
"Alhamdulillah... Kamu hamil, Nay?"
Rahma sangat bahagia begitu tahu Naya hamil lagi. Tetapi berbeda dengan wajah Naya yang berubah sedih. Bahkan wanita itu tak malu lagi menangis didepan Rahma.
"Loh, kenapa nangis?" tanya Rahma ikutan cemas.
Wanita itu menuntun Naya untuk duduk. Dan tangis Naya bertambah jadi setelah didekap oleh Rahma.
"Aku takut, Buk," ucap Naya dengan sesenggukan.
"Takut kenapa?" tanya Rahma sambil mengusap lengan Naya agar bisa lebih tenang.
"Aku takut." Naya mengulang ucapan yang sama.
"Cerita sama ibu, Nay. Kamu jangan malah ngomong takut-takut itu ada apa?"
Naya masih diam dengan wajah yang tertunduk. Derai air matanya terus saja menetes.
"Apa Gino tidak setuju kamu hamil?" curiga Rahma tiba-tiba. Itu bisa jadi kan?
Naya menggeleng pertanda bukan.
"Trus apa, Nay? Kamu begini bikin cemas orang tua tahu nggak? Ngomong sama ibu!" Rahma sampai melengos karena sebal dengan Naya yang masih belum mau terbuka.
"Apa selama ini Gino tidak memperlakukanmu dengan baik?" tanya Rahma lagi yang seketika Naya mengangkat wajahnya karena kaget mendengar pertanyaan Rahma.
"Tidak, Buk. Mas Gino sangat baik. Dia ayah yang baik juga untuk Lala."
Dan Naya mulai menyusut air matanya. Mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum kemudian berbicara kepada ibunya.
"Aku takut ibu Nani masih tidak suka denganku, Buk, meski aku sudah mengandung cucunya. Aku takut dia ikut tidak menyukai cucunya karena tidak menyukaiku," ucap Naya sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Tiba-tiba saja Naya terbayang jika nanti bayinya ikut dibenci oleh Nani. Naya tidak tega dengan itu.
"Sudah, sudah! Jangan nangis lagi, Nay. Soal itu pasrahkan saja sama Allah. Asal kamu jangan putus asa berdo'a supaya rumah tangga kamu tetap bahagia," ucap Rahma sudah putus asa jika menyangkut dengan besan perempuannya.
"Sejujurnya ibu juga kepikiran itu, Nay. Tapi apa boleh buat, semua sudah terlanjur. Sekarang yang terpenting suami kamu tetap menyayangi kamu. Ibu berharapnya sih suami kamu nanti tetap menyayangi Lala juga meski sudah punya anak sendiri."
"Aamiin... Semoga mas Gino tidak berubah ya, Buk, setelah punya darah dagingnya sendiri," sahut Naya dengan sendu, tangannya mengusap lagi pada perutnya.
"Mama..."
Tiba-tiba Lala muncul menemui mereka. Bocah itu baru bangun dari tidur siangnya, padahal sudah sore.
"Loh, cucu nenek sudah bangun rupanya. Waah... tidurnya lama sekali."
Rahma berantusias menyambut Lala. Sedangkan Naya sibuk mengusap bersih air matanya agar tidak ketahuan Lala kalau habis menangis.
"Mimik," pinta Lala yang merasa haus.
"Ayo mama buatkan, La."
Di saat Naya akan mengangkat tubuh Lala untuk digendong, Rahma langsung mencegahnya.
"Nggak usah digendong, Nay. Jangan angkat yang berat-berat!" seru Rahma, memperingatkan dengan tatapannya jika saat ini ada janin kecil dalam perut Naya.
Naya tak jadi menggendong Lala. Beruntungnya bocah itu tidak rewel meski tak jadi digendong. Kemudian Naya mengambilkan Lala air minum. Setelah berbicara sebentar dengan Lala, kemudian Naya memandikannya. Dan setelah itu mereka pamit pulang kepada Rahma.
__ADS_1
Naya tiba di rumahnya setelah hampir maghrib. Wanita itu tadi masih mampir membeli roti bakar karena Lala yang meminta. Kebetulan Gino sudah datang lebih dulu di rumah. Pria itu menyambut mereka dengan wajah yang penuh senyum.
"Waah... Lala beli apa tuh?" tanya Gino sambil menuntun tangan Lala masuk ke rumah.
"Yaya beyi yoti bakay, Papa," jawab Lala.
"Papa boleh minta dong?"
"Boyeh dong," balas Lala sambil mengikuti gaya bicara Gino.
Akan tetapi Naya berlalu begitu saja, tanpa menyapa Gino, tetapi langsung masuk ke kamar mandi.
"Hey, mamamu kenapa?" tanya Gino.
Sebenarnya bukan untuk mencari tahu kenapa Naya seperti itu, cuma sekedar obrolan biasa yang tak tahunya mendapat jawaban mengagetkan dari Lala.
"Mama tadi nangis, Papa," jujur bocah itu.
Sepandai-pandainya Naya berusaha biasa saja didepan Lala tadi, akan tetapi bocah itu bisa melihat mata Naya yang merah dan sembab. Bocah itu dulu sering melihat mamanya menangis diam-diam. Jadi jangan heran kalau Lala bisa tahu kalau Naya habis menangis tadi.
"Menangis?" Gino kaget mendengar itu.
Lala mengangguk meyakinkan.
"Lala tahu tidak mama nangis karena apa?" selidik Gino sengaja mencari tahu lewat Lala, karena biasanya anak kecil akan selalu jujur.
