
Hari-hari yang dilalui Naya setelah hamil membuat kegiatan sekolah Lala sedikit terbengkalai. Itu karena kesehatan Naya yang tidak bisa ditebak, terkadang pusing di pagi hari terkadang tidak sama sekali. Beruntungnya hanya sekolah playgroup, jadi tidak begitu dipusingkan oleh Naya meski Lala sering absen sekolah.
Hal itu sebenarnya Gino sudah tahu. Pria itu pun tidak banyak protes meski sekolah Lala tidak normal setelah Naya hamil. Nanti ketika hormon hamil Naya sudah membaik, Lala pasti akan sekolah lagi seperti biasanya.
"Jadi kapan mau periksa ke dokter, Dek?" tanya Gino setelah kehamilan Naya sudah masuk bulan ke dua.
"Nggak usah banyak alasan lagi. Aku tahu kamu bohong waktu bilang pamali dulu," sela Gino saat mulut Naya terbuka mau ngomong.
"Jumat sore," sahut Naya sudah pasrah. Dan lagi memeriksakan kandungan itu sangat penting untuk mengetahui sehat tidaknya janin mereka.
"Oke!" sambut Gino dengan riang.
Hari jumat pun tiba. Naya meminta Gino berangkat ke dokter dari rumah Rahma. Pria itu pun setuju dengan kemauan Naya. Dan nanti sepulang dari kantor mereka akan pergi periksa ke dokter spesialis obgyn.
"Lala nggak usah dibawa, Nay," ucap Rahma disaat Naya sudah bersiap karena sebentar lagi Gino akan datang menjemput.
"Ibu khawatir di sana Lala rewel. Biar Lala sama ibu saja," jelas Rahma.
Karena setahu Rahma antrian untuk ke dokter obgyn yang mau didatangi Naya itu lumayan lama, karena dokter itu cukup populer di kota ini.
"Tapi rencananya habis periksa aku mau langsung pulang, Buk. Kalau Lala nggak ikut, apa aku harus ke sini lagi jemput Lala?"
"Sekali-kali biar Lala nginep di sini. Lala mau kan tidur sama nenek?"
Lala langsung mengangguk setuju. Bocah itu sudah terbiasa tidak tidur bersama Naya, jadinya akan mudah baginya untuk berpisah tidur dengan ibunya di sini.
Terdengar suara mesin mobil di halaman depan, itu pasti Gino yang datang. Buru-buru Lala berlari ke depan untuk menyambut Gino.
"Papa!" pekik Lala dengan senang.
"Wah, anak papa sudah siap berangkat ya?" kata Gino menyapa Lala, yang kemudian mencium pipi chubby Lala.
"Lala nggak dibolehin ikut sama ibu, Mas," ucap Naya.
"Kenapa?"
Lalu Naya menjelaskan alasan Rahma tidak memperbolehkan Lala ikut.
"Kamu gimana, Dek, kalau kamu keberatan kita tetap bawa Lala," sahut Gino setelah selesai mendengarkan ucapan Naya.
"Yaya mau di sini sama nenek." Tiba-tiba Lala ikut bersuara.
"Janji jangan rewel sama nenek kalau nggak ada mama di sini," ucap Naya kepada Lala.
__ADS_1
Bocah itu mengangguk patuh.
"Kalau gitu ayo kita cepat berangkat, Dek, biar nggak tambah malem nanti," kata Gino kemudian.
Setelah itu mereka berdua pamit kepada Rahma dan Abdul. Lala melambaikan tangan kepada Naya dan Gino setelah mobil mereka berlalu dari rumah itu.
Lima belas menit kemudian mereka telah tiba di klinik tempat dokter obgyn itu praktek. Naya dan Gino duduk di tempat antrian. Beruntungnya nomor antrian Naya tidak terlalu lama, hanya menunggu lima pasien lagi baru giliran mereka.
Gino nampak lebih gugup saat ini. Berbeda dengan Naya yang terlihat biasa saja. Mungkin karena ini adalah pengalaman pertama untuk Gino, tidak dengan Naya yang sudah pernah hamil jadi bawaannya bisa santai.
Tak lama kemudian giliran Naya untuk diperiksa. Mereka berdua sama-sama masuk ke dalam ruangan dokter itu. Sebelum itu Naya diperiksa tensi dan BB oleh perawat yang menemani dokter itu praktek. Setelah dinyatakan normal, barulah mereka menemui dokter tersebut.
Setelah bercakap sebentar dengan dokter itu, barulah Naya dituntun untuk berbaring di tempat pemeriksaan. Cairan gel dingin sudah teroles di perut Naya. Alat untuk cek USG itu sudah berjalan untuk mengetahui bagaimana kondisi junior Gino di sana.
"Alhamdulillah janinnya sehat. Ini sudah kelihatan kantongnya ya?" seru dokter itu. Menunjukkan jika kondisi janin mereka baik-baik saja.
Untuk masalah jenis kelamin tentu masih belum terlihat. Lantaran kehamilan Naya masih terlalu kecil untuk mendeteksi itu.
Gino nampak tersenyum bahagia mendengar semua itu. Setelah Naya mendapatkan resep vitamin dari dokter itu, barulah mereka keluar dari ruangannya dan kemudian beranjak untuk antri menebus obat dari apotik yang ada di sebelah klinik itu.
