Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 41


__ADS_3

Mereka berdua sudah sampai di rumah Naya. Segera Naya keluar lebih dulu dari mobil Gino sebelum pria itu membukakan pintu untuknya. Rasanya sangat canggung saja diperlakukan seperti itu oleh Gino, tak ayalnya sinetron romantis di TV padahal ia hanya orang biasa.


"Dek, aku numpang pipis boleh?" tanya Gino yang benar-benar merasa kebelet pipis.


Naya tidak langsung mengangguk. Jujur wanita itu takut ada fitnah nanti jika membiarkan Gino masuk ke rumah di mana bapak ibu Naya sedang tidak ada.


"Mbak Naya!" panggil Farhan tiba-tiba keluar dari dalam rumah.


Kemudian Farhan mendekat kepada Naya berada.


"Ee... Mas, masuk aja kalau mau pipis. Aku tunggu di luar sama Farhan," ucap Naya.


Setidaknya dengan adanya Farhan akan menjadi saksi bila sewaktu-waktu ada fitnah tentang Naya dan Gino dari tetangga julid yang saat ini sedang mengintip mereka dari kejauhan.


Gino mengangguk. Kemudian pria itu segera masuk ke rumah Naya lewat pintu samping dan langsung menuju ke kamar mandi.


Sedangkan Naya dan Farhan menunggu Gino sambil duduk santai di teras depan.


"Kok masih belum tidur, Han?" tanya Naya, tetapi ia melihat mata Farhan sepertinya sudah mengantuk.


"Aku takut," sahut Farhan sambil kemudian tiduran di paha Naya.


Adik bungsu Naya itu memang tipekal manja. Entah kepada Naya ataupun kepada Rahma dan Abdul.


"Kenapa takut? Memang kakak Riki mana? Mbak Fifi di mana?"


"Kak Riki sama mbak Fifi diem di kamarnya terus, nggak tahu mereka ngapain. Aku ngantuk, Mbak, tapi takut mau bobok nggak ada temannya," tutur Farhan dengan suaranya yang mulai nggak jelas.


"Kenapa nggak coba masuk kamar kakak Riki?" Naya bertanya sambil membelai rambut Farhan.


Farhan tidak menjawab. Naya mengintip ke wajah Farhan yang ternyata bocah itu sudah tertidur saja dengan cepat. Mungkin dari tadi sudah benar-benar ngantuk, makanya sekali menemukan posisi yang nyaman dia cepat terlelap.


Tak lama setelah itu Gino keluar dari dalam rumah itu. Pria itu mendekati Naya. Memperhatikan Farhan yang tertidur dengan nyaman di pangkuan Naya. Dalam sekejap pria itu mulai membayangkan andai dirinya yang sedang ada di posisi Farhan. Ah, andai bisa bertukar peran, pasti sangat menyenangkan.


"Farhan ketiduran, Mas," ucap Naya kepada Gino.


"Biar aku bantu angkat dia ke dalam."


Gino berinisiatif akan menggendong Farhan, tetapi Naya masih menahannya. Lirikan mata Naya mengkode Gino untuk melihat ke ujung jalan depan.


Gino mengikuti ke mana Naya memberi kode. Seketika pria itu paham apa yang membuat Naya tidak nyaman dengan keberadaannya sekarang.


"Dia itu yang kemarin ketemu di depan kan?" Gino masih mengingat jelas wajah ibu-ibu yang kemarin sedang ngerumpi saat Naya dan Gino mau pergi keluar.


"Iya, namanya mpok Tun."

__ADS_1


"Kenapa? Apa dia jadi CCTV kamu? Tukang syuting hidup kamu?" kepo Gino yang semua pertanyaannya itu benar.


Naya mengangguk pelan.


"Ah, biar saja, Dek! Nggak usah peduliin dia! Kamu sendiri tadi bilang kalau hidup itu akan ada yang suka ada yang tidak," ucap Gino meniru ucapan Naya tadi.


"Iya sih. Cuma-- beneran kamu kuat gendong Farhan ke dalam? Dia ini badannya agak gendut loh, Mas."


"InsyaAllah kuat! Gendong kamu aja aku kuat, apalagi cuma adik kamu," seloroh Gino bercampur nada rayuan.


Naya langsung menimpuk lengan Gino dengan kepalan tangannya. Dan Gino langsung terkekeh gemas melihatnya.


Kemudian Gino mengangkat tubuh Farhan untuk dibawanya masuk ke dalam rumah. Naya membuntuti dari belakang.


