Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 106


__ADS_3

Pagi harinya, Naya kembali mengalami morning sickness. Setelah beberapa hari belakangan ini dirinya lumayan sehat, tetapi pagi ini rasanya Naya sangat lemas untuk beraktivitas apapun setelah isi perutnya sudah terkuras habis pagi tadi.


Gino yang sejatinya harus berangkat ke kantor, masih harus berganti peran menjadi ibu rumah tangga. Menyiapkan sarapan untuk Lala, juga merayu bocah itu untuk mau sarapan dengan cepat karena setelah itu Gino keburu berangkat kerja. Dan lagi, untuk kesekian kalinya Lala harus ijin tidak masuk sekolah lagi lantaran tidak ada yang bisa menjemput Lala nanti. Kalau urusan mengantar ke sekolah Gino bisa. Tetapi untuk siapa yang menjemputnya nanti, Gino tidak yakin kalau Naya akan baik-baik saja nanti.


"Lala temani mama di sini ya, jangan main keluar rumah," pesan Gino kepada Lala.


Saat ini mereka semua berada dalam kamar Gino, dengan posisi Naya yang hanya berbaring lemah.


Lala mengangguk patuh dengan pesan Gino.


"Dek, jangan lupa makan. Aku tahu kalau kamu nggak enak, tapi kalau dibiarkan perut kamu kosong yang ada entar nambah penyakit," pesan Gino kepada Naya.


Di atas nakas samping ranjang itu sudah tersedia sarapan untuk Naya yang Gino buat tadi. Tetapi yang namanya perut mual, rasanya sangat malas untuk mencicipi makanan itu.


"Aku berangkat ya," pamit Gino kemudian.


Pria itu membelai pipi Naya, kemudian mencium keningnya cukup lama.


Naya hanya mengangguk, untuk sekedar bicara saja sepertinya memancing perutnya mual lagi. Melihat kondisi Naya yang seperti itu, sejujurnya Gino tidak tega meninggalkan Naya berdua saja di rumah dengan Lala. Akan tetapi dirinya bukan CEO atau owner yang bisa seenaknya tidak masuk kerja. Ia hanya seorang pegawai bank yang harus tetap patuh pada aturan kantor.


"Nanti jam istirahat aku sempatkan pulang," ucap Gino kemudian. Rasanya sangat kepikiran dengan kondisi Naya yang terlihat sangat lemah tidak seperti biasanya.


"Nggak usah, Mas," sahut Naya pada akhirnya.


"Atau kamu mau aku belikan apa nanti? Pingin makan apa, aku belikan nanti pas jam istirahat." Kekeh Gino tetap berpendirian ingin pulang sebentar saat jam istirahat di kantor.


"Nggak usah, nggak perlu," tolak Naya sungguh-sungguh.


Rasanya kasihan saja Gino harus bolak-balik di jalan. Meski jarak dari kantor ke rumah ini lumayan dekat, tapi Naya tidak tega menyita waktu istirahat Gino yang seharusnya dibuat untuk merilekskan otak dari penatnya pekerjaan kantor.


"Tapi kondisi kamu begini aku cemas, Dek," ucap Gino dengan sendu.


Naya hanya tersenyum tipis.


"Aku mau telpon Fifi, Mas. Biar dia bisa datang ke sini temani Lala," ucap Naya yang membuat perasaan Gino lega mendengarnya.

__ADS_1


Akhirnya Gino mengangguk setuju. Setidaknya dengan adanya Fifi yang menemani mereka di sini bisa membuat Lala tidak jenuh seharian harus berdiam diri di dalam rumah.


"Ya sudah, aku berangkat ya, Dek," pamit Gino kedua kalinya.


Pria itu lagi-lagi mencium kening Naya. Setelah itu berpamitan kepada Lala juga. Bocah itu bersalaman kepada Gino. Dan seperti biasanya, Gino akan balik mencium tangan mungil Lala, juga mencium di pipi chubby bocah itu.


"Assalamu'alaikum," salam Gino sebelum beranjak keluar dari kamarnya.


"Wa'alaikum salam." Bersamaan Naya dan Lala menjawab salam Gino.


Kemudian Gino berangkat ke kantor dengan mengendarai motornya, setelah sebelumnya memastikan pintu pagar rumah tertutup dengan aman.


Naya langsung mengirim pesan kepada Fifi, meminta gadis itu datang ke rumahnya sekarang. Kebetulan Fifi sudah lulus sekolah SMA. Gadis itu langsung mengiyakan permintaan Naya setelah mendapat ijin juga dari Rahma, dan langsung pergi ke rumah Naya walau harus naik angkot untuk sampai di sana. Untuk meminta antar kepada orang rumah semuanya sama-sama sibuk. Abdul pagi tadi sudah berangkat kerja jadi kuli bangunan, dan Riki sudah berangkat sekolah.


Tak lama kemudian Fifi sudah tiba di rumah Naya. Lala langsung pergi ke depan untuk memberikan kunci pagar rumah agar Fifi membukanya sendiri. Setelah itu Fifi masuk rumah sambil menggendong Lala yang langsung nemplok begitu saja melihat kedatangannya barusan.


"Mama di mana, La?" tanya Fifi.


"Mama di kamay, mama maem," sahut Lala.


"Mbak, ibu bawakan mbak melon," sapa Fifi kepada Naya yang memang menenteng buah melon dalam wadah plastik.


