
Naya membaca pesan singkat yang dikirim oleh Abdul saat pagi hari. Hal itu tentu membuat perasaan Naya menjadi lega, karena ternyata Rahma tidak marah terlalu lama kepadanya. Gino yang juga tahu hal itu menjadi semakin mantap untuk menjemput Lala pulang nanti.
"Nanti bukanya mau dimasakin apa, Mas?" tanya Naya sesaat sebelum Gino berangkat bekerja.
"Terserah kamu. Apapun yang dimasak kamu aku pasti makan," sahut Gino yang memang tidak pernah rewel urusan makanan.
"Tapi kalau tidak memungkinkan untuk masak jangan memaksa memasak. Beli saja, nggak usah dibikin repot," lanjut Gino menyadari kalau istrinya pasti akan kewalahan kalau harus repot-repot masak dengan kondisi memiliki baby.
"Iya, aku lihat sikon nanti saja," sahut Naya.
Setelah itu Gino pamit berangkat ke kantor. Satu kecupan hangat darinya mendarat di pipi Naya dan juga Nana.
Waktu berjalan begitu cepat. Siang hari saat Gino sedang istirahat di kantornya, pria itu mendapati kabar jika Mila, sang kakak ipar, hari ini juga akan menjalani operasi caesar. Sebenarnya Mila sudah dibawa ke rumah sakit menjelang sahur tadi, cuma Agus baru sempat memberi kabar kepada Gino sesaat sebelum Mila masuk ruangan OK. Sekaligus meminta sambungan do'a dari Gino supaya lahiran Mila dilancarkan dan selamat. Alasan Mila harus caesar karena usia kandungannya yang sudah melebihi dari HPL. Ditambah lagi tensi darah Mila yang cukup tinggi yang akhirnya Agus menyetujui untuk Mila melahirkan secara caesar.
Kabar itu tentunya langsung Gino sampaikan kepada Naya, agar nanti Naya tidak perlu repot-repot masak untuk berbuka puasa karena Gino berencana akan mengajak Naya berbuka puasa diluar sekalian menjenguk Mila di rumah sakit.
"Aku nanti pulang dulu ke rumah, mau ganti baju dulu. Setelah itu kita jemput Lala, trus buka puasa di luar, setelah itu langsung ke rumah sakit menjenguk mbak Mila," ucap Gino saat bertelponan dengan Naya.
"Iya, Mas. Akhirnya mbak Mila lahiran juga ya, Mas," sahut Naya.
"Iya, alhamdulillah, Dek. Semoga mbak Mila dan bayinya lancar dan selamat."
"Aamiin. Kira-kira bayinya mbak Mila cewek apa cowok ya, Mas?"
"Katanya sih cowok," jawab Gino karena mendengar cerita dari Agus ketika USG bulan kemarin.
"Cowok lagi?"
Gino terkekeh.
"Aku bangga loh, Dek, karena kita punya Nana," kata Gino kemudian.
"Emang selama ini kamu nggak bangga?" Naya mendadak sensi mendengarnya.
"Bangga sekali dong. Tapi setelah tahu kalau anaknya mas Agus cowok lagi rasa banggaku menjadi beribu kali lipat. Karena apa? Nana satu-satunya cucu perempuan ibu ayah. Selama ini ibu dan ayah sangat menginginkan cucu perempuan, karena anak-anak mas Agus cowok semua. Aku yakin kelak anak kita akan menjadi ratu untuk ayah ibu," ucap Gino begitu semangat saat mengatakannya.
Sedangkan Naya yang mendengar itu perasaannya mendadak galau. Apa yang dikatakan Gino itu memang bisa jadi iya, tetapi kalau nanti hanya Nana yang diratukan, bagaimana dengan perasaan Lala? Walaupun sang ibu mertua sudah mengatakan jika ia menerima Lala juga, tetapi perasaan galau itu tidak bisa dibuang dari hati Naya.
