
Gino segera pamit pulang kepada ayah ibunya sesaat setelah makan malam bersama. Pria itu menenteng beberapa pepes ikan tongkol yang Nani bawakan untuk Naya.
"Terimakasih pepes ikannya, Bu," ucap Gino sudah tidak terhitung berapa kali pria itu mengucapkan kata terimakasih kepada ibunya saking bahagianya yang ia rasakan sekarang.
Seperti biasa, Nani hanya mengangguk kecil, masih pelit bicara kalau yang dibahas menyangkut Naya.
"Sudah, cepat pulang, Gi! Istri kamu pasti menunggumu untuk makan pepes nya," seru Suryo menyuruh Gino cepat pulang, karena yang ia tahu perempuan ngidam itu pasti akan tidak sabar untuk menikmati sesuatu yang diinginkannya itu.
Gino hanya tersenyum lebar. Setelah itu, tiba-tiba Gino memeluk kepada Nani. Air matanya menetes sendiri tanpa ia sadari. Meski Nani tidak mau mengucap kalau ia sudah tidak apa-apa dengan Naya, tetapi melihat sikapnya yang begini membuat Gino bertambah yakin kalau ibunya itu sebenarnya sudah membuka hatinya untuk Naya. Sekarang giliran Gino yang harus bisa membawa Naya ke rumah ini. Seperti permintaan Suryo yang tak pernah ia kabulkan selama ia menikah dengan Naya.
Sedangkan Nani hanya menepuk punggung Gino berulang-ulang. Mulutnya masih terkunci untuk sekedar mengucap, tetapi dalam lubuk hatinya ia merasa terenyuh melihat anak kesayangannya menangis dalam pelukannya.
"Gino!" Suryo menepuk keras bahu Gino, sehingga pria itu kemudian melepas pelukannya.
Terlihat Gino segera mengusap bersih air matanya. Lalu mencoba tersenyum, walau rasanya masih ingin menangis karena terharu luar biasa.
"Baru ayah mau bilang," ucap Suryo yang seketika kening Gino berkerut karena penasaran dengan omongan ayahnya yang serasa menggantung.
"Bilang apa, Yah?" kepo Gino.
"Mau bilang kalau bapaknya cengeng, entar anaknya juga cengeng," kata Suryo sambil terkekeh kecil.
Gino ikut terkekeh mendengarnya. Tangannya mengusap bersih lagi pada sisa linangan air matanya yang tak semudah itu menghentikannya.
"Aku-- pamit pulang, Bu. Terimakasih," ucap Gino sekali lagi. Kemudian pria itu meraih tangan Nani dan menyaliminya.
"Ayo, ayah antar ke depan," kata Suryo yang kemudian mereka berdua beranjak ke halaman rumah.
"Gino, kamu sudah lihat sendiri bagaimana ibumu setelah tahu kamu akan punya anak. Sekarang giliran kamu untuk membawa Naya ke sini. Ayah tunggu itu, Gi," ucap Suryo kepada Gino, setelah Gino bersiap membuka pintu mobilnya.
Gino hanya mengangguk. Selebihnya ia tidak bisa berjanji kepada Ayahnya kapan saat itu akan tiba. Hanya Gino terus saja akan berusaha untuk membawa Naya secepatnya ke rumah ini.
"Aku pulang, Yah," pamit Gino kemudian.
"Iya, hati-hati, Gi. Kurangi kecepatan di jalan. Karena sekarang bukan hanya istrimu yang menunggu di rumah, anakmu juga menunggu kedatanganmu di rumah," pesan Suryo.
Gino mengangguk sambil tersenyum. Setelah mengucap salam, akhirnya Gino melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya, untuk kemudian pergi ke rumah Rahma, di mana saat ini Naya dan Lala masih berada di sana.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, akhirnya Gino telah tiba di rumah Rahma. Naya yang memang sengaja menunggu kedatangan Gino, wanita itu sedang duduk ditemani dengan Fifi di teras samping rumah.
Senyum Naya langsung berbinar ketika melihat tentengan yang dipegang Gino. Dan Fifi yang melihat Gino datang langsung masuk rumah. Gadis itu tidak mau menjadi obat nyamuk berada diantara Naya dan Gino yang menurutnya suka pamer kemesraan didepannya.
__ADS_1
"Ini pepes ikannya," ucap Gino sambil memberikannya kepada Naya.
Naya mencium aroma pepes ikan itu sambil memejamkan matanya. Hmm... Terasa mantap!
"Ayo temani aku makan, Mas," ajak Naya sambil menyeret lengan Gino untuk masuk ke rumah.
Sejujurnya Gino sudah kenyang karena baru saja selesai makan malam di rumah orang tuanya. Apalah daya istri meminta, yang mau tak mau demi menjaga mood ibu hamil membuat Gino tidak berani menolaknya.
"Lala mana, Dek?" tanya Gino karena melihat kondisi rumah yang sudah sepi.
"Lala sudah tidur sama ibu. Kalau bapak barusan lihat TV, nggak tahu sekarang. Palingan TV nya yang lihat bapak," jelas Naya.
Sudah kebiasaan Abdul kalau menonton acara TV malam-malam. Pria paruh baya itu pasti selalu ketiduran di depan TV, efek kelelahan seharian bekerja sebagai buruh kasar. Farhan, adik bungsu Naya juga sebelas dua belas dengan Abdul, sama-sama sering ketiduran ketika nonton TV. Sedangkan Riki, bujang yang sudah remaja itu lebih sering diam di kamar sambil sibuk main handphonenya.
