
Hingga baby Nana sudah berusia hampir satu bulan, Nani dan Suryo belum juga kunjung melihat cucu mereka. Meskipun hampir tiap tiga hari sekali Vita datang untuk mengantar sesuatu dari Nani untuk Naya. Seperti jamu-jamuan khusus untuk ibu melahirkan, makanan-makanan yang sehat untuk ibu menyusui, juga beberapa baju baby yang lucu-lucu. Sedangkan Gino selama Naya melahirkan, pria itu tidak pernah lagi datang berkunjung ke rumahnya. Meskipun ada waktu luang seperti weekend, entah mengapa Gino sudah tidak pernah pamit lagi kepada Naya untuk pergi ke rumah orang tuanya.
Bahkan untuk mengunjungi rumahnya sendiri Gino sudah tidak pernah lagi. Tetapi berganti Abdul yang sesekali datang bersih-bersih ke sana. Walau sempat dicegah oleh Gino, tetapi Abdul tetap merasa sayang jika rumah dibiarkan kosong dan tak terawat.
Dari pemberian Nani itu, sejujurnya Naya masih enggan untuk menerimanya dengan suka rela. Tetapi jika dibiarkan tentunya akan mubadzir. Dan lagi Rahma selalu berpesan kepada Naya untuk tidak lagi memikirkan tentang Ibu mertuanya. Rahma menekankan kepada Naya untuk selalu fokus dengan Lala dan Nana saja.
"Tidak perlu memikirkan mereka yang tidak pernah memikirkan kamu. Sekarang yang terpenting adalah dua anakmu ini. Mereka sangat butuh kasih sayang kamu. Jangan lantas karena kamu kecewa dengan keadaan, membuat kamu akhirnya frustasi dan kerjaannya marah-marah terus sama anak kamu. Biar saja apa maunya ibu mertua kamu. Selama dia tidak sampai menyakiti anak-anak kamu, cucu-cucu ibu, biarkan saja!" ucap Rahma ketika sore itu ia dan Naya duduk santai menunggu kedatangan Abdul dan Gino dari kerja.
Naya tersenyum tipis menanggapi ucapan Rahma. Ia sendiri sebenarnya sudah baik-baik saja, dan tak lagi memikirkan maunya Nani akan bagaimana. Apalagi ditambah nasehat dari Rahma barusan, tentu membuat Naya semakin tegar hati menjalani kehidupannya setelah ini.
"Kalau bisa kamu tetap tinggal di sini saja sama ibu, Nay," ucap Rahma kemudian.
"Trus rumahku gimana, Bu?" heran Naya mendengar permintaan Rahma.
"Biar saja! Dikontrakan ke orang lain saja!" sahut Rahma dengan yakin.
Naya melongo mendengar ucapan Rahma yang sepertinya sudah terancang sebelumnya.
"Kalau kalian tinggal di sini kan ada ibu yang bisa bantu-bantu kamu," tutur Rahma mencoba memberi alasan yang meyakinkan untuk Naya agar mau kembali tinggal serumah bersamanya.
Tetapi buat Naya itu bukanlah suatu alasan yang masuk akal. Tersirat ada bahasa lain dari sorot mata Rahma saat ini.
Padahal sebenarnya mengapa Rahma meminta Naya untuk tinggal bersamanya lagi karena satu sebab, ialah Rahma takut Naya akan diam-diam menjajakan Nana kepada Nani. Jujur, hati Rahma sangat sakit hingga sekarang jika teringat dengan Nani. Ia sangat tidak rela kalau sampai Naya yang lebih dulu datang ke sana untuk menunjukkan Nana. Seperti orang yang mengemis belas kasihan. Bila perlu, seharusnya Nani lah yang datang ke sini lebih dulu untuk menengok cucunya.
Tak lama setelah itu Gino datang.
"Tuh, bicarakan sama Gino omongan ibu barusan," pesan Rahma kepada Naya, lalu kemudian wanita itu masuk ke dapur untuk pindah duduk di sana.
__ADS_1
Sedangkan Naya masih tetap diam di ruang tamu sambil menggendong baby Nana.
"Assalamu'alaikum," salam Gino ketika sudah berdiri di ambang pintu.
"Wa'alaikum salam." Naya menjawab salam Gino.
