
Keluarga Naya pamit pulang setelah mereka semua selesai menikmati makan malamnya. Malam ini hanya Gino yang akan menjaga Naya di rumah sakit. Sebelumnya Rahma yang meminta agar dirinya saja yang menjaga Naya, agar Gino bisa istirahat nyaman di rumah dan besok bisa menjemput Naya. Tetapi Gino tetap bersikeras ia yang akan menjaganya, yang akhirnya Rahma pasrah saja. Sedangkan Lala juga ikut pulang, meski sempat ada drama rewel tadi karena katanya masih kangen adeknya. Setelah berhasil dirayu oleh Riki, akhirnya Lala mau dibawa pulang juga.
Suasana tiba-tiba sepi saat seluruh keluarga Naya pulang. Gino duduk di sebelah Naya yang masih belum tidur. Tangannya sedari tadi terus menggenggam erat tangan Naya.
Bahasa mata Gino tak bisa berdusta jika ia sedang memikirkan sesuatu. Dan Naya menyadari itu. Sebenarnya Naya sendiri juga kepikiran kenapa tak satu pun keluarga dari suaminya ada yang datang menjenguknya. Cuma kejadian seperti itu seperti sudah sering Naya rasakan, sehingga Naya sudah terbiasa dan tak perlu sedih lagi. Sekarang sudah ada bayi mungilnya yang belum mereka beri nama. Bayi itu yang akan menjadi prioritas mereka mulai sekarang.
"Mas, kita belum ngasih nama bayi kita," ucap Naya memulai bicara, setelah dari tadi suaminya hanya diam termenung.
"Iya. Kamu sudah ada nama nggak, Dek?" tanya Gino, yang memang tidak menyiapkan nama untuk bayinya.
"Ada sih. Tapi kamu sendiri pingin kasih nama siapa anak kita?"
Gino berpikir sejenak.
"Aku pasrah sama kamu lah," ucap Gino kemudian.
"Lah, kok pasrah aku? Itu kan anak kita, Mas?" heran Naya.
Suaminya itu seperti tidak ada semangat-semangatnya, padahal ini adalah anak pertama untuknya. Kalau Naya sebenarnya sudah ada nama yang ia inginkan untuk bayinya. Nama yang sudah lama ia simpan, yang ia karang sendiri setelah tahu kalau bayinya berjenis kel4min perempuan.
"Memang anak kita. Cuma yang banyak berjuang di sini itu kamu. Jadi aku serahkan semua itu ke kamu. Kamu lebih berhak memberikan nama yang indah untuk anak kita," ucap Gino.
"Di mana-mana yang ngasih nama itu papanya, Mas. Mamanya cuma nambahin dikit-dikit. Di max lah maksudnya," protes Naya.
__ADS_1
Gino hanya tersenyum manis mendengar itu. Memang adalah kewajiban orang tua memberi nama yang baik untuk anaknya. Karena dari nama itu mengandung harapan dan do'a dari orang tua kepada anaknya.
"Itu versi mereka. Versi kita beda. Pokoknya aku serahkan kamu yang memberi nama. Aku yakin nama dari kamu pasti mengandung arti yang indah untuk anak kita." Gino tetap dengan keputusannya.
Bukannya Gino tidak mau ambil peran dalam memberi nama anak. Tetapi mengingat perjuangan Naya dari saat mengandung sampai melahirkan, akan lebih spesial jika Naya yang memberi nama bayi mereka.
"Baiklah, kalau kamu nggak mau nyumbang nama," pasrah Naya akhirnya.
"Aku mau kasih nama anak kita Shabrina. Kita panggil dia Nana. Lucu nggak, Mas?" kata Naya kemudian.
Kalau sang kakak namanya Kamila, panggilannya Lala. Jadi sang adik namanya Shabrina, panggilannya Nana. Lala dan Nana. Naya sampai senyum-senyum sendiri membayangkan dua nama itu ia sebut bersama ketika mereka sudah sama-sama besar nanti.
"Bagus, Dek. Namanya comel. Artinya apa, Dek?"
