
Setelah Rahma pulang dari masjid, ia langsung menemui Naya yang sedang menemani Lala di kamarnya. Bahkan mukenah yang dipakainya belum sempat dibuka, saking penasarannya ia kepada Gino yang mengobrol akrab dengan ustadz Arif di masjid tadi.
"Nay, itu teman kamu ternyata belum pulang. Ibu ketemu dia di masjid barusan. Kelihatannya dia sudah kenal sekali sama ustadz Arif," cerita Rahma.
"Teman? Teman siapa, Buk?" Naya masih bingung, karena Rahma tidak menyebut nama teman yang dimaksud Rahma itu.
"Itu yang barusan main ke sini." Rupanya Rahma agak lupa dengan nama Gino.
"Mas Gino?"
"Iya. Gino."
"Oooh..." Naya ber-oh saja, karena merasa tidak ada yang harus dibahas tentang Gino dengan ibunya.
"Eh, kamu sama dia beneran baru kenal kemarin?" tanya Rahma mulai ikutan kepo tentang Gino.
Naya mengangguk.
"Tapi kok bisa langsung datang ke sini? Jangan-jangan sebelumnya kalian sudah janjian ya, ayo ngaku!" tuduh Rahma.
"Nggak, Buk. Aku sudah bilang jujur, aku sama mas Gino kenalnya baru kemarin lusa. Itu pun kita tidak saling ngobrol karena aku keburu pulang. Aku juga nggak nyangka kalau dia mau datang ke sini. Padahal aku nggak ada cerita ngasih tahu alamat ku sama dia," ungkap Naya Sejujur-jujurnya.
"Pasti itu kerjaan Yuli. Apa kamu nggak ngerasa kalau kamu mau dijodohkan sama dia sama suaminya Yuli itu?" curiga Rahma.
"Mm... Sebenarnya mas Budi pernah omong itu. Aku nggak begitu nanggepin. Ku pikir cuma gurau aja. Nggak tahunya tiba-tiba dia datang ke sini. Ada tamu datang nggak mungkin kita tolak kan, Buk? Apalagi dia datangnya baik-baik nggak bikin onar."
Rahma hanya menghela nafasnya panjang. Setelah itu Rahma memilih keluar dari kamar Naya, begitu melihat Lala sedikit terusik tidurnya karena suaranya yang nggak sengaja bikin gaduh di kamar itu.
"Apa sebenarnya tujuan mas Gino ingin mengenalku? Ya Allah... Semoga aku dan keluargaku terlindungi dari orang-orang yang berniat jahat," batin Naya resah sendiri.
Wajar saja jika Naya masih tidak begitu percaya dengan Gino. Tetapi ia pun tidak bisa bersikap buruk kepada orang yang bersikap baik kepadanya.
Setelah memastikan Lala benar-benar terlelap dengan nyaman, barulah Naya beranjak dari kasurnya. Wanita itu keluar kamar untuk kemudian mengambil wudhu. Setelah selesai kembali masuk kamar, dan kemudian menunaikan kewajiban empat rakaatnya dengan khusyuk.
Naya selalu memungkasi sholatnya dengan do'a-do'a kebaikan. Bahkan keresahan hatinya yang ia rasa saat ini ia curhatkan semuanya kepada sang Ilahi. Dengan begitu hatinya bisa menjadi lega. Setelah menyerahkan semua apa yang akan menjadi takdir hidupnya hanya kepada Allah.
Sedangkan Gino saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah kontrakan Budi. Kebetulan saat itu Budi dan istrinya sedang ngobrol santai di teras rumahnya, dan Gino bisa ikut gabung dengan santai di sana.
"Tumben ke sini malam, ada apa?" tanya Budi melihat kedatangan Gino yang mendadak tanpa memberi kabar sebelumnya.
"Ada yang ingin aku tanyakan banyak sama istri kamu," sahut Gino yang kemudian berbalik memandang Yuli.
"Mau tanya soal apa?" tanya Yuli penasaran juga.
"Tentang-- Naya," aku Gino dengan mantap.
"Ehem! Ciyeee.... Ciyeee..." Budi langsung menciye-ciye Gino.
Tetapi Gino sudah kuat mental. Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan godaan Budi kepadanya.
__ADS_1
"Mau tanya apa tentang Naya?"
"Apa dia punya pacar?" tanya Gino ragu-ragu, tetapi hal itu memang perlu ditanyakan sebelum lanjut lebih serius kepada Naya.
"Mm... Setahuku tidak," jawab Yuli begitu yakin.
Gino seketika menghela nafasnya lega. Senyum kecilnya terbit dari sudut bibirnya.
"Tunggu, aku mencium bau-bau orang mau lamaran nih," seloroh Budi menggoda Gino lagi.
Gino tersenyum lagi.
"Iya, aku ingin melamar Naya, Bud. Aku rasa, aku jatuh hati sama dia," ungkap Gino tanpa canggung.
"Waw!" Budi ber-waw senang.
Sedangkan Yuli hanya senyum-senyum sendiri, ikut senang karena tak lama lagi temannya itu akan memiliki pasangan hidup. Tapi tunggu, Kira-kira Naya mau tidak ya sama Gino?
"Trus tujuanmu ke sini cuma mau bilang itu?" kepo Budi. Pasti ada hal lain lagi yang Budi rasa Gino ingin sampaikan.
