
"Tidurlah, Dek," ucap Gino sambil menyelimuti tubuh polos Naya.
Wanita itu semakin merapatkan pelukannya, memejamkan kedua matanya sambil menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya. Gino pun demikian, ikut memejamkan mata efek lelah usai berolahraga malam yang sangat menguras tenaga dan keringat kenikmatan.
Tetapi seketika Naya membuka matanya kembali setelah teringat sesuatu.
"Mas, kita belum sholat isya," seru Naya sedikit kaget karena baru teringat.
"Iya, nanti saja. Aku ingin tidur sebentar," sahut Gino dengan santai.
Entah sudah jam berapa sekarang. Seingat mereka, percintaan mereka dimulai sehabis maghrib tadi. Naya yang juga merasa lelah, maka kemudian ikut memejamkan matanya kembali. Ia yakin suaminya itu pasti menepati ucapannya untuk menunaikan kewajibannya nanti. Walau sebenarnya menunda kewajiban sholat itu tidak baik, tetapi sungguh mereka benar-benar butuh istirahat sebentar saja.
Mereka sama-sama terlelap dengan nyaman. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan lewat dari pertengahan malam. Gino mengerjapkan matanya lebih dulu, karena teringat dengan kewajibannya yang belum ia laksanakan. Sejenak menatap wajah istrinya yang masih terpejam. Senyumnya kembali tersungging manis manakala teringat akan percintaannya semalam.
Kecupan pria itu bertandang pada bibir Naya, begitulah cara pria itu membangunkan tidur istrinya. Naya yang merasa ada yang berusaha masuk pada rongga mulutnya, tidurnya pun mulai terusik. Wanita itu lantas membuka matanya, mendapati wajah suaminya yang sudah full senyum kepadanya.
"Ayo bangun," sapa Gino kepada Naya.
Naya mengangguk kecil. Sebelum bangun wanita itu menggeliat kan badannya, merasakan pinggangnya yang sedikit remuk karena ulah suaminya. Apalagi pada organ intinya juga merasa seperti ada yang tertinggal, walau tidak perih, tetapi rasa itu begitu kentara Naya rasakan.
"Kenapa, Dek?" kepo Gino setelah memperhatikan gelagat istrinya yang seperti itu.
"Sakit?"
__ADS_1
"Pinggangku rasanya remuk," sahut Naya sambil memanyunkan bibirnya.
Gino hanya nyengir mendengarnya. Memang permainannya yang kedua semalam lebih menguras tenaganya. Mungkin karena sudah ronde ke dua, jadinya memakan durasi waktu yang lebih lama dari sebelumnya. Meski begitu mereka sama-sama merasa puas setelahnya.
"Iya, entar lagi aku pijitin. Ayo mandi bareng, Dek. Setelah ini kita sholat isya bareng," ucap Gino.
Pria itu beranjak lebih dulu dari kasurnya, lalu mengambil sarungnya yang berserakan di lantai, kemudian memakainya. Di susul Naya yang juga beranjak dari kasurnya juga. Wanita itu memungut bajunya yang sama berserakan di lantai. Juga mengambil selimut yang sudah berantakan untuk kemudian dijadikan penutup tubuhnya yang polos.
"Bisa jalannya?" tanya Gino, membuat Naya tergelak mendengarnya.
"Bisa dong," sahut Naya sambil tersenyum aneh.
Memang semalam bukan aksi pecah perawan, tentu tidak akan membuatnya kesulitan berjalan. Tetapi cukup membuat intinya kebas, membuat cara berjalan Naya sedikit di seret.
Gino yang melihat itu ingin membantu Naya dengan berusaha menggendongnya, tetapi Naya langsung menolak karena tidak enak sendiri.
"Sayangnya bukan aku orang itu," celetuk Gino yang seketika Naya melirik aneh.
Naya paham apa yang dimaksud ucapan suaminya itu, tetapi ia tidak mau ambil pusing, sebab dari awal Gino sudah tahu jika ia menikahi seorang janda. Apa yang diucapkan oleh Gino, Naya menganggapnya sebagai candaan saja.
"Dan akulah perenggut keperjakaanmu, Mas," ucap Naya sambil terkekeh puas.
Gino yang mendengar itu juga ikut tertawa. Jujur, memang Naya lah wanita pertama yang Gino gauli.
__ADS_1
Lalu mereka berdua pun keluar dari kamarnya, setelah itu sama-sama masuk ke dalam kamar mandi. Naya nampak berjongkok karena ingin pipis. Tetapi begitu air seni itu mengalir rongga intinya terasa perih, membuat Naya refleks meringis.
"Aah..." rintih Naya membuat Gino seketika menoleh kepadanya.
"Kenapa, Dek?" khawatir Gino sambil ikut berjongkok.
"Perih kena pipis," sahut Naya tanpa malu lagi.
"Katanya begitu nya sudah nggak sakit?" heran Gino. Sungguh mantan perjaka polos.
"Iya, tapi punya kamu agak gedde. Ngilu juga karena belum terbiasa." Naya menyahut lebih bar-bar.
Gino yang mendengarnya langsung tertawa. Ooh... Jadi karena itu.
"Udah, jangan ketawa! Entar Lala bangun kacau!" sungut Naya dengan wajahnya yang manyun.
Gino jadi senyum-senyum sendiri. Kemudian pria itu menyalakan shower air hangat.
"Sini, Dek, aku mau tanggung jawab. Biar aku yang bersihkan, disentuh aku pasti sembuh entar," kata Gino lebih ngadi-ngadi.
"Sembuh apaan? Nggak usah! Terimakasih tawarannya," sungut Naya mulai was-was dengan tawaran suaminya.
Pria itu tertawa puas lagi. Setidaknya walaupun ia tidak menikahi seorang gadis, tetapi ternyata pusakanya mampu membuat wanitanya mendessah nikmat.
__ADS_1
Mereka berdua lekas membersihkan diri dari hadas besar. Setelah selesai, segera mereka menuju tempat sholat dan kemudian menunaikan kewajiban empat rakaatnya dengan berjama'ah.
***