Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 88


__ADS_3

Tak terasa pernikahan Gino dan Naya sudah berjalan enam bulan lamanya. Tetapi meski begitu belum ada tanda-tanda kehamilan kepada Naya, padahal Naya sendiri sudah tidak KB lagi. Meski begitu Gino tidak pernah menuntut ataupun bertanya apakah sudah telat haid, pria itu terlihat tetap enjoy seperti tidak ada beban apapun.


Dan Naya sendiri sebulan terakhir ini disibukkan dengan kegiatan antar jemput ke sekolah Lala, bocah itu oleh Naya sudah didaftarkan ke sekolah playgroup karena usianya yang sudah menginjak tiga tahun. Sekaligus untuk menghilangkan kejenuhan Naya yang hanya menjadi ibu rumah tangga semenjak menikah, maka atas ijin Gino juga akhirnya Lala di sekolahkan.


Malam hari, usai mereka makan malam bersama, seperti biasa mereka akan selalu kumpul di ruang tengah sambil mengobrol saling bertukar cerita.


"Dek, minggu siang kita ke rumah ibu," ucap Gino yang tumben-tumbenan mengajak Naya pergi ke rumah orang tuanya.


Yup, hingga pernikahan yang sudah berjalan setengah tahun ini, Naya memang tidak pernah dibawa ke rumah mertuanya, padahal Gino rutin tiap seminggu dua kali pasti mampir ke sana. Tetapi meski begitu Naya sama sekali tidak merasa tersinggung. Hal ini jauh lebih baik menurut Naya, daripada setiap bertemu harus menahan sesak tiap kali melihat reaksi dingin sang ibu mertua.


"Minggu ini ada acara di rumah, mas Agus mau nikah lagi," ucap Gino lagi yang seketika membuat Naya tercengang.


"Menikah lagi?" tanya Naya tak percaya.


Jika benar, itu berarti pernikahan yang ke tiga buat kakak iparnya. Waw!


Gino mengangguk mengiyakan. Walau terlihat jelas wajah kaget Naya, tetapi Gino tidak berminat untuk menjelaskan dengan siapa Agus akan menikah.


"Serius, Mas?" tanya Naya sekali lagi, masih tidak percaya saja dengan yang didengarnya.


"Iya, Dek," sahut Gino agak lesu.


"Kenapa kamu kayak nggak senang gitu mas Agus mau nikah lagi?" curiga Naya setelah melihat wajah Gino yang seperti itu.


"Aku khawatir saja sama Putra dan Roby. Aku takut perasaan mereka yang akan jadi korban lagi," tutur Gino dengan sendu.


Naya menghela nafasnya sembari meraih tangan Gino dan kemudian menggenggamnya.

__ADS_1


"Kita do'akan saja, Mas, semoga calon istri mas Agus yang ini bisa menerima Putra dan Roby seperti anaknya sendiri," sambung Naya.


Gino mengangguk kecil, dalam hatinya mengamini apa yang diucapkan oleh Naya. Karena itu juga yang ia harapkan pada calon istri Agus. Semoga karakternya tidak seperti Wulan. Itu harapan besar Gino.


"Mm... Aku kepo nih, kamu sudah tahu nggak sih, Mas, seperti apa calon istri mas Agus? Masih gadis apa sudah janda?"


"Penting masih gadis apa janda?" Gino melirik aneh kepada Naya.


"Ya aku kan penasaran, nggak usah ngelirik kayak gitu, nggak tahu ya bilang aja nggak tahu," sungut Naya tiba-tiba sensi.


Gino menyunggingkan senyum tipisnya sembari mencubit gemas pada pipi Naya.


"Kok jadi pundungan gini? Belakangan ini kamu sering sensi deh? Mau dapet? Udah tanggal berapa nih?" ucap Gino sambil terkekeh kecil, menduga istrinya sensi gegara hampir datang bulan.


Naya dibegitukan jadi semakin manyun. Wanita itu melepas tangan Gino yang sedang membelai pipinya, wajahnya masih bertekuk masam. Dan Gino memang mendapati Naya akhir-akhir ini suka baperan. Perasaannya sering sensi kalau tidak hati-hati dalam berbicara atau bertingkah. Tetapi meski begitu Gino memanglah tipe lelaki penyabar, jadi meskipun Naya suka berubah-ubah mood Gino tetap bisa menjadi penenangnya.


"Kamu nggak nanya sih, cari info sama ibu."