"Taruh di meja makan sana, Fi," seru Naya.


"Gimana, Mbak, sudah enakan tidak?" sapa Fifi lagi sekembalinya dari ruang makan dan ikut duduk di kasur menemani Naya.


"Iya, Fi, terimakasih ya sudah mau ke sini," ucap Naya.


"Dengan senang hati, Mbak. Kalau ada apa-apa langsung telpon aku saja, Mbak. Lagian di rumah aku juga nganggur."


"Lala nggak sekolah lagi ya?" sapa Fifi kepada Lala yang asyik main hape punya Naya, nonton serial kartun kesukaannya.


Lala yang terlanjur seru dengan tontonannya tentu tidak menjawab sapaan Fifi.


"Itu dia, Fi, mbak kepikiran gimana sekolah Lala kalau mbak masih nggak sehat begini. Dia keseringan ijin tidak masuk," ucap Naya.

__ADS_1


"Iya juga sih, Mbak. Trus tambah ke depan perut mbak tambah gede, kasihan juga kalau harus wira-wiri di jalan raya," timpal Fifi ikut kepikiran.


"Mbak, gimana kalau aku saja yang antar jemput Lala ke sekolah?" usul Fifi sungguh-sungguh.


"Apa tidak merepotkan, Fi?"


Fifi menggeleng. Dan lagi kegiatan ini hitung-hitung mengisi waktu untuk Fifi, daripada hanya nganggur di rumah. Untuk mencari pekerjaan di luar, gadis itu belum dapat ijin dari orang tuanya sendiri. Kalau Rahma dan Abdul sah-sah saja Fifi mau bagaimana setelah lulus sekolah. Apalah daya, orang tua kandung Fifi tidak mengijinkan gadis itu bekerja di luar dengan alasan yang tidak jelas.


"Atau kamu tinggal di sini sama mbak, Fi. Daripada setiap hari kamu bolak-balik dari rumah ke sini untuk jemput Lala, lebih baik kamu tinggal bersama mbak di sini," usul Naya berasa dapat ide untuk kelancaran sekolah Lala yang sering tidak normal belakangan ini.


"Boleh juga. Tapi gimana sama mas Gino, mbak, dia setuju tidak?"


"Kalau mas Gino orangnya enakan, Fi, dia bisa diajak rembug kok. Kalau ibu bapak nanti mbak yang ngomong sama mereka."


Fifi mengangguk semangat.


"Senang ya mbak punya suami kayak mas Gino yang selalu bisa nurutin kemauan istri," timpal Fifi melihat kenyataan Naya dan Gino yang hidup romantis dalam kesehariannya.


"Alhamdulillah, Fi. Ini seperti timbal balik kehidupan mbak yang dulu. Kalau dulu mbak tidak nyaman, sekarang Tuhan mengganti itu dengan menghadirkan mas Gino dalam kehidupan mbak."


Akhirnya siang itu menjadi sesi curhat antara Naya dan Fifi. Sedangkan Lala terus saja asyik dengan tontonannya di hape Naya.


Dari saling bercerita itu Naya baru tahu kalau ternyata Fifi sudah lama putus dengan Irwan.


"Apakah kamu masih cinta sama Irwan, Fi?" tanya Naya setelah mendengar cerita dari Fifi yang terkesan tidak rela putus hubungan dengan Irwan.


Fifi hanya mendengus sambil menundukkan wajahnya. Tidak usah dijelaskan lagi kalau gadis itu rupanya masih sangat mencintai Irwan. Cuma keadaan lah yang membuat mereka terpaksa menyudahi hubungan mereka. Namanya masih remaja. Hubungan pacaran itu bisa saja putus walau karena hal sepele sekali pun.


"Mbak nggak mau tahu kabar bang Wahyu apa?" ucap Fifi, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dengan tema pria bernama Wahyu. Seseorang yang sudah lama Naya lupakan namanya.


Naya diam saja. Tetapi Fifi tetap saja menceritakan bagaimana kabar Wahyu sekarang, yang ia tahu kabar itu dari Irwan juga pastinya. Meski sudah putus dengan Irwan, tetapi komunikasi mereka berdua tetap terjaga meski sekedar lewat chat.


Setelah Naya menikah, Wahyu memilih merantau ke luar Jawa. Dan sampai sekarang Wahyu tidak pernah pulang lagi. Yang Fifi dengar, Wahyu akan pulang setelah ia mendapatkan istri di perantauan. Alasan Wahyu mencari istri di perantauan yang tentunya anak perantauan itu berasal dari daerah lain yang jauh, yaitu agar wanita yang dipilihnya itu tidak tahu dengan cerita Wahyu di sini. Cerita di mana Wahyu pernah menggilai seorang janda yaitu Naya. Yang akhirnya berakhir kandas hanya karena Naya yang lebih memilih bersama pria lain daripada dirinya yang memang tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan pria pilihan Naya.


Apapun keputusan yang sudah dibuat oleh Wahyu, harapan Naya semoga pria itu baik-baik saja dan lekas menemukan jodohnya. Seorang wanita yang mau menerima dia apa adanya, yang mau mencintainya dengan tulus juga. Begitulah harapan Naya yang terbesit dalam hatinya, setelah selesai mendengar cerita itu dari Fifi.

__ADS_1


*


__ADS_2