Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 09


__ADS_3

Weekend sudah tiba. Saatnya Naya menepati janjinya kepada Lala untuk mengajaknya jalan-jalan ke Aloon-aloon kota. Bocah kecil itu sedari mandi sampai selesai berpakaian terus berdendang riang. Nyanyian random yang asal keluar dari mulut cadelnya. Sepertinya Lala memiliki bakat bernyanyi sejak dini. Karena nada lagu yang dilantunkan Lala tidak fals, mirip seperti artis penyanyi cilik.


"Mama, Yaya mau beyi bayon ya?" kata Lala saat sedang menunggu Naya selesai berdandan.


"Boleh," sahut Naya yang kemudian mendapati senyum sumringah Lala di bibir mungilnya.


"Belum selesai, Mbak?" Fifi tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar Naya. Gadis itu hari ini juga ikut keluar bersama Naya.


"Tunggu sebentar," Naya mengikat rambutnya dan-- selesai.


"Yuk, La! Kamu gendong tante Fifi." Lalu Fifi membawa Lala keluar dari kamar sambil di gendong.


Kemudian Naya ikut keluar dari kamarnya. Sebelum itu mereka berpamitan kepada Rahma. Setelah berpamitan mereka berangkat menuju Aloon-aloon kota.


Di perjalanan itu ponsel milik Fifi terus saja berbunyi. Sepertinya banyak notif pesan masuk yang diterima Fifi saat ini.


"Di jalan jangan main hape terus, Fi," pesan Naya.


"Iya, Mbak. Ini lagi bales pesan teman," sahut Fifi tetapi masih tetap asyik memainkan ponselnya.


"Banyak kejadian orang main hape di motor di jambret orang." Naya memperingatkan lagi dengan kejadian yang marak terjadi belakangan ini.


"Iya, Mbak." Lalu Fifi memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya.


Tak lama kemudian mereka berdua sudah tiba di Aloon-aloon kota. Lala langsung meloncat-loncat kegirangan. Melihat banyaknya permainan di area Aloon-aloon itu tentu membuat jiwa kecil Lala ingin bermain sepuasnya.


Naya memilih duduk di kursi taman sambil mengawasi Lala yang bermain di rerumputan taman Aloon-aloon itu, sedangkan Fifi pamit pergi ke toilet yang ada di pojokan Aloon-aloon.


Sesekali Naya senyum-senyum sendiri melihat aksi lucu Lala yang sangat menggemaskan. Senyum ceria Lala telah menjadi moodbooster yang paling ampuh bagi Naya. Walau terkadang hatinya sering miris, manakala bocah kecil itu bertanya ayah kepadanya.


Terkadang Naya berpikir heran, darimana Lala bisa bertanya tentang ayah. Padahal dirinya bercerai dengan suaminya dulu saat Lala masih bayi, yang pasti tidak mungkin tahu seperti apa sosok ayahnya. Bahkan foto-foto ayah Lala saja sampai saat ini Naya tidak pernah menunjukkan kepada Lala. Bukan tidak ingin mengenalkan kepada Lala siapa ayahnya, tetapi Naya masih ingin menunggu anaknya itu mengerti apa artinya bercerai.


Sempat Naya su'udzon sendiri dalam hati tiap Lala menanyakan ayah kepadanya. Apakah Rahma yang memberitahunya, ataukah Fifi yang memberitahunya?


Saat Naya sedang asyik-asyiknya melamun itu, tiba-tiba saja didepan mukanya muncul dua balon berkarakter kartun. Naya tergeragap dari lamunannya. Dan spontan menoleh kepada orang yang sengaja menghalangi mukanya dengan balon itu.


"Kok ngelamun? Entar cantiknya hilang loh," ucap Wahyu yang tiba-tiba saja muncul didepan Naya. Pria itu langsung duduk begitu saja disamping Naya.


Naya masih mengerutkan keningnya penasaran menatap Wahyu. Darimana pria itu tahu dirinya saat ini ada di sini. Ah, itu pasti ulah Fifi. Dasar!


