
Gino dan Naya sudah tiba di depan rumah bidan yang dituju. Tetapi Naya tak lekas turun dari motornya. Tiba-tiba pikiran Naya gamang untuk lanjut melahirkan di rumah bidan itu atau lebih baik di rumah sakit saja. Kejadian posisi bayinya yang pernah sungsang membuat Naya tiba-tiba kepikiran bagaimana seandainya posisi itu balik lagi saat ini. Sebab kun fayakun Tuhan itu bisa saja terjadi.
"Ayo, Dek," ajak Gino masih dengan posisinya sama-sama nangkring di atas jok motor.
"Kita putar balik, Mas," kata Naya tiba-tiba.
Gino langsung menoleh kaget.
"Putar balik ke mana?" tanyanya heran.
"Ke rumah sakit," jawab Naya.
Sejenak Gino melongo mendengar ucapan Naya. Membingungkan! Gino sudah panik luar biasa dari tadi, si istri malah masih bisa santai dengan mengajaknya putar-putar menyusuri jalan raya dulu. Apa perutnya sudah tidak sakit lagi?
Tanpa banyak bicara lagi Gino pun kemudian putar arah untuk menuju rumah sakit. Sebenarnya pria itu ingin melajukan motornya dengan cepat agar bisa segera sampai ke rumah sakit. Rasanya tidak tega mendengar rintihan istrinya yang keluar lirih saat kontraksi itu terjadi lagi. Akan tetapi Gino masih ingat jika saat ini istrinya itu mau melahirkan yang tentunya harus membawa motornya dengan kecepatan aman. Karena jika lengah sedikit pun, akan ada dua nyawa yang akan ia pertaruhkan keselamatannya.
"Mas, aku tidak mau melahirkan di bidan tadi," ucap Naya saat mereka masih berada di perjalanan menuju rumah sakit.
"Iya nggak pa-pa."
"Aku takut tiba-tiba anak kita sungsang lagi," ungkap Naya menyampaikan keraguannya.
"Itu tidak mungkin, Dek. InsyaAllah aman," sahut Gino berusaha menenangkan Naya.
"Namanya juga takut, Mas. Kamu sih nggak tahu gimana dilemanya perempuan kalau mau melahirkan."
"Nggak perlu takut. Aku temani kamu, aku akan selalu di samping kamu," balas Gino.
"Tapi aku tetap takut, Mas," setu Naya dengan sendu.
Kemudian Gino menggenggam tangan Naya yang sedang melingkar erat di pinggangnya. Tangan pria itu mengusap punggung tangan Naya. Sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi saat istrinya mengeluh takut. Sebab Gino sendiri juga merasakan hal yang sama. Ini adalah pengalaman pertama buatnya.
"Kamu yang tenang ya, Dek. Aku akan selalu di samping kamu," ucap Gino kemudian.
Naya diam saja. Tangannya semakin erat memeluk pinggang Gino. Rintihan kecil di mulutnya kembali terdengar.
"Sakit, Mas," rintih Naya sambil menggigit kecil bibirnya.
"Iya, sabar, Dek, sebentar lagi kita sampai."
Selama di perjalanan itu, Naya berusaha terlihat baik-baik saja. Tetap menahan sekuat diri saat rasa sakit itu semakin bertambah. Rasanya malu sendiri kalau mau melahirkan harus histeris sehingga menjadi pusat perhatian orang. Yang Naya mau dari dulu, setiap ia melahirkan tidak banyak orang yang tahu. Cukup dengan ditemani oleh suami saja bagi Naya sudah menjadi penyemangat tersendiri.
Sedangkan keadaan di rumah Rahma, wanita itu nampak gelisah karena tidak ada kabar dari Gino dan Naya. Kalau memang benar mereka ke rumah bidan, tentunya mereka sudah tiba dari tadi. Sedangkan Abdul yang terus mencoba menghubungi Naya tak tahunya handphone Naya lupa tidak dibawa, tertinggal dalam kamarnya. Berganti menelpon Gino, tidak ada jawaban darinya.
"Ya Allah... Semoga Naya baik-baik saja. Semoga lahirannya diberikan kelancaran," ucap Rahma sambil duduk gelisah di dapur.
"Aamiin." Abdul langsung mengamini ucapan Rahma.
Karena Naya yang tak kunjung ada kabar lagi, membuat Rahma lupa untuk menyiapkan sarapan pagi untuk Riki dan Farhan yang akan berangkat sekolah pagi itu.
