
Sepulang dari kantor Gino tidak langsung pergi ke rumah Naya seperti yang ia ucapkan pada Suryo saat akan berangkat kerja tadi. Tetapi ia datang ke sebuah cafe untuk bertemu dengan seseorang yang sudah ada janji dengannya. Rencananya sore ini Gino akan teken akte pembelian rumah yang ia beli hari ini. Sebuah rumah yang tidak begitu mewah, namun cukup nyaman bila hanya dihuni oleh keluarga kecilnya nanti.
Awalnya Gino berencana ingin membeli rumah setelah ia menikah nanti. Bahkan tabungan Gino untuk membeli rumah itu sebenarnya sudah terkumpul sejak lama. Dan ia memang sudah memiliki target rumah yang ingin ia beli. Bersyukurnya bisa terwujud hari ini, walau ia membelinya tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya.
Jarak rumah baru Gino dari tempatnya bekerja tidak begitu jauh, cukup ditempuh sekitar lima belas menit saja. Setelah surat-surat penting termasuk akte kepemilikan rumah itu Gino miliki, barulah pria itu berencana akan melihatnya langsung. Sekalian mencoba kamar mandi baru, karena katanya fasilitasnya sudah siap digunakan.
Senyum lega Gino terbit manakala ia sudah berdiri di depan pintu rumah barunya. Bayangan tentang esok nanti akan membawa Naya pulang ke rumah ini semakin bergerilya di benaknya. Seiring ucapan salam yang di ucapkan, lantas Gino membuka pintunya kemudian masuk ke dalamnya dengan perasaan yang sangat senang.
Tidak mau terlena dengan rumah barunya yang rupanya sangat sesuai ekspektasinya, Gino segera menuju kamar yang nanti akan menjadi kamar tidurnya bersama Naya. Ah, Naya lagi. Betapa besar harapan indah itu ingin segera terwujud. Semoga Nani bisa segera membuka hatinya untuk Naya. Itulah harapan utama Gino saat ini.
Usai mencoba kamar mandinya, Gino segera mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai. Pria itu selalu menyiapkan segala keperluannya di mobil, seperti pakaian ganti dan perlengkapan mandi. Tidak lupa untuk bersujud kepada Sang Pencipta, karena saat ini waktu sholat maghrib telah tiba. Setelah semuanya selesai, barulah Gino pergi ke rumah Naya.
Sebuah mobil berwarna hitam metallic berhenti tepat di halaman rumah Naya. Membuat semua orang yang ada di rumah Naya bertanya-tanya heran, siapakah yang datang bertamu malam ini. Tetapi setelah melihat Gino yang turun dari mobil itu, hampir semua mata membulat sempurna melihatnya, tak terkecuali Fifi yang merasa kaget luar biasa.
Abdul dan Rahma masih diam di teras rumahnya saat Gino datang mendekatinya. Sedangkan Fifi sendiri sudah masuk rumah untuk memanggil Naya yang kebetulan sedang ada di kamarnya.
"Mbak!" sapa Fifi tiba-tiba main buka pintu, mengagetkan Naya yang baru selesai sholat maghrib.
"Astaghfirullah!" Spontan Naya mengelus dadanya efek kaget.
Fifi hanya nyengir, kemudian gadis itu masuk ke kamar Naya tanpa permisi dulu.
"Mbak, jadi mbak Naya serius sama cowok bawaan ustadz Arif itu?" tanya Fifi to the point.
Naya paham siapa yang dimaksud Fifi, tetapi ia memilih mengabaikan, malah dengan santainya melepas mukenah yang dipakainya kemudian melipatnya dengan rapi.
"Mm... Pantesan mbak Naya cuekin bang Wahyu. Ternyata yang deketin mbak cowok tajir toh?" seloroh Fifi asal keluar, tanpa memikirkan perasaan Naya yang merasa dianggap seperti wanita matre karena telah memilih Gino daripada Wahyu.
Naya menatap tajam kepada Fifi. Tetapi gadis itu malah melengos ke luar jendela kamar, tepatnya memandangi mobil Gino yang tampak dari kamar itu.
Tok tok tok
Pintu kamar Naya berbunyi. Setelah itu terbuka. Muncullah Rahma yang melambaikan tangan memanngil Naya.
"Iya, Bu," sapa Naya kepada Rahma.
"Temuin gih, ada nak Gino di luar," kata Rahma yang kemudian berlalu begitu saja setelah mengatakannya.
__ADS_1
Naya masih tertegun di tempat. Merasa tidak percaya mendengar Gino datang menemuinya lagi. Tetapi tidak heran juga, karena memang Gino sebentar lagi akan resmi menjadi tunangannya.
Dari ini Naya baru nyambung kalau ternyata Fifi mengatakan itu karena memang sedang ada Gino. Segera Naya beranjak ke jendela kamar, mengintip ke luar kamarnya yang ia baru tahu jika sudah ada mobil milik Gino di halaman rumahnya. Mobil yang pernah Gino pakai saat datang ke rumah Budi waktu itu.
Sedangkan Fifi keluar dari kamar Naya dengan perasaan yang masih entah. Sampai sekarang ia tidak terima jika Naya lebih memilih pria lain yang baru datang dan baru dikenalnya daripada memilih Wahyu yang sudah lama mati-matian menginginkan cinta Naya.
