Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 59


__ADS_3

Kedatangan Suryo di rumah Naya langsung disambut ramah oleh Abdul dan Rahma. Mereka sudah menduga kalau kedatangan besannya itu tidak mungkin bersama dengan besan perempuan. Tetapi meski begitu tak apalah, Abdul dan Rahma sudah cukup senang dengan ayahnya Gino yang mau menerima Naya sebagai bagian dari keluarganya.


"Mari masuk, Pak Suryo."


Abdul mempersilahkan Suryo masuk ke rumah dan kemudian mereka duduk di ruang tamu.


Wajah Suryo celingukan mencari keberadaan Naya yang tidak ikut menyambutnya.


"Nak Naya ke mana?" tanyanya kemudian.


"Naya masih di kamarnya, pak Suryo. Dia masih menidurkan Lala, barusan anaknya rewel minta tidur, Pak," jelas Rahma.


Suryo mengangguk memaklumi.


"Oh ya, pak Suryo sendiri saja? Nak Gino tidak ikut, Pak?" tanya Abdul.


Suryo tersenyum sekilas.


"Iya, Gino tidak ikut karena sebenarnya ada yang saya ingin bicarakan antar orang tua," ucapnya serius.


Abdul dan Rahma mengangguk paham. Kemudian Rahma beranjak dari tempatnya bermaksud akan membuatkan Suryo minuman. Tetapi di saat Rahma masih ada di dapur, Naya menghampirinya.


"Sudah tidur Lala, Nay?" tanya Rahma sambil mengaduk kopi hitam yang dibuatnya.


"Sudah, Buk," sahut Naya.


"Ini bawa minuman ini ke depan. Sapa bapak mertuamu," titah Rahma.


Kemudian Naya yang membawa minuman itu ke depan.


Setelah menyuguhkan kopi itu, Naya bersalaman dengan Suryo. Tetapi di saat Naya ingin beranjak dari sana, Suryo malah mencegahnya dengan menyuruh Naya ikut duduk bersama.


"Mm... Sebenarnya tujuan kedatangan saya ke sini karena ingin membahas pernikahan anak-anak kita," ucap Suryo dengan gamblang.


Naya tercekat seketika. Jujur, ia jadi kebingungan menjawabnya bila nanti ditanyakan soal kesediaannya oleh Suryo. Karena yang bertanya nanti adalah ayah mertuanya, bukan Gino yang masih bisa dirayu hatinya untuk bisa menunda hal itu.


Sedangkan Abdul dan Rahma hanya bereaksi biasa saja. Mereka yang berada di pihak perempuan hanya bisa menerima apa yang disepakati oleh pihak besan, selama hal itu demi kebaikan anak-anak mereka.


"Saya sudah tanya-tanya ke kyai tentang tanggal baiknya, mm... InsyaAllah tanggal tujuh belas bulan depan," tutur Suryo lagi.

__ADS_1


Abdul hanya manggut-manggut. Tetapi yang menjadi pikiran Abdul saat ini adalah mengumpulkan uangnya untuk pernikahan Naya nanti. Dalam waktu sebulan dari mana Abdul bisa mengumpulkan uang yang cukup. Meskipun ia punya simpanan tabungan tetapi masih kurang banyak.


Karena Abdul hanya diam saja, Suryo kembali bersuara.


"Mungkin apa yang saya sampaikan terlalu cepat waktunya, tapi pak Abdul tidak perlu khawatir. Pernikahan itu yang penting sah nya di hadapan Tuhan. Jadi meski tidak ada pestanya itu tidak masalah, Pak. Yang penting sah. Anak-anak kita bisa hidup bahagia menjadi pasangan suami istri," kata Suryo mencoba meringankan beban Abdul yang jelas terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Kemudian Abdul tersenyum tipis.


"Mm... Begini, pak Suryo, kami sebagai orang tua Naya tentu sangat senang dengan kabar ini. Cuma alangkah baiknya kalau kita bertanya langsung kepada calonnya, sudah siap apa tidak?" ucap Abdul yang sebenarnya sangat tahu kalau Naya masih terlihat ragu.


Kemudian Suryo menatap serius kepada Naya.


"Heem... Baiklah, kalau begitu saya akan tanya langsung sama nak Naya. Bagaimana, Nak, apa kamu sudah siap apa masih ada yang mengganjal di hati kamu sekarang? Katakan semua ke ayah, kalau kamu masih ada yang kurang pas atau bagaimana?" ujar Suryo bijak sekali.


Naya menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ditanya seperti itu siapa yang tidak nervous coba? Sebenarnya tidak ada yang perlu diragukan lagi untuk menikah dengan Gino, hanya saja soal ibu mertuanya itu yang terus mengganjal perasaan Naya.


"Atau begini saja, saya beri waktu nak Naya untuk berpikir dulu, bagaimana?" tawar Suryo, meski sejujurnya pria itu menginginkan adanya jawaban detik ini juga.


"Naya," sapa Abdul karena mendapati Naya yang hanya diam.


"Mm... Sebenarnya selama ini yang menjadi pikiran Naya itu soal ibunya Gino, pak Suryo. Terus terang saja, Naya dan saya juga merasa takut untuk ke tahap yang lebih serius. Naya sudah pernah janda. Jadi wajar saja jika kami masih ragu untuk ke jenjang pernikahan sebelum ada keputusan juga dari ibunya Gino," ucap Rahma, sudah seharusnya Suryo tahu apa yang menjadi keraguan Naya selama ini.


