
Sore tiba. Akhirnya Naya dan Gino pergi ke rumah baru yang akan mereka tempati. Kepergian Naya dan Lala dari rumah itu diiringi tangis sendu Rahma, padahal mereka pindah rumah masih dalam satu kota yang sama, tak sampai setengah jam perjalanan untuk pergi ke rumah mereka.
Akhirnya kini mereka tiba di rumahnya. Berhubung waktu yang sudah mepet maghrib, Gino lekas mengambil wudhu kemudian bersiap-siap untuk menunaikan kewajibannya. Sedangkan Naya mulai membongkar satu persatu barang bawaannya dan kemudian menatanya ke dalam lemari pakaian. Beruntungnya barang yang dibawanya memang sedikit, jadi hal itu tidak memakan waktu lama bagi Naya.
Sedangkan barang-barang Gino sebelumnya memang sudah ada di sana, walaupun tidak semuanya. Karena Gino ingin ketika ia menginap di rumah ibunya ataupun di rumah mertuanya Gino tidak perlu repot-repot membawa barang banyak-banyak miliknya.
"Alhamdulillah," seru Naya ketika sudah selesai beberes.
"Mama, maem," ucap Lala meminta makan yang saat itu juga bersama Naya.
Saat ini mereka sedang ada dalam kamar.
"Ya Allah... Maaf ya, Sayang. Lala laper? Lala mau makan apa?"
"Cocis," sahut Lala dengan lidah cadelnya.
"Okey, siap anak mama. Mm... Mama buatkan dulu ya, yuk!"
Lalu mereka berdua keluar dari kamarnya. Dan berpapasan dengan Gino yang baru turun dari tempat sholatnya. Di rumah itu memang ada satu ruang kecil yang di desain menjadi tempat khusus ibadah.
"Papa, Yaya mau maem," kata Lala menyapa Gino.
Bocil itu memang selalu cari perhatian kepada Gino. Sampai-sampai semua yang akan dilakukannya ia laporkan kepada Gino.
"Waah... Papa juga mau makan. Ayo, Lala, sambil nunggu makanan kita selesai, main sama papa yuk!" ajak Gino agar Naya bisa memasak dengan nyaman tanpa diganggu dengan Lala yang kadang suka ngerecokin.
Dan Naya hanya bisa tersenyum bahagia melihat pemandangan seperti itu. Lalu Naya dengan tenang dapat memasak makanan untuk menu makan malam mereka setelah ini. Beruntung sekali Rahma sudah membawakannya beberapa sayur dan lauk lainnya, jadi tinggal eksekusi menjadi masakan sederhana ala-ala Naya.
Tak lama kemudian, menu makan malam sudah selesai dibuat dan sudah tersaji di atas meja makan. Naya celingukan mencari Gino dan Lala karena suara mereka sudah tidak terdengar lagi. Rupanya mereka berdua saat ini sedang ada dalam kamar tidur Lala. Naya mendapati suami dan anaknya itu sedang tidur dalam kasur minimalis milik Lala.
__ADS_1
"Lah, kok pada tidur? Makanannya sudah siap loh..."
Naya jelas agak kecewa karena sudah capek-capek masak tidak tahunya mereka malah tidur. Siapa sangka ternyata Gino dan Lala sedang sekongkol untuk mengerjai Naya. Saat Naya mendekati mereka, Gino dan Lala kompak berteriak mengagetkan Naya.
Dan prank yang dilakukan mereka berhasil membuat Naya terjingkat kaget. Tak ayal Gino dan Lala sama-sama tertawa senang melihatnya.
"Heem... Jadi kalian ngerjain mama?" ucap Naya sambil mulai menggelitiki tubuh Lala, sehingga tawa bocah itu bertambah nyaring efek kegelian.
Puas bercanda bersama, akhirnya mereka keluar dari kamar itu dan segera menuju ke tempat makan.
"Lala, papa mama mau makan juga nih, jadi Lala bisa dong makan sendiri," ucap Gino membujuk Lala untuk mau belajar makan sendiri.
