
Keesokan harinya suasana pagi di rumah Gino tiba-tiba berubah tidak seperti biasanya. Semua orang terkesan dingin kepada Gino, kecuali Suryo. Wulan juga ikut-ikutan mendiami Gino tanpa tahu penyebabnya. Tetapi soal Wulan, Gino tidak memusingkan nya. Malah Gino merasa tenang jika Wulan tidak dekat-dekat lagi dengannya.
Sedangkan Nani pagi ini tidak ikut sarapan bersama. Alasannya karena masih tidak sehat dan tidak berselera makan. Gino sudah mencoba membujuk Nani untuk sarapan meskipun sedikit. Tetapi yang ada Gino malah didiamkan oleh Nani. Sepertinya wanita itu masih marah dengan Gino.
Sedangkan Agus yang baru datang dari luar kota tidak tahu menahu dengan Gino. Dari dulu Agus dan Gino tidak begitu dekat. Seperti ada jarak antara mereka. Padahal Suryo tidak pernah membedakan perlakuannya kepada Agus, meski Agus hanya sebagai anak tirinya.
Melihat suasana rumah yang tidak hangat lagi, Gino memilih segera pamit berangkat kerja. Ia berpamitan kepada Suryo. Tak lupa berpamitan juga kepada Nani.
"Aku berangkat kerja, Bu," kata Gino yang tetap tidak ada sahutan darinya.
Gino meraih tangan Nani untuk menyaliminya. Bersyukur Nani tidak menolak saat Gino mencium tangannya. Setidaknya Gino memang harus pelan-pelan merayu hati Nani untuk bisa merestui nya dengan Naya.
Setelah itu Gino keluar rumah. Tidak ada Wulan yang mengekorinya kali ini. Mungkin karena sedang ada Agus di rumah. Ah, Gino mulai berpikir, apakah ia lebih baik keluar dari rumah ini? Setidaknya jika nanti ia jadi menikah dengan Naya, mereka bisa hidup tenang dengan mandiri. Tanpa bertemu Wulan lagi.
Membayangkan berumah tangga dengan Naya, membuat Gino tanpa sadar senyum-senyum sendiri.
Sedangkan pagi hari di rumah Naya, seperti biasa usai sarapan ia akan mengantar Fifi ke sekolah kemudian lanjut pergi ke tempat kerjanya. Di perjalanan itu Fifi mulai bertanya soal pria yang bernama Gino kepada Naya. Jujur, gadis itu takut kalau Naya akan lebih tertarik kepada Gino dan akan melupakan Wahyu yang mati-matian mencintai Naya.
Sia-sia saja rasanya jika akhirnya Naya memilih pria bernama Gino itu. Apa yang menjadi perjuangannya mendekatkan Naya dengan Wahyu selama ini akan percuma jika akhirnya Naya memilih Gino.
"Mbak, yang bertamu kemarin itu beneran temannya mbak?" tanya Fifi mulai basa-basi dalam penyelidikannya.
Naya hanya mengangguk.
"Mbak suka sama dia?" tanya Fifi to the point, tanpa filter, tanpa canggung.
"Biasa aja," jawab Naya sesuai isi hatinya. Padahal semalam saja jantungnya dibuat tidak aman saat tak sengaja menatap tatapan mata Gino yang meneduhkan.
"Ooh..." Fifi ber-oh panjang.
"Syukurlah kalau mbak nggak suka sama dia," kata Fifi kemudian.
"Emang kalau aku suka sama dia kenapa, Fi?" Naya sengaja memancing pendapat Fifi tentang Gino.
__ADS_1
"Jangan sampai lah, Mbak. Kasihan bang Wahyu tauk! Bang Wahyu yang selama ini suka sama mbak. Masa iya mbak lebih memilih pria yang semalam. Emang kenapa sih mbak, mbak kok selalu nolak cinta bang Wahyu? Dia cakep kayak penyanyi Afgan. Kisah hidupnya juga mirip, kepincut janda cantik seperti penyanyi Rossa."
"Sayangnya aku tidak secantik dan setenar Rossa, Fi," celetuk Naya sedikit terkekeh.
"Ah, menurutku mbak Naya lebih cantik dari Rossa. Percaya deh! Coba mbak make up juga, beeee... Pasti bukan cuma bang Wahyu yang ngejar-ngejar cinta mbak. Dipastikan pria sekampung akan ngejar-ngejar mbak."
"Ah, bisa aja kamu bohongnya, Fi." Naya kembali terkekeh mendengar ucapan Fifi. Sama sekali tidak geer meski dipuji lebih cantik dari artis penyanyi itu kata Fifi.
Setelah itu mereka berdua sudah tiba di depan sekolah Fifi. Seperti biasa, Naya akan lanjut pergi setelah memastikan Fifi sudah masuk dalam sekolahnya.
Sedangkan keadaan di rumah Naya, tiba-tiba saja ada Arif yang datang bertamu ke sana. Untung saja saat ini Abdul sedang tidak ada kerja, jadi mereka bisa mengobrol dengan santai siang itu.
Kedatangan Arif ke rumah Abdul adalah karena permintaan Gino yang menyetujuinya untuk menjadi juru bicara soal khitbahnya itu.
"Lagi libur pak Abdul?" tanya Arif basa-basi dulu sebelum berbicara yang lebih serius dengannya.
"Iya, Ustadz. Nasib kerja serabutan seperti saya ini ya begini sudah. Ada kerjaan ya kerja, tidak ada ya nganggur," jawab Abdul.
"Ada apa ustadz siang-siang ke sini? Sudah mau ngecat masjid apa?" tanya Abdul, karena biasanya Arif selalu mempekerjakannya soal renovasi masjid.
