Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 55


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa pertunangan Gino dan Naya sudah lebih dari empat bulan lamanya. Selama itu Gino belum juga berhasil meyakinkan hati Naya untuk diajak menikah. Bukan karena Naya masih meragukan cinta Gino kepadanya, dan bukan karena Naya masih ragu dengan perasaannya sendiri kepada Gino, tetapi hanya karena restu Nani yang tak kunjung didapat, itulah yang membuat Naya masih menolak ajakan Gino untuk menikah.


Status Naya yang adalah seorang janda, seorang wanita yang pernah gagal dalam membina rumah tangga, itulah yang membuat wanita itu merasa tidak ingin gegabah hanya karena cinta. Naya masih trauma dengan istilah bercerai, dan ia tidak mau hal itu terulang lagi bersama Gino.


Malam ini, selepas maghrib Naya pulang dari kerja. Seharian ini Naya dapat lemburan dari tempat kerjanya. Saat tiba di rumah, Naya mendapati motor Gino sudah terparkir di depan rumahnya. Naya sedikit curiga, karena tumben sekali Gino datang tanpa memberi kabar kepadanya terlebih dulu.


"Naya," panggil Rahma menyambut kedatangan Naya lewat pintu samping rumah.


"Gino ada di kamarmu," katanya yang seketika membuat Naya tertegun kaget.


"Mau apa dia di kamarku, Buk?" tanya Naya, aneh sekali Gino seperti itu.


Rahma menghedikkan kedua bahunya pertanda entah.


Naya berpikir keras. Ini tidak seperti Gino yang biasanya. Apakah ada rencana surprise atau apa, tetapi Naya feeling ini bukan hal yang baik. Pasti ada yang terjadi dengan Gino menurut Naya.


"Dia baru datang, langsung pamit ingin tidur di kamar kamu," tutur Rahma.


Sebenarnya Rahma sendiri tadi agak keberatan saat Gino meminta untuk tidur di kamar Naya, tetapi setelah memperhatikan Gino yang sepertinya sedang mendung, maka kemudian Rahma mengijinkannya.


Sedangkan Abdul saat ini sengaja duduk tak jauh dari kamar Naya, berjaga-jaga tentunya.


"Mm... Biar aku temui dia, Buk," ucap Naya kemudian.


"Nay, ibu pesan awas kamu jangan macem-macem loh!"


Naya mengangguk paham.


Rahma memang selalu memperingati Naya, maupun anak-anaknya yang lain untuk selalu berpegang teguh dengan imannya. Untuk selalu menjaga diri dari hal-hal yang berbau perzinahan.


"Trus Lala sekarang di mana, Buk?" kepo Naya karena semenjak datang tidak melihat putri kecilnya.


"Di kamar Fifi, lagi main dia. Tapi kayaknya Lala nggak tahu kalau Gino datang," ujar Rahma.


Maka kemudian Naya beranjak pergi ke kamarnya.


Pintu kamar itu dibuka dengan pelan oleh Naya. Sebelum benar-benar masuk, ia mengintip lebih dulu keberadaan Gino yang rupanya sedang tidur dengan posisi membelakangi pintu.


Lalu pintu itu Naya tutup lagi.


"Kenapa?" tanya Abdul karena Naya tak jadi masuk ke kamarnya.


"Mas Gino tidur, Pak," sahut Naya dengan memelankan suaranya.


"Ooh... Ya sudah," ucap Abdul, tetapi pria itu tetap betah tidak beranjak dari tempatnya duduk.

__ADS_1


Sejujurnya Abdul mulai kepikiran karena Gino tiba-tiba seperti itu. Sebenarnya ia sangatlah ingin bertanya kepada Gino apa yang terjadi dengannya, sebelum tadi mengijinkannya untuk tidur di kamar Naya. Dan saat ini Abdul telah memutuskan akan menunggu Gino keluar dari kamar Naya dan bertanya kepadanya nanti.


"Kalau memang tidur biarkan saja, Nay," seru Rahma ikut gabung dengan mereka.


"Iya, Buk, tapi aku pingin ambil baju ganti," ucap Naya lagi.


"Ambil saja, pelan-pelan biar dia tidak bangun. Kalau memang sudah nyenyak biar saja dia menginap di sini. Sudah terlanjur juga ngijinin dia tidur di kamar kamu," ujar Rahma.


"Nanti kamu bisa tidur di kamarnya Riki, Nay, adikmu malam ini nginep di rumah Irul katanya," tambah Abdul.


Kemudian Naya kembali membuka pintu kamarnya. Dan segera wanita itu masuk, tak lupa menutup pintunya lagi dengan pelan. Sambil melangkah mengendap-endap Naya menuju ke lemari pakaiannya. Siapa sangka begitu Naya membuka pintu lemarinya, Gino menyapanya.


"Baru pulang, Dek?" sapanya yang seketika mengagetkan Naya dan langsung berbalik menghadap Gino.


"Kebangun ya, Mas, maaf ya... Pasti karena bunyi pintu lemari ini," seloroh Naya dengan menyalahkan lemarinya padahal aslinya lagi gugup.


