Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 51


__ADS_3

Setelah sama-sama bekerjasama membujuk Lala untuk tidak ikut, Gino dan Naya akhirnya keluar dari rumah untuk menuju angkringan tempat yang pernah Naya dan Gino ke sana tempo lalu.


Saat ini mereka sudah sampai di angkringan itu dan sudah duduk tenang di gazebo yang mereka pilih.


"Pilih menunya, Dek, kamu mau makan apa?" ucap Gino sambil memberikan buku menu kepada Naya.


"Aku beli minum saja, aku sudah kenyang," sahut Naya.


Padahal sebenarnya Naya terakhir makan saat sarapan tadi pagi. Rasanya tidak berselera makan dan juga tidak merasa lapar.


Sejenak Gino menghembus nafas beratnya. Entah itu benar atau cuma alasan, Gino rasa sudah benar-benar ada yang berubah dari Naya.


Maka kemudian Gino juga ikutan memesan minuman dingin di angkringan itu.


Suasana kembali hening. Naya sedari tadi memalingkan wajah melihat ke sekitar, padahal sebenarnya sedang menghindari tatapan mata Gino yang terus menghunus tajam. Hingga sampai pesanan minuman mereka tersaji, keduanya masih betah bungkam.


"Dek, aku ingin jujur sama kamu," ucap Gino kemudian.


Naya menoleh menatapnya, tetapi ia tetap tidak berani berlama-lama bertatapan mata dengan Gino.


"Mungkin kamu sudah tahu dari apa yang kamu lihat tentang ibuku," ujar Gino.


Naya menghela nafas beratnya. Iya, memang sudah saatnya untuk membicarakan ini.


"Apa yang kamu lihat itu benar, Dek. Ibuku--"


"Tidak menyukaiku!" sahut Naya, terpaksa menyela bicara Gino.


Gino terdiam.


"Ibumu tidak merestui kita. Iya kan?" tanya Naya ingin lebih memastikan.


Wajah Gino tertunduk dalam. Entahlah apa yang sedang dipikirkan Gino sekarang. Sedangkan Naya sendiri kembali berpaling ke arah sekitar. Dadanya seketika terasa sesak. Ingin menangis rasanya. Tetapi itu tidak mungkin ia lakukan.


"Aku tidak ingin kamu jadi anak durhaka, Mas," ucap Naya setelah beberapa saat keadaan menjadi hening.


Gino mengangkat wajahnya. Naya melihat jelas kedua mata Gino sudah merah. Entah marah atau ingin menangis, Naya tak sampai hati untuk menatapnya lagi.


"Ridho orang tua itu yang lebih utama, lebih-lebih dalam soal memilih pasangan. Aku--"


"Dek!" Gino menggeleng, tangannya terulur untuk menggenggam tangan Naya dengan erat.

__ADS_1


"Aku sayang kamu, Dek. Aku cinta kamu, Inayah. Aku tidak ingin kita pisah hanya karena ibu. Aku tidak mau!" ucap Gino.


Sudut matanya sudah mulai meneteskan airmata. Persetan seorang lelaki menangis di hadapan perempuan. Itu sudah manusiawi. Menangis itu sudah bagiannya manusia.


"Hanya? Hanya karena ibu? Dia ibu kamu, Mas? Kamu enteng sekali bilang hanya!"


Sejujurnya hati Naya juga tak kalah sedih seperti yang dirasakan Gino. Wanita itu sampai terpaksa ingkar janji dengan Abdul untuk tidak membahas hal ini sebelum hari-H selesai. Gino sendiri yang memulainya, dan Naya hanya menjawab sesuai dengan isi hatinya.


Andai hubungan ini masih bisa diakhiri secepatnya, sungguh Naya ingin mengakhirinya saja. Ia tidak mau akan dianggap sebagai wanita iblis yang membuat seorang anak harus durhaka kepada ibunya.


"Dek, aku mohon, beri aku kesempatan untuk membuktikan pada ibu kalau kamu adalah wanita yang terbaik pilihanku. Tolong, Dek," mohon Gino.


"Aku bukan wanita terbaik, Mas! Masih banyak gadis-gadis cantik dan serasi denganmu di luaran sana. Aku hanya wanita janda, yang wanita itu bilang aku hanya numpang hidup enak sama kamu dengan membawa ekorku!"


Gino tercekat cukup lama. Naya pasti sangat sakit hati dengan ucapan Wulan saat itu. Bisa jadi alasan itu juga yang membuat Naya berbicara seperti ini.


"Dek, aku sudah pernah bilang, aku tidak peduli status kamu. Aku menerima kamu dengan ikhlas, juga menerima Lala dengan ikhlas. Apa kamu masih tidak percaya kepadaku?"


Giliran Naya yang terdiam. Ia mengakui jika Gino selalu bersikap menerima dirinya dan Lala.


