Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 81


__ADS_3

"Aah... Pelan, Mas!"


Dessah Naya saat Gino mulai memasukkan pusakanya pada lubang surgawi nya.


Tangan Naya mencengkram erat pada kedua bahu Gino, membuat pria itu sedikit merasa heran. Apakah ini sakit? Setahunya, jika sudah janda tidak akan merasakan sakit lagi untuk menerobos itu. Secara sudah pernah pecah perawan. Tetapi kenapa wajah Naya berekspresi seperti menahan rasa sakit?


Sekali lagi Gino mencoba memasukkan pusakanya dengan lebih perlahan. Reaksi Naya masih tetap meringis, mirip orang kesakitan. Membuat Gino terpaksa menjedanya sebentar, demi memastikan apa yang dirasakan Naya sekarang.


"Sayang, kenapa?" tanya Gino dengan lembut. Tangannya mengusap bersih pada kening Naya yang basah karena keringat.


Naya bergeming saja. Sesuatu yang mencoba masuk pada intinya itu terasa lebih besar dari yang dulu. Entah apa karena itu penyebabnya sehingga Naya merasa sedikit kebas di sana, atau apa karena ia sedang tidak relaks saja?


"Apa itu sakit?" tanya Gino ingin memastikan.


"Sedikit," sahut Naya dengan suaranya yang lirih.


"Boleh lanjut kan?"


Jangan sampai Naya menolak lanjut hanya karena alasan itu. Begitulah harapan Gino.


Naya mengangguk kecil. Kemudian wanita itu mencoba lebih relaks lagi, agar otot-otot yang ada di inti miliknya tidak menegang.


Sekali lagi Gino mencoba memasukkan pusakanya, dan ternyata sudah lebih mudah dari yang tadi. Naya hanya bisa menggigit kecil bibir bawahnya, saat sesuatu yang mengeras itu menghujam hingga ke ujung intinya.


"Aah...!"


Dessah Naya begitu pusaka itu mentok hingga ke ujung.


Gino menyeringai tipis. Pria itu nampak puas telah berhasil memasukkan pusakanya pada ladang halalnya. Walau dirinya bukanlah sebagai orang pertama yang berhasil menerobos itu, tetapi Gino tidak pernah menyesalinya. Wanitanya tetap nikmat dan menggoda. Lebih menggoda dari para gadis orisinil di luaran sana.


Kemudian Gino mulai menghentakkan pusakanya. Naya mulai mendessah, meracau penuh nikmat. Sesuatu yang lama ia rindukan kini kembali ia rasakan. Dan itu sungguh membuat Naya menikmatinya dengan sungguh-sungguh.


"Mas, lepas dulu," pinta Naya di saat Gino sedang asyik menggoyangnya.

__ADS_1


Gino seperti lelaki penurut. Ia pun mengeluarkan pusakanya dari sarangnya tanpa banyak protes. Kemudian Naya duduk. Wanita itu mendorong tubuh Gino untuk berbaring. Dan Naya mulai merangkak naik di atas tubuh Gino.


Kali ini biarkan Naya yang memimpin. Wanita itu memasukkan pusaka kokoh itu dari atas. Sehingga mampu menimbulkan sensasi yang berbeda bagi Gino. Saat tubuh itu mulai meliuk-liuk manja di atasnya. Rasanya seperti ingin terbang seketika.


"Aah, Sayang..." Gino mendessah panjang.


Tangan pria itu mulai merem mas lembut pada buah squishy yang menggelantung di depannya. Membuat Naya semakin bergerak liar, meliuk-liuk dengan ekspresinya yang dibuat mirip wanita nakal.


"Nikmat, Sayang. Kamu memang pintar!" puji Gino dengan suaranya yang berat parah.


"Mau coba gaya lain tidak?" tawar Naya.


Gino langsung menyeringai puas. Ternyata benar kata orang, bercinta dengan janda memang lebih nikmat karena sudah berpengalaman.


