
Tak terasa kini tiba saatnya Naya kontrol lagi dengan dokter kandungan. Setelah membuat janji terlebih dahulu agar tidak terlalu lama menunggu, mereka bisa berangkat dari rumah tanpa tergesa-gesa akan mendapat nomor antrian belakang.
Seperti biasa, setiap Naya akan kontrol ke dokter, sebelum itu ia sudah menitipkan Lala di rumah neneknya. Supaya saat pemeriksaan nanti, Lala tidak banyak maunya. Entah mengapa semakin besar kandungan Naya, sikap Lala semakin manja terhadapnya. Bocah itu sering rewel tanpa sebab pastinya. Tetapi dari itu semua intinya Lala cari-cari perhatian kepada Naya.
Mungkin karena sudah merasa sebentar lagi dirinya akan memiliki adik. Bocah itu sudah mulai cemburu takut kurang diperhatikan meski adiknya masih belum lahir. Padahal selama ini Naya dan Gino tak pernah kurang memberikan kasih sayang juga perhatian yang penuh kepada Lala. Tapi yang namanya bocil memang kebanyakan seperti itu.
Saat ini giliran Naya yang masuk ke ruang dokter. Sedari tadi Naya memang sangat gugup. Apalagi yang ia pikirkan jika bukan tentang kondisi bayinya yang ia harapkan akan kembali normal setelah ini. Sedangkan Gino terlihat lebih tenang daripada pertama kali tahu tentang posisi bayinya. Karena pria itu sudah nekat jika memang harus operasi caesar nantinya. Kalau orang sudah tidak kuat menahan sakitnya melahirkan, pasti akhirnya akan mau juga untuk dirujuk operasi caesar. Begitulah kata-kata yang sering Gino dengar dari beberapa temannya yang pernah memiliki istri melahirkan dengan caesar.
"Tensinya seratus delapan puluh," ucap seorang perawat yang memeriksa tensi Naya sebelum ditangani oleh dokter.
"Ini tensinya tinggi, Bu," tutur perawat itu lagi.
Naya hanya diam tanpa bisa menjawab apa-apa, karena ia juga tidak tahu kenapa bisa tekanan darahnya tinggi seperti itu. Selama ini tensi Naya tercatat baik, tidak pernah tinggi. Kalaupun sedang pusing atau kelelahan, yang ada tensi Naya turun. Baru kali inilah tensi Naya tinggi seperti itu.
"Trus gimana, Sus?" tanya Gino yang ikut panik mendapati tensi Naya yang seperti itu.
Perawat perempuan itu melihat buku kontrol Naya. Dari catatannya memang baru kali ini Naya tensinya tinggi.
"Ibu lagi tegang ya?" tanya perawat itu setelah selesai melihat buku kontrol Naya.
Naya tersenyum getir. Memang, Naya sangat tegang sekarang.
"Jangan tegang ya, Bu. Rileks saja," pesan perawat itu.
Naya tersenyum tipis. Dan Gino mengusapi punggung tangan Naya, mencoba untuk menyemangati Naya agar tidak panik berlebihan.
Lalu perawat itu menyerahkan buku kontrol Naya kepada dokter. Naya dan Gino sama-sama beranjak untuk pindah duduk di depan dokter itu.
"Jangan panik, Bu. Jangan terlalu dipikirkan. Kalau ibu terus-terusan panik seperti ini, dan tensi ibu selalu tinggi, mau bagaimana pun nanti lahirannya tetap caesar," ucap dokter itu menyapa kepada Naya yang wajahnya kentara sekali sedang panik.
"Mari, Bu, saya periksa," kata dokter itu lagi.
Kemudian Naya berbaring di brankar yang ada di ruangan itu. Lalu seorang perawat yang tadi datang lagi untuk membukakan baju Naya agar terlihat perutnya. Setelah cairan gel dingin itu terusap merata di perut Naya, barulah alat kontrol USG itu mulai berjalan.
__ADS_1
"Alhamdulillah berat badan bayinya ada kenaikan ya," jelas dokter itu.
Gino tersenyum senang mendengarnya. Tetapi tidak dengan Naya yang masih panik sendiri karena dokter itu belum menjelaskan bagaimana posisi bayinya sekarang.
"Denyut jantungnya juga baik. Alhamdulillah semuanya sudah baik ya," tutur dokter itu lagi.
"Bagaimana posisinya, Dok? Apakah masih sungsang?" tanya Naya sudah tidak sabar menunggu dokter itu memberitahu.
Dokter itu tersenyum tipis.
"Alhamdulillah sudah kembali ke posisi normal. Kepalanya sudah ada di bawah lagi," ujar dokter itu.
"Alhamdulillah," seru Gino sangat senang mendengarnya.
Naya tersenyum lega. Berulang kali ia menghembus nafasnya yang sedari tadi terasa menyumbat di dadanya.
"Tapi apakah ada kemungkinan bisa sungsang lagi, Dok?" tanya Naya takut-takut nanti bayinya berubah posisi lagi.