"Pasti mau nanya kenapa aku bisa di sini, iya kan?" Wahyu bertanya lebih dulu apa yang menjadi uneg-uneg Naya saat ini.


"Hem. Kalian sudah merencanakan ini dibelakangku?" Naya langsung mengutarakan kecurigaannya. Ia sangat yakin jika dari tadi dalam perjalanan itu Fifi sedang chatting dengan pria yang saat ini tersenyum manis kepadanya.


Wahyu tertawa sekilas. Lalu memanggil Lala yang sedang asyik bermain, tanpa mau menjawab pertanyaan Naya.


Lala yang mendengar namanya dipanggil tentu menoleh. Apalagi saat melihat dua balon yang ditunjukkan kepadanya, bocil itu berlarian kegirangan mendekati Wahyu.


Lala langsung mengambil dua balon itu sambil loncat-loncat girang. Bocah itu memang paling suka dengan balon. Dan lihatlah, saat ini bocah itu seakan tidak ada capeknya terus berlarian sambil memegangi dua balonnya dengan riang.

__ADS_1


"Jangan lari jauh-jauh, Lala," pekik Wahyu memperingati Lala untuk tetap di sekitar tempat ini.


Sejenak suasana menjadi hening. Naya lebih banyak diamnya. Tatapannya terus memperhatikan Lala yang asyik bermain sendiri. Tanpa tahu jika sedari tadi Wahyu menatap lekat kepadanya.


"Nay,"


Naya mendengar namanya dipanggil oleh Wahyu, tetapi ia pura-pura tidak mendengarnya. Terus fokus memperhatikan Lala didepan.


"Aku-- kangen kamu, Nay," ucap Wahyu dengan gamblang, sambil memberanikan diri menyentuh tangan Naya.


Naya terkesiap, dan spontan menarik tangannya yang digenggam oleh Wahyu. Tetapi Wahyu malah mengambil tangan Naya lagi, dan menggenggamnya lagi dengan erat.


"Tetaplah seperti ini, Nay. Aku mohon," pinta Wahyu. Kali ini kedua tangan Wahyu menggenggam tangan Naya.


Wahyu tahu jika Naya tidak nyaman, tetapi Wahyu tidak peduli. Ia sudah tidak kuat untuk menahan cintanya kepada Naya. Tatapan matanya sedari tadi tidak pernah terlepas, tetap menghunus tajam kepada Naya.


"Wahyu," Naya memohon untuk Wahyu melepas genggamannya. Dan Wahyu tetap tidak peduli itu.


"Aku cinta kamu, Nay." Pria itu menyatakan rasa cintanya yang kedua kalinya kepada Naya.


"Aku ingin melamar kamu."


Spontan Naya menoleh menatap Wahyu, saat pria itu mengatakan ingin melamarnya.


"Aku serius, Nay. Aku serius," ucap Wahyu meyakinkan.


"Aku akan menunggu kamu sampai kamu siap." Wahyu tetap tak pantang menyerah.


Naya menggeleng kecil. Ia tidak mau memberi harapan apapun kepada Wahyu. Ia tidak mau suatu saat nanti akan mengecewakan Wahyu. Karena masalah kesiapan hati itu Naya tidak tahu.


"Jangan mengharapku. Kamu layak mendapatkan gadis, bukan janda sepertiku." Naya mempertegas statusnya kepada Wahyu.


"Aku tidak peduli itu, Nay. Mau kamu janda, mau kamu punya anak, aku terima itu. Aku sangat cinta kamu, Nay."


Sekilas Naya tersenyum getir.


"Apakah kamu sudah mempertimbangkan bagaimana keluarga kamu? Apakah mereka sudah tahu?"