Gino terdiam mendengar ucapan Naya. Entah mengapa hatinya seperti tercubit setelah mendengar ungkapan harapan yang Naya harapkan untuk bayi mereka. Penyabar. Orang yang sabar. Dan itu adalah sikap Naya juga. Setelah selama ini berhasil melewati bahtera rumah tangga yang tetap bertema tentang ibu mertua. Sehingga Gino sendiri sudah sulit membedakan lagi, antara sabar atau sudah pasrah dari sikap Naya itu.
"Ya, aku setuju bayi kita namanya Shabrina. Aku ingin anak kita memiliki sikap sabar seperti sikap tauladan nabi."
Lalu akhirnya bayi perempuan Gino dan Naya mereka beri nama Adira Shabrina, yang artinya anak perempuan kuat dan penyabar. Sedangkan nama lengkap Lala adalah Aiza Kamila, yang artinya anak perempuan mulia dan sempurna.
Setelah membahas tentang nama bayi, mereka berdua lanjut ngobrol dengan seru. Dari hal-hal tentang merawat bayi. Naya lebih banyak bicaranya, karena ia sendiri sudah berpengalaman mengasuh bayi. Sedangkan Gino diam mendengarkan. Mungkin terdengar ringan didengar, tetapi tidak dengan prakteknya nanti.
"Kamu tidurlah, Dek. Ini sudah malam," ujar Gino kemudian. Menyuruh Naya untuk segera tidur agar esok badannya bisa tambah fit dan mereka bisa pulang ke rumah.
__ADS_1
Gino tetap tidak mengubah panggilannya kepada Naya. Biasanya pasangan suami istri yang sudah memiliki anak otomatis akan merubah panggilan menjadi mama papa. Gino rasa panggilan adek kepada Naya adalah panggilan sayangnya untuk Naya, yang sulit ia rubah. Jarak usia mereka yang terpaut delapan tahun membuat Gino tetap gemas memanggil Naya dengan sebutan adek.
***
Pagi menjelang. Saat ini Gino dan Naya sudah bersiap untuk pulang ke rumah. Abdul dan Rahma tidak datang lagi, mereka memilih menunggu Naya di rumah mereka. Yap, Gino dan Naya sementara ini tetap tinggal bersama orang tua. Dengan alasan agar ada yang bisa merawat Naya dan bayinya secara maksimal.
Sebenarnya bisa saja Gino mempekerjakan seorang babysitter untuk mengasuh bayinya, dan Naya bisa fokus merawat dirinya sendiri. Tetapi Rahma tidak setuju itu. Wanita dua cucu itu tetap tidak rela jika cucunya dirawat oleh tangan orang lain sekalipun babysitter itu pastinya sudah profesional.
Dering ponsel Gino berbunyi, panggilan masuk dari Agus. Setelah mengatakan kalau saat ini Agus sudah ada di depan rumah sakit, Gino segera pergi menemuinya. Harapan Gino tak lain tak bukan sang kakak membawa serta kedua orang tuanya juga saat ini.
Bibir Gino langsung tersenyum lebar begitu melihat mobil milik orang tuanya terparkir di area parkir rumah sakit itu. Tetapi setelah melihat satu persatu yang keluar dari dalam mobil itu, hati Gino kembali merasakan kecewa lagi. Tidak ada kedua orang tuanya yang ikut serta hari ini. Hanya ada Agus dan Mila. Juga ada Vita dan suaminya yang kebetulan sedang libur kerja.
"Mas, di mana ponakan ku yang cantik?" tanya Vita sudah tidak sabar ingin melihat sosok ponakannya.
Jika dulu Vita ikut-ikutan tidak menyukai Naya karena terpengaruh oleh Wulan, tetapi sekarang Vita sudah bisa menerima dengan baik kepada Naya sebagai kakak iparnya.
"Ada di kamar," sahut Gino dengan kurang bergairah.
Vita dan suaminya langsung pergi masuk ke dalam rumah sakit, setelah sebelumnya sudah tahu berapa nomor kamar Naya dari Gino. Sedangkan Agus yang melihat jelas perubahan mimik wajah Gino, hanya bisa merangkul pundak Gino untuk menyemangatinya.
"Yang sabar, Gi. Ayah masih berusaha membujuk ibu," kata Agus yang enggan menceritakan bagaimana keadaan Suryo dan Nani sekarang.
"Ibu, sampai kapan engkau akan terus seperti ini?" batin Gino bersuara perih setelah mendengar ungkapan dari Agus.
__ADS_1
*