
Tak terasa kandungan Naya sudah hampir memasuki bulan ke empat. Hingga selama itu pula Nani masih belum tahu tentang kehamilan Naya. Sedangkan saat ini di rumah Rahma sedang disibukkan untuk persiapan tasyakuran empat bulan kehamilan Naya. Tepatnya besok adalah acara tasyakuran itu diadakan. Momen itu kebetulan sekali dengan acara sholawatan yang memang rutin diadakan setiap bulan di tempatnya tinggal. Maka dengan sangat memohon saat itu, seminggu sebelum acara, Rahma meminta kepada Gino dan Naya untuk mengadakan tasyakuran itu di rumahnya.
Gino dan Naya menerima permintaan Rahma dengan suka rela. Bagi mereka sangat bersyukur sekali karena akan banyak orang yang nanti mendoakan keselamatan kandungan Naya. Sekitar kurang lebih lima puluh orang anggota sholawatan itu yang hadir dan turut mendoakan acara tasyakuran itu. Biasanya selesai acara mereka hanya membawa sekotak kue sebagai buah tangan, akan tetapi berhubung acara itu sangat penting untuk Gino, maka pria itu menambah isi buah tangan dengan yang lebih pantas untuk mereka dengan tambahan sedekah untuk kelancaran kehamilan Naya.
Acara tasyakuran berjalan dengan lancar. Memang di acara itu tidak ada satu pun dari keluarga Gino yang datang, karena memang Gino sengaja tidak memberitahu mereka.
"Alhamdulillah acaranya berjalan lancar ya, Nay," ucap Rahma dengan senang.
"Iya, Buk. Aku dari tadi sangat terharu karena banyak orang yang mendoakanku dan bayiku," sahut Naya sambil mengelus perutnya yang bertambah buncit.
Rahma tersenyum mendengar itu. Terlihat Rahma mulai memasukkan macam-macam kue pada kotak yang lebih besar. Naya melihat itu. Walau penasaran kue itu untuk siapa, tetapi Naya tidak menanyakannya.
"Nay, panggil suamimu sana! Dia belum makan dari siang tadi," titah Rahma.
Sedangkan saat ini Gino sedang ada di ruang tamu bersama Abdul untuk membereskan ruangan di sana.
"Iya, Buk."
Naya pun kemudian beranjak untuk memanggil Gino. Pria itu lekas datang dipanggil istrinya, dan lagi perutnya juga sudah merasa lapar.
"Kuenya masih banyak sisanya, Buk?" tanya Gino melihat masih ada satu kotak berukuran besar yang berisi kue.
"Kue itu kamu antar untuk keluargamu."
Tiba-tiba Abdul muncul dengan berseru seperti itu.
"Ah, tidak perlu, Pak. Lebih baik kue ini dibagikan ke tetangga saja," tolak Gino. Dan lagi kue itu juga uang Gino yang beli.
__ADS_1
Abdul menggeleng sambil mengangkat tangannya. Jika sudah seperti ini itu pertanda keputusan Abdul sudah tidak bisa ditolak oleh siapapun.
Sesaat suasana menjadi hening. Rahma memilih bungkam, entah karena apa. Sedangkan Abdul ikut duduk di dapur itu dengan sorot matanya yang kentara banyak pikiran. Naya yang melihat itu merasa sepertinya ada yang mencurigakan. Sekilas melirik lagi pada kotak kue yang sudah siap dibawa. Lalu melirik kecil kepada Gino yang nampak berpikir juga.
"Ayo, Mas, kita makan. Aku sudah lapar," ajak Naya tiba-tiba. Demi menghindari suasana dingin seperti ini.
Lalu kemudian Naya dan Gino duduk bersama di kursi makan itu. Mereka berdua menikmati makanannya dengan pikiran yang sama-sama bercabang ke mana-mana. Gino terus saja kepikiran ucapan Abdul yang menyuruhnya mengantar kue itu ke keluarganya. Sedangkan Naya kepikiran dengan Abdul yang nampak berbeda kali ini.
Tak lama kemudian Naya dan Gino selesai makan. Naya beranjak untuk membawa piring kotor bekas mereka ke tempat pencucian piring. Abdul yang melihat Gino sudah selesai makan, pria itu pun mendekatinya. Ikut duduk berhadapan dengan Gino.