"Dek," sapa Gino karena Naya hanya diam saja.
"Ee... Iya, Mas." Naya sedikit gelagapan.
"Kamu nggak pa-pa?" cemas Gino.
"Nggak pa-pa."
__ADS_1
"Ya sudah, kamu istirahat yang cukup. Kalau memang merasa tidak kuat puasanya boleh berhenti, nanti bisa diganti puasanya," pesan Gino yang sebenarnya selalu merasa khawatir karena Naya tetap kekeh menjalankan puasa disaat dirinya sedang masa menyusui.
"Hem, iya, Mas."
Setelah itu sambungan telepon berakhir. Naya tidak membuang-buang kesempatan untuk beristirahat selagi Nana tidak rewel. Dan bersyukurnya selama ini Nana memang tidak pernah rewel. Imun tubuh bayi itu terbilang kuat, karena hingga memasuki usia tiga bulan belum pernah Nana sakit, walau sesudah imunisasi sekalipun.
Sore pun tiba. Gino datang dari kantornya dan pria itu segera membersihkan diri untuk bersiap-siap berangkat ke rumah sakit. Sedangkan Naya sendiri sudah siap lebih dulu lima belas menit sebelum Gino datang.
Setelah semuanya selesai, kemudian mereka segera berangkat. Mobil mereka melaju menuju rumah orang tua Naya untuk menjemput Lala. Sesampainya di rumah orang tua Naya, mereka bisa segera membawa Lala tanpa banyak drama dari Rahma seperti sebelumnya. Akan tetapi ketika mereka sedang ada di perjalanan mencari restoran untuk berbuka puasa, tiba-tiba Nani menelpon Gino. Nani yang sudah tahu kalau Gino akan ke rumah sakit meminta kepada Gino untuk berbuka puasa di rumahnya. Karena waktu yang sudah mepet jika masih harus mencari restoran, akhirnya Gino menyetujui permintaan Nani. Tentunya sebelum itu sudah meminta pendapat Naya juga, apakah Naya mau atau tidak.
"Kita mau ke mana, Pa?" tanya Lala yang memang baru kali ini melewati jalan yang tak pernah ia datangi.
"Kita mau ke rumah mbah kung sama mbah uti," jawab Gino.
"Mbah kung Uyo?" pekik Lala dengan senang.
Gino mengangguk sambil tersenyum.
"Mbah uti itu siapa?" tanya Lala lagi karena penasaran dengan nama yang belum ia kenal.
"Mbah uti itu mbahnya Lala juga. Namanya mbah uti Nani," jelas Gino.
"Yaya tidak tahu, Pa. Yaya tidak kenal!" sahut Lala dengan polosnya.
"Iya, nanti Lala kenalan ya biar kenal sama mbah uti," lanjut Gino.
Sedangkan Naya yang sedari tadi hanya menjadi pendengar obrolan mereka sejujurnya sedikit merasa ketar-ketir. Entahlah! Mungkin karena ini adalah pertama kalinya mereka datang membawa Lala. Semoga saja nanti sang ibu mertua tidak kecewa setelah melihat polah tingkah Lala yang super ceriwis.
Tak lama kemudian akhirnya Gino dan keluarga sudah tiba di rumah orang tuanya. Kedatangan mereka langsung disambut oleh Suryo yang memang sudah menunggu mereka di teras rumah. Sedangkan Nani sendiri saat itu masih sibuk di ruang makan untuk menyiapkan hidangan berbuka puasa.
Suryo dan Nani berencana akan kembali datang ke rumah sakit setelah berbuka puasa.
"Assalamu'alaikum, mbah kung Uyo!" pekik Lala menyapa Suryo yang tersenyum kepadanya.
"Wa'alaikum salam, Lala," jawab Suryo sambil menyambut tangan Lala yang meminta bersalaman.
Mendengar ada suara pekikan anak kecil, Nani pun kemudian ikut keluar.
