
Naya beranjak dari kasurnya untuk mengambil testpack yang masih berada dalam saku celana kotornya tadi. Wanita itu keluar dari kamarnya untuk mengambil testpack itu. Senyum kecilnya terulas manis ketika testpack itu ia pegang. Akan tetapi apa yang sudah terencana dalam otak untuk memberi Gino surprise semuanya gagal total. Ketika tiba-tiba perutnya bergejolak dan Naya merasa ingin muntah saat ini.
Segera wanita itu berlari ke arah wastafel di dapur. Di sana Naya memuntahkan seluruh isi perutnya, dan baru kali inilah Naya muntah-muntah. Di saat itu pula Gino datang. Ia yang mendengar suara Naya muntah-muntah, segera berlari ke arah dapur tempat Naya berada.
"Dek!" panik Gino sambil mendekati Naya dan langsung membantu merapikan rambut Naya yang menghalangi wajahnya.
Naya terus saja muntah-muntah. Kali ini hanya cairan saja yang Naya keluarkan, karena seluruh isinya sudah habis terkuras sebelum Gino datang tadi.
Gino berlari ke arah dispenser untuk mengambilkan Naya air minum hangat. Setelah itu memberikannya kepada Naya yang terlihat lemas dan pucat.
"Diminum, Dek," ucap Gino menuntun Naya untuk meminumnya.
Selesai minum, Naya langsung menjatuhkan tubuhnya kepada Gino. Wanita itu memeluk erat pada suaminya, untuk mencari kekuatan berdiri lantaran kakinya terasa lemah. Dan Gino menyambut pelukan Naya dengan hangat. Membelai punggung Naya, sesekali kecupannya mendarat pada pucuk kepala Naya.
"Mau ke kamar?" tanya Gino beberapa saat kemudian.
Naya mengangguk. Tetiba Gino mengangkat tubuh Naya, menggendongnya untuk masuk ke kamar.
Gino membaringkan Naya dengan pelan. Sedangkan wajah Naya masih terlihat pucat. Matanya memejam rapat karena merasakan perutnya yang tak bersahabat.
"Mananya yang sakit?" tanya Gino sambil memijit pelan kepala Naya karena ia pikir Naya muntah karena pusing masuk angin.
Naya bergeming saja. Satu tangannya tetap memegang testpack, tetapi Gino tidak menyadari itu karena terlanjur panik dengan kondisi Naya.
"Pusing ya?" tanya Gino lagi. Kali ini kecupan pria itu bertandang di kening Naya.
Naya menggeleng sambil tetap memejamkan mata.
"Aku ambilkan obat pusing ya?"
Ketika Gino akan beranjak, Naya mencegah tangannya untuk tidak pergi.
"Aku nggak perlu obat, Mas," ucap Naya dengan suaranya yang lemah.
Gino duduk lagi disamping Naya.
"Karena obat kamu itu aku?" Gino malah mengulang kalimat yang sering Naya lontarkan tiap kali Gino menyinggung soal obat.
Naya tersenyum tipis, meski perutnya terasa habis diobok-obok.
"Kamu ini lagi beneran sakit, Dek. Ayolah... Jangan cuma aku yang pingin lihat kamu sembuh, kamu juga harus semangat untuk sembuh," ucap Gino yang sejujurnya sudah agak frustasi mendapati istri ngeyelan yang tak pernah mau minum obat apapun. Padahal belakangan ini Gino memperhatikan istrinya sering mengeluh pusing.
"Percuma juga aku minum obat," balas Naya dengan ekspresi agak manyun.
Gino yang mendengar itu langsung tergelak heran. Kenapa?
Naya membuka matanya. Menatap lekat pada mata Gino. Pria itu pun juga membalas tatapan itu dengan sendu. Sangat tidak tega melihat Naya sakit seperti ini.
__ADS_1
"Aku sakit karena kamu, Mas," kata Naya kemudian.
Gino bertambah kaget mendengarnya. Apa ini ada hubungannya dengan yang Lala katakan jika tadi Naya menangis?
"Karena aku?" tanya Gino resah sendiri.
Naya mengangguk kecil. Lalu wanita itu bergerak untuk kemudian duduk sambil bersandar pada papan ranjang. Satu tangannya yang memegang testpack ia sembunyikan dibalik punggungnya.
Sedangkan Gino mulai berpikir keras. Jika benar apa yang dikatakan Naya kalau sakitnya itu karena dirinya, apakah selama ini Naya tidak bahagia dengannya? Apakah muntah-muntah yang dialami Naya barusan adalah puncak stress Naya, karena memang ada orang yang seperti itu setahu Gino.
"Mas," sapa Naya membubarkan lamunan Gino yang sedang kalut.
"Kamu harus tanggungjawab!" kata Naya dengan serius.
"Sepertinya aku tidak mungkin sembuh untuk beberapa waktu ke depan."
"Dek, kamu bicara apa sih?" sela Gino supaya Naya tidak berbicara yang jelek lagi dengan kesehatannya.
"Aku serius, Mas."
Gino menghentak nafasnya yang entah sejak kapan terasa menghimpit dadanya.
"Maafkan aku, Dek, kalau selama ini aku tidak bisa membahagiakanmu. Aku minta maaf," ucap Gino dengan sendu.
