Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 117


__ADS_3

"Sus... Suster!" panggil Naya kepada seorang perawat yang sedang sibuk dengan kegiatannya.


"Iya, Bu," Perawat itu mendekat kepada Naya.


"Aku sepertinya mau--" Naya menjeda bicaranya sejenak.


"Sepertinya sudah mau keluar, Sus!" ucap Naya sambil sedikit menahan agar dorongan bayinya bisa ditangani oleh dokter dulu sebelum bertindak gegabah.


Lalu perawat itu segera mengecek lagi jalan lahir Naya, sedangkan satu perawat lainnya pergi memanggil dokter yang akan menangani Naya.


"Pembukaan sudah lengkap. Di tahan sebentar, Bu. Dokter sudah mau ke sini," kata perawat itu lagi.


Sebisa mungkin Naya mengatur nafasnya. Menarik ulur nafasnya agar pikirannya bisa rileks. Perjuangan yang sesungguhnya akan terjadi setelah ini. Setelah itu dokter yang ditunggu akhirnya datang. Segera Naya ditangani oleh dokter itu, juga dibantu oleh perawat yang sedari tadi senantiasa menemani Naya.


"Tarik nafas pelan, lalu dorong." Bimbing dokter itu dengan telaten.


Naya mengikuti semua arahan dokter itu. Yang terpenting sekarang bayinya bisa keluar dengan selamat. Sudah tidak lagi memikirkan Gino yang masih belum datang, padahal cuma pamit pergi beli nasi di kantin. Walau sedikit kecewa karena pada akhirnya momen penting ini tanpa ada suami menemani di sampingnya, tetapi untuk saat ini itu bukan menjadi masalah.


Hingga pada dorongan yang terakhir...


Oweeek.... oweeek....


Bayi mungil berjenis kel4min perempuan itu telah terlahir. Proses lahiran bayi kedua Naya berjalan begitu cepat. Yang katanya masih sekitar satu atau dua jam lagi, malah bayi itu keburu keluar belum sampai dua puluh menit saja.


"Alhamdulillah..." seru dokter sekaligus perawat yang ada di dalam ruangan itu.


Begitu pun dengan Naya. Berulangkali bibirnya menyeru kalimat syukur karena telah berhasil melewati proses perjuangan seorang ibu melahirkan bayinya ke dunia. Bayi itu kemudian oleh dokter diletakkan di dada Naya. Tangisan bayinya memekik nyaring seakan memenuhi ruang bersalin itu. Sedangkan si dokter masih melanjutkan tugasnya, seperti menangani ari-ari yang masih berada dalam perut Naya.


Sedangkan Gino yang saat itu sudah sampai di depan pintu ruang bersalin itu, hanya bisa berdiri tertegun. Kedua tangannya gemetar begitu mendengar tangis bayi dari dalam ruangan itu.


"Apakah itu bayiku?"


Pertanyaan itu terus saja berputar di benaknya. Mau masuk ke ruangan itu kakinya masih gemetar untuk dibawa melangkah. Rasanya masih tidak percaya mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan itu.


"Tidak mungkin! Perawat tadi bilang masih satu jam lagi," batin Gino berbicara sendiri.


Lalu pria itu melihat jam dari ponselnya. Hanya dua puluh menit ia tinggal pergi, dan sekarang bayinya sudah keluar.

__ADS_1


Buru-buru Gino masuk ke ruangan itu. Tidak peduli nanti akan disuruh keluar atau apalah oleh dokter yang di dalam. Dan benar saja, suara tangis bayi itu berasal dari bayinya yang saat ini sedang dipegang oleh salah satu perawat. Gino segera berlari kepada Naya. Pria itu sampai menjatuhkan nasi yang dibelinya ke lantai.


"Dek!" kata Gino sambil menciumi kening Naya berulang-ulang.


"Maaf, maafkan aku," ucap Gino penuh sesal.


Sungguh, Gino merutuki diri sendiri karena terlewati dengan momen terpenting untuk Naya. Tangannya terus saja mengusap bersih keringat yang bercucuran di kening Naya, dengan mulut yang tak hentinya mengucap kata maaf. Bukan maksud Gino untuk tidak berada di samping Naya saat melahirkan tadi, cuma-- Ah, Gino sangat menyesal!


Sedangkan Naya hanya diam saja. Tetapi senyum bahagia wanita itu terus terukir di bibirnya. Menatap wajah suaminya yang sedih bercampur bahagia.