Setelah merasa tampilannya dirasa pas, akhirnya Naya keluar dari kamarnya untuk menemui Gino yang sedang menunggunya di ruang tamu.
Sesaat tatapan mata mereka saling bersirobok saat mereka sudah berhadapan. Jangan tanya bagaimana detak jantung Gino saat ini. Berdebar mirip musik disko, serasa melompat-lompat dari tempatnya. Bersyukurnya pria itu bisa menguasai keadaan untuk menyikapi rasa gugupnya. Senyum manisnya terulas menyambut wanitanya yang sudah duduk berhadapan dengannya.
"Assalamu'alaikum, dek Naya. Maaf kalau kedatanganku mengganggumu," kata Gino menyapa Naya.
"Wa'alaikumsalam. Tidak mengganggu kok, Mas," balas Naya dengan lembut.
Gino tersenyum sumringah mendengarnya.
Sesaat keadaan menjadi hening. Hingga sampai Fifi datang membawakan minuman teh hangat untuk mereka karena disuruh oleh Rahma.
"Terimakasih, Fi," ucap Naya kepada Fifi.
Fifi hanya tersenyum kecil. Sekilas melirik kepada Gino. Sialnya Fifi tidak menampik jika Gino memang lebih segalanya jika dibanding dengan Wahyu.
"Silahkan diminum tehnya, Mas," kata Naya mempersilahkan.
Gino mengangguk, lalu mengambil teh itu dan meminumnya sedikit.
"Dek, kalau aku ajak kamu keluar malam ini bisa nggak?" tanya Gino kemudian.
"Aku ingin mengajakmu untuk membeli cincin tunangan kita," lanjutnya.
Naya mendongakkan kepalanya menatap Gino. Jika ia mau, tentulah ini akan menjadi kencan pertama buat mereka berdua.
"Mau nggak, Dek?" tanya Gino lagi.
"Mm... Aku pamit bapak ibu dulu, Mas," kata Naya kemudian berdiri dari tempatnya, tetapi tiba-tiba Gino memegang pergelangan tangannya.
Naya reflek menoleh kaget tangannya dipegang seperti itu oleh Gino.
__ADS_1
"Oh, maaf, Dek. Aku-- Cuma mau ngomong. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama bapak ibu, sebelum kita pamit keluar."
Naya mengangguk paham. Tetapi Gino malah tetap asyik memegang tangan Naya, sehingga ketika dilirik sebagai kode oleh Naya baru pria itu mau melepas tangannya.
Naya beranjak untuk menemui Abdul dan Rahma, lalu menyampaikan jika Gino ingin berbicara dengan mereka. Sedangkan Naya memilih masuk kamar karena ingin siap-siap untuk keluar bersama Gino.
"Ada apa nak Gino?" tanya Abdul setelah mereka sudah kumpul satu ruangan lagi.
"Mm... Aku ingin menyampaikan salam dari ayah, Pak, Buk. InsyaAllah minggu ini kami sekeluarga akan datang untuk melamar dek Naya secara resmi," ucap Gino.
"Alhamdulillah..." seru Abdul dengan lega karena sudah ada kepastian dari Gino.
"Baiklah, Nak Gino. Kami InsyaAllah siap. Tapi sebelumnya harap maklum dengan keadaan kami. Beginilah kami, Nak. Hanya keluarga biasa, tidak seperti keluarga nak Gino."
"Itu tidak menjadi perbedaan untuk kami, Pak. Aku malah sangat bersyukur bapak dan ibu mau menerimaku untuk menjadi bagian dari keluarga kalian."
Abdul dan Rahma sama-sama tersenyum hangat mendengarnya.
"Oh iya, Pak, Buk, sekalian aku pamit mau bawa dek Naya keluar. Rencananya malam ini aku mau bawa dek Naya untuk beli cincin. Apa bapak dan ibu mengijinkan?"
"Boleh, silahkan! Asal pulangnya jangan terlalu malam ya?"
Gino mengangguk paham. Tak lama setelah itu Naya keluar dari kamarnya. Tampilan wanita itu sudah berbeda dari sebelumnya. Tetapi tetap dengan khas Naya yang memang sederhana namun sedap dipandang mata.
"Mm... Lala mana, Dek?" tanya Gino karena ia ingin malam ini keluar sambil membawa Lala juga.
"Lala lagi dibawa main sama Riki," sahut Rahma.
"Yaah... Padahal aku ingin bawa Lala juga." Gino nampak kecewa. Niat hati ingin mengenal Lala, tetapi terpaksa urung karena bocah itu sedang tidak ada di rumah.
"Biasanya Riki bawa Lala main ke rumah Irul," ucap Naya.
"Biar saja, Nay. Kalian cepat kalau mau keluar. Soal Lala ada ibu," kata Rahma yang sebenarnya tidak mengijinkan Lala dibawa bersama mereka. Kasihan takut nanti Lala rewel sama mereka.
Lalu bergantian Naya dan Gino bersalaman kepada Abdul dan Rahma. Setelah itu mereka keluar dari rumah. Sebelumnya Gino membukakan pintu mobilnya untuk Naya. Setelah itu barulah Gino ikut masuk dan kemudian melaju pergi dari sana.
Kedatangan Gino ke rumah Naya sukses menyalakan CCTV tetangga aktif kembali. Banyak mulut kepo tetangga sekitar rumah Naya yang mulai bergosip tentang Naya.
__ADS_1
*