Gino menggeleng pelan.
"Aku ingin kalian membantuku. Barusan aku datang dari rumah Naya. Sepertinya dia ada sedikit rasa trauma. Aku takut dia masih kapok mau berkeluarga lagi," kata Gino mengutarakan kecemasannya.
"Ooh... Soal itu mah beres!" Yuli sampai mengangkat dua jempolnya kepada Gino.
"Asal jangan lupa pajak jadiannya entar," tambah Budi. Yang kemudian mereka bertiga tertawa ngakak.
"Keburu amat mas Gino, belum juga aku bikinin kopi," ucap Yuli tak enak sendiri ada tamu datang malah lupa tidak dibuatkan minuman.
"Tidak usah, terimakasih. Sebenarnya aku tadi keluar rumah sudah dari sore. Aku tidak mau ibu di rumah sampai nggak tidur nungguin aku," ujar Gino.
"Makanya buruan nikah sana, biar kalau pulang nggak ditungguin ibu lagi tapi ditungguin istri," ucap Budi.
"InsyaAllah sebulan lagi aku pasti sudah nikah. Tunggu saja!" Gino mulai jumawa.
"Aamiin..." Yuli langsung mengamini ucapan Gino.
"Mm... Iya deh, iya..."
"Oh iya, satu hal lagi aku ingin ngomong sama kalian."
Lalu Gino menceritakan tentang kebohongannya mengenai pekerjaan aslinya kepada Naya. Gino meminta agar Budi dan Yuli mengatakan hal yang sama tentang pekerjaan Gino yang mengaku-ngaku menjadi tukang kebun. Andai nanti Naya menanyakan hal itu kepada Yuli ataupun Budi.
Setelah itu Gino langsung pamit pulang. Sekitar setengah jam kemudian Gino sudah tiba di rumahnya. Satu pemandangan berbeda yang Gino lihat di teras rumahnya saat ini. Yaitu Wulan yang asyik berdiri menunggunya di sana.
"Ke mana ibu? Kok tumben-tumbenan nggak nungguin aku?" batin Gino bermonolog.
Lalu Gino melihat jam yang ada di ponselnya. Ternyata sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Kemudian setelah itu Gino langsung masuk ke dalam rumah tanpa mau menyapa Wulan yang terlihat kecewa karena tidak disapa olehnya.
__ADS_1
"Gino," sapa Wulan sudah tidak kuat kalau tidak bicara seharian dengan Gino.
Gino menoleh sekilas.
"Kamu kok baru pulang?" tanya Wulan dengan santainya. Yang ditanya spontan melirik jengah.
"Iya, Mbak," sahut Gino singkat.
"Kamu nggak mau temui ibu, Gi?" ucap Wulan lagi setelah melihat Gino kembali melangkah.
"Ibu sakit, Gi," tutur Wulan.
Gino yang mendengarnya spontan langsung beranjak ke kamar Nani.
"Ibu, aku boleh masuk?" Gino mengetuk pintu kamar ibunya.
"Masuk saja, Gi," sahut Nani dari dalam kamar.
Setelah itu Gino masuk ke kamar itu. Lalu pria itu mendekat kepada Nani dan duduk disebelahnya. Satu tangannya menyentuh kening Nani yang memang hangat.
"Ibu sudah periksa?" tanya Gino dengan sangat cemas.
Tetapi Nani hanya menggeleng kepala yang berarti masih belum periksa demamnya itu ke dokter.
"Ibu harus segera minum obat. Gimana mau sembuh kalau ibu tidak mau periksa?"
"Obat mujarab untuk ibu cuma satu, Gi," ucap Nani sambil terbatuk-batuk.
Gino terdiam mendengarkan.
"Ibu ingin lihat kamu menikah, ibu pasti langsung sembuh," ucap Nani yang membuat Gino otomatis mengangkat wajahnya menatap Nani.
"Jadi kapan, Nak, kamu mau menikah?"
"Do'akan saja, Bu. InsyaAllah dalam waktu dekat ini aku akan menikah," ucap Gino terbesit kata permohonan restu Gino kepada Nani.
"Berarti sudah ada calonnya dong?" Wajah Nani seketika berbinar senang.
"InsyaAllah ada."
"Kapan mau dikenalkan ke ibu sama ayah?"
"Mm... rencananya aku mau langsung melamarnya, Bu. Tolong restui aku. Do'a ibu sangat penting untukku."
Nani tercengang sesaat. Karena kenapa Gino tidak memperkenalkan dulu ke orang rumah sebelum asal melamarnya. Tetapi setelah dipikir lagi, Nani tidak mau mematahkan semangat anaknya itu. Semoga saja wanita yang menjadi pilihan Gino itu adalah wanita yang baik. Begitulah harapan Nani.
"Iya, Gi, ibu do'akan supaya kamu sama calonmu itu akan menjadi jodoh dunia akhirat. Jodoh yang kekal sampai hanya maut yang memisahkan," ucap Nani kemudian.
"Aamiin..." Gino mengamininya dengan tulus. Senyum di wajahnya sangat berbinar setelah mendapat restu dari ibundanya.
__ADS_1
Tanpa Nani tahu jika calon menantu yang dipilih oleh putra kesayangannya itu adalah seorang janda beranak satu. Bagaimana nanti seandainya Nani tahu status Naya yang sebenarnya.
*