"Hei, siapa ini yang datang?" sapa Nani kepada Lala.
Lala tak langsung menjawabnya. Bocah itu dengan polosnya menatap wanita tua yang barusan menyapanya.
"Lala, dia mbah uti Nani," ucap Gino memperkenalkan Lala kepada Nani.
Nani tersenyum menatap Lala. Wanita tua itu kemudian berjongkok, menyamakan tinggi tubuhnya dengan Lala. Senyum kecil Lala ikut mengembang manakala Nani tersenyum tulus kepadanya.
__ADS_1
"Aku mbah uti Nani. Kamu Lala kan?" sapa Nani kepada Lala.
"Hem, aku Yaya," jawab Lala sambil menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan.
"Ayo masuk! Mbah uti punya sesuatu untuk Lala," kata Nani sambil mulai menggandeng tangan Lala.
"Hadiah?" tebak Lala dengan polosnya.
Nani tersenyum lagi.
"Iya, mbah uti punya hadiah untuk Lala," sahut Nani yang kemudian mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah.
Gino, Naya, dan Suryo, hanya mengekor dari belakang Nani dan Lala berjalan.
"Hadiah punya adek Nana ada juga, Mbah uti?" Lala mulai mengakrabkan diri dengan berani bertanya lebih kepada Nani.
"Ada juga dong."
Lalu Nani membawa Lala masuk ke kamarnya. Sebelum itu Nani juga meminta Naya untuk ikut masuk, karena memang ada sesuatu yang sudah ia persiapkan untuk Lala dan Nana.
Gino dan Suryo hanya bisa memandang dari luar kamar sambil duduk tenang di ruang makan. Kebetulan pintu kamar Nani memang sengaja dibuka.
Setelah Nana dibaringkan di kasur Nani, dan Lala turut duduk disebelahnya, barulah Nani mengeluarkan sesuatu dari dalam laci. Sebuah kotak beludru berwarna merah yang di dalamnya berisi dua gelang emas untuk anak kecil.
"Ini hadiah dari mbah uti," kata Nani sambil kemudian memakaikan gelang emas itu di tangan Lala.
Sorot mata Lala seketika berbinar. Apalagi setelah melihat ada karakter kartun Mickey mouse menjadi hiasan gelang itu, membuat Lala langsung menyukainya.
"Dan yang ini untuk adek Nana," lanjut Nani yang kemudian memakaikannya juga di tangan Nana.
Sejenak Naya melirik kepada Lala. Dari lirikan itu Lala langsung paham jika itu sebuah kode untuk menyuruh Lala mengucapkan terimakasih bila menerima sesuatu dari orang.
"Terimakasih, Mbah uti," ucap Lala sambil tersenyum lebar.
"Sama-sama," sahut Nani.
Tak lama setelah itu terdengar kumandang adzan maghrib, pertanda waktunya berbuka puasa. Kebetulan Nana sedang tidur nyenyak di kasur Nani, dan itu membuat Naya bisa segera menikmati menu berbuka puasa dengan bersama.
"Kamu jadi ke rumah sakit, Gi?" tanya Nani kepada Gino saat sela-sela menikmati makanan berbuka puasa.
"Iya, Bu."
"Kamu berangkat berdua saja sama ayahmu. Ibu mau di sini saja. Lagian kalau Naya ikut tidak mungkin juga bawa anak kalian ke sana. Biar mereka tetap di sini, Lala bisa main puas di sini. Kalau perlu kalian menginap lah malam ini," ucap Nani.
"Kalau menginap lain kali saja, Bu. Kita juga tidak bawa baju ganti kalau harus menginap," tolak Gino secara halus menggunakan alasan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ya sudah, nggak pa-pa lain kali saja. Setelah ini ayo kita segera ke rumah sakit, Gi." Suryo ikut bersuara. Dan Gino langsung mengangguk patuh.
*