
"Nay, aku-- pergi," pamit Wahyu kemudian.
Naya dan Gino sama-sama menoleh kepada Wahyu. Reaksi Naya hanya menatap saja tanpa mau menjawab, sedangkan Gino sendiri menatap heran tentang siapa pria yang menyapa Naya itu.
Karena Gino menatapnya, Wahyu tersenyum tipis kepada Gino. Kemudian pria itu mendekat untuk bersalaman kepada Gino.
"Aku temannya Naya," kata Wahyu memperkenalkan diri kepada Gino.
Gino membalas uluran tangan Wahyu.
"Aku Gino, calon suami Naya," kata Gino balas memperkenalkan diri, lengkap dengan embel-embel yang menguatkan statusnya saat ini.
Wahyu tersenyum tipis lagi. Sejenak pria itu menatap intens pada penampilan Gino yang memang belum ganti pakaian dari pulang kerja tadi. Apalah daya jika dibandingkan dengan dirinya yang ibarat jauh langit dan bumi, termasuk isi kantongnya juga.
Setelah puas menatap seperti itu, Wahyu berlalu begitu saja. Tanpa mau menyapa Naya lagi, tanpa mau menoleh kepada Lala yang memandang seperti saling kenal.
"Yassalam... Kisah kasih anak muda," celetuk tukang bengkel itu setelah sedikit tahu dengan apa yang dilihatnya.
Gino langsung menoleh heran kepada tukang bengkel itu. Tetapi yang ditatap malah bersiul-siul keasyikan. Sedangkan Naya sendiri memilih duduk lagi di kursi panjang yang ada di bengkel itu.
"Bang, mm... Kalau motornya aku titip sini boleh nggak?" kata Gino menyapa tukang bengkel itu.
Tukang bengkel itu nampak berpikir lama.
"Nggak berani, Bang, takut hilang di maling orang," tolak nya kemudian.
Sekilas Gino menoleh kepada Naya. Rasanya tidak mungkin ia akan membiarkan Naya pulang naik motor sendiri setelah ini, sedangkan dirinya enak-enak naik mobil. Kemudian Gino ikut duduk bersama Naya.
"Hati-hati kotor, Mas," ucap Naya karena kondisi tempat duduknya memang sedikit kotor.
"Nggak masalah, warna hitam aja celananya," sahut Gino dengan santai.
"Mm... Dek, kamu nelpon orang rumah sana, suruh susul ke sini ambil motor kamu," usul Gino demi menghindari Naya pulang sendiri nanti.
"Nelpon bapak?"
"Jangan bapak, kasihan. Telpon adik kamu yang cowok."
"Riki?"
Gino mengangguk.
"Nggak usah lah, Mas, Riki takut lagi ngerjain PR. Nanti biar aku yang bawa," seru Naya, takut merepotkan orang lain lagi.
Gino sampai datang menyusulnya ke sini saja sejujurnya Naya sudah tidak enak sendiri.
"Mana hape kamu," pinta Gino kemudian.
Naya langsung memberikan handphonenya tanpa bertanya ini itu lagi.
Handphone Naya yang memang tanpa kunci password itu sangat mudah untuk Gino membukanya. Pria itu mulai mencari nomor telpon adik iparnya, Riki. Setelah menemukannya, segera ia mengirim nomor kontak itu ke handphonenya sendiri.
"Barusan aku minta nomornya Riki," jelas Gino sambil mengembalikan handphone Naya.
__ADS_1
Setelah itu Gino berusaha menelpon Riki. Bersyukurnya langsung dijawab oleh Riki.
"Riki, aku mas Gino," kata Gino menyapa Riki.
"Eh, iya, Mas, ada apa nelpon?"
"Mm... Kamu lagi di mana? Kalau aku sekarang minta tolong bisa nggak?"
"Aku lagi di rumah teman, Mas. Mau minta tolong apa?"
"Kamu datang ke bengkel dekat pertigaan Pangsud. Aku tunggu di sini. Jangan lupa bawa teman," ucap Gino.
Terdengar Riki sedang bergumam dengan seseorang di seberang sana. Setelah itu--
"Oke, aku ke sana sekarang, Mas."
Setelah itu sambungan telpon itu berakhir. Gino langsung menghela nafas lega setelah adik iparnya itu sanggup datang meski belum tahu akan dimintai tolong apa oleh Gino.
Sedangkan Naya yang juga mendengar samar-samar percakapan Gino dengan Riki, sangat wajar kalau Riki berkenan datang. Karena jika Riki mengaku sedang ada di rumah temannya, yang Naya tahu itu pasti Irul, tentu Riki siap datang karena rumah Irul memang tidak jauh dari bengkel ini.
Dan benar saja, tanpa menunggu lama Riki sudah muncul dari seberang jalan bersama Irul. Dua pemuda itu datang sambil berboncengan motor.
