menjelang pemilu tahun depan, yang katanya juragan Agus itu mau maju mencalonkan diri lagi. Jadilah Agus ikut sibuk, karena si anggota dewan lagi sibuk mencari suara untuk pemilu tahun depan.


Sedangkan pak lek Hadi adalah adik kandung Suryo. Katanya bulan depan pak lek Hadi mau ada hajat menikahkan anak bungsunya.


Suryo nampak menguap, rasa kantuknya tiba-tiba hinggap.


"Ayah kalau mau istirahat mari di kamar saja," kata Naya meminta Suryo untuk beristirahat di kamar tamu.


"Tidak, Nay. Ayah numpang rebahan sebentar di depan TV sana."


Lalu Suryo beranjak pindah dan kemudian langsung berbaring di atas karpet bulu itu sambil menonton televisi. Siapa sangka ternyata Suryo begitu cepat terlelap, mungkin sudah sangat ngantuk luar biasa. Dan Nani yang melihat itu terpaksa membiarkan Suryo tidur dulu, karena Nani tahu semalam tidur Suryo memang sebentar efek ikut patrol bersama warga sekitar karena katanya lagi marak maling berkeliaran di lingkungan sana.


"Ibu kalau mau tidur juga bisa di kamar saja, Bu," ucap Naya kepada Nani.


"Tidak," sahut Nani masih pelit bicara.


Melihat jam yang sudah menunjukkan lebih pukul dua siang, maka Naya mulai bersiap meracik bahan-bahan yang akan di masaknya setelah ini, untuk kemudian menyiapkan makanan ketika Gino datang sore ini.


"Ibu, aku boleh tanya tidak?" sapa Naya sok dekat. Sudah terlanjur kumpul bareng, apa salahnya saling kenal.


Nani bergeming saja. Tetapi Naya tetap akan bertanya, entah nanti dijawab atau tidak, Naya sudah pasang hati sekeras batu agar tidak mudah hancur meski dihantam oleh nada kekecewaan.


"Mas Gino paling suka makan apa ya, Bu? Aku sekarang pingin masakin itu," lanjut Naya.


"Dia makannya tidak pernah rewel. Dimasakin apapun selalu di makan, nggak pernah komentar, yang penting kenyang kata dia."


Naya tercekat mendengar jawaban Nani. Aah... rupanya ibu mertua mau bicara juga dengannya.


"Masa nggak ada gitu, Bu, satu makanan favorit mas Gino?" tambah Naya. Merasa komunikasi nya terbangun, maka Naya akan memanfaatkan momen itu sebaik mungkin.


"Lalapan sayur hijau sama tempe penyet," sahut Nani.


Memang Gino sangat suka menu "ndeso" seperti itu. Dan sebenarnya Naya sudah tahu kalau Gino sangat suka itu. Ia pura-pura tidak tahu saja dan bertanya kepada Nani, demi membangun sebuah komunikasi dengan ibu mertuanya.


Siapa sangka, ternyata Nani ikut membantu Naya di dapur. Seperti alam tengah mendukung mereka untuk saling dekat. Sampai-sampai Lala saja tidak kunjung bangun dari tidur siangnya, meski waktu sudah menunjukkan lewat dari pukul tiga sore.


*

__ADS_1


__ADS_2