"Pak, bayinya perempuan, alhamdulillah bayinya sehat ya... Beratnya tiga koma satu kilo. Silahkan kalau mau di adzani," kata perawat itu yang kemudian menyerahkan bayinya untuk digendong Gino.


Tak terasa Gino menitikkan air matanya begitu bayi mungil itu berada dalam gendongannya. Rasanya bahagia luar biasa, dirinya sudah menjadi bapak yang sebenarnya.


"Anak kita, Dek," kata Gino menyapa Naya.


Gino memperlihatkan wajah bayinya kepada Naya. Sepintas bayi mungil itu wajahnya lebih dominan dengan Lala.


"Mirip bayinya Lala, Mas," ucap Naya sambil menyentuh pipi bayinya.


Lalu kemudian Gino mengadzani bayinya di depan Naya.


Rahma dan Abdul sudah tiba di rumah sakit. Selama dalam perjalanan tadi, Lala terus saja mengoceh riang karena mendengar adiknya akan segera lahir. Begitu masuk dalam area rumah sakit bocah itu berlarian senang, seakan sudah tahu di mana tempat mama dan adiknya berada, sehingga Abdul dan Rahma ikut kelimpungan mengejar lari bocah berusia tiga tahun lebih itu.


"Lala, jangan lari sendiri, entar kesasar," ucap Abdul setelah berhasil menangkap Lala.


Nafas Rahma sudah ngos-ngosan.


"Nenek capek, La. Ayo sekarang kita jalan pelan. Di sini itu rumah sakit. Nggak boleh lari-lari, entar dokternya marahin Lala mau?" ucap Rahma.


"Iya, Nek," sahut Lala yang kemudian mereka bertiga kembali lagi ke depan untuk bertanya di mana ruangan bersalin.


Selesai mengadzani bayinya, Gino menyerahkan lagi bayinya kepada perawat. Pria itu tak mau beranjak ke mana-mana lagi, ingin terus berada di samping Naya.


"Terimakasih ya, Dek. Terimakasih kamu sudah melahirkan anak kita," ucap Gino. Sekali lagi pria itu mencium lama di kening Naya.


Naya hanya tersenyum manis tanpa menyahut apa-apa.

__ADS_1


"Kenapa kamu lama sekali beli nasinya?" tanya Naya kemudian.


"Astaghfirullah!" Gino tersentak kaget.


Pria itu melihat tangannya sendiri yang kosong tidak sedang memegang apa-apa. Ia baru sadar kalau nasi yang ia beli tadi sudah raib di tangannya. Sekilas pria itu menoleh ke arah pintu masuk. Tak tahunya nasi yang dibelinya tadi sudah ada di atas nakas dekat pintu keluar, mungkin dokter atau perawat yang menaruhnya di sana.


"Itu nasinya!" tunjuk Gino sambil kemudian beranjak untuk mengambil nasi itu.


"Makan ya, Dek," kata Gino ketika sudah membuka bungkus nasinya.


Nasinya aman tidak tumpah, cuma isinya sudah berantakan mirip nasi mawut, tetapi masih bisa dimakan. Akan mubadzir kalau dibuang.


"Aku tidak lapar, Mas," tolak Naya.


Bukan karena tidak selera melihat isi nasinya, melainkan rasa bahagia yang menyeruak di hatinya membuatnya sudah kenyang sendiri.


"Apa mau aku belikan lagi?" tanya Gino mengira Naya menolak karena tidak selera dan ingin mengganti menu.


"Nggak, nanti saja kalau aku sudah lapar aku mau minta belikan," sahut Naya.


Mendengar itu Gino membungkus lagi nasinya.


"Kamu sendiri gimana, Mas, apa kamu tidak lapar?" tanya Naya mengingat mereka tadi berangkat sama-sama belum sarapan.


Gino menggeleng kepala. Pria itu sama seperti yang dirasa Naya sekarang. Rasa bahagia yang memenuhi hatinya membuatnya lupa makan.


Kemudian handphone milik Gino berbunyi, rupanya panggilan telpon dari Abdul.


"Bapak telpon, Dek," ucap Gino kepada Naya sebelum kemudian menjawab telpon dari Abdul.


"Oh, iya, Pak. Aku keluar sebentar. Bapak jangan ke mana-mana," kata Abdul yang kemudian ia mengakhiri telponnya.


"Dek, aku keluar ya, bapak sama ibu ada di depan," pamit Gino.


Naya mengangguk. Setelah itu Gino keluar dari ruangan itu untuk menemui mertuanya.


*

__ADS_1


__ADS_2