"Buk, aku sarapan apa pagi ini?" tanya Farhan begitu membuka tudung saji tidak ada makanan apa-apa di sana.
"Astaghfirullah! Ibu sampai tidak masak, Han." kaget Rahma yang kemudian kebingungan sendiri.
"Kalian beli sarapan di sekolah saja. Ini bapak tambah uang sakunya."
Abdul kemudian menambah uang saku Riki dan Farhan.
"Mbak Naya memangnya kenapa, Buk?" tanya Riki yang memang tidak tahu menahu, sebab dari tadi sibuk sendiri dalam kamarnya.
__ADS_1
"Mbak mu mau melahirkan, Ki," jawab Rahma.
"Alhamdulillah... Akhirnya aku mau punya dua ponakan," ucap Riki yang ikut senang mendengarnya.
"Riki, nanti pas kamu lewat rumah bu bidan di ujung sana, kamu lihat ada motornya mas mu apa tidak? Kita masih tidak tahu mbak mu itu lahirannya di mana," pesan Abdul.
Jalan menuju sekolah Riki kebetulan juga melewati rumah bidan itu, makanya Abdul berpesan seperti itu kepada Riki.
"Iya, Pak. Nanti aku telpon bapak ada tidaknya."
Kemudian Riki dan Farhan pamit berangkat sekolah kepada Rahma dan Abdul.
Setelah menunggu beberapa menit kemudian, handphone jadul milik Abdul berbunyi. Sebuah panggilan telepon dari Riki.
"Gimana, Ki?" tanya Abdul langsung.
"Di depan rumah bu bidan nggak ada motor mas Gino, Pak," tutur Riki.
"Benar, Ki? Coba kamu lihat lagi, siapa tahu parkir di tempat lain," ucap Abdul masih tidak percaya dengan pernyataan dari Riki.
"Justru aku sekarang lagi di depan pagar rumah bu bidan, Pak. Nggak ada siapa-siapa di sini. Pagarnya juga terkunci kayak nggak ada orangnya," jelas Riki sambil membunyikan gembok pagarnya agar bisa didengar oleh Abdul.
"Ya sudah, kamu cepat ke sekolah sekarang. Lama-lama di depan rumah bu bidan entar kamu dikira mau ngapa-ngapain lagi," ucap Abdul yang kemudian sambungan telepon mereka berakhir.
"Mungkin Naya tidak jadi lahiran di rumah bu bidan, Buk," tutur Abdul kepada Rahma.
"Trus mereka sekarang ada di mana, Pak?" Rahma semakin panik.
"Mungkin mereka pindah tempat. Riki bilang rumah bu bidan juga nggak ada orangnya."
"Ya Allah... Tolong selamatkan mereka. Selamatkan anakku Naya, selamatkan cucuku, selamatkan menantuku," ucap Rahma yang masih kepikiran tentang kabar mereka di mana saat ini.
"Buk, tolong kamu urus Lala dulu. Aku sambil mau cari Naya, sekarang mereka ada di mana," ucap Abdul kemudian.
Rahma pun kemudian mengambil Lala yang sedari tadi berada dalam gendongan Abdul. Sedangkan Abdul sendiri langsung melajukan motor usangnya untuk memastikan saat ini Naya ada di mana.
Sedangkan saat ini Naya sudah tiba di rumah sakit. Wanita itu langsung disambut oleh perawat yang jaga sambil membawakan Naya kursi roda.
"Tidak, Sus, terimakasih. Aku mau jalan saja," tolak Naya, memilih lebih baik berjalan kaki daripada duduk di kursi roda.
"Ibu kuat?" Perawat itu memastikan.
"InsyaAllah kuat," sahut Naya.
Dengan dibawa berjalan kaki begini akan membantu mempercepat proses pembukaan lahir. Naya tidak mau proses lahirannya akan memakan waktu lama. Ia sudah tidak sabar ingin segera melihat bayi mungilnya yang selama ini menendang-nendang dalam perutnya.
Sedangkan Gino terus merangkuli pundak Naya. Menuntunnya dengan hati-hati. Bersyukur sekali mendapati istri yang tidak histeris saat mau melahirkan. Naya terbilang wanita kuat dan tidak lemah.
