
Gino pulang ke rumahnya dengan hati yang sudah tekad untuk membahas tentang pernikahannya kepada kedua orang tuanya. Setelah tadi mendapat wejangan dari Arif mengenai menikah di bawah restu, rupanya bagi seorang lelaki itu tidak begitu masalah, karena seorang lelaki itu tidak butuh wali jika ingin menikah. Hanya saja Arif memperingatkan kepada Gino, apapun perbuatan kita, baik atau buruk, semua itu pasti ada konsekuensinya yang harus dipertanggungjawabkan.
Sekitar hampir pukul sepuluh malam Gino tiba di rumahnya. Dan kebetulan sekali kedua orang tua Gino masih belum tidur. Mereka sedang mengobrol di ruang tamu, atau bisa jadi sengaja belum tidur karena memang menunggu Gino pulang.
"Dari mana, Gi, kok pulangnya sampai jam segini?" tanya Suryo.
Pria itu tidak tahu kalau sebenarnya tadi Gino pulang dari kerja langsung pulang ke rumah. Hanya saja karena kedatangannya disambut amarah Nani mengenai Naya, maka kemudian Gino memutuskan untuk pergi lagi, tidak ingin mendengarkan hinaan Nani kepada Naya, demi menghindari berubahnya perasaan Gino kepada Nani.
Saat Nani marah-marah tadi juga ada Wulan di sana. Gino tahu kalau ibunya itu sedang dikompori oleh Wulan, karena pernah ketika Wulan pulang ke rumahnya beberapa minggu kemarin, Nani biasa saja kepada Gino. Malah seperti tidak sedang terjadi apa-apa antara Nani dan Gino. Sayangnya Gino masih menghormati Agus meskipun betapa inginnya ia balik mengumpat Wulan. Tetapi terhadap wanita itu, sungguh Gino sudah tidak punya rasa respect lagi terhadapnya.
"Kamu pake nanya anakmu dari mana?! Kalau sudah sampai malam begini pasti dia habis ngapelin janda itu!" ucap Nani dengan ketus.
Gino diam saja. Salahnya juga saat pergi tadi ia lupa pamit kepada Nani. Namanya juga lagi menahan marah, jadilah Gino lupa untuk mengabari orang rumah lainnya.
Suryo menatap Gino dengan iba. Akan sampai kapan Nani terus-terusan menutup restunya kepada Gino.
"Mm... Ayah, ibu, aku-- ingin bicara sama kalian," ucap Gino kemudian. Sudah kebal hati dengan umpatan Nani kepadanya.
"Bicaralah!" sahut Suryo.
"Kalau mau bicara tentang janda itu, jangan bicara sama aku! Kalian bicara saja berdua!" balas Nani.
Suryo hanya bisa menghentak nafasnya dengan kasar. Untuk meladeni ataupun menasehati istrinya agar mengurangi egonya itu rasanya sudah kewalahan. Maka biar saja Nani tetap seperti itu. Suatu saat kalau sudah lelah pasti akan menyerah sendiri menurut Suryo.
"Duduklah, Gi," titah Suryo menyuruh Gino duduk bersama mereka.
Nani tetap diam di tempat. Sebenarnya meski mengatakan kalau tidak sudi membahas tentang Naya, hati kecilnya sebenarnya kepo.
"Ada apa? Kamu mau bicara apa sama kita?" tanya Suryo dengan lembut.
"Aku-- akan menikah, Ayah, Ibu," ucap Gino sudah mantap.
Suryo tersenyum senang mendengarnya. Berbeda dengan ekspresi Nani yang langsung melengoskan wajahnya merasa jengah.
__ADS_1
"Kapan? Sudah punya tanggalnya emang?" tanya Suryo antusias sekali.
Gino menggeleng.
"Loh! Kamu yang mau nikah kok belum pasang tanggal?"
"Aku pasrah sama ayah soal tanggalnya. Karena ini menyangkut dengan keluarga yang mau kita undang juga," jawab Gino.
"Nggak usah pake undang-undang keluarga! Kamu kalau mau nikah, nikah aja! Nggak perlu mendatangkan keluarga ke sini." Nani ikut menyela obrolan itu.
"Loh, nggak bisa gitu dong, Nani. Ini pesta pernikahan anak kita, seumur hidup sekali loh? Masa iya nggak mau ngundang keluarga?" protes Suryo, merasa kasihan kalau akhirnya Gino menikah menuruti kemauan Nani.
"Kalau tidak mau ya sudah! Nggak usah menikah! Batal saja kalau perlu! Aku tidak sudi di rumah ini ada pesta, sedang hatiku sakit melihatnya!"
"Astaghfirullah... Istighfar, Nani!" kesal Suryo, beruntung masih bisa menahan emosinya.
Gino menghembus nafas beratnya. Dari ini ia menganggap kalau Nani sudah mengijinkannya untuk menikah. Maka ia pun semakin mantap untuk melanjutkan rencananya itu.
"Baiklah kalau itu kemauan ibu. Aku mohon restunya, Bu. InsyaAllah pertengahan bulan depan aku akan menikahi Naya," ucap Gino dengan tulus.
