
Usai sarapan pagi, Gino mengajak Naya untuk ikut ke rumahnya. Akan tetapi Naya menolaknya dengan alasan masih harus bantu beres-beres rumah yang cukup berantakan efek hajatan pernikahan.
Padahal sejujurnya Naya merasa tidak siap diajak Gino ke rumahnya. Yang pastinya di sana ia akan bertemu dengan sang ibu mertua. Jujur, Naya tidak ingin capek hati lagi. Biar saja Nani masih angkuh kepadanya, Naya sudah pasrah.
Sedangkan Gino yang tahu kalau sebenarnya Naya hanya pasang alasan untuk tidak ikut, ia bisa memaklumi nya. Akhirnya Gino memutuskan akan berangkat sendiri ke rumahnya. Tujuan Gino pulang ke rumahnya saat ini hanya ingin mengambil pakaian dan beberapa keperluan penting lainnya. Sebab esok lusa, Gino berencana akan langsung berangkat kerja dari rumah Naya.
Kebetulan pernikahan Gino dan Naya digelar pada hari jumat, makanya Gino bisa menikmati masa menjadi pengantin selama dua hari ini, sabtu dan minggu.
"Om mau te mana?" tanya Lala yang saat itu ada di kamar bersama Naya juga.
Gino yang sedang menyelesaikan memasang kancing bajunya mendekati Lala, dan ikut duduk di sampingnya.
"Lala mulai hari ini panggil om papa," seru Gino menyuruh Lala merubah panggilannya.
Naya langsung bereaksi kaget. Masih suka insecure mendapati Gino benar-benar tulus menerima Lala sehingga meminta langsung kepada Lala untuk memanggilnya dengan sebutan papa.
"Ayo, Lala panggil apa?" tanya Gino lagi kepada Lala.
"Om papa," kata Lala dengan lucunya.
"Tidak, bukan begitu," ralat Gino sambil terkekeh gemas.
"Papa," kata Gino lagi sambil menunjuk dadanya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Papa." Lala meniru ucapan Gino.
"Iya, ini papa," kata Gino sambil meraih tangan Lala dan menyentuhkannya ke pipi Gino.
"Papa!" Lala mengulangi lagi.
Gino tersenyum senang mendengarnya. Sekilas menoleh kepada Naya, kemudian balik menatap Lala lagi.
"Lala, ini mama dan ini papa," kata Gino semakin mempertegas lagi kepada Lala.
Bocah itu mengangguk-angguk paham. Berulang-berulang menyebut kalimat yang sama seperti yang dituntun Gino kepadanya.
"Lala, sekarang papa harus keluar dulu, boleh ya?" kata Gino bertanya kepada Lala.
Lala langsung mengangguk setuju. Syukur sekali bocah itu tidak rewel meminta ikut.
"Nanti papa balik lagi kok. Papa mau tidur sama Lala," seru Gino dengan serius.
"Iya, Yaya mau tidung sama papa sama mama." Bocah itu tak kalah antusias senangnya.
"Oke! Jadi Lala harus janji sama papa, Lala nggak boleh rewel sama mama atau sama nenek kakek."
Lala mengangguk-angguk saja. Yang namanya bocil mood nya susah ditebak. Jadi tidak jaminan juga meski sudah janji dengan Gino. Apalagi bocah sekecil itu masih belum paham apa istilah janji itu seperti apa.
Lalu Gino beranjak berdiri dari tempatnya.
"Maaf ya, Mas, hari ini aku benar-benar nggak bisa ikut kamu," kata Naya merasa bersalah sendiri, tetapi ia tetap memutuskan untuk tidak ikut Gino ke rumah mertuanya.
Gino mengangguk paham. Naya meraih tangan Gino untuk kemudian bersalaman kepadanya. Dan Gino membalasnya dengan mencium lama di kening Naya.
"Jangan terlalu capek. Nanti siang aku sudah pulang," kata Gino setelahnya.
Naya hanya mengangguk kecil. Kemudian mereka keluar kamar untuk mengantar Gino hingga ke teras depan. Setelah itu Gino akhirnya pergi menggunakan mobilnya.
***
Gino sudah tiba di rumahnya. Suryo yang melihat kedatangan Gino langsung beranjak ke teras depan untuk menyapanya. Tetapi kemudian dibuat kecewa setelah melihat Gino datang seorang diri tanpa istrinya.
__ADS_1
"Naya tidak ikut, Gi?" sapa Suryo.
"Tidak, Ayah. Di rumah masih cukup berantakan, Naya harus bantu beres-beres biar cepat rapi lagi."
"Kalau begitu kenapa kamu nggak nunggu Naya selesai saja? Begitu kamu kan bisa datang bareng Naya ke sini. Bisa datang malamnya sekalian nginep di sini," protes Suryo.
Gino tak bisa menjawabnya. Lagian ayahnya juga pasti tahu kenapa Gino tidak memaksa Naya untuk ikut ke sini.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam rumah. Tetapi Gino tidak mendapati Nani di sana.
"Ibu di mana, Yah?" tanyanya penasaran.
"Ibumu di kamar. Coba kamu lihat dia," jawab Suryo tanpa mau menjelaskan kondisi Nani yang sebenarnya sedang sakit.
Kemudian Gino masuk ke kamar orang tuanya. Di sana ia melihat Nani sedang memejamkan mata, entah tidur atau tidak. Perlahan Gino mendekatinya, lalu duduk di sampingnya. Dan benar saja, Nani langsung membuka matanya.
