
Gino datang lagi ke rumah orang tuanya. Pria itu langsung disambut senyum bahagia dari Nani yang melihat kedatangannya. Berbeda dengan ekspresi Suryo yang menatap heran, karena Gino mengabaikan permintaannya untuk membawa Naya jika akan datang lagi ke rumah ini.
"Mana Naya? Kenapa tidak diajak lagi? Kamu datang sendiri ke sini kayak orang nggak punya istri!" sungut Suryo begitu Gino akan bersalaman kepadanya.
"Ee-- Naya--"
"Apa kamu tidak berani bawa Naya ke sini karena ibumu?"
Suryo langsung menyela bicara Gino yang belum selesai dengan tebakannya yang sangat tepat, membuat Gino tercekat mendengar pertanyaannya ayahnya itu.
"Apa ibumu hantu? Malaikat maut? Sampai-sampai kamu nggak mau bawa Naya ke sini?" Suryo sudah sangat kesal menghadapi masalah yang tak kunjung selesai antara Nani kepada Naya.
"Apa-apaan kamu menyamakan aku sama malaikat maut?" sungut Nani tidak terima dikatakan seperti itu oleh Suryo.
Suryo hanya melirik. Biar saja istrinya tersinggung dengan perkataannya, ia hanya ingin menantunya ikut datang ke rumah ini. Itu saja!
"Kalau Naya mau ke sini ya tinggal datang saja. Nggak perlu menyamakan aku malaikat maut dia!"
Setelah Nani mengatakan itu, lalu ia berlalu pergi untuk masuk ke rumah. Sedangkan Gino masih terdiam di tempat. Rasanya kedatangannya kali ini tidak sesuai harapan untuk membuat hati Nani bahagia.
Suryo melihat ke dalam, ke mana Nani pergi. Setelah itu pria itu langsung terkekeh sendiri, membuat Gino penasaran ada apa dengan ayahnya saat ini.
"Tuh lihat, Gi, kalau nggak dipancing begini mana mungkin ibumu mau bilang begitu," kata Suryo masih terus terkekeh sendiri.
Gino akhirnya mengerti maksud tujuan Suryo berbicara seperti itu.
"Sudah, kamu nggak perlu cemas lagi kalau mau bawa Naya ke sini. Tadi saja ibumu bilang silahkan datang. Ayah tunggu loh, Gi. Ayah juga ingin mantu ayah nginep di sini. Pingin nyicip masakan mantu ayah seenak apa." Suryo mengatakannya sambil menepuk-nepuk pundak Gino, lalu kemudian ikut masuk ke dalam rumah.
Gino tersenyum bahagia. Ayahnya memang selalu menjadi pahlawannya. Dari kecil hingga sedewasa ini, ayahnya selalu menjadi pahlawan terhebat yang selalu membela dan memperjuangkan dirinya.
Lalu Gino pergi menyusul Nani yang kebetulan sedang ada di dapur.
__ADS_1
"Ibu," sapa Gino kepada Nani yang saat itu sedang mengupas kulit bawang putih.
"Aku bantu ya, Bu," kata Gino yang langsung ikut membantu kegiatan ibunya.
Dan mereka berdua kembali mengobrol hal-hal kecil. Kehangatan antara ibu dan anak itu sejatinya tidak pernah luntur. Sebenarnya Nani sendiri sudah tidak begitu memusingkan tentang Naya. Ia tidak membenci Naya, hanya saja rasa gengsi di hatinya masih terlalu angkuh untuk mengatakan ia mempercayakan seluruh kebahagiaan Gino kepadanya.
Nani memperhatikan binar bahagia itu terus terpancar dari wajah Gino. Itu pertanda anaknya itu memang telah benar-benar bahagia.
***
Jam satu lebih lima menit Gino kembali ke rumah Naya. Pria itu mendapati Naya sedang tidur siang bersama Lala di kamarnya. Berhubung dirinya sudah sholat dzuhur dan sudah makan siang juga di rumahnya tadi, akhirnya Gino memilih tidur juga menemani Naya. Mumpung lagi libur, saatnya menikmati masa santai dengan nyaman.
Perlahan Gino mulai melingkarkan tangannya di pinggang Naya. Pergerakan kecilnya itu ternyata membangunkan Naya dari tidurnya. Wanita itu membalik badan menghadap kepada Gino, tetapi oleh pria itu langsung disambut dengan kecupan pada bibir Naya.
Mereka menghentikan ciuman itu saat sama-sama merasakan butuh ambil nafas. Naya hanya tersenyum tipis sambil menatap heran kepada Gino yang tiba-tiba datang dan menyerangnya dengan nakal.
"Kangen, Dek," ucap Gino sambil melummat pada bibir Naya lagi.
"Mmmphh...."