Pria itu mendekat kepada Naya. Sebuah kecupan hangat langsung bertandang di kening Naya. Sengaja Gino tidak menyentuh bayinya terlebih dulu, meskipun sangat ia inginkan. Mengingat dirinya yang baru datang dari luar, tentunya banyak virus dan kuman yang mungkin hinggap di tubuhnya saat ini.
"Papa mandi dulu ya, Sayang. Setelah ini kamu gendong papa," ucap Gino menyapa baby Nana yang kebetulan sedang tidak tidur.
"Oh ya, Lala mana, Dek?" tanya Gino sambil celingukan ke dalam rumah karena tidak melihat adanya Lala.
"Tadi main di rumah samping, Mas," sahut Naya mengatakan kalau Lala pergi main.
Bocah itu saat ini sudah lebih berani pergi main sendiri. Tentunya harus dengan penjagaan orang dewasa agar mainnya tidak bablas jauh. Mendengar itu, Gino langsung masuk kamar untuk meletakkan tas kerjanya. Setelah itu keluar kamar lagi sudah dengan lengan bajunya yang dilipat sampai sikunya.
"Lala, ada papamu tuh!" ucap mpok Tun yang kebetulan sedang kumpul-kumpul dengan ibu-ibu sekitar.
Kebiasaan sore ibu-ibu di tempat Naya tinggal, jika sedang santai dari pekerjaan rumah, mereka akan kumpul bareng dengan ibu-ibu lainnya, apalagi jika bukan untuk ngerumpiin orang-orang. Bahkan artis ibu kota yang sejatinya tidak mereka kenal ikut digosipin. Hadeeehh...
"Lala!" panggil Gino yang kemudian Lala berlari senang ke arah Gino.
Dengan cepat tubuh bocah itu sudah berada di gendongan Gino.
"Ayo pulang! Kita mandi!" ajak Gino kepada Lala.
"Ayo!" jawab Lala dengan semangat.
__ADS_1
Lalu mereka berdua pergi dari tempat itu. Sedangkan mpok Tun yang melihat adegan papa sambung dan anak tiri itu langsung mencebikkan bibirnya, sikap julidnya kumat lagi.
"Hmm... Palingan baiknya cuma pas lagi tinggal di sini aja! Aku nggak yakin kalau suaminya Naya itu bakal tetap baik sama anaknya Naya kalau mereka tinggal di rumahnya," ucap mpok Tun mulai Memprovokatori ibu-ibu yang lainnya.
Sayangnya tak satu pun ibu-ibu yang kumpul di sana ikut menanggapi omongan mpok Tun yang memang sudah dikenal sebagai ratunya nyinyir dengan tetangga-tetangga sekitar.
Sedangkan Gino dan Lala saat ini sudah ada di dalam kamar mandi bersama. Pria itu memandikan Lala. Setelah selesai membawanya keluar untuk memakaikan pakaiannya Lala.
"Pake minyak telonnya adek biar nggak dingin," ucap Gino saat memolesi tubuh Lala menggunakan minyak telon.
"Yaya mau bedaknya adek uga!" ucap Lala.
Gino pun menuruti kemauan Lala. Yang akhirnya wajah Lala sudah mirip gula donat. Ketika berkaca, Lala dan Gino sama-sama tertawa lucu. Dan Naya yang juga berada dalam kamar itu ikut tertawa bahagia melihatnya.
Sikap Gino setelah memiliki anak sendiri menjadi tambah perhatian kepada keluarganya. Pria itu sama sekali tidak pernah membedakan rasa kasih sayangnya antara kepada Lala dan Nana. Bahkan Gino pernah membelikan baju couple untuk Lala dan Nana. Meski sudah tahu kalau ukuran baju itu masih sangat kebesaran untuk Nana, tetapi Gino tetap membelinya karena merasa lucu saja.
"Sekarang Lala diem di sini, temani adek sama mama. Papa mau mandi dulu," ucap Gino meminta Lala agar tidak kabur main ke rumah tetangga lagi.
"Oke papa!" pekik Lala sambil mengacungkan dua jari jempolnya kepada Gino.
Sedangkan keadaan di rumah Suryo saat ini...
Suryo pergi dari rumah setelah sebelumnya terlibat perseteruan dengan Nani.
Ada apakah dengan mereka?
*
__ADS_1