"Om Iki!" pekik Lala kegirangan melihat Riki datang.
Riki tersenyum sambil melambai tangan kepada Lala. Setelah itu dengan sopannya Riki bersalaman kepada Gino, begitu pun dengan Irul yang ikut bersalaman kepada Gino dan Naya.
"Mas Gino minta tolong apa?" tanya Riki.
Gino menoleh ke arah motor Naya yang sudah beres.
"Riki, cepat pulang loh!" pesan Naya, merasa was-was adik remajanya itu masih akan keluyuran nggak jelas karena ada motor Naya.
"Iya, Mbak." Riki menyahut sambil mengacungkan dua jempolnya.
Setelah itu Gino membayarkan ongkosnya kepada tukang bengkel tersebut. Tak lupa Gino juga memberi uang jajan kepada Riki.
"Weeh... Rejeki anak sholeh emang!" celetuknya sambil nyengir kesenangan.
"Kebanyakan itu!" seloroh Naya, merasa tidak enak sendiri kepada Gino yang sudah terlanjur banyak berkorban untuk keluarganya.
"Yee... Mas Gino aja ngasihnya ikhlas, kok mbak yang protes!" Riki ikut sewot.
"Ingat berbagi sama temannya juga," pesan Gino.
Sengaja Gino memberi Riki uang jajan sekedar reward untuk kepeduliannya disuruh datang.
"Rul, kita ngafe di cafe Ayank yuk?" ajak Riki antusias sekali.
Irul langsung mengangguk semangat.
Tiba-tiba saja Gino menambah selembar lagi uang jajan Riki.
"Loh, Mas, kok ditambah?" heran Naya.
__ADS_1
"Ke cafe uang segitu takut kurang, Dek," jawab Gino.
"Terimakasih banyak, Mas. Mm... Sering-sering juga nggak pa-pa. Hehehe..."
Riki mulai mesem-mesem kegirangan. Bahkan sampai saat ia menaiki motornya, terdengar gelak tawa kesenangannya.
Bengkel sudah di tutup. Tukangnya saja sudah pamit pulang dulu kepada Naya dan Gino.
"Pulang yuk, Dek?" ajak Gino sambil kemudian membukakan pintu mobilnya agar Naya dan Lala masuk ke dalamnya.
Setelah mereka berdua sudah sama-sama anteng duduk dalam mobil, kemudian mobil itu melaju pergi.
"Situasi begini aku jadi ngebayangin kita mau pulang ke rumah kita sendiri," ucap Gino saat mereka sedang ada dalam perjalanan.
Naya hanya tersenyum tipis menanggapinya. Apalagi posisi Lala saat ini sudah terlelap dalam pangkuannya.
"Tadi kenapa nggak nelpon aku saja, kenapa malah nelpon Fifi?" tanya Gino merasa sedikit kecewa karena Naya lebih menelpon Fifi daripada kepadanya.
"Sekenanya mencet, Mas," sahut Naya apa adanya.
"Itu tadi teman cowok kamu yang bantuin kamu?"
Gino menduga Wahyu ada di sana yang sedang membantu Naya.
"Nggak, kebetulan nggak sengaja ketemu."
"Teman apa? Sekolah?" kepo Gino.
Bukan jeules, tetapi ingin tahu dan mengenal siapa saja yang menjadi teman-teman Naya.
Naya berpikir keras. Seandainya Wahyu adalah teman sekolahnya dulu, pasti Naya akan langsung mengangguk. Sayangnya Wahyu adalah orang yang pernah mencoba masuk ke hatinya, tetapi sampai detik tadi kunci hati itu tidak dapat digapai oleh Wahyu.
"Bukan teman sekolah ya?" tanya Gino lagi, mengagetkan lamunan sesaat Naya.
"Iya, bukan. Dia-- teman sekedar kenalan aja dulu," aku Naya kemudian.
Gino mengangguk paham. Teman yang seperti itu dirinya juga banyak.
"Tapi-- apa dia nggak ada sesuatu gitu, Dek?" ucap Gino membuat Naya langsung mengerutkan kening tak paham.
"Maksud kamu, Mas?"
"Aku rasa-- sepertinya tatapannya beda ke kamu," tutur Gino sesuai yang ditangkapnya tadi.
"Gawat!" rutuk Naya dalam hati.
"Apa iya sekentara gitu tadi Wahyu melihatku?" batin Naya bermonolog resah.
"Tapi emang wajar sih kalau banyak lelaki yang suka sama kamu," tambah Gino kemudian.
"Kamu memang cantik. Dan sebentar lagi, kecantikan kamu akan jadi milik aku seutuhnya," lanjutnya.
Naya tersenyum geli mendengarnya.
__ADS_1
"Heem... Gombalnya kumat lagi, Pak?" celetuk Naya yang diikuti gelak tawa mereka berdua.
*