Wahyu terdiam saat ditanya soal keluarganya oleh Naya. Dari ini Naya semakin yakin untuk menolak Wahyu. Jujur, Naya tidak mau nanti hubungannya akan ditentang oleh keluarga Wahyu. Kalau masalah keluarga dari Naya, tentu tidak ada masalah. Selagi Naya berkenan, Abdul dan Rahma pasti akan merestuinya.


"Lala," panggil Naya kepada Lala.


Lalu Naya beranjak dari tempat itu untuk mendekati Lala.


"Ayo pulang, ini sudah panas. Lala harus tidur siang. Mama juga ngantuk." Naya sampai pura-pura menguap didepan Lala, sehingga bocah itu langsung mengangguk setuju diajak pulang olehnya.


Lalu Naya berlalu begitu saja. Ia melihat Wahyu masih terduduk di tempatnya.


"Ante Pipi mana, Ma?" tanya Lala karena melihat Fifi tidak ada.

__ADS_1


Naya menghentak nafasnya kesal. Dasar Fifi! Dia pasti berbohong pamit ke toilet tadi. Pasti di tempat lain Fifi sedang kencan dengan Irwan. Naya yakin itu.


"Ayo kita cari tante Fifi," kata Naya sambil celingukan ke sekitar, siapa tahu Fifi ada.


Naya dan Lala jalan beriringan dengan santai. Langkah kaki Lala yang kecil membuat Naya ikut memelankan langkah kakinya juga.


Tiba-tiba saja Wahyu menyusul mereka, dan begitu sudah dekat Wahyu langsung mengangkat tubuh Lala dalam gendongannya.


"Ayo om gendong Lala, biar jalannya tidak capek," kata Wahyu kepada Lala.


Lala tersenyum girang. Entahlah, heran juga dengan Lala. Bocah itu seperti suka digendong oleh laki-laki. Mungkin Lala mengira dirinya sedang digendong ayahnya. Padahal selama digendong oleh Abdul, ekspresi Lala tidak seceria ini.


Sedangkan Naya hanya diam saja meski Wahyu menggendong anaknya tanpa permisi. Rasanya tidak tega menghancurkan keceriaan Lala saat ini. Dan akhirnya mereka berdua berjalan beriringan, mirip pasangan keluarga yang bahagia.


"Kamu mau cari Fifi kan?" tanya Wahyu kepada Naya.


Naya hanya mengangguk.


"Aku tahu di mana mereka sekarang," kata Wahyu dengan santai.


Lalu mereka berdua sudah ada di parkiran. Tetapi Naya tidak melihat Fifi.


"Mereka di mana?" tanya Naya.


Wahyu tidak menyahut. Malah ia mendudukkan Lala di motornya yang terparkir di sana.


"Mereka saat ini sedang ke puncak gunung Bromo," jelas Wahyu.


"Astaga! Beneran?" Naya tercengang kaget. Nekat sekali Fifi pergi ke gunung Bromo tanpa pamit bapak ibu.


"Iya, beneran. Makanya ayo kita susul mereka. Siapa tahu mereka masih ditengah perjalanan. Kita bisa meminta mereka balik pulang."


Naya langsung menolak ajakan Wahyu.


"Kamu bisa telpon mereka. Coba kamu telpon mereka, Wahyu. Suruh mereka balik." Naya memberi solusi lain.


Wahyu ikut-ikutan menggeleng menolak.


Naya sudah berwajah cemberut. Apakah ini juga sebagian jebakan dari Wahyu?


"Ayo, Nay," ajak Wahyu lagi. Saat ini dirinya sudah duduk dengan siap di atas motornya.


"Sama Lala juga?"


"Iya. Lala pingin naik gunung kan?" Wahyu malah bertanya kepada Lala, yang langsung mendapat respon anggukan kepala riang dari Lala.


Dengan terpaksa akhirnya Naya menerima ajakan Wahyu untuk ke gunung Bromo. Tak mengulur waktu, akhirnya mereka berangkat menuju wisata itu. Yang setidaknya memakan waktu tempuh sekitar dua jam untuk sampai ke puncaknya.


*

__ADS_1


__ADS_2