Senyum kecil Nani kembali terulas melihat anak kesayangannya pulang. Jujur, yang Nani takutkan adalah Gino akan lupa pulang setelah beristri.
"Ibu," sapa Gino yang kemudian menyalim takdzim kepadanya.
Nani beranjak duduk. Ia terbatuk-batuk. Dari sini Gino baru sadar kalau ibunya itu sedang kurang sehat.
"Ibu sakit?" tanya Gino, memastikannya sambil menyentuh kening Nani. Kulitnya sedikit lebih hangat dari biasanya.
"Ibumu sakit karena kangen kamu, Gi," kata Suryo yang tiba-tiba ikut masuk ke kamar.
Nani tidak merespon apa-apa meski Suryo terkesan memojokkan nya. Tangannya sedari tadi terus menggenggam tangan Gino, seperti tidak ingin melepasnya pergi.
"Kamu sudah makan, Gi?" tanya Nani dengan suaranya yang serak.
"Sudah, Bu," sahut Gino sejujurnya.
Sejenak Nani menghembus nafas beratnya.
Bayangan akan ditinggal pergi Gino dari rumah ini terus saja berputar di otaknya, sehingga membuat kesehatan Nani jadi ngedrop.
"Kata siapa? Nanti siang aku mau makan sama ibu di sini," elak Gino, mencoba menghibur Nani.
Pria itu paham apa yang sedang dirasakan Nani sekarang. Mungkin ibunya itu mengira ia akan lupa metime dengan keluarga setelah memiliki istri.
Suryo memilih keluar lagi dari kamarnya, sekedar memberi privasi untuk Gino dan Nani untuk saling berbincang dengan nyaman. Pintu kamar sengaja tidak di tutup lagi oleh Suryo, membuat pandangan mata Nani mengarah ke luar kamar, seperti mencari-cari seseorang.
Gino pun ikut menoleh ke arah pintu.
"Pintunya mau aku tutup, Bu?" tanya Gino menduga Nani ingin pintu kamarnya di tutup saja.
Nani menggeleng.
"Apa dia tidak ikut?" batin Nani bertanya-tanya sendiri. Karena jika Gino datang, pasti Naya akan ikut datang menurut Nani.
"Ibu apa sudah makan?" tanya Gino perhatian sekali.
Nani mengangguk saja.
"Sudah minum obat?"
Nani mengangguk lagi.
"Mm... Kalau begitu ibu istirahatlah. Aku mau ke kamar dulu, Bu," pamit Gino kemudian.
Nani bergeming saja saat Gino keluar dari kamarnya. Pikiran Nani kembali menduga kalau Naya mungkin langsung masuk ke kamar Gino tadi.
__ADS_1
Begitu Gino sudah ada di kamarnya, pria itu segera mengambil koper kecil dan mengisinya dengan beberapa pakaian miliknya juga beberapa barang penting lainnya. Tak lupa Gino juga membawa tas kerjanya dan dua pasang sepatu pantofel yang biasa dipakai untuk bekerja. Setelah selesai berkemas, Gino memutuskan untuk berbaring di kasurnya sejenak. Mungkin untuk waktu yang lama kamar ini sudah tidak akan ditempatinya lagi, karena Gino memutuskan untuk tinggal bersama Naya di rumahnya sementara ini.
Ngomong-ngomong Naya sekarang lagi apa ya? Karena penasaran akhirnya Gino menelpon Naya via video call.
"Assalamu'alaikum, Sayang," sapa Gino begitu telponnya dijawab oleh Naya.
"Waalaikumsalam, Mas." Naya tersenyum hangat kepada Gino.
"Beres-beresnya sudah, Dek?"
"Sudah, Mas," sahut Naya.
Karena kebetulan saudara-saudara Rahma yang rumahnya tidak jauh dari sana datang lagi untuk membantu beberes rumah. Akhirnya semua bisa teratasi dengan cepat.
"Lala di mana, Dek?"
"Di bawa Fifi barusan."
Gino nampak menguap, efek ngantuk karena semalam tidurnya hanya beberapa jam saja.
"Kamu ngantuk, Mas?"
Gino mengangguk sambil menguap lagi.
"Tidur saja, Mas. Jangan maksa pulang kalau ngantuk, bisa bahaya entar."
"Iya, aku pingin tidur, sayangnya nggak bisa meluk kamu."
Naya terkekeh sendiri melihat Gino yang mulai bucin kepadanya.
"Seneng ya lihat aku begini? Ketawamu kayak puas gitu?" seloroh Gino.
"Nggak, sensi amat sih kamu!"
"Dek!"
"Iya."
"Entar malam ada cicilan lagi kan?"
Naya tergelak mendengar pertanyaan Gino.
"Masa nggak ada, Dek?"
"Iya, ada," pasrah Naya akhirnya.
"Cicilannya boleh versi lain kan?"
"Apa kata nanti!"
"Ah, jadi nggak sabar nunggu nanti malam."
"Coba sekarang kamu bareng aku, jadi nggak perlu nunggu nanti malam, Mas. Siang juga boleh nyicil," ucap Naya.
"Serius, Dek? Aku pulang nih," jawab Gino tiba-tiba berbinar.
Naya tertawa ngakak di sana.
"Tahan, Mas. Aku bilang kamu jangan pulang kalau lagi ngantuk."
"Iya deh," pasrah Gino kemudian.
__ADS_1
Lagi pula dirinya memang benar-benar merasa ngantuk dan ingin tidur sebentar walau cuma beberapa menit saja. Dan setelah itu sambungan telepon mereka berakhir. Gino akhirnya terlelap dengan nyaman di kamarnya.
*