"Ooh... Soal itu aku sudah sering bilang ke Gino. Cepat menikah, cepat punya anak, nanti istriku luluh juga akhirnya. Saya tahu bagaimana istriku yang sebenarnya. Jadi tenang saja, nggak perlu memusingkan tentang ibumu, Nak Naya. Itu urusan ayah. Apa kamu tidak kasihan Gino selama ini bersabar menunggu kamu siap?" ucap Suryo.


"Kalau misalnya saya meminta tetap tinggal di sini, Ayah?" tanya Naya pada akhirnya.


Terus terang Naya masih takut kalau nanti tinggal di rumah Gino, jika Gino sedang tidak ada atau sedang berangkat kerja, ibu mertua dan kakak ipar laknat itu akan diam-diam datang untuk menyerangnya.


Abdul, Rahma, dan Suryo sama-sama menoleh heran kepada Naya.


"Ooh... Itu tidak masalah. Gampang lah!" ucap Suryo.


Soal permintaan Naya itu biar menjadi urusan belakang. Yang terpenting sekarang ia harus sudah memiliki jawaban itu dari Naya.


"Gino itu orangnya enakan. Mau tinggal di manapun dia pasti mau, asal sama kamu tinggalnya," seloroh Suryo yang mengundang gelak tawa Rahma dan Abdul juga.


"Jadi bagaimana, nak Naya? Bersedia kan?" tanya Suryo sekali lagi.


Sekilas Naya menoleh kepada kedua orang tuanya. Ia melihat Abdul dan Rahma yang sama-sama tersenyum kepadanya. Dengan begini sudah jelas kalau Abdul dan Rahma tidak keberatan, dan bismillah... Semoga apa yang Naya putuskan saat ini adalah menjadi yang terbaik untuknya.

__ADS_1


"Saya-- InsyaAllah bersedia," jawab Naya pada akhirnya.


"Alhamdulillah..." Suryo berujar dengan penuh kelegaan.


Setelah itu mereka sesama orang tua mulai berembug tentang keperluan yang dibutuhkan oleh calon pengantin. Dan rupanya Suryo siap membantu biaya pernikahan Gino dan Naya. Suryo juga mengusulkan untuk pesta pernikahan itu dijadikan satu saja. Awalnya Suryo usul untuk diadakan di gedung saja, tetapi Abdul dan Rahma sama-sama menolak dengan alasan sayang uangnya.


"Tidak perlu di gedung, Ayah. Saya tidak suka pesta mewah-mewah. Kalau mau di sini saja," ucap Naya yang juga tidak setuju kalau pernikahannya akan digelar di gedung.


"Tidak apa-apa, Nak. Ini pesta kalian seumur hidup sekali. Ayah ingin pernikahan kalian itu meriah," ucap Suryo mencoba nego siapa tahu Naya berubah pikiran.


Gino adalah anak pertama Suryo. Jadi wajar saja jika Suryo menginginkan yang terbaik dan yang meriah untuk Gino. Tetapi yang dirasakan Naya adalah minder duluan. Ia yang berstatus janda, menggelar pernikahan di gedung, dengan adanya drama tidak direstui oleh ibu mertua, apa itu menyenangkan?


Melihat Naya yang bergeming saja, kemudian Suryo yang mengalah saja.


"Baiklah, ayah tidak memaksa sewa gedung. Berarti keputusannya diadakan di sini ya?"


Naya kemudian mengangguk setuju.


Suryo tersenyum lega, karena apa yang menjadi tujuan kedatangannya sudah ada kesepakatan. Setelah itu Suryo pun pamit pulang.


Sedangkan di tempat yang lainnya, Gino terlihat gelisah menunggu kedatangan Suryo sambil duduk di teras rumahnya. Sejak datang dari alun-alun bersama Nani dan dua ponakannya barusan, pria itu tidak masuk rumah lagi. Memutuskan menunggu ayahnya pulang dengan membawa kabar gembira.


"Gino, Agus sama Wulan ibu lihat di kamarnya kok tidak ada?" Nani bertanya setelah baru saja masuk rumah tidak mendapati Agus dan Wulan lagi.


Gino menggeleng saja, tepatnya tidak peduli lagi urusan mereka.


"Ibu takut mereka ada apa-apa, Gi," lanjut Nani, karena memang Agus dan Wulan sempat terlibat pertengkaran tadi.


"Aku tidak tahu ibu," sahut Gino kentara jengah jika diajak bicara tentang Agus dan Wulan.


"Ah, kamu! Pasti kamu lagi nunggu ayahmu kan?"


Gino mengangguk. Tatapannya terus mengarah pada pagar gerbang depan.


"Kalau ternyata dia menolak diajak menikah bagaimana, Gi?" tanya Nani, entah apa tujuannya bertanya seperti itu.


"Ah, Ibu. Ganti pertanyaan dong, kalau Naya setuju diajak menikah, apa ibu masih tetap tidak mau menerimanya?"


"Kamu ini!"

__ADS_1


Nani memilih berlalu dengan masuk rumah lagi.


*


__ADS_2