Naya menghentak nafasnya dengan kasar. Yap, semuanya memang lebih ikhlas jika di pasrahkan kepada Tuhan. Setelah mengetahui kondisi bayinya yang sudah kembali normal posisinya, itu sudah merupakan kabar yang sangat baik. Tetapi bila nanti Tuhan berkehendak lain, yang bisa dilakukan adalah pasrah saja.
Usai diperiksa, Naya dan Gino segera keluar dari ruang dokter itu. Mereka akan lanjut ke rumah Rahma untuk menjemput Lala di sana.
Setibanya di rumah Rahma, tentu Naya langsung ditanyakan oleh kedua orang tuanya mengenai hasil kontrolnya. Begitu tahu kalau bayi dalam kandungan Naya posisinya sudah normal, Rahma dan Abdul sama-sama mengucap syukur dengan perasaan haru.
"Semoga tidak berubah lagi ya, Nay," ucap Rahma sambil mengusapi perut buncit Naya.
"Aamiin. Tolong do'anya, Bu," sahut Naya.
"Iya, Nak, setiap waktu ibu selalu mendo'akan kamu, juga cucu ibu yang di sini." Rahma masih senantiasa mengusap pada perut Naya.
Bayi dalam kandungan Naya bergerak aktif saat diusap oleh Rahma.
"Apa bayi kamu laki-laki, Nay, kok geraknya gesit sekali kayak pas ibu hamil Riki dan Farhan?"
__ADS_1
"Tidak, Bu," sahut Naya yang tanpa sadar keceplosan memberi tahu ibunya tentang jenis kel4min bayi dalam kandungannya.
"Berarti ini perempuan?" tanya Rahma dengan senang.
Naya langsung menoleh kepada Gino yang kebetulan duduk berjarak dengannya karena lagi asyik ngobrol dengan Abdul. Gino yang memang tidak tahu kalau Naya keceplosan, hanya balik menatap heran.
"Ibu nggak kecewa kan kalau cucu ibu perempuan lagi?" tanya Naya dengan suaranya yang pelan.
"Tidak, Nay. Ibu justru senang sekali kalau cucu ibu perempuan lagi. Itu artinya nanti bakal banyak yang bantu-bantu ibu di dapur. Sebenarnya ibu punya anak perempuan satu itu kurang. Dan lagi sekarang ikut suaminya, tidak tinggal sama ibu lagi. Kanu tahu sendiri kan, kedua adikmu ya seperti itu sudah. Bisa bantunya kalau nyapu doang. Urusan cuci piring sama cuci baju masih ibu yang kerjakan. Kalau cucu-cucu ibu sudah besar semua nanti, dan ibu sudah tambah tua, ibu ingin mereka tinggal di sini sama ibu," seru Rahma.
Rahma memang mengangkat anak Fifi, tetapi sikap Fifi agak pemalas juga bila disuruh-suruh oleh Rahma. Dan lagi sekarang ini Fifi sudah lebih sering di rumahnya sendiri, tidak lagi tinggal bersama Naya. Yang paling mengagetkan adalah kabar orang tua Fifi yang ingin menarik Fifi untuk tinggal bersama mereka lagi. Meski Rahma sakit hati mendengar itu, karena sikap orang tua Fifi yang seperti tidak tahu terimakasih kepada nya yang sudah susah payah membiayai sekolah Fifi dari jaman SMP sampai dengan SMA, sekarang malah diambil lagi setelah sekolahnya lulus.
Fifi memang keponakan Rahma. Wanita itu tentunya sangat menyayangi Fifi seperti anak kandungnya sendiri. Meski sedang marah kepada Fifi, semata itu demi kedisiplinan Fifi sendiri. Dan lagi selama Fifi tinggal bersama Naya kemarin, Gino sering memberi Fifi uang jajan, sebagai upah karena sudah ikut sibuk mengantar jemput Lala sekolah. Bersyukurnya ada Abdul yang saat ini menggantikan peran Fifi untuk mengantar jemput sekolah Lala. Bapaknya Naya itu belakangan ini lebih sering menganggur. Nasib pekerja serabutan seperti Abdul memang seperti itu.
"Pak, cucu kita kata Naya perempuan lagi," tutur Rahma kepada Abdul.
"Ya alhamdulillah kalau begitu," seru Abdul tak kalah senang saat mendengarnya.
Memang sebelumnya Abdul menginginkan cucu laki-laki, tetapi bila memang cucunya perempuan lagi, semuanya tetap disyukuri oleh Abdul.
"Ayah ibu kamu sudah tahu itu, nak Gino?" tanya Abdul kepada Gino.
"Belum, Pak," sahut Gino.
"Waah... Padahal yang paling senang dengar ini pasti ayah kamu."
Gino tersenyum saja mendengarnya.
"Rencananya aku mau kasih kejutan buat bapak ibu, nggak tahunya malah keceplosan," ucap Lala sambil menyeringai.
Rahma dan Abdul hanya bisa tertawa mendengar ucapan Naya.
*
__ADS_1