Gino beranjak duduk sambil bersandar di papan ranjang nya. Kedua tangannya terus mengapit guling yang dipeluknya. Kentara sekali kalau pria itu sedang ada masalah. Dari sorot matanya yang sendu dan agak sembab, Naya yakin pasti masalah itu sangat menyedihkan Gino.


Naya kembali melanjutkan mengambil pakaian bersih dari lemarinya. Setelah itu Naya beranjak akan keluar dari kamar itu, tetapi Gino mencegahnya untuk tidak pergi dulu.


"Maafkan aku, Dek," katanya dengan wajah yang tertunduk, seakan sengaja menghindari kontak mata dengan Naya.


"Maaf untuk apa?"


"Karena aku sudah lancang masuk kamar kamu tanpa pamit dulu ke kamu," katanya, masih betah menundukkan wajahnya.


"Kamu ada masalah, Mas?" tanya Naya to the point.


Sungguh malas untuk basa-basi lagi, karena melihat wajah Gino yang begitu membuat hati Naya ikut sedih juga.


Gino bergeming saja. Tetapi helaan nafasnya berhembus dengan kasar.


"Ya sudah, aku-- mau mandi dulu. Kamu kalau mau tidur lagi silahkan. Aku nanti bisa tidur di kamar Riki," ucap Naya sudah tidak mau memaksa Gino untuk menceritakan apa yang terjadi dengannya.


Bukannya tidak peduli, tetapi untuk seseorang mau menceritakan apa yang sedang terjadi dengan hatinya terkadang butuh waktu untuk berpikir.


"Tolong jangan keluar dulu, Dek. Di sini sebentar. Aku tidak menginap kok," kata Gino kemudian.


Mendengar ucapan Gino itu tentunya Naya bisa bernafas dengan lega. Sebab dari tadi ia kepikiran bagaimana reaksi tetangga nyinyir wa bil khusus mpok Tun, setelah tahu kalau Gino menginap di rumahnya.


Naya kembali duduk didekat Gino. Wanita itu pikir Gino sudah akan bercerita, tetapi ternyata kembali bungkam.


"Mas, kamu habis nangis? Ada masalah apa sih? Di kantor?" tebak Naya karena melihat pakaian Gino yang sepertinya baru pulang dari kantor dan belum sempat ganti baju.


Akhirnya setelah itu Gino tersenyum tipis dan mulai berani menatap Naya.

__ADS_1


"Aku mau cerita tapi lakonnya tetap sama. Aku takut kamu bosan dengarnya entar," ucap Gino.


Dari nada bicaranya pria itu sepertinya sudah mulai tenang.


"Wulan apa ibu?" tebak Naya. Siapa lagi lakon yang dimaksud Gino jika bukan keduanya.


Gino menghentak nafasnya sekali lagi.


"Sudahlah! Nggak perlu juga kamu tahu ceritanya, karena judulnya tetap sama, itu-itu mulu!"


"Biar kamu nggak cerita aku tahu kalau yang terjadi itu mungkin sangat menyakitkan," balas Naya.


Perlahan Gino meraih tangan Naya, kemudian menggenggamnya.


"Terimakasih ya, Dek, kamu masih mau bertahan bersamaku," ucapnya dengan tulus.


Brakk!!!


Pintu kamar itu dibuka dengan keras. Muncullah Lala dari sana.


"Mama! Om!" pekik bocah itu dengan senang, sambil berlari dan langsung merangkak naik ke atas kasur.


"Hei, Lala!" Gino langsung menangkap tubuh Lala, kemudian mendudukkan nya di pangkuannya.


Gino dan Lala sudah saling bercanda dengan riang. Melihat itu kemudian Naya keluar dari kamarnya untuk kemudian mandi kilat karena sudah malam.


Rupanya kemunculan Lala itu memang disengaja oleh Rahma dan Abdul, karena kepikiran Naya yang tak kunjung keluar kamar.


"Gino ada cerita nggak sama kamu barusan?" kepo Rahma, sebenarnya lebih ke rasa prihatin yang mendalam jika teringat nasib percintaan Gino dengan Naya.


Naya menggeleng saja.


"Masa nggak cerita sih, Nay? Kalian itu pasangan tunangan, seharusnya sudah saling terbuka kan?" protes Rahma.


"Cerita intinya sama, Buk. Kalau bukan karena ibunya, pasti karena Wulan," ucap Naya yang kemudian segera maduk ke kamar mandi.


Rahma terdiam berpikir.


Bakal memiliki ipar laknat seperti Wulan, rasa-rasanya Rahma tidak akan ikhlas kalau nantinya Naya ikut Gino untuk tinggal di rumahnya, jika setelah menikah nanti.


Di ruang tengah, Gino sudah duduk bersama Abdul. Lala terus saja menempel ke mana Gino pergi.


"Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan untuk bercerita, nak Gino. Kami ini juga keluarga kamu. Jadi-- ceritalah supaya hatimu merasa lega," pesan Abdul kepada Gino.


Gino hanya mengangguk. Tetapi tidak mungkin juga Gino akan menceritakan kesediaannya itu.

__ADS_1


*


__ADS_2