Lala menggeleng kepalanya, karena memang tidak tahu apa-apa. Lalu bocah itu menikmati roti bakarnya dengan lahap.
Gino berpikir dengan keras. Ada apa dengan istrinya? Apa yang sebenarnya tengah Naya rahasiakan darinya sehingga menangis di rumah Rahma?
"Mama sama nenek," sahut Lala dengan mulut penuh roti.
Gino mengusap lembut kepala Lala.
"Makanlah. Lala suka tidak?"
Lala mengangguk senang.
"Papa mau?" Bocah itu menyodorkan secuil roti itu ke mulut Gino.
Gino tersenyum hangat didepan Lala, tetapi tidak dengan pikirannya yang mendadak kalut.
"Papa tidak mau yoti?" tanya Lala karena Gino tidak membuka mulutnya.
"Papa mau," sahut Gino yang kemudian menerima suapan roti itu dari tangan Lala.
"Sudah, cukup. Papa sudah kenyang. Rotinya Lala saja yang makan," kata Gino setelah Lala akan menyuapi nya lagi.
Naya sudah keluar dari kamar mandi. Wanita itu kemudian masuk ke kamarnya, tak lama setelah itu keluar lagi dan segera menuju ke ruang sholat untuk kemudian menunaikan sholat maghrib seorang diri.
Gino yang melihat itu semakin curiga dengan diamnya Naya. Biasanya mereka akan selalu menyempatkan diri untuk selalu berjamaah bila akan sholat, tetapi kali ini Naya menunaikan nya tanpa mau mengajak Gino seperti biasanya.
Usai sholat maghrib, Naya masuk ke kamarnya lagi. Wanita itu langsung berbaring di kasurnya. Entahlah, pikirannya sama sekali tidak bisa diajak kompromi untuk terlihat biasa saja didepan suaminya. Apalagi kondisi tubuhnya yang merasa lemas, bawaannya pingin rebahan terus, membuatnya semakin malas untuk bergerak ataupun berbicara.
Sedangkan Gino memilih akan menanyakan keadaan Naya nanti saja. Mungkin setelah Lala tidur agar obrolan mereka bisa dengan tenang tanpa harus kepikiran Lala. Kemudian pria itu pun melaksanakan kewajiban tiga rakaatnya, dengan ditemani Lala yang ikut-ikutan sholat dibelakang Gino.
Hingga pada jam sembilan malam, barulah Lala tidur, setelah sebelumnya dikeloni oleh Gino karena Naya yang tetap mengurung diri di kamar sedari tadi. Setelah itu Gino masuk ke kamarnya. Melihat istrinya yang tidur memunggungi pintu, entah sudah lelap atau tidak, Gino tidak tahu.
__ADS_1
"Dek," sapa Gino sambil menyentuh lengan Naya.
Siapa sangka ternyata Naya memang tidak tidur. Wanita itu pun membalikkan tubuhnya untuk menghadap kepada Gino.
"Kamu tidak makan?" tanya Gino basa-basi dulu. Apalagi semenjak datang tadi Gino tidak melihat Naya makan apa-apa.
Naya menggeleng kepala karena memang sedang tidak minat makan.
"Mau makan apa? Aku belikan di luar," kata Gino berusaha membujuk dengan membangun komunikasi yang nyaman.
Naya menggeleng lagi.
"Memangnya tidak lapar?"
"Tidak," sahut Naya sangat singkat.
Tangan Gino menyentuh kening Naya. Suhu tubuhnya normal saja. Jadi ada apa dengan istrinya yang terlihat lemas begitu.
"Kamu sakit, Dek?"
"Nggak."
"Kenapa kayak lemas begini?" Gino malah mengangkat satu tangan Naya, mengajaknya bercanda dengan cara seperti itu.
Naya langsung manyun. Akan tetapi tidak marah. Suaminya itu memang selalu bisa menghiburnya dikala hatinya sedang galau seperti ini.
"Aku haus, Mas," kata Naya sambil kemudian beranjak duduk.
"Mau minum apa?" tanya Gino. Pria itu ingin mengambilkan nya untuk Naya.
"Minum susu coklat," kata Naya yang sebenarnya tidak ada stok itu di dapur.
Gino mengangguk, sanggup untuk mengambilkan nya, tanpa bertanya lebih dulu bahan itu ada apa tidak di dapur.
Sedangkan Naya yang melihat Gino antusias seperti itu mulai tersenyum lebar. Setelah ini ia akan memberi kejutan untuk Gino. Anggap saja diamnya tadi itu adalah sebuah prank untuk Gino.
"Dek, susu coklatnya nggak ada," kata Gino.
Pria itu balik lagi masuk kamar.
"Emang iya," sahut Naya sambil nyengir.
"Kok nggak bilang?"
"Kamu nggak nanya."
"Trus gimana?"
Naya memasang muka cemberut. Tangannya sengaja mengusap perutnya didepan Gino.
"Oke, aku belikan di swalayan depan," kata Gino pasrah. Ia mengira istrinya sedang merajuk.
Untuk mengambil hati Naya agar mau berterus terang jika ditanya nanti, tentunya Gino harus mau menuruti kemauan Naya yang ingin minum susu coklat.
Akhirnya Gino pergi ke swalayan yang ada di gang depan rumahnya. Sedangkan Naya mulai mempersiapkan kejutan yang akan ia berikan kepada Gino setelah ini.
*
__ADS_1