
Gino pulang ke rumah Rahma karena Naya yang ada di sana. Pria itu tiba di rumah Rahma hampir jam dua belas siang. Keadaan rumah kebetulan sedang sepi, membuat Gino bertambah yakin jika Naya pasti hanya sendiri saja sedari tadi.
Kebetulan pintu rumah sedang tidak terkunci, maka Gino langsung masuk ke rumah tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Melongo ke arah dapur yang memang rumah ini benar-benar kosong. Lalu Gino pergi mengecek ke dalam kamarnya, dan ternyata ada Naya yang sedang terlelap di kasurnya.
Pelan sekali Gino melangkah masuk ke kamarnya. Pria itu takut mengusik ketenangan Naya yang sedang tidur siang. Yang ternyata tanpa Gino tahu Naya sedang tidak tidur. Wanita itu hanya memejamkan mata saja, lantaran kepalanya yang terasa pusing sejak siang tadi.
Bahkan saat Gino merangkak naik ke kasurnya, Naya masih saja memejamkan matanya. Pria itu mulai membelai pada rambut Naya, kemudian mencium pada puncak kepalanya.
"Maafkan aku, Sayang. Sudah mengabaikanmu dari kemarin," ucap Gino yang kemudian ikut berbaring sambil memeluk pada tubuh Naya.
Tangan Gino mengusap lembut pada perut Naya. Senyum pria itu tersungging tipis, manakala membayangkan dirinya tak lama lagi akan memiliki anak.
"Anak papa, jangan rewel ya, kasihan mama. Anak papa sudah tambah besar di sini, jadi nggak boleh rewel lagi sama mama," ucap Gino seorang diri, seakan dirinya berbicara dengan bayinya.
Naya tentu saja mendengar semua itu. Akhirnya ia pun membalikkan badannya untuk saling berhadapan dengan Gino.
"Kebangun ya, Dek, maaf ya," ucap Gino merasa bersalah telah mengusik istirahat istrinya.
"Aku memang tidak tidur, Mas," sahut Naya dengan suaranya yang lemas.
Gino merengut menatap Naya. Diteliti nya wajah sang istri yang sedikit pucat.
"Kamu sudah minum obat dari dokter, Dek? Wajah kamu agak pucat," ucap Gino sambil membelai pada pipi Naya.
"Sudah tadi pagi. Tapi aku nggak mau minum obat lagi. Rasanya kayak mancing perutku mau muntah," seru Naya yang dasarnya memang tidak suka minum obat.
Gino menghela nafasnya. Ia tahu kalau istrinya itu paling rewel kalau berurusan dengan obat. Pria itu pun bingung sendiri bagaimana caranya agar Naya mau meminum obat vitamin dari dokter obgyn itu. Padahal sebagian dari obat itu fungsinya untuk meredakan rasa mual.
"Baiklah kalau kamu tidak mau minum obat. Tapi aku punya syarat," ucap Gino tiba-tiba memiliki ide untuk membuat Naya rutin memeriksakan kandungannya setelah ini.
"Apa?"
"Kamu harus rutin periksa ke dokter. Tidak seperti bulan kemarin kamu menunda-nunda terus. Asal dokter itu bilang kamu dan bayi kita sehat, nggak masalah nggak minum obatnya," seru Gino mengucapkan syaratnya.
Naya langsung mengangguk setuju. Setidaknya syarat itu juga bermanfaat untuk dirinya dan bayinya. Karena ia yakin, ia dan bayinya akan tumbuh sehat walau tanpa mengkonsumsi obat. Mual, muntah, dan pusing, adalah gejala lumrah bagi orang hamil. Hal seperti itu biasanya akan mereda sendiri setelah kandungan itu memasuki trimester ke dua.
Melihat Naya yang langsung setuju, Gino semakin mengeratkan pelukannya. Ciumannya juga mendarat di kening Naya.
"Oh ya, Dek, rumah kok sepi? Lala di mana?"
"Lala dibawa ibu bapak ke rumah bu lek," sahut Naya. Rumah bu lek yang dimaksud Naya adalah rumah orang tuanya Fifi.
"Ibu gimana, Mas? Apakah sudah membaik?" tanya Naya.
"Alhamdulillah, Dek," sahut Gino tanpa mau menjelaskan lebih detail bagaimana kondisi Nani.
"Kenapa kamu pulang, kenapa tidak menjaga ibu mumpung libur kerja?" tanya Naya. Tumben-tumbenan juga Gino pulang, padahal sudah tahu ibunya sedang sakit.
"Aku khawatir sama kamu."
"Aku di sini sudah ada ibu, Mas. Aku memutuskan akan menginap di sini selama kamu menginap di rumah ibu. Nggak pa-pa kan?"
"Iya, nggak pa-pa. Tapi untuk hari ini aku mau di sini jaga kamu."
__ADS_1
Naya tersenyum mendengar itu.
Perlahan tangan Naya mulai menjalar nakal pada dada Gino. Gino yang melihat itu hanya senyum-senyum sendiri.
"Kangen ya?" goda Gino.
