Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 83


__ADS_3

Waktu begitu cepat menjadi pagi. Dan Lala terbangun dari tidurnya bersamaan dengan adzan subuh berkumandang. Mungkin karena tidur bocil itu yang lebih awal semalam, membuatnya lekas terbangun lebih awal dari jam biasanya.


Tetapi meski begitu Gino sangat sigap menemani Lala bermain agar tidak mengganggu saat Naya memasak untuk sarapan pagi mereka. Mereka berdua nampak bermain sangat seru, sesekali terdengar gelak tawa riang dari keduanya.


"Papa, ini napa?" tanya Lala sambil menunjuk leher Gino.


"Emang kenapa dengan leher papa?" Gino balik tanya karena memang belum sadar kalau ada mahakarya Naya berupa tanda merah di lehernya.


"Walna meyah," kata Lala sambil berekspresi agak meringis karena mengira itu bekas luka yang berdarah.


Gino mengusap-usap bagian lehernya yang ditunjuk Lala. Karena penasaran, akhirnya Gino beranjak masuk ke kamarnya berniat ingin berkaca. Meninggalkan Lala seorang diri yang masih asyik bermain boneka di ruang tengah.


Setelah bercermin betapa kagetnya Gino melihat tanda merah itu nampak jelas di lehernya. Meski hanya ada satu tanda, tetapi hal itu membuat Gino gelisah untuk caranya menutupi tanda itu setelah ini.


"Naya..." Gemas Gino seorang diri sambil tersenyum lucu.


Bukan marah, sama sekali tidak, cuma ia tidak menyangka saja. Apa semalam ia tidak sadar saat Naya melakukan itu saking menikmatinya? Ah, bagaimana cara menutupinya coba? Padahal setelah ini ia harus berangkat pergi kerja.


Kemudian Gino menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar. Lalu memanggil Naya yang masih berkecimpung di dapur.


"Dek!" panggilnya sambil melambai-lambai tangan kepada Naya.


Naya menoleh. Wanita itu tak lekas mendekat karena heran tumben panggil-panggil, biasanya langsung datang jika ingin ngomong.


"Matikan dulu kompornya, sini dulu bentar," seru Gino masih dari balik pintu kamar.


Sedangkan Lala hanya menoleh sekilas kepada Gino, setelahnya kembali seru bermain seorang diri dengan boneka-boneka lucu yang dibelikan Gino sebelumnya.


Naya langsung mematikan api kompornya. Kemudian beranjak menyusul suaminya yang ada di dalam kamar. Tetapi ketika Naya baru masuk, Gino langsung menyekapnya hingga tubuh wanita itu mentok bersandar di pintu.


"Aku mau minta tanggung jawab!" kata Gino penuh seringai.


"Tanggung jawab apa?"


Sengaja Gino tidak menjawab, tetapi bibir pria itu langsung beraksi menghisap pada leher putih Naya.


"Aah, Mas..."


Dessah Naya begitu mendapat serangan mendadak dari suaminya.


Gino terus melanjutkan aksinya semakin asyik. Bahkan pria itu dengan lihainya berhasil membuka kancing baju teratas yang dipakai Naya, sehingga dua bukit squishy itu terpampang jelas di depannya.


"Kamu kok--" protes Naya terheran-heran sendiri begitu mendapati serangan bertubi-tubi dari suaminya.

__ADS_1


Pria itu malah asyik cosplay jadi adik bayi, menyusu lagi di pagi hari.


"Mas... Aah..." Dessah Naya dengan tertahan, karena jika kelepasan dan didengar oleh Lala ngalamat kacau.


Meski heran sendiri kenapa Gino seperti itu, tetapi Naya tidak dapat menolak perlakuannya. Sungguh nikmat.


Setelah merasa cukup, akhirnya Gino menyudahi permainannya. Nafas pria itu nampak tersengal-sengal efek sesuatu miliknya terbangun lagi dari tidurnya. Meski begitu Gino harus tahan diri, karena ada bocil yang mereka tinggal sendiri di luar kamar.


"Ini gimana cara nutupinnya?" protes Gino sambil menunjuk lehernya yang ada bekas merahnya.


Naya menatapnya serius. Lalu senyum kecil wanita itu mengulas tipis.


"Pake bedak biar samar," sahut Naya dengan santai.


"Pakai bedak? Ah, nggak mau!" tolak Gino dengan tegas.


Seumur hidupnya baru kali ini Gino harus bersentuhan dengan bedak. Dan itu tidak mungkin ia lakukan. Laki gitu loh!


"Nggak ada cara lain emang?" tanya Gino lagi.