Gino kemudian duduk di kursi makan, melihat Naya yang sibuk membuka daun pembungkus pepes ikan itu. Setelah aromanya menguar, lagi-lagi Naya menghirupnya dalam-dalam.
"Heemm.... Ini pasti lezat sekali!" ucap Naya sudah tidak sabar untuk segera mengeksekusinya.
"Kamu ngomong apa ke ibu, Mas, kok bisa dibawain gini?" kepo Naya ingin tahu bagaimana cara Gino bicara kepada Nani.
"Aku bilang kamu ngidam pingin makan ini," sahut Gino sambil ikut mencomot pepes ikan itu karena memang ia sendiri tidak tahu bagaimana rasanya tadi, karena keburu dibungkus oleh Nani.
"Masa?"
"Iih... Ini siapa yang pingin kok kamu yang doyan, Mas!" celetuk Naya yang kemudian mulai menyantap pepes ikan itu dengan nasi hangat yang sudah disiapkan nya.
"Aku tadi tidak makan ini, Dek," aku Gino yang kemudian ikut mengambil nasi ke dalam piring. Padahal tadi niatnya cuma mau menemani Naya makan, tetapi jadi pingin makan lagi karena pepes ikan buatan Nani memang benar-benar mantul.
"Kok bisa?"
"Ibu langsung bawa lagi ke dapur buat bungkus ini khusus kamu."
Naya terdiam sejenak. Mencerna ucapan Gino yang membuatnya heran, apakah benar ibu mertuanya sampai seperti itu?
"Ibu sudah tahu kalau kamu hamil, Dek," ucap Gino kemudian. Tangannya sengaja menggenggam tangan Naya untuk meyakinkan ucapannya.
"Bagaimana reaksi ibu setelah tahu ini, Mas?" tanya Naya lebih penasaran reaksi Nani seperti apa tadi.
"Ibu senang."
"Benarkah?"
__ADS_1
Naya bertanya lebih serius sambil menatap lekat pada netra hitam suaminya.
Gino mengangguk meyakinkan. Pria itu terbayang lagi bagaimana ketika Nani mengusap punggungnya tadi. Membuat perasaannya tiba-tiba menjadi baper lagi, ingin nangis lagi, tetapi seketika teringat ucapan Suryo yang mengatakan jika bapaknya cengeng anaknya juga ikut cengeng.
"Kamu-- lagi ngelamunin apa, Mas?" tanya Naya yang curiga Gino sedang melamun karena sedang menutupi sesuatu darinya.
Sejujurnya Naya masih tidak begitu percaya dengan pengakuan Gino yang mengatakan Nani senang mendengar kehamilannya.
"Ah, aku-- tidak melamun apa-apa. Aku cuma ingat pesan ayah tadi," jujur Gino.
"Pesan apa?"
"Ayah ibu menunggu kamu datang ke rumah."
Naya terdiam lagi saat mendengarnya.
Gino paham pasti istrinya itu kaget mendengar ini. Tetapi mungkin bisa dibicarakan besok lagi, supaya mood makan Naya tidak berubah karena pembahasan ini.
"Eh, pepes ikannya sudah tidak mau? Kalau nggak mau aku habisin ya?" ucap Gino sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Eh, enak saja! Aku yang ngidam kok kamu ikutan doyan."
Lalu mereka berdua kembali menikmati makanannya dengan lahap. Hingga akhirnya terdengar suara sendawa Gino karena sudah kekenyangan. Naya hanya tertawa kecil melihatnya. Wanita itu sudah tahu kalau Gino sudah makan malam di rumah orang tuanya tadi, cuma kok masih kuat menampung?
Nampak Gino duduk bersandar di kursi makan itu sambil mengusap perutnya yang tak kalah ikut membuncit seperti perut Naya.
"Mas, tahu nggak sih apa tujuanku yang lain setelah menjadi istri kamu?" ucap Naya sambil menopang dagu menatap suaminya yang duduk tidak tenang efek kekenyangan.
"Apa?"
"Membuatmu jadi gendut," ucap Naya sambil senyum-senyum.
"Hah?"
Gino sampai duduk tegak lagi karena kaget mendengar ucapan Naya yang terkesan aneh. Bukankah seorang lelaki memiliki tubuh tetap proporsional ditambah good looking meski sudah bapak-bapak, bukankah itu baik dan menarik? Jangankan laki-laki, perempuan pun juga masih mengidamkan bentuk tubuh yang proporsional juga meski sudah menikah dan bergelar ibu-ibu. Jadi kenapa Naya berkeinginan membuat Gino nampak gendut?
"Kalau kamu gendut, maka ibu akan menganggapku pandai mengurus kamu, Mas. Hahaha..." aku Naya diikuti tertawanya yang terdengar puas.
Gino hanya terbengong sendiri mendengar pengakuan Naya.
"Terserah kamu lah, Dek. Asal kamu bahagia, aku ya manut," batin Gino bersuara.
__ADS_1
Melihat istrinya tertawa senang seperti itu rasanya Gino tidak tega untuk protes dengan keinginan Naya yang sangat membagongkan menurutnya.
*