Gino yang di begitukan hanya nyengir. Jujur, perasaannya saat ini sedang bahagia sekali setelah teringat tentang perkataan Nani tidak mempermasalahkan Naya datang ke rumahnya. Ingin sekali Gino mengatakan hal itu kepada Naya saat ini juga, tapi mungkin nanti saja lah. Karena saat ini ada sesuatu yang lebih ingin Gino lakukan, yaitu mimi susu. Haaiiiss...
Tanpa canggung lagi, Gino menelusup kan tangannya masuk ke dalam baju Naya. Menjalar ke arah dua buah bukit kembar itu. Begitu menyentuhnya, tangan itu mulai memijat lembut di sana.
"Mas..."
Naya mendessah tertahan. Seandainya tidak ada Lala yang tidur bersama mereka sekarang, sudah pasti Naya akan menyambutnya dengan suka rela.
"Dek, aku mau mimi," kata Gino sambil menarik baju kaos Naya hingga terlihat perutnya.
"Mas, ada Lala lagi bobok," Naya terlihat tidak nyaman. Bisa kacau kalau tiba-tiba Lala terbangun dan melihat mereka sedang ninuninu.
__ADS_1
"Cuma mimi, nggak lebih kok."
Pria itu sudah berhasil melepas pengait beha yang dipakai Naya. Begitu dua bukit itu terpampang didepan mata, Gino langsung cosplay menjadi anak bayi yang lagi kelon dengan ibunya. Dengan satu tangannya memilin pada ****** bukit satunya.
Mendapati perlakuan seduktif seperti itu tentu Naya tidak bisa menolaknya. Wanita itu hanya bisa mendessah tertahan dengan menggigit kecil bibir bawahnya.
Hisapan pria itu menarik kuat pada putin9nya, membuat tangan Naya tak terasa semakin menekan kepala Gino untuk semakin tenggelam pada buah dadanya. Ah, rasanya nikmat sekali!
Satu kaki Gino naik ke paha Naya. Pria itu memeluknya seperti guling saja. Dan lama-kelamaan hisapan pria itu perlahan melambat, setelah dilirik ternyata pria itu tertidur. Astagaaaa.... Kenapa jadi mirip bayi sungguhan coba?
Naya berhasil dibuat terkekeh sendiri melihat tingkah suaminya yang sangat konyol. Ternyata untuk menidurkan nya cukup dengan memberinya mimi susu. Perlahan tangan Naya menurunkan kaosnya yang semula terangkat. Kemudian memberikan kecupan kecilnya di kening Gino, setelahnya memilih beranjak dari tempat tidurnya untuk kemudian keluar dari kamarnya.
Naya langsung bergegas pergi ke dapur. Di sana ada Rahma yang sedang sibuk memasak untuk bisa dibawa Naya saat nanti pulang ke rumah Gino. Wanita paruh baya itu sudah ikhlas meski Lala akan dibawa oleh Naya dan Gino, setelah tadi Abdul memberinya pengertian.
"Ibu, kok banyak sekali buatnya?" heran Naya setelah melihat Rahma membuat sambel goreng kesukaan Naya.
"Sisanya bisa kamu simpan di kulkas, Nay. Oh ya, itu ibu juga bawakan kamu sayur sama tahu tempe," kata Rahma sambil menunjuk ke dalam bungkusan kresek besar.
Naya hanya bisa melongo melihatnya. Meski begitu ia jadi terenyuh mendapati ibunya yang sudah mempersiapkan semuanya. Naya akhirnya pergi melihat isi dalam kresek tersebut, yang rupanya ada beberapa jenis sayur hijau kesukaan Naya.
"Ibu khawatir rumah kamu di sana jauh sama pasar atau toko. Kalau di sini pasar kan dekat, Nay, bisa langsung belanja kalau ada kurang apa-apa. Jadi ibu belikan itu biar kamu sudah ada stok dan tinggal masak aja," kata Rahma menjelaskan.
Naya beranjak mendekati Rahma, lalu memeluk ibunya dari belakang.
"Terimakasih, Bu," seru Naya terharu sekali.
Rahma menanggapinya hanya dengan tersenyum tipis.
"Jadi istri yang patuh sama suami ya, Nak. Istri sholihah. Jaga kelakuan supaya tidak jadi fitnah di mata orang. Ibu percaya sama Gino, dia bisa menjadi imam yang baik untuk kamu. Jadi kuncinya sekarang ada di kamu. Kamu mau selamat dunia akhirat apa tidak?" pesan Rahma kepada Naya.
"Kamu sudah dewasa dan juga sudah pernah gagal dalam berumah tangga, tentunya kamu sudah bisa mengambil hikmah dari kejadian yang dulu. Tetap jadi istri yang patuh apa kata suami. Surga kamu itu sudah ada pada suami kamu," lanjut Rahma. Sedang sudut matanya sudah mulai mengembun terharu.
__ADS_1
Naya mengangguk paham. Keduanya kemudian saling berpelukan dengan erat. Mereka sama-sama menangis. Tangisan yang berarti bahagia bercampur rasa haru.
*