Lala mengangguk patuh. Lalu mereka bertiga dapat menikmati makanannya dengan lahap. Lala sendiri ternyata lebih lahap ketika makan sendiri. Apa jangan-jangan selama ini Lala hanya cari perhatian penuh kepada Naya sehingga tiap kali mau makan selalu ada drama. Beruntung saja Lala sekarang memiliki sosok ayah yang bisa membuatnya selalu patuh dengan perintah ayahnya. Karena dengan begini sudah membantu Lala untuk mulai belajar mandiri dalam berbagai hal.
Usai makan malam bersama, mereka memilih duduk santai di atas gelaran karpet bulu yang ada di ruang tengah sambil asyik menonton TV. Lambat laun, malampun semakin naik membuat Lala tertidur dengan mudahnya di atas karpet tersebut. Gino yang melihat Lala tertidur, buru-buru mengangkat tubuh Lala untuk memindahkannya ke kamar. Yang ternyata Gino membawa Lala ke dalam kamarnya. Pria itu ingin menepati janjinya kepada Naya untuk bisa tidur bersama-sama dengan Lala.
"Dek, tidur yuk," ajak Gino setelah ia selesai menidurkan Lala di kasurnya.
Tapi meski begitu tidak masalah untuk Naya. Justru ia merasa sangat senang karena bisa membelai rambut putri kecilnya dengan mudah. Akan tetapi tiba-tiba Gino tersadar kalau yang dilakukannya itu keliru. Maka akhirnya Gino memindah tubuh Lala di pinggir dekat tembok.
"Loh, kok dipindah, Mas?" protes Naya.
"Biar kamu aja yang tidur ditengah," jawab Gino.
Naya hanya bisa pasrah. Tak apalah, yang penting ia yang berada didekat Lala itu tak masalah. Kemudian Naya merangkak naik ke kasurnya, Gino pun juga.
Naya sengaja tidur miring menghadap Lala. Tangannya mengusap lembut pada pucuk kepala putrinya yang sudah sangat terlelap. Dan Gino menyaksikan itu sambil memeluk Naya dari belakang.
"Tadi Lala pinter sekali belajar makan sendiri, nasinya dihabisin loh," kata Gino memulai pembicaraan kecil sebelum tidur.
__ADS_1
"Iya, Mas, aku juga kaget lihatnya tadi," sahut Naya mengiyakan, meski begitu jangan tanya bagaimana kacaunya meja makan karena cara makan Lala yang belepotan.
"Kalau begitu biarkan Lala belajar makan sendiri saja, Dek."
"Aku nggak jamin kalau besok nggak ada kamu Lala mau nurut sama aku."
"Soal itu gampang, aku yang ngomong lagi sama Lala."
Gino semakin mengeratkan pelukannya, membuat Naya merasa terhimpit karena pelukannya itu.
"Mas, jangan gini dong... Aku bisa sesak nafas!" Naya memberontak dengan berusaha mengangkat tangan Gino dari pinggangnya.
"Makanya kamu balik badan hadap aku," ucap Gino sambil berhasil membalik tubuh Naya dan mereka saling berhadapan.
Sesaat tatapan mata mereka saling bertaut. Tangan Gino perlahan mulai membelai pada kepala Naya, kemudian mencium keningnya cukup lama.
"Selamat tidur istriku... Semoga mimpi indah ya," kata Gino sambil mengulang kecupannya di kening Naya.
"Selamat tidur juga suamiku. Sehat-sehat ya... Karena sekarang kamu sudah menjadi imamku." Naya membalasnya hanya dengan membelai pada pipi Gino.
Perlahan Naya memejamkan matanya lebih dulu, walau jujur ia belum merasakan ngantuk sama sekali.
Sedangkan Gino sendiri mulai membuka kancing atas baju Naya.
Naya membuka matanya lagi setelah tahu apa yang dilakukan suaminya itu.
"Aku mau mimi susu," kata Gino sambil nyengir tak bersalah.
"Hah?!"
__ADS_1
*