
"Ee-- Aku pulang ke rumah. Bukan ke rumah ayah ibu, tapi ke rumahku sendiri," jujur Gino kepada Naya.
Buat apa berbohong dengan alasan lain, karena suatu saat Gino akan membawa Naya tinggal di rumah barunya. Dan Gino rasa Naya harus tahu tentang ini, sebelum akhirnya mereka menikah nanti.
"Rumah kamu?"
Gino mengangguk.
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah lagi. Mereka duduk di ruang tamu, sedangkan di mejanya sudah ada kopi susu yang barusan dibuatkan oleh Rahma untuk Gino.
"Kamu punya rumah sendiri, Mas?" tanya Naya memastikan lagi.
"Ee-- Aku minum kopinya dulu ya," kata Gino mengalihkan pembicaraan.
"Ah, iya, silahkan!" Naya mempersilahkan nya.
Gino meminumnya dengan perlahan. Sedangkan otaknya mulai berpikir bagaimana caranya ia berbicara dengan bahasa yang tepat agar nanti Naya mau diajak tinggal bersamanya, tidak lagi tinggal di sini bersama orang tuanya.
Lalu kemudian Gino meletakkan kopinya. Sejenak menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembus nya perlahan.
"Aku sudah punya rumah sendiri, Dek. Masih semingguan ini yang beli," kata Gino memulai bercerita.
Naya terdiam saja dan terus mendengarkan.
"Mm... Aku ingin ketika berumah tangga nanti hidup mandiri. Hidup bahagia bersama keluarga kecilku. Dan kebahagiaan aku itu hidup bersama kamu dan Lala."
Naya semakin menatap lekat kepada Gino. Ia langsung paham arah pembicaraan Gino yang tentunya akan membawanya dan Lala ke rumahnya bila sudah menikah nanti.
"Dek, apa kamu tidak keberatan kalau kita nanti hidup mandiri?" tanya Gino cukup gugup takut nanti Naya menolak dan akan menjadi alasan untuk mempertimbangkan Gino lagi.
Naya terdiam berpikir. Sejujurnya ia memiliki impian untuk bisa hidup mandiri, memiliki rumah sendiri, bersama suaminya dari sejak gadis dulu. Apalah daya saat menikah dengan yang pertama keberuntungan sedang tidak memihak kepada Naya. Sudah hidup kumpul bersama keluarga, membuat mantan suami Naya merasa hidup enak dan ngelunjak. Sehingga ia abai dengan nafkah wajibnya, yaitu uang belanja. Seakan hidup keluarga Abdul bertambah beban sejak Naya menikah, karena mantan suami Naya itu orangnya pelit dan tentu tidak mau mengeluarkan uang banyak walau untuk dimakan istri dan anaknya sendiri.
Melihat Naya yang hanya diam, perasaan Gino mendadak was-was. Berbagai macam pikiran buruk mulai meracuni otaknya.
"Bagaimana, Dek?" tanya Gino dengan pelan.
Naya mengangkat wajahnya menatap Gino. Kemudian senyum kecilnya terbit, Naya tersenyum manis.
"Aku mau," jawabnya singkat tetapi sangat membuat perasaan Gino senang mendengarnya.
"Alhamdulillah... Aku senang sekali, Dek," ucap Gino penuh syukur.
"Terimakasih, Dek. Terimakasih kamu mau hidup bersamaku," ucap Gino sambil meraih tangan Naya untuk digenggam.
Naya hanya tersenyum lagi melihatnya. Dalam hati wanita itu berharap semoga pria didepannya itu adalah benar-benar jodoh terbaik yang Tuhan kirimkan untuknya. Juga semoga menjadi pria yang terbaik yang mau menerima Lala juga.
__ADS_1
"Mas, bukannya tadi kamu disuruh pulang?" kata Naya kemudian.
"Ah, iya." Tetapi Gino malah meminum kopinya lagi.
Pria itu kemudian berdiri dari tempatnya. Melongo ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Rahma dan Abdul.
"Bapak ibu mana, Dek? Aku mau pamit pulang sama mereka."
"Ada di belakang, Mas."
"Boleh aku ke dalam?"
Naya mengangguk memperbolehkan. Kemudian Gino berjalan menuju arah dapur, yang ternyata kedua calon mertuanya itu sedang duduk santai di sana. Di dapur itu juga ada dua orang ibu-ibu yang sedang meracik bumbu. Dan Gino paham mereka ada di sana mungkin untuk menyiapkan bumbu masakan untuk keperluan besok.