"Beri aku kesempatan, Dek. Semua keluargaku menerima kamu dan Lala. Ayahku malah selalu nanya kapan aku akan menikahi kamu. Percayalah! Ibuku tidak sepenuhnya tidak menyukai kamu. Buktinya ibuku ikut datang saat lamaran kemarin. Dia hanya butuh waktu. Dan itu tidak akan lama asal kita bisa sama-sama berjuang. Plis, Dek..."


Sejenak Naya menarik nafas beratnya kemudian menghembus nya kasar.


"Wulan?"


Entahlah siapa namanya, Naya tidak sudi itu!


"Dia istri kakakku. Istrinya mas Agus," jelas Gino.


What!!! Calon kakak ipar laknat!


"Kamu tidak perlu pikirkan omongan dia. Anggap saja orang sinting! Aku tidak suka sama dia, Dek, sejak--"


Gino menjeda bicaranya. Haruskah ia mengaku jika Wulan itu menyukai dirinya. Terus bagaimana cara ngomongnya?


"Kenapa kamu tidak menyukainya, Mas? Dia kan kakak iparmu yang harus kamu hormati selayaknya kakakmu sendiri. Apa kamu pernah bermasalah dengan wanita itu?"


"Tidak. Aku masih menghormati dia sebagai kakak iparku, asal jangan kelewatan batas saja."


"Maksud kamu, Mas? Kelewat batas gimana?"

__ADS_1


"Minum dulu, Dek. Kasihan minumannya dari tadi dianggurin," kata Gino yang kemudian malah asyik menyedot minumannya.


"Mas, kamu hutang penjelasan sama aku tentang iparmu itu."


Kemudian Naya ikut menyedot minumannya.


Alarm pertanda masuk waktu maghrib berbunyi dari handphone milik Gino. Segera pria itu mematikan bunyinya.


"Hape kamu ke mana, Dek? Perasaan dari subuh aku chat nggak ada yang kamu bales."


"Ada, sekarang aku lupa bawa," jawab Naya yang sebenarnya memang sengaja tidak membawa ponselnya dan tetap ada dalam kamarnya.


"Mm... Hape itu terlalu bagus, Mas. Aku akan mengembalikannya padamu," ucap Naya dengan yakin.


Sungguh Naya tidak bisa membayangkan akan seperti apa hinaan keluarga Gino kepadanya nanti, jika mereka tahu kalau Gino membelikannya handphone yang harganya cukup mahal.


"Nggak bisa! Apa yang sudah aku berikan, kamu tidak bisa mengembalikan lagi padaku," ucap Gino dengan tegas.


"Bagaimana jika akhirnya kita tidak berjodoh? Apakah kamu masih tidak mau menerimanya jika aku kembalikan?"


Gino tercekat mendengarnya. Harus ia apakan si Naya supaya tidak lagi mengungkit soal mengakhiri hubungan. Seandainya mau, Gino sudah gemas ingin membungkam mulut Naya dengan ciumannya saja biar diem. Tetapi semuanya tentu harus ditahan. Ia ingin menjadi lelaki yang bisa menghargai wanita. Lelaki yang tidak mudah nyosor kepada yang bukan muhrimnya. Lelaki yang bisa menjaga martabat perempuan. Cukup sebatas berpegangan tangan saja. Walau sebenarnya dalam agama hal itu juga tidak diperbolehkan.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Mas?" tanya Naya mulai was-was dengan tatapan Gino.


"Astaghfirullahalazim," seru Gino. Mengucap kalimat memohon ampunan kepada Tuhan, setelah sempat muncul pikiran ingin mencium Naya.


"Ih, malah nyebut! Aneh kamu, Mas."


"Biar aneh yang penting aku tetap sayang kamu," balas Gino sambil menarik tangan Naya untuk beranjak dari sana.


Tak lupa pria itu membayar minumannya dulu sebelum kemudian pergi dari area angkringan itu.


Saat ini mereka berdua sudah berada dalam mobilnya.


"Mampir masjid dulu, Mas. Kamu belum sholat maghrib. Kalau sholat di rumah takut nggak nutut waktunya," seru Naya saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.


Gino mengangguk patuh mendengarnya. Yang seperti ini yang Gino suka dari Naya. Selalu mau memperingatkannya soal urusan akhirat. Yang tidak semua wanita mau menegur pasangannya karena merasa takut disangka sok suci dan sok alim.


Setelah menemukan masjid yang terdekat dari angkringan tadi, maka kemudian Gino parkir di sana.


"Aku tinggal sholat dulu ya, Dek," pamit Gino sebelum benar-benar keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Naya mengangguk. Ia memutuskan untuk menunggu Gino dari dalam mobil saja.


*


__ADS_2