Naya turun dari atas tubuh Gino. Wanita itu merubah gayanya dengan tengkurap. Gino langsung paham dengan gaya itu. Maka pria itu pun langsung mengangkat tinggi b0kon9 Naya dan sensasi baru itu pun di mulai.


"Aah... Mas..."


Dessah Naya semakin menjadi. Gaya seperti ini adalah favoritnya. Karena akan sangat mudah membuatnya meraih puncak. Apalagi hentakan suaminya sungguh kuat. Membuat Naya merasakan nikmatnya pelepasan itu dengan cepat.


"Jadi kamu suka gaya ini, Sayang?" tanya Gino begitu tubuh istrinya sudah berada di bawah kungkungan nya lagi.


Naya mengangguk tanpa malu.


Gino menyeringai lagi. Kemudian pria itu kembali menghujani bibir Naya dengan lummatan nya. Mereka kembali mengeksplor indra perasa mereka. Dan pusaka itu sudah kembali tertancap pada lubang surgawi nya.


"Kamu sukanya yang bagaimana, Mas?" tanya Naya juga ingin tahu bagaimana fantasi suaminya.


"Gaya bebas. Asal itu kamu, aku menyukai semuanya. Kamu benar-benar candu yang memabukkan, Sayang," jawab Gino.


Sekali lagi pria itu membungkam mulut Naya dengan ciumannya, agar tidak mengoceh tanya-tanya lagi.


Naya mulai melenguh, karena hentakan pusaka itu dirasa semakin kuat dan dalam.

__ADS_1


"Aah..."


Dessah panjang Gino terdengar lagi, saat detik-detik pelepasan itu akan ia rasakan.


"Aaah...."


Suara dessah kenikmatan itu bagai memenuhi ruang kamar. Sesuatu yang menyembur hangat nan kental telah tersiram pada ladang halalnya. Gino berharap itu akan berkembang di sana. Sayangnya, Gino tidak tahu jika bibit unggul yang ia siram pada ladang halalnya itu terhalang oleh kontrasepsi yang diam-diam Naya gunakan.


Perlahan Gino terkulai lemas di atas tubuh Naya. Nafas pria itu tersengal-sengal, keringatnya bercucuran. Tetapi meski begitu mereka sama-sama merasa sangat puas dengan penyatuan raga yang mereka lakukan barusan.


"I love you, istriku," ucap Gino sambil mencium lama di kening Naya.


"Love you too suamiku," jawab Naya, membalas ciuman itu dengan melummat singkat pada bibir Gino.


Gino tersenyum bahagia. Lalu pria itu menggeser turun tubuhnya dari atas tubuh Naya. Memeluk erat tubuh polos itu seakan tak ingin melepasnya pergi.


"Apa kamu puas, Mas?" tanya Naya, posisi mereka saat ini saling berhadapan dalam pelukan.


"Sangat sangat puas, Dek," jawab Gino dengan menoel kecil pada dagu Naya.


"Katakan saja kalau kamu merasa ada yang kurang dari aku. Karena kita tidak boleh egois jika ingin merasakan nikmat itu sama-sama," ucap Naya.


"Tidak ada yang kurang dari kamu. Justru aku ingin mengulangnya lagi. Karena kamu benar-benar candu yang sangat memabukkan untukku."


"Lakukan saja sampai kamu puas, Mas," ucap Naya membuat binar mata Gino mengerling nakal.


"Sungguh? Aku tidak mau besok ada yang bilang pinggangnya encok," kata Gino sambil terkekeh kecil.


Naya ikut terkekeh mendengarnya.


"Maksudku, kamu boleh meminta itu kapanpun kamu mau. Aku sebagai istrimu akan selalu memuaskan kamu sampai merem melek kayak tadi."


Gino tergelak mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Naya. Kemudian pria itu pun mengulang hal yang sama lagi. Penyatuan raga itu kembali terjadi setelah mereka usai mengambil jeda yang cukup untuk mengumpulkan stamina menuju pergulatan yang berikutnya.

__ADS_1


"Aah, Sayang... Kau benar-benar hebat!"


*


__ADS_2