"Nak Gino," sapa Abdul.
"Iya, Pak." Gino menyahut agak gugup. Karena tatapan mata Abdul yang seperti menghunus tajam tepat ke matanya.
"Bapak minta kamu antar kue itu ke rumah orang tuamu. Katakan pada mereka, kue itu sebagai tasyakuran kehamilan Naya. Bapak tidak peduli ibu kamu akan suka atau tidak mendengar Naya hamil anak kamu. Bapak cuma tidak mau ada rahasia maupun kebohongan yang kalian sengaja tutupi dari orang tuamu. Bapak tidak mau karena ketidakjujuran kalian akan berpengaruh pada karakter cucu bapak yang ada di perut Naya. Seharusnya kamu tahu, apa yang diperbuat oleh orang tuanya, maka sikap itu juga akan turun kepada anak yang sedang di kandung. Kamu pasti paham apa maksud bapak!" ucap Abdul syarat penekanan yang membuat hati Gino maupun Naya yang mendengarnya tiba-tiba speechless.
"Iya, Pak, aku paham maksud bapak," sahut Gino dengan wajah yang tertunduk.
Selesai mencuci piring, Naya langsung beranjak pergi untuk masuk ke kamar. Gino pergi menyusulnya.
"Dek," sapa Gino pada Naya yang sedang duduk di tepian ranjang.
"Aku--"
"Pergilah, Mas. Tapi jangan ajak aku. Aku tidak mau ikut," kata Naya dengan tegas.
Gino menghentak nafas kasarnya. Lalu pria itu ikut duduk disamping Naya. Entahlah! Sejujurnya perasaan Gino saat ini dilema sekali. Apa yang dikatakan Abdul tadi seperti sebuah cambuk untuk dirinya. Tetapi setelah menatap wajah istrinya, sepertinya ia masih ingin merahasiakan semua ini dari ibunya. Sungguh, ia tidak mau Naya akan bertambah beban pikiran disaat tengah mengandung begini. Yang nantinya juga akan berdampak tidak baik untuk perkembangan bayi mereka.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengatakannya kalau kamu tidak mau, Dek," ucap Gino kemudian.
"Itu terserah kamu, Mas. Intinya jangan ajak aku ikut kamu ke sana. Aku-- tidak siap," ucap Naya. Sebisa mungkin wanita itu menyeka air matanya agar tidak luruh.
Gino menghentak nafasnya lagi. Perempuan kalau sudah bilang terserah itu sungguh membuat laki-laki bingung harus bagaimana.
"Cepat berangkat, Mas. Aku tidak mau bapak mengira aku menahan kamu pergi ke rumah Ayah," ucap Naya.
Bahkan kali ini Naya sudah enggan untuk menyebut kata ibu.
"Maafkan aku ya, Dek," ucap Gino sambil merengkuh tubuh Naya dalam pelukannya.
"Aku juga minta maaf, Mas. Karena aku hidup kamu harus banyak drama seperti ini."
Tanpa Gino sadari, setetes air mata itu telah luruh dari mata Naya.
"Terimakasih kamu mau berjuang bersama demi cinta kita. Aku yakin, Tuhan pasti sudah menyiapkan kebahagiaan yang hakiki untuk kita kelak," ucap Gino. Menganggap apa yang terjadi padanya saat ini adalah ujian rumah tangganya, yang suatu saat akan berbalas dengan kebahagiaan yang bertubi-tubi jika bisa dengan sabar melaluinya.
"Iya, Mas. Aamiin," jawab Naya. Mengaminkan ucapan suaminya.
Naya mengusap air matanya. Setelah itu melepas pelukan Gino.
"Sudah cepat berangkat sana!"
Gino tersenyum kecil. Kemudian Naya meraih tangan Gino untuk bersalaman, dan seperti biasa Gino akan selalu mengecup kening Naya sebelum berangkat pergi.
Mereka berdua keluar dari kamarnya. Gino pergi ke dapur untuk mengambil kotak kue itu. Naya terus mengantar hingga suaminya itu sudah masuk ke mobilnya. Beruntungnya sedang tidak ada Lala, karena bocah itu lagi dibawa main sama Fifi. Karena jika ada bocah itu pasti merengek meminta ikut Gino.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan, Mas," ucap Naya melepas kepergian Gino untuk ke rumah orang tuanya.
*