"Mm... Begini pak Abdul, saya ke sini karena ada sesuatu yang ingin saya bicarakan sama pak Abdul dan bu Rahma," lanjut Arif.
"Sepertinya penting ya, Ustadz?" Wajah Abdul seketika agak tegang.
Arif hanya tersenyum tipis. Kemudian tangannya menepuk pundak Abdul untuk tidak tegang lagi.
Setelah itu Rahma ikut gabung bersama di ruang tamu itu. Mereka berdua mendengarkan dengan serius apa yang disampaikan oleh Arif.
"Ada seseorang yang mengamanahkan kepadaku. Dia ingin berniat baik dengan anak pak Abdul yang bernama Inayah. Kalau pak Abdul dan bu Rahma berkenan, orang itu ingin melamar lnayah. Saya kira pak Abdul dan bu Rahma pasti sudah tahu siapa orang itu?"
"Siapa, Ustadz? Tolong katakan langsung saja," ucap Rahma. Mengingat ini masalah serius, rasanya sangat malas jika masih harus menebak teka-teki.
"Namanya Gino," ucap Arif.
__ADS_1
Abdul dan Rahma sama-sama saling menatap. Setahu mereka pria bernama Gino itu baru kemarin sore datang bertamu ke sini menemui Naya. Apa itu artinya jika selama ini sebenarnya ada hubungan tersembunyi dengan Naya yang tidak diketahui oleh Abdul dan Rahma?
"Menurut pak Abdul bagaimana? Pak Abdul sama bu Rahma bisa musyawarah dulu, tapi kalau bisa jangan lama-lama. Karena saya harus segera memberi jawabannya kepada Gino. Mm... Gino itu masih bujang loh, belum pernah menikah sama sekali. Tapi soal tanggungjawab dia saya bisa jamin. Dia pasti juga akan menyayangi anaknya Inayah juga. Pak Abdul dan bu Rahma bisa pegang omongan saya," kata Arif kemudian.
"Apakah ustadz sama dia saling kenal? Soalnya semalam aku melihat ustadz bicara berdua dengan dia di masjid. Apakah kalian membicarakan soal lamaran ini, atau memang kalian sudah saling kenal sebelumnya?" tanya Rahma.
Lalu Arif menceritakan semuanya tentang kedekatan dirinya dengan Gino. Tentang latar belakang Gino, tentang pekerjaannya yang mengatakan sesuai permintaan Gino bekerja sebagai tukang kebun, tentang sikapnya, semua Arif ceritakan kepada Abdul dan Rahma. Dan Arif semakin meyakinkan mereka lagi soal Lala. Bahwasanya cucu mereka tidak akan hidup sengsara jika nanti memiliki ayah sambung seperti Gino.
"Nanti kalau pak Abdul dan bu Rahma sudah musyawarah sama Inayah, saya tunggu jawabannya ya, Pak? Harapan saya semoga niat baik ini disambut dengan baik. Semoga ini menjadi ladang pahala saya karena telah membantu niat baik orang," kata Arif kemudian.
Abdul dan Rahma sama-sama mengangguk. Mereka tidak bisa langsung menolak begitu saja sebelum mempertimbangkan dan memusyawarahkan dengan Naya juga. Setelah itu Arif pamit pulang. Tinggal lah Abdul dan Naya berdua saja di ruang tamu itu.
"Apakah anak kita sedang laris manis, Pak?" celetuk Rahma.
Karena baru kemarin juga ada orang yang melamar Naya. Kali ini ada lagi yang melamar Naya. Mereka tidak tahu saja kalau juga ada Wahyu yang melamar langsung kepada Naya. Dalam dua hari belakangan ini, terhitung sudah ada tiga pria yang ingin meminang Naya untuk menjadi pasangannya.
"Hus! Kamu pikir Naya dagangan apa?" tegur Abdul.
"Tapi kalau dipikir-pikir ibu lebih pilih Gino, daripada orang sombong yang dibawa Sholeh itu. Mana katanya masih bujang, lebih cakep lagi orangnya," kata Rahma.
Rahma berkata seperti itu hanya menilai dari sebatas parasnya saja. Wajah orang bawaan pak lek Sholeh kemarin kalah telak jika dibanding dengan wajah Gino.
"Jangan langsung menilai orang hanya dari wajahnya, Buk. Setidaknya kita harus selidiki dulu seperti apa dan bagaimana pergaulan dia selama ini. Aku sih juga sepemikiran sama kamu. Kalau ingat hinaan Sholeh sama orang itu, sepertinya Gino tepat untuk jadi suami Naya. Hah, ternyata biar janda anak kita masih laku sama yang bujang." Terbesit senyum tipis yang mengembang di sudut bibir Abdul.
"Iya, Pak. Biar kata Gino kerjaannya cuma jadi tukang kebun, tidak banyak sawah kayak orang bawaan Sholeh itu, aku lebih mantap pilih Gino. Aku tidak rela anakku nikahnya sama bapak-bapak. Biar janda, tapi tiap malam aku do'akan Naya supaya dapat jodoh orang ganteng yang bertanggungjawab, yang serasi sama Naya." Rahma mengatakan seluruh uneg-unegnya.
"Kita nanti bicarakan sama Naya, Buk, biar lekas ada jawabannya. Tapi aku harus pergi dulu," ucap Abdul yang langsung berdiri dari tempatnya.
"Mau pergi ke mana? Cabut rumput di depan masih belum kelar tuh."
"Lanjut nanti saja. Sekarang aku harus pergi, ada urusan penting. Dah, assalamu'alaikum."
Lalu Abdul pergi dengan mengendarai motor bututnya. Tanpa berterus terang kemana sebenarnya ia akan pergi.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam."
*