Sungguh, Gino sangat terpukul mendengar tuduhan Naya yang mengatakan sakitnya karena ulah dirinya. Meski Gino tidak tahu secara detail apa penyebab pasti Naya menuduhnya begitu, tetapi yang Gino rasakan saat ini adalah kepedihan yang luar biasa. Ia sangat menyayangi Naya. Jadi tidak mungkin Gino akan menyakitinya. Sebisa mungkin Gino akan meratukan wanita pujaannya. Walau ternyata Naya mengatakan sesuatu yang membuat hatinya sedih barusan.
"Aku minta maaf, Dek, karena masih belum bisa buat ibu menerima kamu dengan tulus. Aku tahu kalau kamu pasti kepikiran itu, makanya kamu tertekan dan sampai sakit begini. Tapi aku mohon jangan pernah katakan kalau kamu akan meninggalkanku. Jangan, Dek!" Gino mengatakannya sudah dengan matanya yang mengembun. Satu kedipan saja mungkin air mata itu akan luruh.
"Mas, jangan nangis aah!" Naya merasa bersalah sendiri.
Walau apa yang dikatakan Gino memang masih menjadi beban pikiran Naya tentang ibu Nani, tetapi sungguh Naya tidak ingin melihat suaminya menangis sesedih ini di depannya. Naya tidak tega.
Memutuskan untuk lanjut menikah meski terhalang restu dari ibu mertua adalah konsekuensi yang harus dihadapi oleh Naya sampai kapanpun. Dan Naya sudah kuat mental. Meski terkadang hati kecilnya sering sedih menerima kenyataan yang tak kunjung membaik dengan ibu mertuanya, tetapi sejujurnya Naya sudah tidak terlalu memusingkan. Biar saja seperti air mengalir. Yang tak tahu ujungnya akan bermuara di mana.
Gino menyeka air matanya yang hampir tumpah. Pria itu menghembus nafasnya berulang-ulang, mencoba kembali tenang karena melihat Naya yang sudah kembali tenang.
"Calon papa jangan nangis ya?" ucap Naya kemudian. Jemarinya mengusap pada ujung mata Gino yang sedikit basah karena bendungan air matanya.
"Aku memang papanya Lala," sahut Gino. Masih belum peka dengan pancingan dari Naya.
Naya yang mendengar itu tambah melebarkan senyumnya. Bersyukur sekali memiliki suami yang mau menerima anaknya seperti anak kandung sendiri.
"Iya, tapi setelah ini anak kamu akan tambah satu," ucap Naya dengan suaranya yang sengaja pelan.
Gino menatap lekat kepada Naya. Pria itu sampai mengangkat wajah Naya yang tertunduk setelah mengatakan itu.
Naya semakin melebarkan senyumannya, membuat Gino semakin heran ini sebenarnya ada apa? Baru saja cerita sedih-sedih, sekarang malah senyum-senyum.
__ADS_1
"Mas!" Kemudian Naya menunjukkan dua testpack yang dari tadi ia sembunyikan.
Gino lekas mengambilnya. Matanya seketika berbinar begitu melihat dua garis merah itu. Senyumnya pun ikut terulas lebar pertanda bahagia sekali.
"Kamu hamil, Dek?" tanya Gino memastikan.
Naya mengangguk sambil tersenyum manis.
"Beneran kamu hamil?" Sorot mata Gino sangat berbinar bahagia.
"Nggak, itu testpack orang."
Naya masih sempat-sempatnya ingin ngeprank suaminya.
"Ah, serius, Dek! Aku sudah bahagia nih, malah kamu prank!"
"Iya, itu testpack orang."
Gino menatap lagi pada testpack itu. Rasanya tidak percaya. Kurang kerjaan amat kalau sampai testpack milik orang Naya tunjukkan padanya.
"Mas, itu testpack punya orang. Dan orang itu adalah aku," ucap Naya sambil tertawa puas.
Gino melorok menatap Naya. Testpack itu Gino lempar ke kasur. Setelah itu menarik tengkuk Naya. Bibirnya melummat dalam bibir Naya yang telah berbohong karena sudah ngeprank padanya. Awalnya Naya kaget di begitukan, tetapi kemudian wanita itu menyambut ciuman itu dengan liar.
"Mmmph..."
Nafas Naya sampai tersengal-sengal setelah mendapat serangan mendadak dari Gino. Akan tetapi Gino kembali mencium bibir Naya setelah mereka selesai mengatur nafas.
"Mas, aku nggak bisa nafas aah!" Naya sampai mendorong paksa bahu Gini agar suaminya itu tidak mengulangi yang ketiga kalinya.
"Itu hukuman buat istri yang sudah ngeprank suaminya," kata Gino sambil nencapit gemas hidung Naya.
Naya memanyunkan bibirnya. Tetapi kemudian Gino memeluknya dengan erat.
"Terimakasih, Dek. Terimakasih kamu sudah memberiku hadiah istimewa dalam hidupku. Terimakasih," ucap Gino dengan sendu.
Kemudian pria itu melepas pelukannya. Tangannya mengusap pada perut Naya yang masih rata.
"Anak papa," kata Gino dengan bibir full senyum.
Bahkan pria itu kini mencium perut Naya sampai berulang-ulang saking bahagianya.
"Sudah, Mas. Jangan begitu, geli!"
Mendengar itu, Gino menghentikan ciumannya. Pria itu menatap lekat lagi pada netra Naya. Sejujurnya ia masih penasaran dengan apa yang Lala katakan tadi, tetapi haruskah ia bertanya sekarang?
*
__ADS_1