
Suryo tiba di rumahnya. Pria itu melihat Gino yang menunggu kedatangannya, tiba-tiba memiliki ide jail untuk mengusili Gino. Baru saja dirinya turun dari motornya, Gino sudah datang mendekatinya.
"Ayah," sapa Gino.
Suryo menoleh. Tetapi tatapannya dibuat sedih. Drama nge prank dimulai.
"Bagaimana, Yah?" kepo Gino, terlebih setelah melihat sorot wajah Suryo yang sendu.
Suryo menghela nafas sejenak.
"Bicara di dalam saja, Gi," sahut Suryo dengan ekspresi pura-pura lesu.
Kemudian Suryo melangkah masuk ke rumah, diikuti oleh Gino yang berjalan di belakangnya. Tetapi baru saja mereka tiba di ruang tamu, Gino bertanya lagi.
"Ayah, tolong katakan, jangan buat aku penasaran, Yah," seru Gino sudah kepalang penasaran.
Suryo bergeming saja. Pria itu terus melangkah masuk hingga ke ruang tengah.
"Ayah, bagaimana jawaban Naya? Apakah dia setuju, Yah?" tanya Gino lagi.
Terus saja Suryo tetap bungkam, walau sejujurnya ia sudah ingin tertawa melihat Gino yang kelimpungan sendiri.
Setelah itu Nani keluar dari kamarnya. Ia yang juga penasaran dengan jawaban dari Naya, terpaksa menghilangkan gengsinya demi ingin tahu kabarnya bagaimana. Syukur-syukur Naya menolak, itu maunya Nani.
"Ditolak?" tanya Nani langsung, karena wajah suaminya yang terlihat murung.
Suryo menghentak nafasnya lagi. Sekilas menoleh kepada Gino yang sudah berdiri di belakangnya, lalu menoleh lagi kepada Nani.
"Kita jadi mantu!" ucap Suryo dengan jelas.
Kemudian pria paruh baya itu tertawa bahagia. Apalagi setelah melihat wajah Gino yang terlihat kaget setelah mendengarnya.
"Heh, malah bengong! Kamu jadi nikah bulan depan," ucap Suryo sambil menepuk-nepuk lengan Gino dengan senang.
"Beneran? Ayah tidak bercanda? Naya beneran mau, Yah?" tanya Gino serasa masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Suryo mengangguk berulang-ulang agar Gino percaya.
__ADS_1
Kedua mata Gino sudah mengembun. Rasanya terharu sekaligus bahagia luar biasa. Ia tidak menyangka jika akhirnya akan menikah juga dengan wanita pujaannya. Kalau tahu Naya tidak banyak drama saat ayahnya datang menentukan tanggal pernikahan, kenapa tidak dari dulu saja ia meminta ayahnya yang datang.
Sedangkan ekspresi Nani biasa saja. Tidak bahagia pun tidak sedih. Entahlah, Nani tidak tahu harus bersikap bagaimana mendengar ini. Karena pikiran Nani saat ini teralihkan dengan Agus dan Wulan yang seperti menghilang tiada kabar.
"Ibu," pekik Gino yang kemudian mendekati Nani dan memeluknya erat.
"Ini semua berkat do'a ibu. Aku akhirnya akan menikah, Bu," ucap Gino penuh rasa haru. Ia mulai menciumi pipi Nani saking bahagianya.
Padahal sudah tahu kalau Nani tidak merestui hubungannya dengan Naya. Tetapi Gino merasa semua yang terjadi padanya itu adalah berkat do'a dari ibunya juga. Karena Gino yakin, tidak ada seorang ibu yang akan tega mendo'akan yang tidak-tidak kepada anaknya.
"Sudah, lepas! Ibu sesak nafas dipeluk kamu begini," ucap Nani, kemudian Gino melepas pelukannya.
Beralih Gino menciumi kedua tangan Nani. Wujud syukurnya ia hari ini. Setetes air mata kebahagiaan menetes dari mata Gino. Perlahan Nani mengusapnya, tetapi kemudian berlalu pergi begitu saja.
"Hei, sepertinya ibumu sudah mulai terbuka," seru Suryo setelah melihat Nani masuk ke kamarnya.
Gino tersenyum terharu. Dalam hati ia hanya bisa mengamini ucapan Suryo, semoga saja itu benar.
"Sudah, tidur sana. Ayah juga mau tidur," ucap Suryo kemudian.
"Ayah," sapa Gino lagi.
"Terimakasih, Ayah. Terimakasih karena sudah mendukungku. Terimakasih atas pengorbanan ayah demi kebahagiaanku. Ayah adalah ayah yang terhebat di mataku," puji Gino dengan bangga kepada Suryo.
Suryo tersenyum tipis.