Saat ini mereka sudah tiba di ruang bersalin. Naya langsung dibimbing untuk berbaring di ranjang yang telah disediakan. Saat Gino disuruh menunggu di luar ruangan terlebih dahulu, Naya langsung menolak.
"Biarkan suamiku tetap di sini, Sus. Aku mau ditemani suamiku," ucap Naya sambil menggenggam erat tangan Gino agar tidak pergi.
"Iya, setelah ini, Buk. Sekarang ini saya mau cek pembukaan ibu dulu," kata perawat itu sambil melirik sungkan kepada Gino.
"Tidak apa-apa, lakukan saja. Biar suamiku tahu," ucap Naya lagi.
Perawat itu kemudian mengangguk setuju. Gino melihat sendiri bagaimana ketika jari perawat itu mulai masuk pada jalan lahir itu.
"Sudah pembukaan lima, Buk," kata perawat itu setelah selesai mengecek.
__ADS_1
"Kira-kira masih sekitar satu atau dua jam lagi, tergantung cepat atau tidaknya," lanjut perawat itu.
Setelah itu, perawat itu mulai mempersiapkan semua keperluan medis yang dibutuhkan saat proses bersalin. Gino mendekatkan wajahnya pada wajah Naya.
"Semangat ya, Dek. Aku akan tetap bersama kamu di sini," ucap Gino sambil kemudian mengecup pada kening Naya.
"Janji kamu tetap di sini temani aku."
"Iya, aku nggak akan ke mana-mana."
Lalu perawat yang tadi datang lagi, untuk mengecek kesehatan Naya termasuk tensinya. Setelah semuanya tercatat baik-baik saja, ternyata perawat itu memperhatikan kaki Naya yang memang agak gemetar.
"Ibu sudah sarapan belum?" tanya perawat itu menduga-duga gemetar nya kaki Naya karena belum makan.
"Belum, Sus."
"Ooh... Pantesan kaki ibu gemetar gitu."
"Pak, minta tolong belikan ibu sarapan dulu, biar nanti punya tenaga pas lahiran," kata perawat itu menyapa Gino.
"Baik, Sus," sahut Gino.
"Tapi aku nggak mau ditinggal, Mas." Naya terus menahan tangan Gino.
"Sayang, dengarkan aku. Kata perawat tadi itu masih sekitar satu atau dua jam lagi. Sekarang kamu harus makan dulu biar punya tenaga. Kamu dari bangun tadi belum makan apa-apa kan?"
"Tapi jangan lama-lama ya, Mas," ucap Naya akhirnya mau ditinggal sebentar oleh Gino.
Gino tersenyum lega mendengarnya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Gino sambil membelai sayang pada pucuk kepala Naya.
"Terserah kamu saja, Mas. Pokoknya jangan lama-lama."
Setelah itu kemudian Gino keluar dari ruang bersalin itu. Tak tahunya ketika sampai di luar ruangan, Gino masih dimintai data administrasi oleh seorang perawat lainnya. Setelah selesai mengisi data itu, kemudian langkah kaki Gino langsung menuju arah kantin rumah sakit.
Saat sudah tiba di kantin rumah sakit itu, tak sengaja mata Gino menengok ke arah jam dinding.
"Astaghfirullah! Aku lupa tidak ijin ke kantor!"
Buru-buru Gino langsung mendial nomor kantor untuk meminta cuti hari ini. Setelah semuanya beres, Gino melihat banyak panggilan tak terjawab dari bapak mertua. Saking paniknya tadi sampai-sampai pria itu juga lupa tidak mengabari orang rumah.
Gino langsung menelpon Abdul. Tak menunggu lama, panggilan telpon darinya dijawab oleh Abdul. Abdul langsung mencerca Gino dengan banyak pertanyaan. Setelah Gino menjelaskan keberadaan mereka, maka Abdul dan Rahma akan menyusul mereka saat ini juga.
"Ya Allah! Lupa lagi kalau aku ke sini mau beli makanan untuk Naya," umpat Gino pada diri sendiri yang memang benar-benar panik sehingga banyak lupanya.
Setelah itu Gino langsung memesan nasi uduk yang ada di kantin itu.
*
Hai readersku semua🤗
Othor punya karya baru lagi nih...
Silahkan mampir ya... Dukungan dari kalian sangat berarti buat othor. Dan semoga kalian suka dengan alur cerita karya baru othor. Buruan kepoin🤭
__ADS_1