
Pagi saat jam kunjung rumah sakit dibuka, Gino sudah datang lebih dulu. Pria itu langsung masuk ke tempat Lala dirawat sambil membawa oleh-oleh untuk Lala.
"Assalamu'alaikum," salam Gino kepada Rahma.
"Wa'alaikumsalam. Ya ampun nak Gino pagi-pagi sudah datang lagi. Nggak kerja, Nak?"
"Libur, Bu. Hari sabtu," sahutnya sambil kemudian bersalaman dengan Rahma setelah sebelumnya meletakkan lebih dulu buah tangannya di atas meja nakas.
Sebelumnya Gino sudah menelpon Naya, menawari untuk ke rumah sakit bersama. Tetapi Naya menolak dengan alasan harus beres-beres di rumah sebelum nanti Lala pulang. Dan lagi Abdul juga sedang ada di rumah.
Gino mengatakan jika ia yang akan membawa Lala pulang jika memang terpaksa hari ini harus pulang, dan Naya tidak keberatan dengan itu.
"Lala, om punya hadiah buat Lala," kata Gino menyapa Lala.
"Tapi hadiahnya ada di mobil," lanjutnya.
Lala mengangguk senang. Wajahnya sudah lebih berbinar daripada kemarin. Semoga saja setelah ini dokter mengijinkannya untuk pulang.
"Kalau Lala mau hadiahnya, Lala harus habiskan makanannya. Mm... Om yang suapin mau?"
Gino mengambil bubur yang di pegang Rahma, kemudian mulai menyuapi Lala dengan telaten. Dan Rahma membiarkan saja pria itu melakukan kemauannya. Mumpung ada Gino, maka Rahma pergi pamit mandi.
Lima belas menit kemudian Rahma datang hampir bersamaan dengan Abdul yang datang juga. Sedangkan bubur yang dimakan Lala sudah bersih di piringnya.
"Wah, Lala makannya pinter ya," puji Rahma kepada Lala.
Bocah itu hanya senyum-senyum. Sepertinya sejak ditinggal tadi Gino mungkin bercanda dengannya, sehingga wajah bocah itu terlihat berseri sekali.
"Buk, aku permisi ke depan dulu ya?" pamit Gino kemudian.
Rahma langsung mengangguk, tanpa menanyakan pria itu akan pergi ke mana.
Ternyata Gino menuju ke bagian administrasi untuk menanyakan berapa biaya pengobatan Lala. Ternyata keluarga Abdul tidak memiliki asuransi jaminan kesehatan yang tentunya semua biaya untuk Lala harus bayar sesuai semestinya. Beruntung Gino memang niat akan membayarkan semuanya. Setelah urusannya selesai, kemudian Gino kembali menuju kamar Lala.
Di pintu kamar Lala, Gino berpapasan dengan Abdul yang sepertinya akan keluar juga.
"Bapak mau ke mana?" tanya Gino.
"Mau tanya biayanya Lala, Nak."
"Tidak usah, Pak. Sudah beres kok."
__ADS_1
Abdul terbengong mendengar ucapan Gino.
"Aku yang bayar, Pak. Ayo kalau mau siap-siap pulang," kata Gino kemudian. Pria itu juga sudah memegang resep obat untuk Lala.
Akhirnya Abdul masuk lagi ke kamar Lala. Kemudian sama-sama beberes untuk siap-siap pulang.
Selama berjalan di koridor rumah sakit, Gino yang menggendong Lala. Abdul dan Rahma membawa barang-barangnya, berjalan di belakang Gino.
"Biayanya kena berapa, Pak?" tanya Rahma penasaran dengan total biaya tagihan rumah sakit Lala.
"Dibayarkan Gino," sahut Abdul sedikit berbisik, karena Gino ada tak jauh dengan mereka.
"Loh, bapak nggak ganti uangnya?" protes Rahma merasa tidak enak dibayarkan oleh Gino.
Belum apa-apa pria itu sudah banyak mengeluarkan biaya untuk mereka. Belum lagi dengan handphone baru milik Naya yang juga dibelikan Gino. Rahma merasa tidak nyaman sendiri dengan itu semua.
"Nanti, Buk, di rumah bapak ganti uangnya. Sekarang kita pulang dulu," sahut Abdul kemudian.
Lalu mereka kini sudah siap masuk ke mobil Gino. Pria itu membuka bagasinya agar Rahma bisa meletakkan barang yang dibawanya di sana. Setelah itu ia juga membukakan pintu penumpang dan kemudian Abdul dan Rahma duduk di sana.