Setelah semuanya selesai, mereka berdua segera masuk ke mobil bersiap untuk pulang. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam. Berhubung mereka masih belum makan malam, maka mereka memutuskan untuk makan malam di warung lesehan terlebih dahulu.
Selama Naya hamil, Gino ikut-ikutan tidak makan ikan lagi, karena takut membuat Naya mual lagi karena aromanya. Saat ini mereka makan hanya dengan menu ala kadarnya, yaitu menu T4 (Telur, tempe, tahu, terong). Meski sangat sederhana namun mereka bisa menikmatinya dengan lahap. Apalagi sudah tidak ada drama mual-mual lagi untuk Naya malam ini.
"Besok sore gimana, Mas?"
"Boleh," setuju Gino.
Walau setelah ini rumah akan sepi karena tidak akan mendengar gelak tawa Lala, tetapi memang seharusnya Lala diberikan kesempatan untuk bisa quality time bersama kakek neneknya.
Setelah kenyang, mereka lanjut memilih pulang.
Mereka sudah tiba di rumah. Sebelum memutuskan tidur, mereka menunaikan kewajiban empat rakaatnya terlebih dahulu dengan berjamaah. Setelah itu, barulah mereka masuk kamar dan kemudian sama-sama berbaring di kasur dengan nyaman.
Sedangkan Gino sedari tadi matanya tetap berbinar memandangi foto USG bayinya. Walau masih berupa lingkaran dan tak berbentuk, tetapi Gino sangat bahagia sekali.
"Kira-kira anak kita cewek apa cowok ya, Mas?" tanya Naya sambil memeluk hangat pada tubuh Gino.
"Aku terserah aja, Dek. Yang penting buatku kamu dan anak kita sehat dan selamat," jawab Gino dengan wajah sumringah sekali.
"Tapi aku pinginnya punya anak cowok, Mas. Biar lengkap aja, sudah ada Lala, dan adiknya Lala cowok," seru Naya yang memang sangat mengidamkan ingin baby boy.
Gino hanya tersenyum manis menanggapi ucapan Naya. Karena Gino tidak pernah ada keinginan anaknya harus cowok atau cewek. Pria itu lebih memasrahkan pada kehendak Tuhan. Mereka akan diberikan amanah berupa anak cewek atau cowok, Gino akan dengan ikhlas menerima itu.
__ADS_1
"Dek, aku-- belum memberitahu ini sama ibu," ucap Gino seketika.
Naya tercengang mendengarnya. Apakah Gino tidak memberitahu Nani karena permintaannya? Ah, rasanya egois sekali kalau Naya tetap melarang Gino untuk memberitahu ibundanya.
"Kasih tahu saja kalau kamu ingin kasih tahu ibu," sahut Naya kemudian.
Sudah pasrah. Mau tambah dibenci oleh ibu mertuanya, Naya tidak masalah. Yang terpenting jangan pernah mengusik kebahagiaan bayinya nanti.
Gino nampak berpikir. Entah apa yang dipikirkannya. Kerutan di keningnya membuktikan jika pria itu sedang serius dengan pikirannya.
"Kalau ayah sudah tahu belum, Mas?" tanya Naya penasaran.
"Sudah," jawab Gino sejujurnya.
Itu pun karena Gino tak sengaja keceplosan bicara kepada Suryo, makanya Suryo tahu kabar Naya mengandung cucunya. Sebenarnya tidak baik menyembunyikan kabar bahagia seperti ini dari orang tuanya. Akan tetapi perasaan Gino juga ikut ragu sama seperti Naya, untuk memberitahu ini kepada Nani.
"Mungkin ibu sudah tahu dari ayah, Mas," ucap Naya meyakini jika Suryo akan menyampaikan berita itu kepada Nani juga.
Gino hanya menghela nafas beratnya, tanpa mau merespon ucapan Naya lagi.
Melihat Gino diam, Naya tidak mau bicara banyak-banyak lagi. Wanita itu pun semakin merapatkan pelukannya, sehingga dua buah squishy yang bertambah montok itu menempel di dada Gino. Mengusik naluri lelaki Gino yang sudah lama merindu untuk bercinta.
Kemudian Gino memiringkan tubuhnya untuk saling berhadapan dengan Naya.
"Dek," sapanya dengan suaranya yang tiba-tiba berubah berat.
"Apa?" Naya sudah curiga duluan dengan khas suara itu.
"Kangen," kata Gino sudah mulai merusuh di area dada Naya.
"Tiap hari ketemu bilang kangen, modus amat, Pak!" balas Naya dengan gaya candaannya kepada Gino.
"Ya udah, kalau nggak mau di modusin langsung aja main tancap."
"Ah, mana asyik, Pak, kalau mainnya langsungan."
"Trus gimana? Aku sudah gemes nih, Dek."
"Pelan-pelan ya, Mas," pinta Naya, sudah mulai membuka kancing bajunya satu-satu.
"Siap sayangku, aku pasti pelan kok."
Dan mereka pun mulai mengarungi lembah kenikmatan yang sejatinya sudah lama mereka absen setelah kondisi Naya yang tidak memungkinkan kemarin.
__ADS_1
*