"Mas, Farhan tidurkan di kamarku saja," kata Naya saat Gino kebingungan mau ia letakkan di mana tubuh berat Farhan.


Mendengar ada suara Naya yang berbicara kemudian Riki keluar dari kamarnya.


"Riki, tolong kamu lihat ke depan, masih ada mpok Tun nggak?" kata Naya yang langsung memerintah Riki untuk melihat mpok Tun.


Riki langsung berjalan patuh. Pria remaja itu akhirnya memilih berdiri di ambang pintu sambil ikut melorok ke arah mpok Tun berada.


Gino sudah menidurkan Farhan di kasur dalam kamar Naya. Akan tetapi pria itu tidak segera keluar kamar, matanya masih mengedar ke seluruh sudut kamar sederhana itu.


"Kamarku jelek, Mas. Pasti masih lebih bagus kamar kamu," ucap Naya.


Lalu Naya memasangkan selimut untuk Farhan.


"Apa dia sering tidur sama kamu, Dek?"


"Iya, kadang-kadang aja."


"Mm... Kalau aku kapan ya bisa tidur sama kamu?" ucap Gino tanpa canggung.


Naya langsung menatap horor kepada Gino.


"Tahun depan!" jawab Naya asal.


"Ah, jangan tahun depan, itu terlalu lama, Dek!"


Kemudian Naya menarik lengan Gino untuk keluar dari kamar.


"Mas sekarang cepat pulang ya, besok kan masih harus kerja," ucap Naya dibuat lembut agar Gino merasa tidak sedang diusir.


"Kamu lupa kalau sekarang malam sabtu?"

__ADS_1


"Tidak, aku ingat kalau sekarang malam sabtu."


"Berarti besok hari sabtu kan?"


Naya mengangguk saja.


"Itu artinya besok aku libur, Dek Naya sayang," ucap Gino memperingatkan.


Apapun alasannya tetapi Naya tetap menyeret Gino keluar dari rumahnya. Di luar rumah, Naya sudah tidak melihat mpok Tun lagi.


"Ke mana dia?" tanya Naya kepada Riki.


"Sudah pulang, barusan sampai disusul sama suaminya."


Mendengar itu Naya seketika menghela nafas lega.


"Mas Gino, cepat pulang ya, hati-hati di jalan," kata Naya kembali mengingatkan Gino untuk tidak lupa pulang.


Gino mengangguk pasrah, walau sejujurnya hatinya masih tidak rela ingin semalaman bersama Naya. Apalah daya, kata Naya tadi mereka masih bukan muhrim.


"Oh ya, Dek, jangan lupa aktifin hapenya," ucap Gino sebelum beranjak pergi.


"Iya."


"Jangan lupa balas chat aku."


"Siap!"


"Oke, aku tunggu! Aku nggak akan nyenyak tidur kalau kamu belum balas chat aku," kata Gino sok dramatis.


"Ehem! Kacang... Kacang..." celetuk Riki merasa menjadi obat nyamuk berada diantara mereka.


Naya dan Gino sama-sama terkekeh kecil. Kemudian Gino benar-benar pulang, yang Naya pikir Gino akan pulang ke rumah orang tuanya, yang nyatanya malam ini Gino akan tidur di rumah barunya.


Naya dan Riki sama-sama masuk ke dalam rumah. Sebelum itu Naya langsung mengecek keadaan Fifi di kamarnya, yang ternyata gadis itu sudah ngorok saja. Sedangkan Riki berjalan untuk mengecek pintu atau pun jendela yang sudah terkunci.


Setelah semuanya dirasa aman, kemudian mereka memutuskan masuk kamarnya masing-masing.


Naya langsung mengambil handphonenya begitu sudah masuk kamar. Mengaktifkannya kembali, setelah itu muncullah puluhan notif chat masuk, dan beberapa panggilan masuk tak terjawab. Dari semua notif itu ternyata datangnya dari Gino saja.


Karena memiliki janji untuk membalas chat Gino malam ini, maka Naya pun kemudian membalas pesan itu untuk kemudian ia kirim kepada Gino.


Bukan kata-kata jawaban atau pun rayuan yang ia kirim sebagai balasan pesan singkat itu. Melainkan hanya sebuah emot wajah yang mengeluarkan love kecil dari mulutnya.


Gino yang memang kebetulan online karena memang sedang menunggu balasan chat dari Naya, seketika langsung senyum-senyum sendiri setelah melihat emot itu.

__ADS_1


*


__ADS_2