Tepat di kursi depan samping sopir ada sebuah boneka beruang yang berukuran besar. Bahkan lebih besar dari tinggi badan Lala.
"Ini hadiah buat Lala," kata Gino yang mana bocah itu langsung tersenyum senang.
"Mamacih, Om," ucap Lala kemudian.
Gino mencium gemas pipi bocah itu.
"Nak Gino, biar Lala duduk sama ibu di sini," ucap Rahma takut Gino mendudukkan Lala di depan bersamanya.
Rahma takut cucunya itu nanti akan mengganggu konsentrasi Gino saat menyetir, karena kelakuan bocah lincah seperti Lala siapa yang bisa menebak akan bertingkah seperti apa.
Setelah itu Gino menyerahkan Lala untuk dipangku oleh Rahma. Kemudian pria itu melajukan mobilnya keluar dari rumah sakit.
Sekitar kurang dari setengah jam mereka sudah tiba di rumah. Rahma langsung turun dari mobil itu dan masuk ke rumahnya. Sedangkan Abdul dan Gino masih mengeluarkan barang-barang yang tadi di bawa.
"Om, oneta Lala mana?" tanya Lala menyapa Gino, setelah Gino dan Abdul masuk ke dalam rumah.
"Oh iya, om lupa! Masih ada di mobil, tunggu om ambilkan ya..."
Lalu Gino keluar lagi dari rumah itu. Tetapi begitu pria itu sudah ada di luar, ternyata ia melihat ada segerombolan ibu-ibu yang bisa dikatakan geng nya mpok Tun, saling mengobrol sambil sesekali melirik mencurigakan kepada Gino.
__ADS_1
"Kenapa Naya bisa betah hidup di lingkungan nyinyir seperti mereka?" batin Gino bermonolog.
Semisal jika nanti Gino akan tinggal di sini bersama Naya, sudah pasti Gino tidak akan betah memiliki tetangga macam mpok Tun. Sebenarnya Gino tipekal orang yang malas berurusan dan bermasalah dengan orang lain, tetapi kalau setiap hari akan dipertemukan dengan manusia jenis mpok Tun rasanya lama-lama tidak kuat juga. Beruntung Gino sudah memiliki rumah sendiri. Jadi nantinya ia dan Naya bisa hidup tenang berada di lingkungan perumahan yang kesannya memang hidup sendiri-sendiri tanpa mengurus urusan orang lain.
Setelah mengambil boneka dari dalam mobilnya, Gino segera masuk lagi ke dalam rumah. Dan memberikan boneka itu kepada Lala.
"Waah... Bonekanya bagus sekali," pekik Naya demi menghibur Lala.
Lala hanya tertawa kecil sambil memeluk bonekanya dengan posesif.
"Kamu mau aku belikan, Dek?" tanya Gino cukup ngadi-ngadi.
"Buat apa?" Naya sedikit tergelak.
"Sapa tahu butuh sesuatu untuk dipeluk," selorohnya yang seketika Naya mengerucutkan bibirnya.
"Tapi aku rasa itu tidak perlu ya, Dek. Besok-besok kamu tinggal peluk aku saja," tambahnya sambil nyengir.
Belum sempat Naya membalas ucapan Gino handphone milik Gino berbunyi. Pria itu melihatnya, ternyata panggilan telepon dari Suryo.
"Dari ayah, aku angkat dulu ya, Dek," kata Gino yang kemudian pria itu berjalan keluar teras depan.
"Gino, kamu tidak mau pulang apa?" tanya Suryo begitu Gino sudah menjawab telponnya.
"Iya, sebentar lagi, Ayah."
"Memangnya pekerjaannya belum beres?"
"Sudah."
"Ya sudah. Kalau begitu kamu cepat pulang. Ibumu bingung nanya-nanya kamu terus dari tadi," tutur Suryo.
"Memangnya ayah tidak bilang kalau aku semalam tidak pulang?"
"Sudah, tapi ya kamu kayak nggak tahu ibu kamu saja. Sudah, buruan pulang kalau memang sudah beres. Persiapan untuk besok saja masih belum. Apa kamu mau batal lagi tunangannya?"
"Ah, jangan dong, Yah. Iya, ini aku siap pulang sekarang."
Lalu Gino mengakhiri sambungan telponnya. Tetapi ketika pria itu membalikkan badan, ternyata sudah ada Naya yang berdiri di belakangnya.
"Semalam kamu tidak pulang, Mas?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Ee..."
*