Nani diam saja. Tatapannya tetap saja nanar. Suryo berdiri dari tempatnya. Kemudian menepuk-nepuk pundak Gino, sebelum kemudian beranjak dari tempat itu.
Kali ini tinggal Gino berdua dengan ibunya. Pria itu perlahan mendekat kepada Nani dan duduk bersimpuh di depannya.
"Ibu, setulus hati aku meminta restu ibu," ucap Gino sambil menggenggam kedua tangan Nani.
"Apa restu dari ibu itu masih penting? Dari awal ibu sudah tidak setuju tapi kamu tetap keras kepala. Jadi buat apa kamu butuh restuku?"
"Apa kurangnya Naya, Buk? Apakah cuma karena janda dan karena aku masih bujang? Ibu takut omongan orang akan heboh karena ini? Sampai ibu tidak mau memikirkan perasaanku seperti apa. Aku mencintai Naya, Buk. Sebagaimana aku menyayangi ibu. Kalau memang Naya adalah perempuan j4l4ng seperti kata ibu, mungkin aku sudah berubah kasar atau melawan sama ibu. Tapi Naya beda, Buk. Dia yang selalu memperingati aku untuk selalu menghormati ibu."
Gino tertunduk sejenak, sedangkan Nani hanya diam. Akui, Nani memang tidak melihat Gino berubah meski telah memiliki hubungan dengan Naya. Gino tetap menjadi anak kebanggaan yang selalu memiliki rasa empati besar terhadap keluarganya. Kepada kedua anak Agus, Gino tetap sayang. Kepada Nani pun Gino tetap perhatian seperti sebelum mengenal Naya.
"Kamu mau menikah kan?" ucap Nani dengan bertanya memastikan.
__ADS_1
Gino mengangguk.
"Menikahlah! Tapi maaf, kalau ibu tidak bisa hadir di pernikahan kamu," ucap Nani dengan kedua matanya yang mengembun.
Gino yang melihat ibunya akan menangis, pria itu baper duluan. Air mata Gino luruh dalam pangkuan Nani. Jujur, Gino tidak ingin akan ada cerita seperti ini dalam kehidupannya. Tetapi jika harus memilih antara Nani dan Naya, tetap Gino akan memilih keduanya. Dua wanita hebat yang bertahta dalam kerajaan hatinya.
"Masuklah ke kamarmu, Gi. Mungkin tak lama lagi kamu sudah tidak akan tidur di kamarmu lagi," seru Nani.
Air mata wanita itu sudah mulai menetes, membayangkan Gino akan pindah rumah setelah menikah nanti.
"Ibu jangan bicara seperti itu. Aku tetap akan datang ke sini, Bu, kapan pun itu! Aku tidak akan meninggalkan ibu. Aku sayang ibu," ucap Gino dalam tangisannya yang semakin jadi.
"Ibu juga sayang kamu, Gi, melebihi nyawa ibu sendiri. Tapi kenapa kamu tidak mau mendengar omongan ibu? Dia perempuan yang pernah gagal dalam berumah tangga, apa kamu tidak curiga kalau dia bercerai karena ulahnya sendiri? Kamu hanya mendengar cerita dari dia, sudah pasti dia nutup-nutupi kejelekannya sendiri. Apa kamu tidak pernah bertanya kepada orang lain bagaimana dia bisa bercerai?"
"Termasuk bertanya kepada mbak Wulan maksud ibu?"
Sengaja Gino melibatkan nama Wulan dalam perdebatannya saat ini. Rasanya sudah kesal sampai ke ubun-ubun jika teringat bagaimana Wulan menghasut Nani tentang Naya.
"Apa ibu yakin apa yang dikatakan mbak Wulan tentang Naya itu benar?"
"Bahkan selama ini ibu tahu kalau mbak Wulan lebih menyukaiku daripada dengan mas Agus. Apa ibu lupa itu?"
"Apa ibu tidak curiga kalau mbak Wulan sengaja ingin menghancurkan anak-anak ibu, aku dan mas Agus?"
"Wulan perempuan toxic, Bu! Dulu aku pernah akan dilecehkan dia, tapi aku tidak cerita sama ibu. Apakah menantu seperti Wulan yang ibu mau?"
Puas rasanya Gino mengeluarkan seluruh uneg-unegnya. Termasuk tentang rahasia kalau dulu Wulan pernah akan menciumnya, tetapi beruntung Gino bisa langsung menghindarinya.
Saat itu diam-diam Wulan masuk ke kamar Gino. Entah apa tujuannya. Gino yang berpura-pura tidur kala itu tetap berusaha berpikir positif, tetapi ternyata wanita itu memang sangat nekat. Tanpa malu ia berusaha mencuri ciuman Gino yang ia pikir Gino sudah tidur. Tetapi tepat saat wajah itu mendekat ke wajah Gino, pria itu langsung mendorong bahunya sehingga Wulan langsung terjatuh ke lantai.
Tanpa mereka sadari, percakapan mereka sedari tadi telah didengar oleh Agus. Pria itu seketika mengepalkan kedua tangannya dengan keras. Sakit hati dan tersulut amarah, setelah mendengar sendiri apa yang menjadi kecurigaannya itu ternyata benar.
*
__ADS_1