"Aku pingin ngelus dada kamu."
"Beneran? Tapi kok kayaknya itu kode lain?"
Naya malah menimpuk keras bahu Gino.
"Serius! Aku pusing begini malah bahas itu-itu!" Mulut Naya mengerucut sebal saat mengucapkannya.
Gino menyeringai mendengarnya.
"Baiklah! Apa itu termasuk ngidam kamu, Dek?" kata Gino yang sambil duduk untuk melepas baju yang dipakainya.
Naya tidak menjawab. Tetapi senyum manis wanita itu tersungging saat melihat suaminya yang sudah berpolos dada.
"Sekarang usap lah!" kata Gino sambil berbaring telentang.
Naya pun kemudian mulai mengelus pada dada Gino. Titik coklat itu sesekali menjadi permainan tangannya, membuat Gino tertawa-tawa sendiri karena menahan rasa geli.
"Bilang aja kalo pingin. Apa susahnya ngomong sih? Malah kata pak ustadz, perempuan kalau mengajak lebih dulu pada suaminya itu pahalanya gede banget loh, Dek!" seru Gino yang sebenarnya mulai ter4n9$ang karena ulah Naya.
Akan tetapi Naya tidak menggubris nya. Malah tangan wanita itu saat ini merambat turun untuk mengusap perut Gino.
Naya langsung menatap horor pada Gino. Tetapi suaminya itu malah menyeringai penuh harap.
"Mas, kamu lapar ya?" tanya Naya tiba-tiba.
"Iya, aku lapar pingin makan kamu."
"Iih... serius ah!"
Naya beranjak duduk. Kemudian wanita itu meletakkan telinganya menempel di perut Gino.
"Tuh kan, perut kamu aja bunyi krucuk-krucuk!"
Gino menyeringai lagi. Memang dari pagi Gino tidak makan apa-apa. Lalu Naya turun dari kasurnya. Setelah itu menarik tangan Gino agar ikut bangun.
"Ayo makan! Ibu tadi masak sayur nangka sama tempe bacem," ajak Naya.
"Kamu sudah tidak pusing, Dek?"
"Sedikit. Tapi sudah mending daripada tadi."
Gini mengenakan bajunya lagi, setelah itu mereka berdua keluar kamar dan kemudian pergi ke dapur.
"Jadi kamu cuma sendiri dari tadi, Dek?" tanya Gino setelah ia duduk anteng di kursi makan.
"Iya, bapak ibu setelah dari rumah sakit pulang sebentar ambil Lala, trus langsung berangkat lagi ke rumah bu lek. Riki sama Farhan main ke rumah temennya."
__ADS_1
Naya selesai mengambilkan Gino nasi beserta lauknya di piring.
"Di makan, Mas," ujar Naya.
"Kamu nggak makan?"
"Nggak, aku masih kenyang."
"Mau makan yang lain tidak?"
Naya menggelengkan kepala, karena memang lagi tidak ingin makan apa-apa sekarang.
"Kalau pingin apa-apa ngomong aja, Dek. Aku siap direpotkan sama kamu kok."
"Aku pingin makan burung kamu!" celetuk Naya tiba-tiba. Niatnya ingin bercanda, tetapi ditanggapi serius oleh Gino dengan senyumnya yang menyeringai nakal.
"Ah, aku suka itu! Tunggu bentar lagi ya, Sayang, mas mu mau makan dulu!" kata Gino yang kemudian menyantap makanannya.
Naya tertawa puas mendengarnya.
"Aku bohong, Mas!" kata Naya sambil tertawa ngakak.
"Bohong harus tanggung hukumannya!"
"Udah, makan sana, jangan banyak ngomong, nggak baik!" ucap Naya mengalihkan bicaranya.
"Kamu yang mulai duluan, Dek. Barusan saja sebenarnya kamu mancing-mancing aku, bilangnya aja nggak pingin, padahal malu ya..."
"Emang lagi nggak pingin kok."
"Nggak usah bohong, aku tahu burungku memang ngangenin." Gino sampai terkekeh sendiri saat mengatakannya.
"Apaan sih, Mas!" Naya malu sendiri jadinya.
Pintu di depan berbunyi, pertanda ada orang masuk. Rupanya yang datang adalah Abdul dan Rahma, juga Lala. Bocah itu langsung berlari ke arah dapur untuk menemui papa mamanya.
"Mama... Papa..." pekik Lala dengan riang.
Di tangannya sudah menenteng sangkar burung kecil lengkap dengan burungnya, yang baru saja dibeli oleh Lala.
"Yaya punya buyung!"
"Wah, lucu sekali burungnya, La!" ucap Naya dengan riang juga.
Sejenak Naya melirik kepada Gino.
"Mas, burungmu kalah lucu sama burungnya Lala," seloroh Naya sedikit berbisik takut didengar oleh Lala.
Kemudian Naya beranjak dari tempatnya duduk, mendekati Lala yang nampak asyik memandangi burung kecilnya.
"Nasib! Pingin minta jatah tapi anak keburu pulang!" batin Gino bersuara.
*
__ADS_1