"Pak, Buk, aku pamit mau pulang," kata Gino menyapa Abdul dan Rahma.
"Oh iya, Nak."
Bergantian Gino bersalaman kepada Abdul dan Rahma. Tak lupa pria itu mencium pipi Lala yang saat itu kebetulan sedang di pangku Rahma.
"Dia calon mantumu, Ma?" tanya seorang ibu yang ada di dapur itu kepada Rahma.
"Iya, dia orangnya."
Si ibu itu dengan santainya memuji ketampanan Gino walau didepan orangnya.
"Naya sama dia nggak pacaran, Lis. Mereka dikenalkan sama ustadz Arif," ucap Rahma terpaksa berbicara seperti itu demi menghindari kesalahpahaman tentang Naya yang notabene seorang janda.
"Oooh...." Si ibu itu kemudian ber-oh panjang.
Setelah berpamitan, Gino segera keluar dari rumah itu. Naya ikut menemani Gino ke depan.
Dan rupanya kelompok geng mpok Tun masih betah ghibah dari sejak Gino datang tadi.
"Dek, nanti kalau kita tinggal di rumah baruku, aku jamin tidak akan ada orang nyinyir seperti dia," ucap Gino dengan suaranya pelan.
Naya hanya tertawa kecil. Mungkin benar akan terhindar dari mpok Tun, tetapi yang namanya hidup, di mana pun pasti akan dipertemukan dengan orang macam mpok Tun, walau akan berbeda versi dan wujud.
"Sampai bertemu besok ya, Dek," ucap Gino sebelum kemudian menyalakan mesin mobilnya.
"Iya, Mas. Kamu hati-hati di jalan ya..."
Setelah itu mobil Gino melaju keluar dari halaman rumah Naya. Sengaja Gino mengklakson saat melewati mpok Tun untuk mengganti kata permisi darinya. Dan mpok Tun sendiri membalas dengan anggukan kepala kepada Gino, tetapi kemudian kembali lanjut ghibah bersama ibu-ibu se-frekuensinya.
***
__ADS_1
Sedangkan keadaan di rumah Gino cukup ramai. Hal itu karena Vita dan suaminya sedang datang bermain ke sana.
"Ibu, besok enaknya aku bawa apa ya?" tanya Vita meminta pendapat Nani soal acara lamaran Gino besok.
"Terserah kamu! Jangan tanya ibu lagi. Aku ini lagi sumpek!" jawab Nani masih ketus saja.
Vita mencebikkan bibirnya merasa kena imbas karena permasalahan Gino. Kemudian wanita itu berpindah duduk bersama Wulan yang sedang duduk berpisah dari mereka.
"Mbak Wulan besok bawa apa?" Vita bertanya hal yang sama kepada Wulan.
"Aku mau bawa rempeyek cicak!" sahut Wulan penuh kebencian.
"Iiih... Seriusan, Mbak?"
"Pinginnya, tapi apa nggak masalah gitu? Ah, rasanya males sekali ikut acara besok. Kalau bukan karena ayah yang maksa aku ikut, sumpah aku nggak mau ikut!"
Vita terdiam cukup lama. Pikirannya pun mulai ikut-ikutan kena racun Wulan dan Nani yang tidak menyetujui wanita pilihan Gino.
"Atau begini saja, Mbak, aku ada ide!" ucap Vita dan kemudian mengajak Wulan untuk berbisik.
"Assalamu'alaikum," seruan salam Gino dari pintu depan membuat Vita urung berbisik kepada Wulan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Vita yang kemudian berlari ke ruang tamu.
"Baru pulang, Kak? Semalam tidur di mana?" cerca Vita begitu sudah bertemu dengan Gino.
"Semalam aku tidur di kantor. Ayah mana, Dek?" Gino segera mengalihkan pembicaraan dengan bertanya keberadaan ayahnya.
"Baru saja keluar."
"Ibu di mana?"
"Tuh, duduk di dalam."
Setelah itu Gino berjalan ke ruang tengah, di mana ada Nani di sana.
"Assalamu'alaikum, Ibu," sapa Gino kepada Nani.
"Wa'alaikumsalam."
Tak disangka ternyata Nani mau menjawab salam dari Gino.
Apakah ini pertanda jika Nani sudah mau menerima kenyataan dengan pilihan hati Gino?
*
__ADS_1