Gino hanya menghela nafasnya. Sebenarnya Naya tahu jika suaminya itu bukanlah tipe orang kepoan dengan urusan orang, meskipun itu tentang saudaranya sendiri. Jadi sudah bisa ditebak kalau Gino tidak mungkin menanyakan hal itu kepada Suryo ataupun Nani.


"Mas, jangan-jangan ibu juga nggak merestui mas Agus ya?" tanya Naya tiba-tiba.


Gino langsung memperdalam tatapannya kepada Naya. Dalam batinnya bersuara, darimana Naya bisa menebak seperti itu, yang jawabannya memang benar. Saat ini nasib Agus sama dengan Gino, yaitu terhalang restu dari Nani untuk menikah yang sekarang. Hanya info itu yang Gino dengar, itupun karena tak sengaja mendengar perdebatan Nani dan Agus beberapa saat yang lalu.


Agus nekat menerobos restu dari Nani karena berkaca kepada Gino. Melihat Gino yang tetap baik-baik saja meski ditentang oleh Nani saat ingin menikahi Naya, maka Agus pun juga melakukan itu sekarang.


***

__ADS_1


Hari minggu pun tiba. Naya dan Gino akhirnya berangkat ke rumah Nani dari rumah Rahma. Semalam mereka bermalam di rumah Rahma. Akan tetapi kedatangan Naya ke rumah mertuanya itu tanpa membawa Lala. Meskipun Gino tidak setuju karena Naya menitipkan Lala kepada Rahma dan tidak membawanya ke rumah Nani, akan tetapi mendengar ancaman Naya yang mengatakan tidak akan datang ke rumah mertuanya akhirnya Gino pasrah juga, walau sejujurnya hatinya merasa kasihan melihat Lala yang seakan sengaja disembunyikan dari keluarga Gino oleh Naya.


Sebenarnya maksud Naya tidak membawa Lala ke rumah mertuanya adalah biar Naya memiliki alasan untuk segera pulang dari sana. Katakanlah kasihan terlalu lama meninggalkan Lala. Dan lagi Naya masih takut Lala akan di intimidasi oleh Nani tanpa sepengetahuannya. Karena jika Naya membawa Lala ikut serta hari ini, tentunya Lala akan lebih lama bertemu dengan Nani di sana.


Sedangkan yang ada dipikirkan Gino saat ini adalah rasa gundah yang luar biasa. Melihat Naya yang keras kepala tidak mau membawa Lala ke rumah orang tuanya, perasaan Gino tiba-tiba kepikiran kalau Naya masih tidak sepenuhnya percaya dengannya yang bisa melindungi Lala. Mereka berdua sama-sama diam saat perjalanan menuju rumah Nani. Dengan pikiran yang sama-sama berkecamuk di benak mereka.


Setibanya di rumah Nani, sudah banyak keluarga besar Gino yang datang di sana. Katanya acara hari ini adalah lamaran sekaligus akad nikahnya Agus. Naya langsung disambut ramah oleh Suryo maupun keluarga Gino yang lainnya. Melihat Nani yang duduk terpisah di tempat yang lain, akhirnya Naya mendekatinya untuk bersalaman sebagaimana menantu yang bertemu dengan mertua. Sedangkan Gino malah asyik ngobrol dengan sepupunya, melepas Naya seorang diri mendekati Nani.


"Ibu," sapa Naya kepada Nani.


Tangan Naya terulur untuk bersalaman dengan Nani, bersyukurnya Nani selalu menerima uluran tangan Naya walau bicaranya masih sangat irit kepada Naya.


"Gino mana?" tanya Nani karena tak melihat Gino bersama Naya.


"Itu, Bu, lagi ngobrol sama Ilham," tunjuk Naya kepada arah Gino yang sedang tertawa bersama Ilham, entah apa yang mereka obrolkan, kelihatannya seru.


Nani tak bicara apa-apa lagi setelah melihat Gino. Naya yang mendapati sikap Nani berubah dingin lagi, lebih baik pergi gabung dengan saudara yang lain saja. Maka dari itu akhirnya Naya beranjak dari dekat Nani.


Diam-diam Nani memperhatikan Naya yang beranjak darinya. Mata Nani memicing melihat Naya dari belakang. Hingga sampai Naya pergi ke arah dapur, mata Nani terus saja mengawasi ke mana Naya berada. Melihat kondisi dapur yang kebetulan sepi, maka Nani mendekati Naya.


"Naya," sapa Nani cukup mengagetkan Naya yang saat itu sedang cuci piring.


"Eh, iya, Bu?" sahut Naya menoleh kepada Nani.


"Kamu hamil?" tanya Nani tiba-tiba.


"Hah?"

__ADS_1


*


__ADS_2