Naya menggeleng kecil sambil menahan tawanya.


"Yah, Adek! Trus gimana aku berangkat ke kantor? Temen-temen pasti ngecein aku," sungut Gino nampak gemas sendiri.


"Ya udah, biasa aja. Lagian mereka tahu kalau kamu pengantin baru," balas Naya.


Melihat wajah suaminya yang gusar, tangan Naya membelai pipi suaminya dengan lembut.


"Maaf, lain kali aku nggak main disitu," ucap Naya mulai paham kenapa suaminya memanggilnya barusan.


Kalau perempuan masih bisa menutupi tanda itu dengan bedak atau memakai kerudung panjang. Kalau cowok, dan yang anti bedak seperti Gino memang sulit untuk menutupinya.


Gino menghela nafasnya dan hanya bisa pasrah dengan kenyataan. Biarlah, di kantor nanti akan seheboh apa Gino sudah memutuskan akan memasang muka tembok dan menutup telinga rapat-rapat.


"Sudah, Mas?" tanya Naya ambigu.


Gino mengerutkan kening karena tak paham.


"Nyusunya sudah?" kata Naya lagi, karena memang dua bukit squishy nya masih menyembul dari wadahnya.


Gino tersenyum aneh. Satu tangannya melayang untuk merem mas buah empuk itu, sehingga mulut Naya menjerit kecil efek kaget.


"Mas! Jangan gini ah!" sungut Naya sambil memasang kancing bajunya cepat-cepat.

__ADS_1


"Andai Lala tidur, sudah aku makan kamu, Dek," gemas Gino sambil tangannya terangkat merem mas udara.


"Kenapa mesti nunggu Lala tidur, sekarang aja kalau berani!" tantang Naya karena ia tahu suaminya tidak mungkin senekat itu.


"Kamu nantangin aku?"


Gino semakin merapatkan tubuhnya, tetapi Naya langsung memilih kabur keluar kamar sambil tertawa cekikikan. Gino ikut mengejar. Tak ayal pemandangan seperti itu membuat Lala hanya menatap penasaran. Ada apa dengan mama papa? Batin Lala bertanya-tanya.


"Sudah, ampun, Mas!" seru Naya begitu mendapati suaminya akan merusuh di dapur.


"Tunggu nanti pulang aku kerja. Aku akan buat kamu tepar, Dek," ucap Gino sambil sengaja menggigit di daun telinga Naya.


Naya yang dibegitukan tentu refleks menjerit kecil, membuat Lala berlari penasaran dan menemui mereka.


"Papa! Mama!" pekik Lala. Bocah itu menganggap Gino sedang usil kepada mamanya.


Naya dan Gino sama-sama menoleh. Keduanya langsung memasang senyum hangat di saat melihat sorot mata Lala yang seperti kebingungan dengan tingkah mereka.


Akhirnya Naya mendekati Lala. Wanita itu duduk jongkok menyamakan tingginya dengan tinggi badan Lala.


"Anak mama lapar, mau makan?" tanya Naya mengalihkan ke topik lain.


Lala menggeleng kepala. Matanya menyorot aneh pada leher Naya. Sebuah tanda yang sama seperti tanda di leher Gino. Kemudian mata bocil itu memandang kepada Gino, tepatnya menjurus pada leher Gino.


"Mama, ini napa?" tanya Lala dengan polosnya, jari mungilnya menunjuk pada leher Naya yang lebih banyak tanda merahnya.


Naya tercengang sesaat. Matanya langsung melirik kepada Gino, yang ternyata pria itu sedang menahan tawanya.


"Ini kena gigit nyamuk," dusta Naya demi tidak mengotori akal polos putrinya.


Lala memperhatikannya lebih seksama.


"Iih, nyamuk nakal!" kata Lala sambil memberanikan diri menyentuh leher Naya walau ekspresinya seperti orang jijik.


"Iya, nakal sekali nyamuknya." Naya ikut menimpali omongan putrinya.


"Nyamuknya di pukung aja, Ma," ucap Lala bersemangat, percaya betul dengan alasan yang dipasang oleh Naya.


"Iya, nanti mama pukul nyamuknya, biar kapok!"


"Aduh, aduh! Ampun... Nyamuknya janji nggak akan nakal lagi." Gino ikut-ikutan berperan jadi nyamuk dengan ekspresi yang memancing bocah itu tertawa.


"Ayo, Lala, kejar nyamuknya!" pekik Naya dengan heboh.

__ADS_1


Akhirnya pagi itu terjadilah candaan yang seru antara mereka bertiga.


*


__ADS_2