"Jangan hanya memujiku. Kalau kamu memuji ayah, maka puji juga bapak mertua kamu. Sebaliknya, kalau kamu menyayangi ibumu, sayangi juga ibu mertuamu. Begitu prinsip damai hidup berumah tangga. Apa-apa itu harus adil. Bukan hanya mencintai istrimu saja," pesan Suryo yang kemudian berlalu lagi untuk masuk ke kamarnya menyusul Nani.
Gino tersenyum bahagia. Semua yang menjadi nasehat baik baginya sebisa mungkin akan ia lakukan.
Di dalam kamar, Suryo melihat Nani termenung sambil duduk di tepi ranjang. Tangannya sedang memegang handphone, kentara sekali jika sedang mencemaskan sesuatu.
"Tidurlah, Nani. Jangan begadang, usia kita sudah tidak muda lagi," seloroh Suryo bermaksud ingin membangun komunikasi yang tidak tegang.
"Aku kepikiran Agus dan istrinya," tutur Nani pada akhirnya.
"Mereka kenapa?" Suryo ikut duduk di sebelah Nani.
__ADS_1
"Baru saja mereka bertengkar hebat. Trus Gino mengajak Putra dan Roby keluar karena mereka ketakutan. Aku-- ikut keluar juga bersama Gino," jelas Nani.
"Tapi setelah aku kembali, Agus dan Wulan sudah tidak ada di sini," lanjutnya.
"Apa mereka sudah kamu telpon?"
Nani mengangguk. Bahkan sudah puluhan kali Nani mencoba menghubungi nomor keduanya, tetapi tak satu pun dari mereka yang menjawab telpon Nani.
"Tapi mereka tidak angkat," sendu Nani.
"Mungkin mereka butuh tempat privasi untuk menyelesaikan masalahnya," ujar Suryo kemudian.
"Bisa jadi," sahut Nani.
Sebenarnya tidak perlu diherankan tiap kali Agus sedang berseteru dengan Wulan, pria itu akan selalu minggat dari rumah untuk beberapa hari. Tetapi yang berbeda kali ini adalah ketiadaan Wulan juga. Karena tidak biasanya wanita itu ikut menghilang meski sudah bertengkar dengan Agus.
"Besok pagi coba telpon lagi. Sekarang ayo tidur. Anak kita itu sudah dewasa semua. Biarkan mereka memecahkan masalahnya sendiri, supaya mereka bisa lolos menghadapi ujiannya masing-masing," seru Suryo, yang sebenarnya dibalik perkataannya itu terbesit harapan agar Nani juga mau mempertimbangkan urusan Gino.
Walau tidak mungkin akan bisa tidur dengan nyenyak, tetapi Nani ikut berbaring juga bersama Suryo.
Sedangkan keadaan di kamar Gino, pria itu saat ini sedang berusaha menelpon Naya. Tujuannya hanya ingin menyampaikan rasa terimakasih nya karena Naya sudah mau dan bersedia untuk menikah dengannya. Tetapi sayangnya handphone Naya sepertinya sedang tidak aktif, karena hanya terdengar suara operator yang mengatakan jaringan telponnya sedang tidak aktif.
Awalnya Gino berpikir positif mendapati handphone milik Naya tidak aktif, mungkin bisa saja Naya sudah tidur, begitulah dugaan Gino. Tetapi entah mengapa pikiran buruknya juga ikut muncul. Bisa jadi Naya sengaja menonaktifkan handphonenya karena memang ingin menghindarinya. Katakanlah sedang marah kepadanya karena rencana pernikahan yang disampaikan Suryo.
Karena sudah kepalang gusar, akhirnya Gino memilih untuk keluar dari kamarnya. Tetapi di saat Gino membuka pintu depan, ternyata sudah ada Agus yang berdiri di depannya.
"Loh, mas Agus? Dari mana, Mas?" sapa Gino basa-basi.
Sejenak tatapan mata Agus menghunus tajam pada netra Gino.
"Dari rumah Wulan," jawab Agus yang kemudian masuk ke dalam rumah.
Gino terus saja melihat langkah Agus yang berjalan mirip orang kebingungan. Meski penasaran karena Wulan tidak ikut pulang bersama Agus, tetapi pria itu memutuskan untuk menanyakannya besok saja.
Setelah memastikan Agus sudah masuk ke kamarnya, kemudian Gino memilih duduk di kursi santai yang ada di teras depan.
"Dek Naya, kamu bikin aku galau malam ini. Pingin aku susul ke rumahmu tapi sudah terlalu malam. Kenapa sih, Dek, hapenya pake nggak diaktifin?" gumam Gino seorang diri. Sudah mirip orang gila bicara sendiri hanya karena seorang Naya.
__ADS_1
*